Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Bab 105


__ADS_3

Bugh,


Bugh,


Bugh,


Beberapa kali Satria menerima pukulan dengan gerakan menangkis untuk melindungi dirinya. Tidak main-main, 3 orang sekaligus menyerang Satria membuat Satria sedikit kewalahan.


Beberapa kali ia juga berhasil membalas pukulan dari para penjahat tersebut yang ia yakini adalah seorang preman. Kelompok mereka berjumlah 7 orang, 3 orang menyerang Satria, 2 orang menyerang Dean , sementara 2 orang lainnya sibuk mencoba membuka pintu mobil.


Sementara ketiga orang perempuan yang berada di dalam mobil hanya bisa menjerit ketakutan. Arin kini sudah berpindah ke seat belakang bersama kedua sahabatnya. Mereka bertiga hanya bisa saling memeluk dan menangis melihat kekacauan di luar.


Dan pada akhirnya salah satu penjahat tersebut berhasil memecahkan kaca di samping kemudi. Sehingga ia bisa membuka pintu mobil yang sudah terkunci dari dalam. Satria yang melihatnya pun bergegas mendekat ke arah mobil namun ia tertahan karena di serang lagi oleh 2 orang yang masih terlihat baik-baik saja.


Sementara 1 orang lainnya sudah berhasil Satria lumpuhkan. Dan tidak lama terdengar suara seorang penjahat tersebut terlihat menginterupsi perkelahian di antara mereka.


"Berhenti woy!! Atau perempuan ini gak akan baik-baik saja setelah ini." teriaknya membuat Satria dan Dean menghentikan perlawanannya.


Seorang laki-laki berkepala plontos dengan tubuh tinggi kekar terlihat sedang menjadikan Arin sebagai sandera. Sebuah pisau terlihat bertengger di lehernya hanya dengan jarak kurang dari 5cm.


Sementara Herti dan Sherina juga telah di amankan oleh 2 anak buahnya yang lain. Satria dan Dean pun hanya bisa diam menerima pukulan demi pukulan yang di lancarkan beberapa anak buah laki-laki berkepala plontos tersebut.


Keduanya bahkan sampai jatuh terduduk sambil memegangi beberapa bagian tubuhnya yang terluka. Kini semua orang dalam keadaan di todong dengan senjata tajam oleh para penjahat tersebut.


"Sebenarnya siapa kalian? Apa yang kalian inginkan? Kalau kalian mau merampok silahkan ambil mobil dan harta benda kami tapi lepaskan kami semua." ujar Satria dengan nafas tersengal.


Laki-laki berkepala plontos tersebut sepertinya adalah ketua kelompok penjahat tersebut. Ia pun tertawa terbahak-bahak, lalu menyerahkan Arin kepada salah satu anak buahnya. Sambil menggenggam sebuah pisau lipat berukuran cukup besar ia pun menghampiri Satria.


"Kami tidak berniat merampok ataupun merampas harta kalian. Kami hanya perlu membawa perempuan itu dan membunuh kamu." ujarnya dengan senyum menyeringai dan membisikkan kalimat terakhirnya dengan wajah datarnya.

__ADS_1


Deg,


Satria pun sedikit terkejut mendengar penuturan dari penjahat tersebut. Dan tanpa aba-aba tiba-tiba saja penjahat tersebut melayangkan pukulan di wajah Satria membuat Arin dan Sherina menjerit takut.


Takut terjadi sesuatu dengan Satria, dan takut jika penjahat tersebut akan melukai Satria. Sepintas Arin menatap bingung melihat Sherina yang melihat ke arah Satria dengan raut penuh kekhawatiran sama sepertinya.


Ada perasaan yang mengganjal di hatinya melihat Sherina bahkan menangis ketika para penjahat tersebut menghajar Satria. Tapi situasinya juga tidak memungkinkan untuk dia berpikir macam-macam.


Ia begitu takut melihat para penjahat yang seolah hanya mengincar Satria. Mereka tidak lagi menghajar Dean, tapi terus menerus menyerang Satria yang kini bahkan hanya terduduk di atas aspal dengan luka hampir memenuhi wajahnya.


Darah terlihat mengalir dari pelipisnya yang sobek dan juga ujung bibirnya. Bahkan Arin tidak berhenti berteriak sambil menangis memohon pada mereka untuk berhenti dan melepaskan Satria.


"Cukup ! Tolong lepaskan dia, apa yang sebenarnya kalian inginkan? Kalian bisa membawa saya jika kalian menginginkannya tapi tolong lepaskan dia." teriak Arin sambil menangis mengiba di depan semua orang.


