Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Perasaan bersalah Satria


__ADS_3

Setelah berbincang-bincang dengan Citra dan mama Satria selama beberapa saat akhirnya Arin pun di antarkan ke lantai 2 dimana kamar Satria berada. Arin tampak mematung di depan pintu kamar Satria sambil menghela nafas berat sampai akhirnya memutuskan untuk mengetuk pintu yang sedang tertutup rapat tersebut.


Tok tok tok,


Satria yang sedang duduk di lantai bersandar pada ranjangnya seketika menoleh ketika mendengar suara ketukan pintu di sertai suara Arin yang tengah memanggilnya.


Ia sedikit terkejut mendapati Arin benar-benar ada di sana, tapi Satria juga merasa tidak punya keberanian untuk menampakkan dirinya di depan Arin .


Masih terekam jelas di ingatannya semua hal yang ayah dan ibu Arin katakan kemarin. Satria adalah sumber dari segala penderitaan di hidup Arin. Jika saja bukan karenanya Arin pasti tidak akan mengalami semua hal berat itu.


Perasaan bersalah di hatinya terlalu mendominasi, membuatnya bahkan merasa sangat malu bahkan untuk sekedar muncul kembali di hadapan Arin. Mendapati Satria yang hanya diam saja di dalam kamar, membuat Arin merasa cukup sedih.


Untuk pertama kalinya Satria mengabaikannya begitu saja seperti ini. Beberapa hal terlintas di kepalanya, mungkinkah terjadi sesuatu dengan Satria di dalam atau Satria memang hanya tidak ingin menemuinya.


"Sat, buka pintunya ini aku Arin." teriak Arin sambil mengetuk-ngetuk pintunya berkali-kali.


"Sat, kamu kenapa sih?"


"Buka pintunya Satria!"


Tok tok tok tok,

__ADS_1


"Ya udah kalau kamu emang gak mau ketemu lagi sama aku. Jangan harap kamu bakal ngelihat aku lagi dimana pun." ancam Arin sedikit kesal hendak berbalik pergi setelah hampir setengah jam ia berteriak di depan kamar Satria tanpa respon sedikit pun.


Ceklek, pintu kamar Satria pun terbuka di susul Satria yang segera menahan lengan Arin yang hendak pergi.


"Maaf." ujar Satria lemah sambil menundukkan wajahnya.


Arin pun hanya bisa menghela nafas kasar, lalu berbalik kembali dan masuk ke kamar Satria. Kamar Satria terlihat gelap dan berantakan dengan banyak barang berserakan. Arin pun segera berjalan ke arah jendela dan menarik gordennya membuat kamar Satria di penuhi cahaya dari luar.


Srrakk


Arin tidak banyak berbicara, dalam diam ia mulai merapikan barang-barang Satria kembali pada tempatnya. Ia juga mulai merapikan ranjang Satria yang terlihat berantakan sementara Satria hanya terdiam mematung tidak berani menatap Arin sama sekali.


Satria pun akhirnya menutup pintu kamarnya dan berjalan ke arah Arin yang sedang merapikan tempat tidurnya. Tanpa berkata-kata Satria pun memeluk Arin dari belakang.


"Maaf untuk semua penderitaan yang aku berikan buat kamu. Maaf untuk semua rasa sakit yang aku berikan buat kamu. Maaf juga karena gak ada di sisi kamu, ketika kamu mengalami semua hal buruk itu." ujar Satria sedikit terbata.


Suaranya terdengar parau, bahkan penampilan Satria terlihat begitu kacau. Ia bahkan masih menggunakan pakaian yang kemarin ia kenakan. Untuk pertama kalinya Arin melihat Satria benar-benar menangis.


Bahunya terlihat bergetar naik turun seirama dengan tangisnya yang pecah. Arin pun diam-diam berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah. Setelah mencoba menenangkan dirinya sendiri, akhirnya Arin pun melepaskan kedua tangan Satria yang melingkar di tubuhnya dan berbalik.


