
Taksi yang Arin tunggu akhirnya datang, ia pun pamit untuk pulang. Tak lupa ia berterimakasih karena Satria sudah menemaninya tadi. Jujur saja ia sangat takut dengan petir yang menggelegar di atas langit malam kota Jakarta.
Satria hanya termenung menatap mobil yang mantan kekasihnya itu tumpangi melaju dan mulai menghilang. Setelah itu ia memutuskan untuk pulang dan mengambil mobilnya di parkiran.
Tiba-tiba saja ia terpikir untuk pulang ke rumah orang tuanya. Sudah lama sekali ia tidak pulang dan melihat Arslan. Sekarang ia tidak akan terlalu merasa bersalah ketika menatap anak yang ia akui sebagai adiknya itu.
Semua permasalahan dan kesalahpahaman dirinya dengan Arin sangat membebaninya selama ini. Arslan tumbuh menjadi anak yang baik dan pintar tanpa dirinya.
Ia terlalu sibuk melarikan diri dari kenyataan selama 8 tahun terakhir ini. Ia bahkan terlalu takut untuk bisa dekat dengan Arslan karena rasa bersalah nya terhadap Arin yang menghantuinya.
Flashback,
Setelah Arslan lahir, kedua orangtuanya mengakui anak dari Satria dan Fina itu sebagai anak mereka sendiri di hadapan tetangga dan kerabatnya.
Tidak banyak yang mengetahui tentang pernikahan siri yang di jalani oleh Satria dan Fina kecuali keluarga inti serta eyang, paman dan bibi Satria di Jogja.
Mereka tidak ingin masa depan kedua orang tua Arslan menjadi hancur, karena itulah orang tua Satria mengambil langkah seperti itu. Awalnya kedua orang tua Satria menginginkan putra dan menantunya itu untuk fokus ke sekolah setelah Arslan lahir.
Mereka juga sangat merasa bersalah pada Fina dengan apa yang terjadi, tapi mereka juga sedikit kesal karena Fina sendirilah yang membuat hancur hidupnya sendiri sampai menyeret putra mereka juga ke dalamnya.
Mama Satria sudah tahu sejak dulu jika Fina selalu mengejar-ngejar Satria. Tapi ia tidak menyangka jika Fina akan mengambil langkah ekstrim untuk mendapatkan putra mereka tanpa memikirkan masa depan.
Setelah mengetahui Fina hamil, ayah tirinya mengusir Fina untuk keluar dari rumah karena merasa Fina telah mencoreng nama baik keluarga mereka. Ayah tiri Fina menolak untuk merawat Fina meskipun ibunya sudah memohon bahkan bersujud padanya.
Ibu Fina tidak bisa berbuat apa-apa karena ia sudah sakit-sakitan. Dan jika ibu tetap mau mempertahankan Fina maka, ia akan menceraikan ibu Fina dan tidak akan memberikan tunjangan sepeserpun untuknya serta mengambil hak asuh kedua adik tiri Fina.
Karena itu, ibu Fina hanya bisa memohon dan menggantungkan harapannya kepada kedua orang tua Satria. Dan karena mereka berdua masih berstatus sebagai siswa SMA, maka kedua orang tua Satria memutuskan untuk menikahkan mereka secara siri.
Sehingga Satria bisa tetap melanjutkan pendidikannya, begitu pula dengan Fina yang melakukan home schooling selama ia hamil sampai akhirnya melahirkan.
__ADS_1
Tapi setelah Arslan lahir Satria tetap kekeuh dengan keinginannya untuk bercerai. Karena Satria benar-benar tidak mencintai Fina. Pertama kali papa Satria mendengarnya, Satria sampai di hajar habis-habisan oleh papanya.
Tapi bahkan setelah babak belur dan jatuh sakit, Satria menolak untuk makan dan hanya diam sampai akhirnya papa dan mamanya akhirnya setuju membiarkan mereka bercerai.
Satria sangat membenci Fina karena merasa Fina telah menghancurkan hidupnya dengan cara menjebaknya. Dan ia selalu berujar, jika ia lebih baik mati dari pada hidup bersama Fina.
Akhirnya mereka pun berpisah tetapi dengan jaminan jika kedua orang tua Satria akan tetap mendukung penuh semua biaya kuliah dan kebutuhan hidup Fina sampai ia bisa hidup mandiri.
