Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Makan siang Tim


__ADS_3

Hari pertama bekerja membuat Arinda sangat bersemangat. Sejak pulang dari rumah sakit malam harinya, Arin segera mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk esok harinya. Hari ini ia akan menandatangani surat kontrak kerja sekaligus hari pertamanya untuk kembali ke dunia yang sangat ia sukai.


Karena belum memiliki kendaraan sendiri di Jakarta, Arin harus bepergian dengan moda transportasi umum. Dan ojek online adalah pilihan paling efisien untuknya, walaupun Dean sudah menawarkan mobilnya pada Arin tapi ia menolak.


Ia belum merasa perlu menggunakan kendaraan pribadi, sejak dulu ia lebih suka menggunakan kendaraan roda dua jika pun harus membeli kendaraan. Ia senang menggunakan sesuatu yang bisa ia beli dengan keringatnya sendiri.


Meskipun ia terlahir sebagai satu-satunya perempuan di keluarga mereka Arin tidak suka memanfaatkan fasilitas yang di berikan orangtuanya. Alih-alih meminta sesuatu ia lebih suka mendapatkannya dengan usahanya sendiri.


Setelah selesai penandatanganan kontrak, Arin pun di antar ke ruangan tempatnya bekerja yang berada di lantai 10 gedung perkantoran tersebut. Perusahaan yang kini menjadi tempatnya bekerja bergerak di bidak periklanan.


Arin pun mulai di perkenalkan dengan rekan 1 timnya dimana ia akan mulai mengais rezeki setiap harinya. Arin masuk bersama Fira yang juga merupakan karyawan baru sama sepertinya.


Mereka berdua berada di tim yang berbeda namun berada di divisi yang sama. Setelah sang leader menjelaskan tentang pekerjaan yang harus ia lakukan dan bagaimana mengenai peraturan perusahaan, Arin pun mulai menempati meja kerjanya yang berada paling pojok sebelah kanan dalam ruangan.


Rekan sesama tim nya terlihat ramah dan bersahabat bahkan mereka juga tidak segan untuk menawarkan bantuan jikalau Arin mengalami kesulitan. Arin sangat bersyukur dalam hatinya, karena ia mendapatkan pekerjaan dan rekan yang baik.


Ia pun mulai sibuk bekerja seperti yang lainnya. Karena sudah cukup berpengalaman di bidang tersebut Arin tidak terlalu menemui banyak kesulitan dalam hari pertamanya. Dan akhirnya jam makan siang pun tiba, para rekannya mengajak ia untuk pergi makan siang bersama.


"Mbak Arin, udah waktunya istirahat kita makan siang bareng yuk." ajak seorang perempuan berambut panjang yang di kuncir ekor kuda dan memakai kacamata yang bernama Hanum.


"Ah, iya udah jam segini aja. Boleh deh." jawab Arin mencoba untuk membuka diri.


Kali ini ia ingin membangun hubungan yang lebih baik dengan rekan 1 timnya dalam bekerja.


"Iya, biar kita lebih cepat akrab kita makan di cafe seberang kantor yuk. Sambil saling memperkenalkan diri." timpal Arian yang merupakan ketua tim mereka.


"Betul itu, apalagi kalau mas Arian yang traktir tuh tambah semangat kita. Ya gak?" ujar Nindy yang turut menghampiri meja Arin.

__ADS_1


"Betul." jawab Hanum dan Alya yang sejak tadi hanya menyimak obrolan sambil berdiri di samping Arin.


Akhirnya mereka pun sepakat untuk makan siang bersama di salah satu cafe baru yang terletak di seberang gedung perkantoran mereka. Pengunjung cukup ramai di jam makan siang, membuat mereka harus mencari meja yang kosong untuk mereka.


Beruntungnya begitu mereka tiba, Ada satu buah meja yang cukup untuk menampung 6 orang baru saja di bersihkan. Walaupun letaknya tidak cukup strategis karena terletak di tengah-tengah, tapi mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk makan di sana.


Setelah waiters datang mereka pun sibuk memesan makanan pilihannya masing-masing. Arin mencoba berbaur dengan rekan-rekan barunya tersebut meskipun awalnya masih terasa canggung.


Ia punya kebiasaan membatasi diri dengan orang-orang yang baru di kenal selama ini. Tapi Arin sudah memutuskan jika ia akan memulai lembaran baru dalam hidupnya tanpa bayang-bayang masa lalu. Ia ingin menjadi seseorang yang baru, manusia yang lebih baik dari pada sebelumnya.


Acara makan siang tim tersebut pun berjalan dengan lancar dan penuh dengan canda tawa. Semua anggota tim memiliki kepribadian yang ramah dan cerewet sehingga Arin tidak mengalami kesulitan untuk mengakrabkan diri dengan semua orang.


