
Setelah drama yang membuat Arin sedikit kesal akhirnya Satria pun mengantar Arin kembali ke kost'an setelah jam makan siang . Itupun karena Arin yang terus menggerutu kesal lantaran Satria telah membuang waktunya untuk berkemas.
Sementara Sherina dan Herti sejak tadi menghubunginya, mereka berniat membantu Arin untuk packing tapi Arin sendiri malah pergi keluar. Sepanjang perjalanan Satria terlihat murung karena masih banyak yang ingin ia lakukan bersama Arin.
Arin pun bersikap acuh, ia tidak ingin menuruti kemauan Satria terus menerus karena ayahnya sudah menelponnya dan memintanya untuk pulang malam nanti. Lagipula masih banyak waktu menurut Arin untuk mereka bisa pergi.
"Ayah udah telpon, malam nanti aku harus udah pulang ke Bogor. Jadi nanti aja ya kita pergi lagi." ujar Arin begitu mereka sampai di tempat tujuan.
Satria hanya diam dengan bibir mengerucut. Arin sampai menghela nafas berkali-kali mencoba bersabar menghadapi Satriani yang sedang merajuk. Arin pun meletakkan tangannya di kedua sisi wajah Satria dan mencoba membuat kekasihnya itu menatap ke arahnya.
"Aku janji Minggu depan, kita pergi seharian." ujar Arin membuat Satria pun akhirnya tersenyum dengan mata yang berbinar senang.
"Janji ya."
"Iya, janji." jawab Arin yang langsung di hadiahi kecupan di pipinya oleh Satria.
Cup,
Cup,
Cup,
Bahkan berkali-kali Satria mengecupi hampir seluruh bagian wajah Arin sebelum akhirnya mencium bibir kekasihnya begitu lembut. Arin pun membalas ciuman Satria selama beberapa saat sampai akhirnya menyudahi pagutannya.
"Udh ya gak enak lama-lama dalam mobil gini, nanti di kira mesum lagi." ujar Arin membuat Satria mau tak mau menurut.
Arin pun turun dari mobil dengan Satria yang begitu sigap membukakan pintu mobil untuknya. Ia pun terus menggenggam lembut tangan Arin dan mengantarkannya tepat sampai di depan pintu masuk.
Dan sebelum Arin dan Satria sampai terlihat Sherina hendak keluar dari kost'an untuk membeli makan siang dengan Herti. Satria dan Sherina pun semakin bersitatap selama beberapa detik sebelum akhirnya Satria memalingkan wajahnya dengan dingin.
"Eh ada mas Satria." sapa Herti.
"Apa kabar mas?" tanyanya lagi.
"Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat ti. Kamu apa kabar sama Andi?" tanya Satria balik tanpa melirik sedikit pun ke arah Sherina.
"Em, aku sama Andi Alhamdulillah juga. Cuma karena sekarang lagi musim nikahan ya gitu deh, agak sibuk buat ngejob wedding event aja." jawab Herti membuat Satria menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Sat, kenalin ini Sherina temen baru aku itu loh. Dia juga sama loh kayak kamu dari Jogja." ujar Satria memperkenalkan Sherina.
"Aku kenal kok sama dia, kita temen kuliah." jelas Satria membuat ketiga gadis di hadapannya sedikit terkejut menoleh ke arahnya.
Sherina hanya bisa terdiam, tidak seperti yang ia duga ternyata Satria tidak berpura-pura tidak mengenalnya. Ia berpikir sebelumnya Satria pasti akan berpura-pura acuh dan tak mengenalnya.
"Wah, kebetulan banget ya Sher ternyata kalian saling kenal." ujar Arin membuat Sherina mencoba mengangguk sambil menunjukkan senyum terbaiknya.
Arin pun sepintas merasa ada sesuatu yang aneh di antara interaksi Satria dan Sherina. Meskipun Satria bersikap biasa, tapi entah kenapa sikap Sherina terlihat agak lain di mata Arin. Namun ia berusaha menepis pikiran yang tidak-tidak dari otaknya.
"Apa kabar sat?" tanya Sherina sambil mengulurkan tangannya.
Satria pun menjabat ukuran tangan Sherina sembari menjawab seperlunya. Ia bersikap manis dan hangat ketika berbicara dengan Arin namun selalu bersikap datar dan dingin jika berhadapan dengan Sherina.
