Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Gosip


__ADS_3

Seperti yang sudah di rencanakan oleh Satria, akhirnya ia pun mengantarkan Arin pergi ke kantor setelah mengajaknya sarapan bersama. Sebenarnya Arin belum memberikan kepastian tentang hubungan mereka tapi Satria berprinsip, jika kali ini dia akan memaksa.


Setidaknya mereka kini sudah tahu tentang bagaimana perasaan masing-masing terhadap satu sama lain. Dan ia sudah siap dengan segala resiko yang mungkin akan terjadi untuk ke depannya.


Meski sesulit apapun Satria tidak akan mundur, ia akan berusaha sekeras mungkin untuk meyakinkan keluarga Arin terutama kedua orangtuanya. Ia sudah menunggu selama ini, pantang baginya untuk menyerah begitu saja.


Selama perjalanan ke kantor Arin lebih banyak diam. Ia memikirkan banyak hal mengenai hubungannya dengan Satria. Arin kenal betul bagaimana sifat kedua saudara laki-lakinya itu.


Apalagi Dean, dia sangat keras kepala, meskipun mereka selalu bertengkar tapi Dean lah yang paling di depan jika sesuatu terjadi padanya. Terakhir kali saja dia sudah membuat Satria masuk rumah sakit, apalagi jika mengetahui Satria kembali mendekatinya.


Jika memikirkan masalah restu untuk keduanya rasanya semuanya terasa mustahil. Tapi di balik diamnya sikap Arin ia juga sangat memperhatikan Satria. Ia sangat yakin jika kali ini Satria tidak akan mundur begitu saja. Ia terlihat sangat siap dan serius mengenai hubungan mereka.


"Sayang." panggil Satria


"Apa sih sayang-sayang aja. Nanti orang salah paham loh Sat." ujar Arin masih dengan mode juteknya.


"Loh kok salah paham, kan bener aku panggil sayang karena ya emang aku sayang sama kamu." jawab Satria sambil mencubit pipi Arin gemas.


"Ih tahu ah." timpal Arin kesal karena sulit sekali belakangan ini mendebat Satria.


Bahkan tak jarang Arin sampai di buat kehabisan kata-kata oleh mantan kekasihnya itu. Satria pun hanya tertawa kecil melihat wajah kesal Arin yang menurutnya sangat menggemaskan.


"Jangan pasang muka bete gitu, kamu makin cantik tahu gak? gemes banget aku." ujar Satria lagi membuat ku Arin mendelik ke arahnya.


"Makanya senyum dong, aku seriusan loh kalau kamu jutek kamu tuh makin gemesin tahu gak." timpalnya lagi.


Arin pun hanya bisa menghela nafas pelan sebelum akhirnya menunjukkan senyum terpaksanya itu.


"Nah gitu dong, kan cantik." ujar Satria sambil mengelus puncak kepala Arin dengan sayang.

__ADS_1


"Sat, please tangan kamu tolong di kondisikan." ujar Arin meminta Satria untuk menjaga sikapnya.


"Oke, oke. I'm so sorry." jawab Satria spontan sambil mengangkat tangannya.


Dan tidak terasa, akhirnya mereka pun sampai tepat di depan lobby perusahaan. Arin pun pamit dan turun dari mobil dengan sedikit tergesa-gesa. Dan ketika ia hampir memasuki lobby Satria kembali memanggilnya.


"Sore aku jemput ya, kamu kabarin aja kalau udah selesai." ujar Satria langsung berlalu sebelum sempat Arin menjawabnya.


"Ciie, yang pagi-pagi di antar pacar." ujar Hanum yang entah datang dari mana membuat Arin sedikit terlonjak kaget.


"Sok tahu kamu, num. Belum tentu loh itu pacarnya mbak Arin ya kan? Gimana kalau itu malah suaminya." timpal Alya yang tiba-tiba sudah ada di belakang Arin membuatnya kembali terkejut.


"Kalian ini, bikin orang kaget aja. Gimana kalau saya kena serangan jantung, kalian mau tanggung jawab?" ujar Arin cuek lalu kembali berjalan masuk ke dalam gedung perkantoran tersebut.