"Kami memang akan membawa anda nona manis, tapi setelah kami membunuh kekasih mu ini." ujarnya dengan wajah menyeringai membuat Arin semakin histeris begitu pun dengan Sherina.


Sleb !


Dean hanya bisa memalingkan wajahnya melihat kejadian, walaupun ia membenci Satria tapi ia jug tidak tega jika Satria mengalami hal tersebut. Sayangnya ia juga tidak bisa berbuat apa-apa karena pisau juga sudah bertengger di lehernya.


Arin pun menginjak kaki salah seorang penjahat tersebut dan mendorong tubuhnya hingga membuatnya bisa terlepas. Dengan cepat ia berlari ke arah Satria namun ketika ia hampir menjangkau Satria yang kini sedang merintih menahan sakit seorang penjahat lainnya berhasil menangkapnya.


Arin pun hanya bisa menangis dengan kencang melihat bagaimana lagi-lagi, pa tersebut menarik rambut Satria dengan kencang. Hingga membuat Satria meringis, ketika ia menginjak bekas luka tusukan di kakinya dan membenturkan kepala Satria ke mobil Satria yang terparkir di sampingnya.


Tubuh Arin semakin bergetar melihat Satria yang mulai tergeletak di atas aspal sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Dan ketika penjahat tersebut hendak menusukkan pisaunya lagi ke dada Satria tiba-tiba saja terdengar suara sirine mobil polisi mendekat.


Sontak mereka pun di buat panik dan mengurungkan niatnya untuk mengeksekusi Satria. Mereka semua lalu membawa paksa Arin ke dalam mobil dan menyeret Satria ikut dalam mobil yang berbeda.


Mereka sudah di wanti-wanti untuk tidak membuat Arin tidak terluka sedikitpun. Tapi mereka di bebaskan untuk membunuh Satria atau siapapun yang mencoba menghalangi mereka.

__ADS_1


Dean pun berusaha mengejar mobil yang membawa kakaknya pergi, tapi ternyata para penjahat tersebut telah merobek ban mobilnya maupun Satria sebelumnya. Sementara Sherina dan Herti terlihat masih shock dengan apa yang baru saja mereka alami dan hanya bisa menangis sambil saling berpelukan.


Sebelumnya Sherina yang mengirimkan pesan pada Raka dan juga mengirimkan lokasi keberadaannya untuk membawa polisi ke sana. Ia benar-benar tidak tahu jika kepergian mereka untuk mengantar Arin malah menjadi tragedi.


Dan di detik berikutnya sebuah mobil yang terlihat familiar datang bersama 2 buah mobil polisi. Dean pun langsung berlari ke arah mobil polisi dan meminta mereka untuk mengejar mobil para penjahat tadi yang baru saja pergi.


Ia pun sempat berteriak ke Raka menitipkan Sherina dan Herti sebelum benar-benar pergi. Kemudian menjelaskan situasi yang terjadi, dimana sekelompok penjahat yang tiba-tiba menyerang mereka membawa pergi kakaknya dan juga kekasihnya.


"Raka." lirih Sherina segera menghambur memeluk tubuh Raka begitu laki-laki tersebut menghampirinya.


Ia menangis dengan sesenggukan sambil menceritakan kronologi yang terjadi. Raka pun mencoba menenangkan Sherina dan mengatakan jika semuanya akan baik-baik saja. Para polisi telah mengejar penjahat tersebut dan pasti akan membebaskan Arin dan Satria dalam keadaan baik-baik saja.


Tapi bukannya tenang Sherina malah menangis semakin kencang, ia mengingat jika Satria sedang terluka parah. Dan bahkan salah seorang dari mereka mengatakan jika mereka di perintahkan untuk membunuh Satria.


"Tapi ka, Satria terluka. Mereka bilang mereka mau bunuh Satria. Gimana kalau Satria kenapa-kenapa ka." racau Sherina sambil menangis di pelukan Raka.


Herti pun terkejut melihat reaksi yang di tunjukan Sherina. Seakan kekasihnya lah yang telah di bawa pergi saat ini dan dalam bahaya. Jika Sherina khawatir dengan keadaan Satria karena mereka adalah teman kuliah sebelumnya, rasa-rasanya itu terlalu berlebihan.


"Ada apa ini sebenernya Sher? Kenapa lu sampai segininya khawatir sama mas Satria. Kenapa gue ngerasa ada sesuatu yang lu sembunyiin Sher, jawab gue!" teriak Herti menarik tubuh Sherina paksa agar menghadap ke arahnya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2