Mereka pun meninggalkan cafe setelah acara makan siang bersama selesai untuk kembali pada pekerjaan masing-masing. Tidak lupa Arin pun menyempatkan diri untuk menelpon Sherina dan menanyakan kondisinya saat ini.


Arin berkali-kali mengucapkan kata maaf karena tidak bisa menemani Sherina di rumah sakit. Ia juga meminta maaf jika Sherina pasti merasa sedikit tidak nyaman karena kehadiran Raka di sana. Tapi jika tidak seperti itu, baik ia maupun Herti tidak akan merasa tenang meninggalkannya di rumah sakit.


Sherina pun menerima penjelasan Arin dengan cukup baik, dan bahkan tidak merasa kecewa sama sekali. Memang Sherina akui akan lebih sulit jika tak ada seorang pun yang ia kenal untuk menemaninya di sana.


"Tapi Raka baik kan sama kamu?" tanya Arin yang langsung membuat tawa Sherina pecah.


"Kok ketawa sih Sher? Aku nanya serius loh?" tanya Arin lagi yang akhirnya membuat Sherina pun menghentikan tawanya.


"Bukan gitu Rin, lagi kamu aneh banget. Kamu kan temen baik Raka kamu yang tahu baiknya dia kayak gimana? Tapi kamu nanya kayak gini sama aku, kayak kamu tuh meragukan kebaikan dokter Raka loh." Jelas Sherina.


"Ya enggak, kalian kan belum lama kenal dan baru 1 kali aja ketemu takutnya gitu Raka bikin kamu canggung atau kurang nyaman." timpal Arin.


"Enggak ada kayak gitu kok Rin, kamu tenang aja. Udah sekarang mending kamu fokus lagi buat kerja. Sore nanti harus langsung pulang kerja mampir ke sini loh ya." pinta Sherina.

__ADS_1


"Tenang aja, aku juga udah bawa baju ganti kok. 4 jam lagi aku kelar kerja kok, sampai ketemu di rumah sakit." ujar Arin meyakinkan.


"Oke, aku tunggu loh ya."


"Siap non Sherina." jawab Arin sebelum akhirnya mengakhiri panggilan teleponnya.


"Saya kira mbak Arin telpon pacar, buru-buru balik ke meja." celetuk Hanum yang membuat Arin hampir terlonjak kaget.


"Mbak Hanum bikin aku jantungan tahu gak?" ujar Arin sambil memegangi dadanya yang hampir saja meledak karena kaget.


"Hehe, maaf ya gak maksud nguping tapi cuma kepo. Mbak Arin, ini berkas yang harus mbak Arin selesaikan hari ini ya." jelasnya sambil meletakkan sebuah dokumen di atas meja Arin.


"Oh iya, makasih mbak Hanum." jawab Arin tak ingin melanjutkan obrolan di antara mereka.


Kebetulan jam istirahat sudah selesai dan sudah waktunya bagi mereka untuk kembali bekerja. Sementara di sebuah restoran Jepang yang cukup terkenal di Jakarta Satria baru saja menandatangani kesepakatan kerjasama dengan seorang pengusaha.


Selama tinggal di Jakarta, Satria memutuskan untuk tinggal bersama keluarganya. Ia tak lagi menyewa apartemen seperti saat ia bekerja di perusahaan Bayu setahun lalu. Dan ketika hendak meninggalkan restoran, langkah Satria pun terhenti karena seseorang.


"Ternyata masih punya nyali juga lo balik lagi ke Jakarta." ujar Bayu dengan sinis membuat Satria menoleh.


Satria pun menatap Bayu dengan pandangan sulit di artikan. Wajahnya seolah tidak menunjukkan ekspresi apapun ketika menatap mantan sahabat terbaiknya itu. Ia pun kembali melangkahkan kakinya menuju mobil yang terparkir tidak jauh, membuat Bayu semakin geram tentunya.


"Kenapa Lo pergi? Gak punya nyali buat berhadapan sama gue?" ujar Bayu lagi dengan lebih arogan.


"Dasar pengecut !" ujarnya lagi membuat langkah Satria kembali terhenti.


Satria pun hanya menolehkan sedikit wajahnya dan tersenyum tipis pada Bayu.

__ADS_1


"Lo sendiri yang lebih tahu sebenarnya yang pengecut itu elo apa gue? Musuhin sahabat cuma karena di tolak sama cewek, sampai 2 kali dan lo ngelimpahin semua kebencian lo yang gak penting itu ke orang yang gak bersalah sedikitpun." jawab Satria telak, membuat Bayu sangat marah.


Namun Satria memilih melanjutkan langkahnya kembali tanpa menunggu jawaban Bayu bahkan tidak perduli sedikit pun ketika Bayu terus meneriakkan namanya dengan penuh amarah.


__ADS_2