"Mbak Arin, jadi yang tadi pacar atau suaminya?" tanya Hanum masih penasaran.


"Jadi pacar dong?" timpal Alya yang ikut penasaran dengan kehidupan rekan baru mereka itu.


"Bukan juga." jawab Arin singkat."


"Jadi yang tadi siapa dong?" tanya keduanya kompak.


"Abang taksi online." jawab Arin asal lalu meninggalkan keduanya untuk masuk ke dalam lift.


"Ah gak mungkin."


"Iya setuju, gak percaya aku lha wong tatapannya mesra gitu masa iya supir taksi doang." gerutu keduanya tanpa di timpali lagi oleh Arin.


Padahal di belakang keduanya Arin tersenyum kecil karena berhasil mengelabui keduanya. Walaupun mereka rekan baru dalam Tim tapi sikap Hanum dan Alya yang ramah dan supel cepat membuatnya nyaman.

__ADS_1


Semua rekan dalam tim nya terbuka tentang kehidupan pribadi masing-masing. Dan tidak sungkan untuk membicarakannya satu sama lain ketika sedang makan siang bersama atau sepulang kerja ketika pulang bersama.


Hanya Arin yang tidak terlalu mengumbar kehidupan pribadinya, semua orang hanya tahu tentang dari mana Arin berasal, almamater universitasnya, dan tentang keluarganya yang masing-masing hidup di kota yang berbeda.


Karena itu Hanum dan Alya selalu di buat penasaran. Jika ada dari mereka yang menanyakan seputar kisah asmaranya Arin selalu menjawab jika itu adalah rahasia.


Sementara di rumah sakit Sherina sudah mulai belajar berjalan. Dan karena merasa iba, Raka selalu datang di waktu senggangnya untuk membantu Sherina selama di rumah sakit. Kini mereka mulai cukup dekat sebagai teman.


Tidak seperti sebelumnya, Raka yang biasanya datang secara sembunyi-sembunyi ke ruang perawatan Sherina sekarang mulai terlihat cuek. Ia bahkan terkadang datang masih menggunakan pakaian dinasnya khas seorang Dokter.


Beberapa perawat di rumah sakit yang pernah bertemu dengan Raka di ruangan Sherina mulai membuat gosip. Jika Sherina adalah calon istri Raka yang mana mereka lihat Raka selalu datang dan menjaga Sherina bahkan sampai menginap.


"Ka, maaf ya sebelumnya." ujar Sherina tiba-tiba di sela makan siang mereka.


Kebetulan saat jam makan siang, Raka memutuskan untuk membawakannya makanan yang ia pesan dari luar. Semenjak di Rumah sakit Raka tahu tidak pernah ada yang datang bahkan sekedar untuk berkunjung selain Arin dan Herti.


Arin dan Herti sedang di sibukkan dengan pekerjaan masing-masing. Dan tidak bisa sering datang untuk berkunjung atau sekedar menemaninya. Karena itu Raka pun merasa iba mengetahuinya, apalagi Arin sudah menceritakan tentang keluarga Sherina yang sudah tercerai berai.


"Maaf kenapa Sher?" tanya Raka tidak mengerti kemana arah pembicaraan mereka.


"Maaf karena aku di sini, kamu jadi banyak di repotkan dan terimakasih banyak untuk semua bantuannya sampai hari ini." jelas Sherina merasa tidak enak hati.


"Ah, aku kira kenapa. Santai aja Sher, anggap saja aku ini teman sama seperti Arinda dan Herti." jawab Raka dengan sungguh-sungguh.


"Baiklah, kalau begitu mulai sekarang kita berteman." ujar Sherina mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


Raka pun menyambut uluran tangan Sherina dengan senyuman. Suasana canggung di antara mereka kini sudah lenyap berganti dengan canda tawa yang sesekali terdengar oleh beberapa orang yang lalu lalang di sekitar ruangan Sherina.


Para perawat pun tak jarang mencuri pandang melihat interaksi keduanya yang banyak membuat orang iri karena salah paham dengan hubungan yang terjalin di antara mereka.

__ADS_1


__ADS_2