
Sore harinya Sherina sudah tampak rapi mengenakan dress floral berwarna nude yang di padukan dengan sangat sebuah flat shoes berwarna putih gading. Herti yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya dari luar kota bergegas ke rumah sakit begitu ia sampai di Jakarta.
"Sher, kamu udah boleh pulang beneran?" tanya Herti yang tengah membantu Sherina berkemas.
"Ya boleh dong, ngapain aku ngarang coba." jawab Sherina sambil menyisir rambutnya yang masih setengah basah.
Karena kebetulan Herti datang di siang hari, ia meminta bantuan Herti mencuci rambutnya yang sudah terasa lengket dan gatal. Herti yang melihat interaksi di antara Sherina dan Raka sontak tak bisa berhenti menggoda Sherina tentang hubungan mereka.
"Duh perasaan gue pergi gak sampe 3 hari, tapi perasaan udah ada yang beda aja." celetuk Herti yang sudah sejak tadi menyindir Sherina.
"Apaan sih Her, mulai deh suka kumat sotoy nya." timpal Sherina yang sebenarnya sudah enggan menanggapi.
Tapi Herti bukanlah tipe orang yang akan berhenti begitu saja sebelum mendapatkan jawaban yang memuaskan hatinya. Biasanya ia melihat Herti selalu berdebat dengan Arin, tapi hari itu justru ia sendiri yang sibuk berdebat dengan Herti.
Dan tidak lama setelah perdebatan mereka, Raka pun datang kembali ke ruangan untuk memastikan kepulangan Sherina. Ia bahkan menawarkan diri untuk mengantarkannya pulang daripada harus memesan taksi online.
Sherina dan Herti pun menerima penawaran Raka, dan setelah semua urusan administrasi selesai Arin pun datang. Ia hampir saja terlambat, karena Sherina pulang di jam yang hampir berbenturan dengan jam pulang kerjanya.
Mereka berempat pun meninggalkan rumah sakit dan langsung menuju ke kost'an. Sepanjang perjalanan semua orang melihat Arin dengan aneh karena tidak biasanya Arin terlihat sibuk memegang ponsel dalam waktu yang lama selain perihal pekerjaan.
Terkadang ia tersenyum sendiri terkadang menggerutu tidak jelas dan mengundang rasa penasaran ketiga orang yang tengah berada di mobil bersamanya. Meskipun diperhatikan seperti itu, Arin tetap fokus pada benda berbentuk perseginya tak menyadari perhatian semua orang sedang tertuju padanya.
"Lagi ngapain sih Rin? Bentar-bentar ketawa terus gerutuan gak jelas. Lu lagi chat siapa sih?" tanya Herti kepo hendak mengintip isi ponsel Arin yang spontan langsung Arin sembunyikan.
"Apa sih her? kepo banget deh jadi orang." jawab Arin sebal.
__ADS_1
"Lagian, tumben banget lu main handphone sepanjang jalan begini." ujar Herti.
"Ya emang kenapa? emang gak boleh kalau gue berubah seneng pegang handphone dimana aja?" tanya Arin membuat Herti cengengesan.
"Nah gue tahu nih, pasti udah ada progres nih dari informasi yang udah gue kasih." ujar Herti curiga jika Arin kembali menjalin hubungan dengan Satria.
"Progres apaan? Ini informasi apaan?" tanya Arin tidak mengerti arah pembicaraan Herti.
"Kalian tuh ngomongin apa sih aku gak ngerti deh." potong Sherina memutus perdebatan di antara keduanya.
"Hehe, gak apa-apa Sher informasi masih di rahasiakan. Nanti kalau gue udah dapet info valid dari sumber yang terpercaya secara langsung pasti gue share." jelas Herti membuat semua orang semakin bingung termasuk Arin sendiri.
Namun Arin memilih abai dan tak mau ambil pusing dengan ocehan Herti yang terkadang memang tidak jelas. Tanpa terasa akhirnya mereka pun sampai di tempat tujuan, Raka pun membantu menurunkan dan membawa barang-barang Sherina yang di letakkan di bagasi.
Ruang penerimaan tamu dari luar yang bebas di masuki laki-laki berada di bagian depan kost'an bersebelahan dengan kamar penjaga kost yang bertugas menjaga dan membersihkan area kost'an.
