
Arin berjalan dengan pikiran entah kemana. Suasana hatinya menjadi buruk setelah percakapan dengan mang Ade tadi, kang cilok yang sudah menjadi langganannya sejak SMP itu.
Ia tidak ingin pulang dengan suasana hati yang kacau. Arin memutuskan untuk berjalan selama beberapa menit sampai mood nya kembali membaik. Sementara Satria masih dengan setia mengawasinya dari seberang jalan.
Ia sudah bisa menebak percakapan seperti apa yang Arin dapat dengan mang Ade hanya dengan melihat raut wajahnya. Ia merasa sakit dan menyesal karena telah membuat Arin kembali murung seperti itu.
Ia adalah satu-satunya sumber kekecewaan dan penderitaan Arin selama ini. Satria sadar betul dengan apa yang dulu ia lakukan di masa lalu telah menghancurkan hati mantan kekasihnya.
Tanpa terasa Arin sudah berjalan selama hampir setengah jam. Tapi belum kunjung merasa baik, membuatnya kesal terhadap dirinya sendiri. Harusnya ia bisa tetap baik-baik saja dan berhenti untuk terluka.
Arin terus meyakinkan dirinya sendiri jika kini ia sudah tidak berada di masa lalu. Ia harus bisa tegar dan mencoba untuk tidak terluka lagi karena Satria.
Tiba-tiba pandangannya tertuju pada sepasang kekasih yang tengah bermain dan bercanda di sebuah taman yang berada tepat di sampingnya. Arinda nampak tertegun melihat dimana ia berada kini.
2 sejoli yang tengah bermain di sana tampak sangat bahagia hingga kedua tawa mereka begitu menghipnotis nya. Kebahagiaan yang tampak dari keduanya seperti menular begitu saja padanya.
Tanpa sadar kedua sudut bibirnya terangkat dengan senyum mengembang menatap keduanya. Tapi dalam sekejap bayangan keduanya menghilang membuatnya kembali tersadar.
Mereka hanyalah apa yang Arin bayangkan dan tidak nyata. Mereka adalah Arin dan Satria di masa lalu yang tak pernah ingin ia ingat kembali. Arin segera menyadarkan dirinya sendiri untuk kembali pada kenyataan.
Ia tidak boleh goyah dan mengingat lagi kenangan apapun tentang Satria di hati dan pikirannya. Ketika Arin hendak berbalik untuk pergi, ia begitu terkejut melihat sosok laki-laki yang tengah berdiri di hadapannya.
Di depannya sudah berdiri sosok Satria muda yang tengah tersenyum dengan teduh ke arahnya. Arin merasa terhipnotis, ia tidak bisa menahan tubuhnya yang bergerak dengan spontan menghambur pada laki-laki yang begitu ia rindukan.
Arin hanya menangis tersedu-sedu sambil memeluk Satria. Bibirnya sudah tak mampu berucap dan hanya bisa menangis sejadi-jadinya.
Satria pun mengeratkan dekapan tubuhnya pada gadis yang selalu ia rindukan selama bertahun-tahun itu untuk menumpahkan segala perasaan yang kini berkecamuk di dalam dadanya.
Setelah beberapa saat Arin pun terhenyak menyadari jika yang ia peluk kini adalah tubuh yang nyata dan hangat. Ia tidak pernah melupakan perasaan ketika Satria memeluknya dulu yang seperti itu.
Dengan memberanikan diri akhirnya Arin pun melepaskan dirinya untuk melihat siapa yang ia peluk saat ini. Pada awalnya ia pikir, itu khayalannya saja sehingga ia tidak bisa berpikir jernih.
__ADS_1
Arin begitu terkejut melihat memang Satria yang kini sedang berdiri di hadapannya. Mereka sama-sama diam terpaku untuk beberapa saat.
"Untuk apa kamu disini?" tanya Arin dingin kembali seperti biasa.
Kini keduanya tengah duduk bersama di sebuah kursi taman yang berada tidak jauh dari sana.
"Maaf." hanya kata itu yang sanggup Satria ucapkan.
Mereka pun kembali terdiam karena sama-sama bingung dengan apa yang harus mereka ucapkan.
"Apakah bisa kamu memberikan aku satu kesempatan?"
"Tidak ada lagi yang perlu di jelaskan, aku tidak ingin selalu mengingat dan terikat dengan masa lalu. Ini sudah lama berlalu, sebaiknya kita sama-sama fokus dengan masa depan kita."
"Tapi aku belum selesai dengan masa lalu kita, rin. Aku masih ada di masa lalu kita, aku masih menunggu kamu di sana."
