Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Surat untuk Raka


__ADS_3

Angin cukup kencang menerpa wajah Arin yang sedang terpaku menatap birunya air laut yang ada di hadapannya. Langit berwarna jingga menemaninya yang termenung dengan sekelumit hal yang mengusik pikirannya.


Setelah memutuskan untuk pergi dari Jakarta dan memulai hidup yang baru, ia benar-benar memutus kontak dengan semua orang. Termasuk Raka dan kedua sahabat nya yang lain yaitu Andi dan Herti.


Tapi Arin menyempatkan diri untuk berpamitan dengan Andi dan Herti sesaat sebelum ia akan pergi. Ia melakukan video call di bandara ketika masih menunggu pesawat nya.


Mereka berdua berkeras ingin menyusul Arin ke bandara namun itu tidak lagi mungkin karena Arin menelponnya setengah jam sebelum ia naik pesawat.


Arin sengaja melakukannya karena ia tidak ingin berpamitan secara langsung dengan keduanya. Sudah bisa di pastikan mereka akan nekat menyusulnya meskipun tahu sedang jam kerja.


Arin pun akhirnya memutuskan untuk jujur tentang permasalahan yang ia hadapi dengan Satria. Ia juga menjelaskan jika ia pergi bukan untuk menghindari Satria semata seperti dulu, tapi ia ingin mencari jati dirinya.


Ia ingin menyembuhkan diri dan mencari kebahagiaan nya sendiri. Andi dan Herti pun akhirnya mengerti jika saat ini yang Arin butuhkan memanglah suasana baru dan kehidupan baru.


Dengan tulus mereka mendoakan kesembuhan bagi Arin, dan berharap jika Arin akan segera menemukan apa yang ia cari. Andi dan Herti pun berpesan jika nanti mungkin Arin kembali ke Jakarta atau ke Bogor kota kelahirannya itu, mereka ingin bertemu.


Arin pun menyetujui apa yang menjadi permintaan dari kedua sahabatnya itu. Sementara untuk Raka, Arin memilih untuk mengirimkan sebuah surat yang bang Adrian serahkan langsung setelah ia pulang mengantar Arin dan kedua orangtuanya dari bandara.


"Eh, bang Adrian." sapa Raka dengan ramah, dan mereka pun berjabat tangan.


"Hai, Raka apa kabar?" tanya bang Adrian.


"Alhamdulillah bang, saya baik. Tapi tumben banget abang di Jakarta dan bisa datang ke sini?" tanya Raka masih keheranan.


"Saya sengaja datang ke sini setelah dari bandara." jelas Adrian membuat hati Raka sedikit cemas memikirkan sebuah kemungkinan.

__ADS_1


"Abang habis antar ayah ibu dan Arin ke bandara." ujar Adrian menjawab rasa penasaran Raka yang begitu terkejut mendengar nya.


Deg,


"Me.. mereka pergi bang?" tanya Raka berusaha mengontrol keterkejutannya.


"Iya, dan sepertinya akan lama." jelas Adrian kembali membuat harapan di hati Raka seketika hancur.


"Saya gak akan lama, saya datang atas permintaan adik saya untuk memberikan ini untuk kamu." jelas Adrian sembari menyerahkan sebuah amplop berwarna putih polos.


"Terimakasih bang." ujar Raka sopan.


Adrian pun langsung berpamitan untuk kembali ke Bogor, ia tidak bisa lama karena istri dan anaknya sedang menunggunya di lobby rumah sakit.


"Kamu laki-laki yang baik, sebenarnya saya suka sama kamu tapi perasaan tidak bisa di paksakan. Jangan menunggu adik saya yang tidak pasti, kamu berhak mendapatkan seseorang yang lebih baik. Dan terimakasih atas segala bantuan kamu terhadap adik saya selama ini." ucap Adrian panjang lebar menasehati Raka sambil menepuk bahunya sebelum ia benar-benar pergi.