"Ka, maaf ya kamu cuma bisa sampai sini aja. Mau ngeteh atau ngopi dulu gak?" tawar Arin sembari mengambil alih barang bawaan Sherina.
"Oh iya gak apa-apa, gak usah deh aku mau langsung balik aja kebetulan masih ada urusan." jawab Raka.
"Beneran gak mau mampir dulu ka?" tanya Sherina yang masih di papah oleh Herti.
"Iya , kalau gitu lekas pulih ya Sher jangan lupa nanti kontrol lagi hari kamis. Saya duluan." pamit Raka .
"Oh iya terimakasih banyak ya buat semuanya. Hati-hati di jalan." jawab Sherina.
__ADS_1
Mereka bertiga pun memutuskan untuk langsung ke kamar Sherina. Agar Sherina bisa langsung beristirahat karena memang kondisinya belum benar-benar pulih pasca operasi.
Setelah sampai di kamar Herti langsung membantu Sherina untuk berbaring sementara Arin menata barang-barang bawaan Sherina di dalam kamarnya. Setelah itu mereka berdua bergegas untuk keluar agar Sherina bisa beristirahat.
Ketika Arin hendak masuk ke kamarnya, Herti mendahuluinya masuk tanpa bisa ia cegah. Arin sudah tahu jika pasti Herti akan meneruskan kembali rasa penasarannya di perjalanan tadi.
"Gue kepo sumpah, ceritain ih gimana pertemuan dengan sang mantan?" tanya Herti sembari duduk di atas karpet bulu yang digelar di bawah tempat tidur Arin.
"Oh jadi lu ya sumber penyakit nya? Pantes gue sampe kaget dia bisa tahu alamat sini." ujar Arin sembari melempar boneka Teddy ke wajah sahabatnya itu.
Sementara Herti hanya tergelak melihat reaksi kesal Arin. Awalnya ia merasa ragu untuk membantu Satria tapi setelah ia pikir berulang kali, mungkin apa yang akan ia lakukan ini adalah salah satu jalan pembuka kebahagiaan untuk sahabatnya itu.
"Gue gak tega lihat kisah cinta kalian yang gamon (gagal move on) selama bertahun-tahun. Intinya gue tahu kalau sebenarnya kalian tuh masih saling cinta. Dan gue berharap apa yang gue lakuin kali ini bisa jadi pembuka jalan kebahagiaan di hidup lu Rin." jawab Herti dengan sungguh-sungguh.
Arin pun akhirnya memilih untuk mendekat pada Herti dan memeluk sahabatnya itu. Dalam diam Arin mendekap sahabatnya dengan air mata yang sudah mengalir begitu saja.
Entah apa yang harus ia rasakan saat ini, sesaat ia merasa bahagia dengan pertemuannya kembali dengan Satria. Tapi di sisi lain ada tembok besar yang akan menjadi penghalang bagi hubungan mereka.
Meskipun Satria selalu berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia siap dengan segala resikonya, tetap aja Arin merasa tidak tenang. Terlebih ia takut menyakiti keluarganya, orang-orang yang begitu ia cintai jika ia memutuskan untuk kembali dengan Satria.
Bukan tanpa alasan, tapi apa yang terjadi selama beberapa tahun ini sudah cukup membuat kebencian mengakar di hati keluarganya untuk Satria. Dan ia sendiri pun belum yakin, apakah mungkin keluarganya bisa menerima penjelasan tentang kesalahpahaman antara dirinya dan Satria selama ini.
Belum lagi status Satria yang sudah memiliki anak, tentunya akan menjadi hambatan berat bagi keluarganya untuk menerima Satria. Meskipun anak itu di akui sebagai adiknya tapi suatu saat nanti pasti akan ada masa dimana Satria harus mengakui darah dagingnya itu.
Herti pun bisa mengerti kegundahan hati Arin setelah Arin menceritakannya tentang apa saja hal yang menjadi ganjalan di hatinya. Kisah cintanya dengan Satria begitu rumit untuk bisa di pahami begitu saja oleh orang lain. Herti pun hanya bisa mengusap pelan punggung sahabatnya itu untuk membuatnya lebih tenang.
__ADS_1