Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Makan malam


__ADS_3

Setelah melihat beberapa karyawan tampak sibuk memilih mobil dan teman seperjalanan mereka akhirnya aku pun meminta pakde tejo untuk segera berangkat dan memberitahukan tujuan kami.


"Pakde antar ke hotel seruni ya." ujarku di sela obrolan kami.


"Ah, baik den. Oia, Eyang Putri berpesan jika aden di minta untuk menghubungi sekarang juga den." ujar pakde tejo menyampaikan.


Tanpa babibu lagi aku pun langsung menscroll deretan nomer yang aku cari. Sampai akhirnya aku menemukan nama eyang putri di sana, aku pun segera menelponnya.


"Assalamu'alaikum eyang, apa kabar?" tanya Satria sopan.


"Waalaikumsalam, alhamdulillah kabar eyang baik-baik saja. Kamu bagaimana toh?" tanya eyang balik.


"Alhamdulillah eyang, Satria baik. Oia, maaf ya Satria gak kasih kabar kalau mau ke sini. Ini Satria dalam perjalanan ke hotel di antar pakde tejo." jelas ku.


"Ke hotel? Kamu gak nginep disini Sat? Eyang sudah kangen sekali loh sama kamu." ujar eyang kembali membuat ku tak enak hati.


"Maaf eyang, ini acara perusahaan soalnya. Tapi Satria janji sebelum pulang Satria akan menyempatkan diri untuk berkunjung." ujarku mencoba menghibur.


"Tapi eyang sudah menyiapkan makanan banyak sekali loh ini, kamu gak bisa ke sini dulu mampir untuk makan malam." ujar eyang terdengar sedih di telingaku.


Aku pun terdiam beberapa saat menatap ke belakang. Akhirnya aku pun memilih untuk menekan tombol speaker sembari menoleh pada 3 orang di belakangku.


"Gak bisa ya Sat, eyang dan mbok nah sudah siapin banyak makanan loh ini buat kamu dan teman-teman kamu. Eyang pikir kamu akan menginap di sini. Gak bisa ya mampir sebentar untuk makan malam aja di sini sebentar." terdengar suara eyang memecah hening di dalam mobil membuat semua orang menoleh.


Aku pun memberikan isyarat menanyakan pendapat Arin. Ku lihat raut wajahnya tampak tak enak hati mendengar suara eyang putri yang terdengar begitu sendu.


"Sat, gimana? kok diam. Teman-teman kamu keberatan ya kalau mampir dulu untuk makan di sini?” tanya eyang lagi akhirnya membuat ku kembali pada Arin tanpa suara.


" Sebentar eyang, Satria harus bertanya dulu pada mereka." jawabku.

__ADS_1


Arin pun menghela nafas cukup dalam sampai akhirnya mengangguk memberikan izin untuk itu. Aku pun langsung menyanggupi permintaan eyang dan langsung di sambut dengan antusias.


Setelah berbicara sebentar akhirnya panggilan pun terputus. Ku tatap satu persatu ketiga orang di belakang ku.


"Kalian gak keberatan kan kalau mampir untuk makan malam dulu di rumah eyang saya?" tanya Satria yang langsung di jawab dengan gelengan kecil oleh ketiganya.


"Jadi gimana den? kita ke rumah atau ke hotel?" tanya pakde tejo sambil fokus mengemudi.


"Ke rumah eyang dulu pakde, kita makan malam dulu di sana sebentar baru ke hotel." jawabku dengan mantap.


Hening pun akhirnya kembali menguasai mobil. Tidak ada yang berbicara selain pakde yang sesekali menanyakan keluarga ku di Jakarta.


Sampai akhirnya setelah menempuh perjalanan hampir 1 jam lamanya kami pun sampai di pekarangan rumah eyang putri yang tampak luas dan asri.


Beberapa pohon mangga dan pohon jambu tampak mengisi beberapa sudut. Sementara di ujung sebelah kiri terdapat taman bunga mawar kesayangan eyang.


Eyang putri ku memang sangat senang berkebun, terutama menanam bunga-bunga. Dan kebetulan saat aku sampai di sana bunga mawar eyang tengah bermekaran dengan indahnya. Bukan hanya mawar, di sana juga terdapat tanaman bunga anggrek dan melati china yang tampak rimbun.