Dengan perlahan ia mulai membuka amplop yang tidak tersegel itu dan mengeluarkan isinya. Matanya ia coba fokuskan untuk mencerna setiap kata yang di tuliskan oleh gadis yang telah mencuri hatinya dalam waktu yang singkat itu.


To : Raka


Hai Ka, apa kabar? aku harap kabar kamu baik dan sehat. Maaf jika beberapa hari ini aku terus mencoba menghindari kamu. Tapi percayalah, ini sudah menjadi yang terbaik untuk kita.


Aku gak tahu harus mengucapkan terimakasih seperti apa lagi sama kamu. Karena kamu sudah begitu banyak membantu ku, dan mengubah hidupku selama beberapa bulan ini.


Raka, Aku tahu dan mengerti tentang perasaan kamu. Tapi maaf, aku gak bisa membalas perasaan kamu itu. Bagi aku, kamu tetap berharga dan berarti untuk aku tapi sebagai sahabat, sebagai seorang yang bisa aku andalkan mereka sandaran dalam kesulitan ku.

__ADS_1


Aku berharap suatu hari nanti ketika aku kembali, kita bisa menjadi sahabat seperti sedia kala. Dan tolong sebisa mungkin maafkan aku yang terlalu bodoh ini karena tidak bisa memilih kamu dan mengecewakan laki-laki sebaik kamu.


Si bodoh ini tidak pantas mendapatkan pria sebaik kamu. Aku harap, saat aku kembali nanti kamu sudah bisa mencintai seseorang yang lain yang lebih baik dari pada gadis bodoh ini.


Jangan membenci ku, karena rasa cinta yang tertanam kuat di hatiku bukanlah sesuatu yang aku kehendaki untuk hadir. Aku akan menemui kamu setelah aku mendapatkan kesembuhanku, dan bisa mengenali jati diriku sendiri.


Sama seperti aku yang akan mencari kebahagiaan ku sendiri, aku harap kamu pun begitu.


Dari sahabat mu yang bodoh


Arinda


***


Raka pun meremas kuat kertas yang berada dalam genggaman nya tersebut. Sungguh apa yang Arin lakukan kali ini adalah sesuatu yang tidak ia pikir, akan di lakukan.


Walaupun ada perasaan kesal dan marah yang bercokol di hatinya, menjadikan sesak dan sakit secara bersamaan. Namun Raka juga sadar, jika apa yang Arin lakukan tidak ada yang salah dan apa yang Arin ucapkan dalam surat pun merupakan 100℅ kebenaran.


Raka mencoba untuk mengikhlaskan kembali kisah cintanya yang bahkan sudah karam sebelum sempat ia berlayar. Tapi ia pun sadar jika ia juga tidak bisa meminta Arin untuk melupakan seseorang yang ia cintai begitu saja.


Terlepas dari segala permasalahan yang terjadi di antara mereka berdua, Raka tahu jika keduanya masih saling mencintai dengan sama besarnya. Dan kalau boleh ia jujur, ia sangat iri pada Satria. Karena setelah mengetahui segalanya pun ia masih jadi satu-satunya orang yang begitu sangat du cintai oleh Arin.


Rasanya memang mustahil, untuk bersaing dengan Satria mengingat perasaan yang Arin tanam di hatinya sudah terpatri selama 10 tahun. Akan sulit bagi orang yang baru, untuk masuk di antara keduanya.


Raka pun berjalan gontai menuju ruangannya dengan perasaan patah hati. Ia tidak tahu, apakah ia bisa melupakan Arin begitu saja. Ia membuka handphonenya dan melihat wallpaper fotonya dengan Arin yang ia ambil ketika mereka jalan-jalan di Bogor.

__ADS_1


Raka pun hanya bisa menghela nafas berat sembari tersenyum pahit menatap terus menerus foto tersebut. Sakit, ya memang seperti itulah rasanya patah hati pikir Raka.


__ADS_2