Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Terpergok Dean


__ADS_3

Jika Sherina dan Raka sedang merayakan hari patah hati mereka bersama, lain halnya dengan pasangan Arinda dan Satria yang kini tampak bersenang-senang di atas arena ice skating.


Satria ingat jika dulu Arin sangat ingin mencoba hal tersebut. Walaupun terlambat, tapi Satria akhirnya senang karena bisa mewujudkan salah satu keinginan Arin yang terbilang masih cukup sederhana.


Meskipun awalnya sering terjatuh dan tertatih-tatih karena baru pertama kali melakukan hal tersebut tapi Arin sangat bahagia. Satria selalu mengingat apa yang menjadi kesukaannya atau apa yang sangat pernah ia inginkan walaupun sudah bertahun-tahun lamanya.


Setelah lelah, mereka pun memutuskan untuk pergi ke salah satu restoran cepat saji yang terletak beberapa lantai dari arena ice skating tersebut. Mereka memutuskan untuk makan malam di sana, seperti kencan yang sering mereka lakukan dulu ketika masih berpacaran.


Satria sudah mengajak Arin untuk memilih restoran yang lebih bagus dan mewah. Tapi Arin terus menolak dan beralasan jika ia ingin bernostalgia mengingat semua kenangan indah mereka dulu.


Selain memesan ayam Kentucky dan minuman bersoda, Satria juga tidak lupa memesan puding dan ice cream sebagai makanan penutup mereka nanti. Tidak lama, makanan yang mereka pesan pun datang.


"Sayang, kamu yakin mau makan ini aja." tanya Satria ketika semua pesanan sudah ada di meja.


"Yakinlah, kalau gak aku gak bakal ngajak kesini." jawab Arin mulai memakan ayam Kentucky yang ia pesan dengan begitu lahapnya.


Satria pun tersenyum sembari menyesap minuman bersoda di tangannya. Ia senang melihat Arin mulai bersikap biasa padanya, tidak seperti biasa yang selalu memberi jarak di antara mereka.


Setelah selesai menyantap makanan pesanan masing-masing mereka pun memutuskan untuk keluar dan melanjutkan langkahnya ke arah Timezone. Mereka berencana untuk main-main sepuasnya di sana, tanpa mereka sadari sepasang mata tengah menatap ke arah mereka.


Tepat ketika mereka sampai di depan pintu masuk Timezone, tiba-tiba saja seorang laki-laki berpengawakan tinggi dengan tubuh atletis berjalan ke arah mereka. Dan tanpa aba-aba langsung melayangkan bogem mentah di wajah Satria sampai ia terhuyung hampir terjatuh.


"Buugh." Tiba-tiba saja Satria mendapatkan serangan yang tak terduga membuat Arin menjerit karena takut dan terkejut melihat adegan yang tiba-tiba saja terjadi di depan matanya.


"Dean." gumam Arin kecil hampir tak terdengar.


"Brengsek !" umpat Dean kembali menghadiahi wajah Satria dengan bogem mentah seperti sebelumnya.


Satria pun hanya tersenyum kecil sembari menyusut darah yang keluar dari ujung bibirnya yang telah sobek. Arin pun tidak tinggal diam dan membantu Satria untuk bangkit sembari menatap tajam ke arah adiknya.

__ADS_1


"Dean ! Cukup !" teriak Arin melihat Dean yang lagi-lagi hendak menyerang Satria.


"****!" teriak Dean kesal sembari berjalan memutar pergi meninggalkan keduanya.


Namun Arin tidak tinggal diam begitu saja dan langsung mengejar adiknya itu. Arin pun sempat menarik lengan Dean dan menahannya untuk pergi. Ia tidak ingin masalah ini berlarut dengan Dean yang terus menyimpan dendam.


"Please de, kita selesaikan aja sekarang." ujar Arin mencoba untuk tetap tenang dalam tutur katanya.


"Apa sih kak ! Gak ada yang perlu di selesaikan menurut aku selain hubungan kalian berdua." ujar Dean dengan sengit.


"Dean!" ujar Arin dengan nada yang sedikit meninggi.


"Apa sih yang mau kakak harepin dari dia? Jangankan keluarga kita, aku sendiri pun gak setuju kakak balik lagi sama dia!" ujar Dean dengan berapi-api.