Fina pun akhirnya hanya bisa menerima keputusan keluarga Satria tanpa bisa menuntut apa-apa untuk mempertahankan hubungannya dengan Satria.
Ia pun memilih untuk pindah dan menetap di jakarta melanjutkan kuliahnya di salah satu universitas swasta di sana. Sementara Satria menetap di bogor dan melanjutkan hidupnya di sana.
Sementara Arslan di rawat dan di besarkan oleh kedua orang tua Satria. Semua berjalan baik sampai akhirnya Satria bertemu dengan Arinda dan mereka saling jatuh cinta.
Mereka menghabiskan waktu hampir 2 tahun dengan hubungan yang manis. Tentu saja begitu Fina mengetahui hal tersebut ia tidak bisa berdiam diri begitu saja. Ia bersumpah jika ia tidak akan membiarkan Satria hidup lebih baik darinya.
Karena itu Fina mencoba untuk menghancurkan hubungan Satria dan Arinda. Dan akhirnya rencananya berjalan dengan mulus tanpa hambatan.
Fina merasa puas telah menghancurkan hubungan mereka dan melihat Satria yang begitu patah hati. Ketika ia tidak bisa memiliki Satria setelah apa yang terjadi, maka tidak ada satu orang pun yang berhak memilikinya, pikir Fina.
~
Satria sudah sampai di depan rumah kedua orangtuanya. Dan Arslan sudah berlari memanggilnya dengan sangat senang. Ia langsung memeluk erat tubuhku Satria karena sangat merindukannya.
"Mas Satriaaaa." teriak Arslan sembari berlari pada Satria.
"Arslan, mas mu baru saja datang. Ajak dia masuk dulu nak." ujar mama Satria dengan lembut.
"Iya ma." jawab Arslan dengan mata yang berbinar.
__ADS_1
Melihat putranya yang begitu bahagia melihat kedatangannya membuat hati Satria sedikit terenyuh. Rasa bersalah kembali menyeruak di hatinya karena ia tidak pernah memperhatikan Arslan sejak ia berpisah dengan Arin.
Ia terlalu sibuk patah hati dan hanya memikirkan dirinya sendiri. Arslan adalah putranya yang tidak memiliki salah sedikit pun. Ia tidak meminta untuk di lahirkan ke dunia ini sebagai putranya, harusnya ia bisa bersikap lebih baik.
Mereka pun akhirnya masuk ke dalam rumah, dan mama Satria sudah menyiapkan makan malam untuk Satria. Papa dan adiknya sudah makan malam lebih dulu, karena Satria memang tidak mengabari lebih dulu kalau ia akan pulang.
Karena hari sudah malam, mama Satria menyuruh Arslan untuk naik ke kamarnya dan segera tidur karena besok ia masih harus pergi sekolah.
"Arslan, sudah malam. Kamu balik ke kamar terus tidur ya." ujar mama Satria.
"Tapi ma, mas Satria kan baru datang. Arslan masih kangen." jawab Arslan dengan sedih.
"Kamu duluan ke kamar mas, nanti kita tidur sama-sama." ujar Satria berhasil membuat wajah Arslan kembali tersenyum dengan lebar.
"Oke mas." ujar Arslan langsung berlari menaiki tangga menuju kamar Satria.
Mama Satria pun tampak menatap putranya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Kenapa ma?" tanya Satria menyadari tatapan mamanya yang tak biasa.
"Mama cuma senang, kalau kamu bisa memperhatikan Arslan seperti ini." ujar mama jujur.
"Ma, aku gak pernah melupakan siapa Arslan hanya karena mama dan papa mengakuinya sebagai anak kalian. Arslan tetap anakku, apapun yang terjadi." ujar Satria membuat air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata mamanya pun jatuh.
"Mama sangat bahagia Sat melihat kamu yang sekarang." ujar mama sembari mengelus lembut lengan kekar putranya itu.
"Ya udah, kamu makan dulu. Mama bikinin susu hangat buat kamu bawa nanti ke kamar." ujar mama sembari berjalan ke dapur.
Satria pun mulai menikmati makan malam yang terasa sangat lezat itu. Makanan buatan mamanya yang sudah lama sangat ia rindukan. Ia terkadang terlalu sibuk dengan hidupnya sendiri sampai melupakan keluarganya.
__ADS_1