Arin hanya terdiam setelah mendengarnya.
"Tapi aku sudah selesai Sat, tidak ada yang tersisa di masa lalu buat aku selain rasa sakit karena kamu." ujar Arinda dengan emosional.
"Cinta tidak pernah menyakiti Sat, seperti apa yang telah kamu lakukan ke aku." jawab Arin kembali setengah berteriak membuat Satria tertampar.
"Aku pernah sangat mencintai kamu Satria, aku sangat mencintai kamu dan menaruh harapan dan mimpi-mimpi besar aku pada hubungan kita. Sampai kamu akhirnya mengkhianati aku, sampai akhirnya Aku membunuh semua rasa Cinta ku dan hanya menyisakan kebencian yang tak pernah habis untuk kamu." ujar Arin menumpahkan semua perasaannya yang selama ini ia pendam dalam-dalam.
Satria pun langsung berlutut dan bersimpuh di hadapan Arin dengan air mata yang sudah mengalir di kedua pipinya.
"Aku mohon sama kamu, maafin aku. Aku benar-benar minta maaf. Aku gak pernah berniat menyakiti kamu sedikit pun, Aku sayang sama kamu Rin." ujar Satria dengan sangat menyesal dan terus mengiba.
"Bagaimana mungkin kamu bilang, kamu tidak berniat menyakiti aku sementara kamu sampai memiliki seorang anak dengan perempuan lain Satria!!" ujar Arin tak lagi bisa membendung emosinya.
Arin pun langsung bangkit dan berdiri tidak memperdulikan Satria yang terus memohon dan mengiba padanya. Arin mencoba untuk tetap tegar, perlahan ia melepaskan kedua tangan besar Satria yang memeluk kedua kakinya.
__ADS_1
Satria bahkan rela jika ia harus mengiba, memohon bersujud bahkan mencium kaki mantan kekasihnya itu agar Arin bisa memaafkannya.
Tapi Arin masih dengan pendiriannya. Ia pun berusaha menulikan pendengarannya dan memilih untuk meninggalkan Satria di sana.
Pada akhirnya, ia tetap tidak bisa memaafkan Satria walaupun ia sudah mencobanya.
Hatinya terlalu sakit ketika ia mengingat semua kenyataan yang terjadi padanya dan Satria. Walaupun sudah lama, tapi ia tetap tak bisa memaafkannya apalagi menerimanya kembali seperti sedia kala.
Arin berlalu dengan hati yang hancur, ia berlari sekencang-kencangnya tanpa memperdulikan dan menoleh sedikit pun pada Satria. Bayangan masa lalu terus berkelebat di kepalanya.
Flashback,
Saat itu sudah hampir 2 tahun ia berpacaran dengan Satria. Semuanya tampak indah dan baik-baik saja sampai akhirnya Fina yang tak lain adalah mantan kekasih Satria sekaligus teman sekelasnya.
Ia datang pada Arinda sambil berurai air mata dengan perut yang sudah membuncit. Arin tidak pernah menyangka jika pertemuan itu akan menjadi akhir untuk kebahagiannya saat itu.
Fina bercerita jika saat itu ia tengah mengandung dan anak yang ia kandung merupakan anak dari Satria. Laki-laki yang selama hampir 2 tahun itu menjadi kekasihnya.
Bagai tersambar petir di siang bolong, pengakuan Fina padanya benar-benar menghancurkan hatinya.
"Apa lo yakin kak, kalau anak ini adalah anak Satria? Gak mungkin kak, kalian udah lama putus. Satria tuh udah sama gue selama 2 tahun ini. Gak mungkin!"
"Gue gak bohong Rin, gue emang lagi hamil dan ini tuh anaknya Satria. Lo harus percaya sama gue, gue gak pernah ngelakuin ini sama siapapun selain sama dia!" Jawab Fina yang kembali membuat hatinya tercabik-cabik.
Arin sangat terluka saat itu, ia segera pergi mencari Satria yang saat itu sedang berada di kampusnya. Satria yang melihat kedatangan Arin pun sangat senang, karena saat ini ia memang tengah begitu merindukannya.
"Sayang, kamu disini?" tanya Satria tak percaya.
Plakk, satu tamparan mendarat di pipinya dengan keras membuat kedua mata satria membulat seketika.
"Sayang, kamu kenapa sih? Kenapa dateng-dateng tiba-tiba nampar aku?" tanya satria kembali .
__ADS_1
Plakk!
Lagi-lagi bukan jawaban yang keluar dari mulut Arin melainkan sebuah tamparan yang lebih keras dari sebelumnya.