Dengan lembut Arin hapus jejak airmata di kedua pipi Satria. Ia pun mencoba menenangkan Satria dan mengatakan jika saat ini ia sudah baik-baik saja. Melihat penyesalan mendalam di mat Satria tentunya Arin pun mengerti apa saja yang mungkin di katakan oleh kedua orangtuanya.

__ADS_1


"Semua sudah berlalu, bukankah kamu berjanji akan memberikan masa depan yang indah untuk aku." ujar Arin sambil menatap dalam kedua mata Satria yang masih terlihat memerah.


"Tapi, aku udah nyakitin kamu banget. Aku, aku gak tahu apa-apa. Aku gak tahu kalau aku pernah hampir membuat kamu pergi dari dunia ini. Aku benar-benar merasa bersalah, aku nyesel dan aku ngerasa aku gak pantes lagi buat kamu." jujur Satria.


Arin pun tersenyum lembut pada Satria lalu menelusupkan kedua tangannya melingkar di tubuh Satria. Apa yang Arin duga memang benar, Satria telah mengetahui semuanya. Bahkan hal terbodoh yang pernah ia lakukan dalam hidupnya.


"Aku sangat mencintai kamu Sat, lebih dari apa yang kamu pikirkan. Lebih dari pada aku mencintai diriku sendiri. Kamu adalah cinta pertama ku, cintaku saat ini, dan cintaku di masa depan."


"Aku gak mau lagi mengingat masa lalu yang akan mengingatkan aku tentang hal-hal bodoh yang pernah aku lakukan di masa lalu. Jika kamu memang benar-benar menyesal, satu-satunya hal yang harus kamu lakukan saat ini adalah memperjuangkan aku. Sampai ayah dan ibuku bisa menerima dan merestui kamu. Dan kamu bisa membahagiakan aku, untuk saat ini dan di masa depan nanti itulah harga mahal yang harus kamu bayar atas semua hal yang pernah aku alami dulu." ujar Arin dengan sungguh-sungguh sambil menatap mata Satria sementara satu tangannya mengelus lembut pipi Satria.


Tangis Satria pun kembali pecah mendengar apa yang Arin katakan saat ini. Di satu sisi ia merasa sangat beruntung dan bahagia bisa mendapatkan Arin kembali. Tapi di sisi lain ia juga merasa sangat sakit karena yang menjadi penyebab semua rasa sakit Arin adalah dirinya sendiri.


Arin pun kembali memeluk Satria dan mengusap lembut punggung Satria yang masih bergetar sambil berusaha menenangkannya. Arin membiarkan Satria menumpahkan segala perasaannya saat itu.


Ia tahu betul seberapa besar Satria mencintainya, karena itu pasti Satria juga merasa sakit dan terluka atas fakta yang baru saja ia ketahui dari kedua orangtuanya. Ia hanya bisa berdoa di dalam hati agar Tuhan mau berbaik hati.


Untuk melabuhkan cinta mereka yang tak pernah berubah meski lebih dari sewindu telah berlalu. Untuk mempersatukan mereka dalam cinta yang suci dan murni. Untuk menautkan hubungan mereka dalam sebuah fase kehidupan yang baru dalam ikatan pernikahan yang sakral.


Satria kini memilih berbaring dengan posisi kepalanya berada di pangkuan Arin. Matanya tampak terpejam dengan hembusan nafas yang teratur mulai terdengar. Setelah puas menumpahkan segala perasaan dan penyesalannya Satria pun tertidur di pangkuan Arin.


Dengan lembut satu tangannya terlihat mengusap-usap rambut Satria. Sementara satu tangannya yang lain di genggam erat oleh Satria. Arin tidak merasa keberatan sedikit pun, ia justru merasa senang karena akhirnya tidak ada lagi rahasia di antara keduanya.

__ADS_1


Arin hanya berharap Satria tidak akan mudah menyerah menghadapi penolakan yang di berikan kedua orangtuanya. Meskipun sulit, tapi Arin cukup yakin jika pada akhirnya mereka akan mendapatkan restu dari kedua orangtua Arin.


__ADS_2