
Setelah menghabiskan makan siang bersama, Arin menunjukkan sebuah kamar untuk Dean untuk beristirahat. Bagaimana pun perjalanannya cukup jauh dari Jakarta walaupun menggunakan pesawat.
Di rumah mereka kebetulan terdapat 3 kamar. 2 kamar di gunakan oleh Arin dan kedua orang tuanya sementara kamar yang kosong di peruntukan sebagai kamar tamu. Jadi jika sewaktu-waktu Adrian atau Dean datang berkunjung mereka bisa menempati nya.
Sebelum Arin keluar dari kamar, Dean menahan tangan Arin. Ia mengajaknya untuk duduk di atas ranjang dan berbicara serius.
Beberapa saat Dean hanya terdiam sambil sesekali menghela nafas, seperti kebingungan.
"Ada apa sih?" tanya Arin tidak sabar.
"Kakak udah gak apa-apa kan? Sekarang kakak baik-baik aja kan?" tanya Dean memastikan.
Arin pun tersenyum teduh menatap wajah adiknya yang kini sudah tumbuh menjadi seorang laki-laki dewasa. Usia mereka terpaut 4 tahun, dan sejak dulu mereka sering sekali bertengkar.
Tapi Arin tidak pernah lupa bagaimana wajah sedih adiknya itu ketika ia benar-benar terpuruk akibat permasalahannya dengan Satria. Bahkan ia ingat ketika ia dulu pernah hampir mati karena overdosis obat penenang, Dean lah yang banyak menangis di depannya.
Arin tahu jika adiknya itu begitu menyayanginya. Karena Arin adalah satu-satunya anak perempuan di keluarga mereka, Arin tumbuh dengan di manjakan oleh semua orang.
Karenanya dulu Dean sering merasa cemburu dengan perhatian semua orang yang selalu tertuju pada kakaknya. Meskipun ia anak terakhir, tetapi ayah dan ibunya tidak pernah memanjakannya dan mendidiknya dengan disiplin karena itulah ia merasa iri.
"Kakak baik-baik aja kok sekarang. Baik banget malah." jawab Arin setelah beberapa saat dengan tersenyum.
"Aku mau cerita sesuatu." ujarnya pendek.
"Tentang apa?" tanya Arin kembali rasa penasaran menggelitik hatinya karena Dean tidak pernah seserius itu.
"Beberapa hari lalu, aku ketemu Satria di Jakarta." ujarnya dengan mata yang memanas dan suara tertahan karena emosi.
"Lalu?" tanya Arin tanpa ekspresi.
"Ya, udah lama banget kan aku emang pengen ketemu sama si brengsek itu. Begitu ada kesempatan ya gak aku sia-sia in lah." jelas Dean dengan berapi-api.
__ADS_1
"Terus, kalau ketemu emang kamu mau ngapain de?" tanya Arin sambil terkekeh kecil.
"Ya aku hajar lah, aku udah nunggu bertahun-tahun kebetulan momennya pas ya aku hajar aja dia sampe aku puas." ujar Dean santai membuat Arin melongo seketika.
"Serius?" tanya Arin setelah terdiam beberapa saat.
"Iyah kak, aku serius. Awalnya sih dia gak kenal sama aku, dia sempet bales nonjok aku juga karena ke bawa emosi kali tiba-tiba aku serang begitu." jelas Dean membuat Arin tertawa kencang sambil memegang perutnya.
"Terus, terus?" tanya Arin lagi semakin penasaran.
"Akhirnya ya aku menang lah, aku beneran bikin dia babak belur sampe masuk rumah sakit. Tapi karena aku masih baik, ya aku sendiri yang bawa dia kesana." jujur Dean dengan polos membuat Arin hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tertawa.
"Tapi dia kan sabuk item loh, karate. Masa kalah sama kamu." ejek Arin pura-pura tak percaya.
"Ih emang dia doang yang sabuk item, aku juga udah sabuk item asal kakak tahu." ujar Dean sebal.
"Tapi sebenarnya dia ngelawan pas awal-awal aku serang makanya aku juga sampai kena tonjok dia nih." ujar Dean sembari mengangkat kausnya memperlihatkan memar di bagian rusuk sebelah kanannya.
"Lah, terus?"
"Dia gak bilang apa-apa?" tanya Arin dengan raut wajah tak terbaca.