"Assalamu'alaikum." ucap kami serempak.


"Waalaikumsalam, ya allah Sat eyang kangen betul sama kamu. Semenjak ke Jakarta kamu gak pernah pulang berkunjung." ujar eyang putri langsung memeluk ku dengan hangat.


Wajah eyang masih terlihat cantik meskipun kerutan sudah tampak di sana sini. Namun tidak bisa memudarkan aura keanggunan dari seorang eyang putri. 8 tahun aku menemani nya di rumah ini, dan setelah sekian lama akhirnya aku kembali.


Setelah berbincang sebentar denganku, eyang pun menyadari ketiga orang yang tengah berdiri canggung mematung di belakang ku. Ku lihat mata eyang sedikit membulat sesaat seperti terkejut melihat sesuatu walaupun akhirnya wajahnya terlihat normal kembali.


"Oh iyaa eyang, kenalin ini Arin, Andi dan Herti. Mereka temen sekantor Satria eyang." jelas ku memperkenalkan ketiganya.


"Selamat malam eyang." Sapa mereka serempak.

__ADS_1


"Malam, ayo ayo silahkan masuk. Di luar udaranya dingin, kalian pasti sudah letih mari masuk.” ajak eyang dengan ramah.


Kami pun berjalan mengikuti langkah eyang yang membawa kami ke ruang tamu. Tidak ada yang berubah di rumah ini, semua masih seperti saat aku tinggalkan.


" Silahkan duduk nduk." ujar eyang pada Arin dan Herti yang ada di samping nya.


Eyang pun tampak sibuk ke dapur meminta mbok nah untuk membuatkan minuman untuk kami. Aku pun mengikuti eyang mengekor di belakangnya ingin melihat persiapan untuk makan malam kami.


"Wah, bener yah eyang udah masak banyak. Sayang banget kalau aku gak mampir, hampir semua makanan ini menu kesukaan aku semua." ujar ku sembari memeluk eyang dan mengecup pipinya kilat.


"Kamu ini, sudah besar masih manja-manja sama eyang. Gak malu kalau pacarmu lihat nanti." ujar eyang tiba-tiba membalik tubuhnya segera menatapku.


"Ah eyang, kan tahu Satria gak punya pacar." ujarku dengan wajah murung.


"Dasar nakal, kamu pikir eyang tidak tahu gadis cantik yang pakai jaket kamu itu siapa?" ujar eyang memukul lengan ku membuat ku reflek mengaduh sambil mengusapnya pelan.


"E.. eyang tahu?" tanyaku penasaran.


"Mana mungkin eyang tidak tahu siapa gadis yang sudah bikin cucu eyang ini sering menangis diam-diam, sakit karena rindu, dan selalu di peluk fotonya kalau tidur." ujar eyang membuatku hanya cengengesan sambil menggaruk kepala ku yang tidak gatal.


"Ya, maaf eyang kan Satria gak tahu."


"Lalu bagaimana hubungan kalian sekarang? Apa sudah baikan?" tanya eyang membuatku bingung harus menjawab apa.


"Arin sudah maafin aku eyang, tapi untuk kembali rasanya tidak mungkin. Ia menolak dengan keras, apalagi keluarga nya sudah tahu tentang Arslan. Tidak mungkin mereka akan menerima begitu saja." jelas ku dengan jujur sambil menunduk dalam.


"Dasar payah, 8 tahun kamu cariin sampe kadang eyang lihat kamu kayak orang mau mati. Gak ada gairah hidup, hidup segan mati tak mau. Setelah ketemu baru di tolak begitu aja sudah menyerah." ujar eyang membuatku tersenyum tipis.


Eyang memanglah orang yang sangat enerjik. Usia tidak lantas membuatnya terlihat lemah dan payah. Justru semakin hari eyang semakin segar dan awet muda saja.

__ADS_1


"Sudah biar eyang bantu kamu! " sungut eyang dengan berapi-api.


Terlihat ia sangat bersemangat menyiapkan segalanya dan bersiap kembali ke ruang tamu menemui para tamu jauhnya itu.


__ADS_2