Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Rencana Satria


__ADS_3

Sampai lewat tengah malam kedua mata Arin masih tampak segar saja. Tidak ada tanda-tanda ia akan tidur dalam waktu cepat meskipun ia ingin. Beban berat di kepalanya mungkin sudah memberikan efek langsung pada dirinya.


Sudah cukup lama sejak terakhir ia mengalami insomnia, yang ia pikir tak akan pernah ia rasakan lagi. Takdir begitu pemilih untuk mendatangkan bahagia tidak pada siapa saja yang menginginkannya.


Entah akan menjadi awal kebahagiaan atau jalan menuju kehancuran kembali, tak dapat Arin tebak kemana kah takdir akan berpihak. Setelah banyak harapan yang ia gantungkan pada yang maha kuasa, rupanya sebuah ujian masih harus ia lewati dengan hati yang lapang.


Jika Satria sudah mengumpulkan semua keluarganya demi membahas hubungannya dengan Arin yang sangat ingin ia segera untuk di resmikan. Lain halnya dengan Arin yang bahkan untuk menceritakan pertemuannya lagi dengan Satria pada Kakak atau adiknya saja membuatnya ciut tak punya nyali.


Bagaimana mungkin ia bisa menghadapi kedua orangtuanya begitu saja. Meskipun ayah dan ibunya merupakan sosok orang tua yang selalu berpikiran terbuka dan tak memaksakan kehendaknya, tapi Arin tetap merasa cemas setengah mati untuk mengetahui reaksi mereka.


Malam kian larut, Di hadapan semua keluarganya Satria sudah menyampaikan keinginannya secara jelas dan lugas. Ia ingin segera mengambil langkah serius untuk hubungannya dengan Arin yaitu ke jenjang pernikahan.


Semua orang tampak diam tak berkomentar mendengarkan penjelasan Satria dengan seksama. Ia pun mengabarkan jika ia memutuskan akan segera meminang satu-satunya gadis yang mampu membuatnya jatuh cinta.


"Ma, pa, eyang Satria sangat berharap kalian semua bisa mendukung penuh apapun yang menjadi rencana terbaik bagi hubungan Satria dan Arinda." jujur Satria membuat ketiga orangtua di depannya sedikit menghela nafas sambil saling bersitatap satu sama lain.


"Apa kamu yakin orang tua Arin akan menerima begitu saja pinangan kami terhadap putri mereka." ujar eyang putri mencoba realistis mengingat keadaan.


Satria pun nampak terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum teduh menatap eyangnya itu.


"Eyang tahu, dalam 10 tahun terakhir Satria bukan tidak pernah berusaha untuk melupakan Arin. Tapi semakin Satria berusaha, semakin Satria terus mengingat nya dan itu benar-benar saat yang paling membuat Satria tersiksa. Jadi Satria akan berusaha semaksimal mungkin, untuk mendapatkan restu dari kedua orangtua Arin dan tidak akan menyerah sampai mereka sendiri yang akhirnya menyerah." jelas Satria dengan tegas dan lugas menyampaikan apa isi hatinya kali ini.


"Arin lebih dari sekedar berharga buat Satria eyang, tapi dia adalah tujuan hidup Satria."timpalnya lagi membuat semua orang bungkam tidak bisa berkata-kata.


"Baiklah nak, jika itu sudah menjadi keputusan kamu mama dan papa tidak bisa apa-apa lagi selain mendukung kalian. Kalau begitu, ajaklah Arin kemari sat sebelum kita menghadap keluarganya nanti. Mama sudah lama sekali ingin bertemu dengan Arin." jelas mama Satria membuat Satria merasa lega dengan apa yang mamanya sampaikan.


"Baiklah ma, nanti Satria kabarin lagi kapan waktunya Arin bisa datang ke sini." ujar Satria dengan senyum bahagia terulas dari bibirnya.


Sudah lama sekali sejak Satria terlihat begitu berseri dan penuh dengan senyuman di wajahnya. Hati kedua orangtuanya menghangat melihat hal tersebut dan dalam hati mereka berdoa semoga saja tidak ada halangan dalam hubungan mereka ke depannya.

__ADS_1


"Semoga gusti Allah berikan kemudahan dan kelancaran bagi niat kamu ya Sat. Eyang selalu mendoakan kebahagiaan buat kamu." ujar eyang putri dengan mata berkaca-kaca menatap cucu kesayangannya itu.


"Dengan doa serta dukungan semua keluarga Satria yakin Satria bisa melewatinya. Terimakasih ma, pa, eyang. Secepatnya Satria akan membicarakannya dengan Arin, kapan waktunya kita bisa melakukan pertemuan untuk kedua keluarga." jujur Satria kembali menambah semangat dalam dirinya.


Setelah berbincang-bincang bersama keluarganya selama beberapa saat, Satria pun pamit untuk pergi ke kamarnya. Dan begitu masuk, ia segera mengeluarkan benda pipih yang sejak tadi ia letakkan di dalam sakunya.


Satria pun mencari kontak nama Arin dan langsung menghubunginya guna merencanakan tentang pertemuan keluarga mereka nanti. Sementara Arin masih setia duduk di atas sajadahnya setelah menjalankan kewajiban 4 rakaatnya sembari mencurahkan segala kegundahan di hatinya.