"Dia minta maaf sama aku, dia bilang dia emang pantes dapetin itu. Makanya dia pasrah aja pas tahu itu aku, dan dia rela aku hajar sampe aku puas." ujar Dean dengan wajahnya yang datar.
"Ya sudah, gak apa-apa mau di apain lagi toh orangnya juga udah ikhlas. Jadi dia gak akan nuntut kamu nanti." ujar Arin tersenyum membuat Dean mengernyit heran.
"Kakak udh gak apa-apa kalau kita ngomongin dia?" tanya Dean dengan wajah tegang.
"Enggak, dan makasih kamu udah hajar dia buat kakak." ujar Arin tersenyum lembut.
Dean terus memperhatikan wajah sang kakak yang terlihat tanpa ada kepura-puraan ataupun kebohongan.
__ADS_1
"Aku seneng, denger kak Arin udah lepas obat." ujar Dean lagi.
"Kakak rasa, kakak udah menemukan obat yang lebih ampuh dari pada pil penenang." cetus Arin membuat Dean penasaran.
"Obat apa kak?" tanya Dean.
"Penerimaan." jawab Arin singkat.
Melihat wajah kebingungan adiknya Arin pun menceritakan jika ia dan Satria sudah memutuskan untuk saling memaafkan. Dan ia juga menjelaskan kebenaran yang sebenarnya sudah ketahui sejak setahun lalu.
"Tapi kakak gak ada niatan kan balik lagi sama dia?" tanya Dean membuat Arin terdiam kemudian mengulas senyum tipis.
"De, kamu tahu gak bahwa yang namanya jodoh, maut dan Rezeki itu sudah di atur oleh allah SWT. Kakak sekarang bisa sembuh, karena kakak mencoba ikhlas dan menerima takdir yang allah berikan untuk kakak."
"Jujur aja, seumur hidup kakak gak pernah menyimpan nama orang lain di hati kakak selain dia. Walaupun kakak berusaha mati-matian membohongi diri kakak sendiri dengan pacaran ataupun jalan sama laki-laki lain. Tapi perasaan kakak gak bisa teralih dari dia."
"Sekarang kakak cuma mau berusaha menjalani hidup kakak sebaik mungkin, masalah jodoh jika memang yang allah siap kan sebagai jodoh kakak adalah dia terus kita bisa apa sebagai manusia."
"T.. tapi kak, dia udah punya anak. Apa kakak yakin bisa nerima anak itu?" tanya Dean dengan kepala tertunduk.
"Kakak gak tahu de, yang jelas kita pasrahkan aja semuanya sama allah ya. Kalau memang jodoh, nanti pasti ada jalan yang akan mempersatukan kami. Tapi jika tidak, allah pasti akan mengirimkan seseorang yang lain yang lebih baik nanti buat kakak." jelas Arin lagi membuat Dean tetap tidak puas.
Ia merasa takut jika kakaknya akan kembali pada laki-laki brengsek itu. Ya, walaupun kebenarannya tidak seperti yang selama ini ia ketahui, tetap saja dia pernah menghamili wanita lain di umur yang masih belia malah.
Sebagai adik, Dean berharap kakaknya bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik. Rasanya ia tidak rela, memikirkan jika suatu hari nanti Satria akan menjadi kakak iparnya.
Dan tentunya kakaknya nanti harus mengurus anak yang bukan darah dagingnya sendiri. Dean terpikirkan Raka, kenapa kakaknya tidak menerima Raka saja sebagai pasangan nya.
Jelas-jelas Raka lebih baik daripada Satria. Ia adalah seorang dokter, masa depannya cerah dan terjamin. Keluarganya juga bukan keluarga sembarangan, kakaknya tidak akan kekurangan apapun jika ia memilih dokter Raka.
Selama di Jakarta, Raka sering mengajaknya bertemu ataupun sekedar ngopi bersama di cafe. Walaupun beberapa kali ia menanyakan keberadaan Arin, tapi Dean berusaha untuk tetap diam.
__ADS_1
Karena ia takut jika Arin akan marah padanya jika memberitahukan keberadaannya saat ini. Setiap kali meminta izin pada Arin, ia selalu berkata suatu hari nanti ia juga akan kembali ke Jakarta dan pasti akan menemui Raka.
Akhirnya Dean hanya bisa terdiam pasrah. Apa yang kakaknya katakan memang benar, tapi entah kenapa ia masih sedikit sulit menerima nya.