Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Bab 108


__ADS_3

Baru saja ia menapakkan kakinya di atas lantai, terlihat ayah dan ibunya masuk sambil menyibak tirai yang menutupi brankar tempatnya berisitirahat sejak 2 jam lalu.


"Sayang, kamu mau kemana?" tanya sang ibu yang entah sejak kapan ada di sana pikir Arin.


"Arin mau lihat kondisi Satria bu, yah tolong untuk kali ini jangan larang Arin buat pergi." pinta Arin dengan mengiba membuat kedua orangtuanya saling menatap lalu menghembuskan nafas berat.


"Baiklah, tapi ayah dan ibu akan mengantarkan mu." jawab ayah Arin karena ia begitu khawatir melihat keadaan putrinya saat ini.


Karena shock dan kelelahan Arin sampai pingsan selama 2 jam dan harus menjalani perawatan di IGD. Dan sekarang Arin sudah kembali ke tempat dimana terakhir kali ia sadar.


Mama Satria langsung menghampirinya dan memeluknya sambil menangis. Arin pun nampak kebingungan melihat bagaimana wajah semua orang di sana yang tampak terlihat begitu sedih.


"Ini sudah 6 jam tante, bagaimana operasinya?" tanya Arin berusaha menepis beberapa pikiran buruk yang sempat terlintas.


Belum sempat mama Satria bicara terdengar pintu ruang operasi terbuka. Beberapa perawat tampak mendorong brankar Satria yang terlihat tengah terbaring dengan banyak alat yang terpasang di tubuhnya.


Arin mencoba menahan sesak di dadanya kala melihat Satria seperti itu. Mama dan papa Satria langsung menghampiri dokter untuk membicarakan kondisi Satria. Mereka berdua tampak berjalan sambil saling berpegangan mengikuti dokter ke ruangannya.


Sementara Arin hanya mengikuti kemana para perawat membawa Satria. Hanya ada keluarga Arin dan kedua orangtua Satria di rumah sakit sementara Citra harus menjaga Arslan di rumah.


Eyang putri sudah pulang ke Jogja dan kedua orangtua Satria sengaja tidak mengabari eyang karena takut eyang terkejut mendengar keadaan Satria. Bagaimana pun juga eyang sudah di usia yang sudah cukup tua untuk menerima guncangan mengenai kabar cucu kesayangannya itu.

__ADS_1


Kedua orangtua Satria akan menyuruh adik mereka yang juga tinggal di Jogja untuk mengantarkan eyang ke Jakarta setelah kondisi Satria bisa di pastikan membaik. Walaupun mereka sendiri belum tahu bagaimana kondisi Satria yang sebenarnya.


**


Arin tampak melamun menatap Satria yang masih terbaring tak sadarkan diri melalui sebuah kaca besar di depannya. Saat ini Satria sedang di tempatkan di ruang ICU dan akan menjalani perawatan intensif sampai kondisinya di pastikan sudah lebih baik.


Ini adalah hari kedua setelah Satria di operasi, Arin harus menelan kekecewaannya ketika dokter menyatakan Satria mengalami koma. Selama 3 hari ini, adalah masa kritis bagi Satria.


Jika dalam 3 hari ini kondisi Satria mengalami perubahan artinya perawatan yang di lakukan menunjukkan adanya progres yang baik. Namun jika tidak, kemungkinan untuk bisa sadar kembali akan semakin tipis.


Satria bisa saja di nyatakan mati otak, jika kondisinya tak kunjung membaik dan hal itulah yang membuat Arin semakin hancur. Selama 3 hari ini Arin tidak pernah beranjak sedikitpun dari rumah sakit.


Tidak jarang kedua sahabatnya datang sekedar untuk membawakannya makanan dan melihat kondisi Satria. Dan akhirnya karena itu pulalah akhirnya Arin mengetahui fakta jika Satria adalah laki-laki yang selama ini di cintai oleh sahabatnya sendiri.