Untaian doa ia panjatkan tanpa henti, ia berharap di berikan kemudahan dan kelancaran dalam setiap urusannya. Terutama mengenai kelanjutan hubungannya dengan Satria.


Jika memang mereka berjodoh, Arin berdoa semoga ia di berikan jalan yang mudah untuk bisa bersama namun jika mereka memang tidak berjodoh Arin hanya meminta untuk di berikan keihklasan di hati masing-masing nantinya.


Baru saja ia selesai dengan doa-doanya, terdengar bunyi ponsel begitu nyaring memekakkan telinga. Arin pun sudah bisa menduga siapa yang menghubunginya di waktu hampir tengah malam seperti ini jika bukan Satria.


Tanpa melepas mukena di tubuhnya Arin beranjak mengambil ponsel yang terus berdering menampilkan nama Satria sebagai penelpon. Lantas Arin pun langsung menerima panggilan tersebut dengan hati yang lebih tenang setelah mengadukan segala kegelisahan di hatinya kepada sang pencipta.


"Assalamualaikum sayang." ujar Satria menyapa dengan lembut.


"Kamu lagi apa? udah makan?" tanya Satria sembari merebahkan tubuhnya di atas kasur.


"Gak lagi ngapa-ngapain, udah kok." jawab Arin sambil melepas mukena dari tubuhnya dan melipatnya satu persatu.


"Kamu dimana sekarang?" tanya Satria lagi.


"Kok nanya, ya di kost'an atuh jam segini mah aku dimana lagi." jawab Arin sedikit kesal membuat Satria terkekeh mendengarnya.


"Ya maaf ya sayang, aku gak maksud gitu kok." ujar Satria.


Obrolan pun berlanjut hampir 1 jam lamanya sampai akhirnya Arin tertidur ketika telpon masih tersambung. Setelah beberapa kali Satria memanggil dengan lembut tanpa sahutan ia pun meyakini jika Calon istrinya itu telah terbuai ke alam mimpi.

__ADS_1


****


1 Minggu telah berlalu, Arin menjalani hari-harinya seperti biasa tanpa Satria. Karena ada masalah di Jogja yang harus ia tangani secara langsung mereka akhirnya hanya menjalani hubungan jarak jauh untuk sementara waktu.


Hari ini merupakan hari Minggu dimana Arin ingin menghabiskan harinya dengan tidur dan melakukan aktifitas di dalam kamarnya saja. Belakangan ini pekerjaan di kantor membuatnya cukup sibuk dan harus lembur selama beberapa kali.


Lain halnya dengan Sherina yang masih dalam tahap pemulihan, sudah merasa sangat bosan karena hanya berdiam diri saja di dalam kamar selama beberapa hari ini. Rencananya hari ini ia ingin sedikit berjalan-jalan ke supermarket sekalian berbelanja.


Ia pun memilih supermarket terdekat dari kost'an yang jaraknya tidak sampai 2kg. Dengan menaiki ojek online akhirnya Sherina pun sampai di tempat tujuannya. Seperti biasa setelah membayar ongkos ojeknya, ia langsung masuk ke dalam supermarket sambil mendorong sebuah troli.


Selain berbelanja kebutuhan pribadi, Sherina juga membeli beberapa buah-buahan segar dan beberapa camilan. Ketika hendak memilih buah-buahan Sherina pun merasa terkejut ketika tidak sengaja bertemu dengan Raka di sana.


"Kamu udah sehatan sekarang Sher? tanya Raka sembari melihat kesana kemari dan Sherina hanya mengangguk kecil.


"Kamu sendiri aja?" tanya Raka lagi yang hanya di jawab anggukan seperti sebelumnya.


"Ya udah, pulang nya nanti bareng saya aja. Nanti saya antar." tawar Raka.


"Eh, gak usah ka gak apa-apa kok nanti saya bisa pesan taksi online pas pulang." jawab Sherina mencoba menolak tawaran Raka.


"Gak apa-apa Sher, saya aja yang antar kenapa harus pesan taksi." ujar Raka bersikukuh.


"Gimana ya, ngerepotin gak nih?" tanya Sherina sedikit tidak enak hati.


"Enggak ada hal seperti itu, nanti bareng ya. Saya ke sana dulu nanti tunggu saya di depan kalau kamu sudah selesai." ujar Raka sembari mendorong troli ke arah berlawanan untuk mencari barang-barang yang akan ia beli.


Mau tidak mau Sherina hanya bisa mengangguk pasrah. Menolak pun percuma, karena Raka sepertinya tidak ingin menerima penolakan darinya. Sudut bibirnya sedikit tertarik merasakan perhatian yang Raka berikan.


Walaupun Raka sering bersikap acuh namun selama ini ia selalu menunjukkan perhatiannya dengan cara yang berbeda. Sherina tidak ingin menarik kesimpulan apapun tentang perhatian yang Raka berikan karena ia takut jika ia kadung berharap ataupun terlanjur menaruh rasa.

__ADS_1


Setelah pengalaman cintanya yang buruk dengan Satria , Sherina sudah berjanji pada dirinya sendiri agar tidak mudah terbuai dengan sikap dan perhatian orang lain yang akan membuatnya salah paham. Atau lebih parahnya lagi kembali memiliki perasaan sebelah pihak saja.


__ADS_2