"Kamu bisa gak sih dengerin kakak dulu." jawab Arin dengan menahan emosinya.


"Apalagi kak yang harus aku denger, pokoknya aku gak rela kalau kakak sampai balik lagi sama dia!" ujar Dean tegas menatap kakaknya dengan tajam.


Dean tetap melangkah pergi dengan emosi yang masih tinggi. Tidak peduli seberapa kencang suara Arin berteriak memanggil namanya Dean tetap tidak peduli. Satria pun menghampiri Arin dan mencoba untuk menenangkannya.


Arin hanya bisa menangis dalam pelukan Satria, sementara Satria mencoba menenangkannya. Kejadian tersebut begitu cepat hingga keduanya tidak bisa berbuat banyak.


Karena adanya kejadian tersebut mereka memutuskan untuk langsung pulang. Ketika mereka baru memasuki mobil Arin hanya diam saja dan tak mengatakan sepatah katapun.


Dan benar saja, baru 5 menit mereka berkendara terdengar handphone Arin yang berdering menampilkan nama Adrian kakaknya sebagai penelpon.


"Besok pagi pulang ke rumah!"


Klik.

__ADS_1


Telpon pun terputus tanpa sempat Arin menjawab sepatah katapun. Dari suaranya saja Arin sudah sangat tahu jika kakaknya sedang menahan emosi ketika berbicara dengannya.


"Kenapa sayang?" tanya Satria sembari menggenggam lembut tangan Arin yang sejak menerima telpon tadi hanya diam dengan pikiran yang entah kemana.


"Eh, gak apa-apa. Cuma, kak Adrian nyuruh aku pulang besok pagi." jujur Arin dengan wajah tertunduk.


Satria pun langsung menepikan mobilnya, ia paham jika Arin sedang tidak baik-baik saja saat ini. Dengan lembut ia tarik tubuh Arin ke dalam dekapannya. Arin pun kembali menumpahkan air matanya di sana.


Dengan kejadian yang tiba-tiba seperti ini, ia benar-benar merasa shock. Bahkan ia menerima pesan dari ibunya jika mereka akan pulang ke Bogor besok dengan penerbangan terakhir malam ini.


Arin benar-benar di buat sakit kepala dengan masalah yang tiba-tiba datang begitu saja. Meskipun ia sudah tahu jika semua ini pasti akan terjadi, tapi ia tidak menyangka akan secepat ini.


Satria hanya berusaha memberikan ketenangan pada calon istrinya itu dengan mengusap lembut punggung Arin. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.


"Kita hadapi sama-sama, besok aku ikut kamu ya." ujar Satria setelah ia rasa Arin cukup tenang.


"Jangan, biar aku aja." jawab Arin menolak karena masih takut dengan kemungkinan yang akan terjadi.


"Rin, cepat atau lambat aku memang harus ketemu sama keluarga kamu. Dan aku gak mau di anggap pengecut dengan membiarkan kamu menghadapi semua masalah ini sendiri." ujar Satria mencoba meyakinkan.


"Tapi sat, aku takut kamu jadi samsak tinjunya Dean lagi besok, belum lagi lak Adrian nanti." ujar Arin mengungkapkan kekhawatirannya.


"Kamu tenang aja, besok kalau mereka mau macem-macem pasti aku lawan. Aku gak bakal diem aja kayak yang udah-udah." ujar Satria lagi yang langsung di tanggapi ketidakpercayaan oleh Arin.


"Bohong." ujar Arin pada akhirnya.


"Enggak sayang beneran. Kecuali ayah kamu yang mukulin aku ya masa iya aku lawan." ujar Satria sedikit tertawa membuat Arin kesal mendengarnya.


"Pokoknya kamu tenang aja, besok pagi-pagi aku jemput ya. Kamu bisa ijin dulu kan besok?" tanya Satria.

__ADS_1


"Besok coret merah, aku masih libur." ujar Arin sedikit sebal karena Satria ternyata masih sering melupakan tanggal.


"Maaf, sekarang aku bukan pekerja jadi gak penting ingat-ingat tanggal." jawab Satria dengan senyum lebar membuat nya mengaduh kesakitan karena ujung bibirnya yang sedikit sobek bekas pukulan tadi.


__ADS_2