Arin benar-benar merasa terkejut mengetahui fakta tersebut. Ia tersentak kaget melihat bagaimana Sherina bereaksi melihat kondisi Satria saat ini. Entah ia harus bersikap seperti apa, Arin memilih untuk mengabaikan hal tersebut terlebih dahulu.


Hatinya merasakan sakit tapi ia juga tidak bisa menyalahkan siapapun untuk kondisi yang menimpa mereka saat ini. Arin sadar, jika perasaan manusia bukanlah sesuatu hal yang bisa di atur begitu saja.


Arin hanya merasa sedikit kecewa karena baik Sherina maupun Satria menyembunyikan fakta tersebut darinya. Bahkan bisa ia lihat jika Sherina sudah sangat akrab dengan semua orang di keluarga Satria membuat hatinya sedikit tidak nyaman.


Arin tidak ingin bersikap egois dan mempermasalahkan hal itu di saat seperti ini. Bagaimana pun juga saat ini kondisi Satria lah yang menjadi prioritas utamanya. Ia tidak ingin memikirkan banyak hal yang hanya akan membuatnya semakin terpuruk.

__ADS_1


Seperti biasa di ruang tunggu ruang ICU saat ini ada Arin dan mama Satria juga eyang yang baru saja datang di antarkan oleh paman Satria. Awalnya eyang tidak di beritahu mengenai kondisi Satria yang sebenarnya.


Setelah sampai di Jakarta barulah eyang bisa mengetahui dan melihat secara langsung bagaimana Satria berjuang di atas ranjang rumah sakit dengan begitu banyak alat menempel di tubuhnya.


Eyang sangat sedih dan tak bisa berhenti menangis melihat kondisi cucu kesayangannya itu yang hanya bisa terbaring dalam keadaan tidak berdaya. Berkali-kali eyang memeluk Arin mencoba meyakinkan Arin dan dirinya sendiri jika Satria pasti akan baik-baik saja.


"Eyang yakin, Satria akan segera bangun. Dia sangat mencintai kamu nduk. Cucu eyang tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk membahagiakan kamu. Eyang adalah saksi bagaimana besarnya cinta Satria untuk kamu. Doakan dia, yakinkan dia kalau kamu sudah di sini, dan akan selalu bersamanya." ujar eyang membuat tangis Arin kian pecah.


Walaupun ia mencoba untuk tegar dan kuat tapi mendengar apa yang eyang katakan membuat pertahanan Arin runtuh. Ia pun memeluk eyang dengan erat menumpahkan segala ketakutannya tentang kondisi Satria saat ini.


Dan ternyata bukan cuma Arin yang menangis hebat mendengar apa yang eyang katakan. Sherina yang sebenarnya sejak tadi diam di balik tembok pun harus menekan kesedihannya ketika mendengar apa yang eyang ucapkan.


Di satu sisi ia merasa bahagia untuk Arin tapi di sisi lain ia juga tidak bisa memungkiri jika ia begitu patah hati mendengar kenyataan yang lagi-lagi menamparnya begitu keras. Dan tiba-tiba saja pundaknya di tepuk oleh seseorang yang tak lain adalah Raka.


Sherina pun menatap Raka dengan airmata yang sudah tumpah ruah memenuhi setiap sisi wajahnya. Dan tanpa sadar memeluk Raka demi menumpahkan segala kesedihan dan rasa patah hatinya saat ini.


Raka sempat tertegun sampai akhirnya ia pun tersadar dan segera membalas pelukan Sherina sambil mengusap punggung gadis yang usianya sudah mencapai kepala 3 itu untuk menenangkannya. Raka bisa mengerti apa yang saat ini di rasakan oleh Sherina karena ia pun mengalami hal yang sama.


Raka pun mencoba mengajak Sherina untuk pergi dari rumah sakit saat ia sudah merasa Sherina jauh lebih tenang. Berada di sana hanya akan membuat Sherina semakin sedih pikir Raka.


Karena itu Raka berencana untuk mengajak Sherina pergi dan menghiburnya. Setiap melihat Sherina , ia merasa seperti melihat dirinya sendiri karena mereka benar-benar mengalami hal yang sama.

__ADS_1


__ADS_2