"Baik." jawab Satria singkat bahkan tanpa sedikitpun senyuman di wajahnya.
"Sebenci itukah kamu sat sama aku. Kamu begitu baik dan lembut memperlakukan Arin tapi begitu dingin sama aku." Sherina berujar dalam hati.
Sherina dan Herti pun akhirnya pamit karena mereka berencana untuk pergi keluar untuk membeli makanan dan beberapa camilan. Meskipun begitu Sherina diam-diam tetap memperhatikan Satria dan Arin dari kejauhan secara sepintas.
Satria pun berpamitan untuk pulang meskipun masih sedikit tidak rela. Dan tepat ketika Satria berbalik ia melihat Sherina dan Herti menaiki sebuah taksi. Satria sedikit khawatir jika Sherina menceritakan bagaimana sebenarnya hubungan mereka pada Arin.
Tapi ia juga bertekad jika ia tidak akan menyembunyikan apapun yang membuat kesalahpahaman di antara mereka. Satria akan mencari waktu yang tepat untuk membicarakan semuanya dengan Arin.
Karena kepindahan Arin yang mendadak malam nanti Sherina memutuskan untuk menunda kepulangannya. Rencananya mereka berdua akan ikut ke Bogor dan menginap selama 1 hari.
***
Malam hari pun tiba, Dean pun sudah standby sejak menjelang Maghrib. Ketiga perempuan itu sudah bersiap dan mulai membantu membawa keluar barang-barang Arin ke mobil. Tanpa mereka ketahui, seseorang tengah menatap ke arah mereka mengawasi gerak gerik mereka.
Begitu juga dengan Satria yang sudah memarkir mobil tidak jauh dari kost'an Arin . Meskipun sudah di larang, tapi ia berencana untuk ikut mengantarkan kepulangan sang kekasih secara diam-diam.
Setelah semua selesai dan semua orang siap akhirnya mereka memutuskan berangkat. Selama 30 menit pertama semua berjalan dengan baik, perjalanan pun berjalan dengan lancar sampai akhirnya beberapa ratus meter mereka akan memasuki gerbang tol Dean di kejutkan dengan sebuah mobil yang tiba-tiba menyalip dan menjegalnya.
Cekiiit,
Brugh,
__ADS_1
"Aduh, ada apaan sih De?" tanya Arin begitu mobil mereka berhenti secara mendadak membuat kepalanya hampir terbentur dashboard mobil seandainya Dean tidak menahan tubuhnya.
"Maaf kak, kakak gak apa-apa? Kalian gak apa-apa?" tanya Dean pada semua orang.
"Gak apa-apa kok." jawab Sherina dan Herti kompak, sementara Arin hanya mengangguk kan kepalanya.
Tok tok tok,
"Buka!" teriak satu orang yang berdiri dengan menggunakan pakaian serba hitam.
Seorang laki-laki berpengawakan tinggi besar terlihat menggedor kaca mobil Dean sementara 1 lainnya tampak memukul kaca mobil bagian depan dengan sebuah balok kayu membuat ketiga perempuan tersebut menjerit ketakutan.
"Brengsek! Siapa sih mereka!" seru Dean yang sudah membuka seatbelt hendak turun namun di tahan oleh Arin dan yang lainnya.
"Jangan de, mending kita diam aja sambil telpon polisi. Kita tunggu sampai polisi datang." ujar Arin yang sudah panik.
Apalagi ia melihat dari spion mobilnya jika mobil Satria terlihat berhenti di belakang mobil mereka. Arin sangat takut jika Satria akan ikut campur dan menghampiri orang-orang yang mencoba menghentikan mereka saat ini.
"Satria." gumam Arin begitu terkejut ketika melihat Satria turun dari mobil dan menghampiri orang-orang berpakaian serba hitam tersebut.
"Hei, kalian siapa? apa yang mau kalian lakukan?" teriak Satria menghampiri orang-orang tersebut.
"Gak usah sok ikut campur Lo, pergi dari sini!" teriak salah satu orang yang memegang balok di tangannya menatap tajam ke arah Satria.
Tapi Satria menolak dan malah semakin mendekat sampai akhirnya perkelahian pun terjadi. Dean pun yang melihatnya tidak tinggal diam dan bergegas turun membantu Satria.
.
.
.
.
.
Tbc
__ADS_1