
Jam makan siang pun tiba, Satria bergegas keluar dari ruangannya segera menghampiri meja Arin dan Andi yang bersebelahan.
"Ayo." ajak Satria membuat Arin menatap heran.
"Bentar pak, Her ayo beres-beres."
"Kalian mau kemana?" tanya Arin kebingungan.
"Kok, kalian? Kita yang bener." ujar Herti yang kini sudah berdiri di samping mejanya.
"Gue lupa, kasih tahu kalau kita bakal makan siang bareng." ujar Andi yang kini sudah siap berdiri di depan meja Arin.
"Ayo rin, ini sebagai bentuk ucapan terimakasih saya." ujar Satria menimpali.
Arin pun mulai mengerti dengan situasi yang sebenarnya terjadi. Ia tidak ingin membuat kedua temannya kecewa dan curiga jika menolak ajakan tersebut.
"Ya sudah, bentar." ujar Arin mulai membereskan berkas dan memasukkan ponsel ke tasnya.
Mereka berempat berjalan beriringan menuju tempat parkir. Dari jauh Bayu melihat mereka dan menyunggingkan senyuman miring memikirkan sebuah ide.
Ketika mereka berempat sampai di parkiran, Andi dan Herti berinisiatif untuk langsung mengambil tempat duduk di belakang. Arin pun hanya bisa menghela nafas pelan menahan kesal pada kedua orang temannya itu.
Mau tidak mau, Arin harus duduk di depan di samping Satria yang menyetir. Diam-diam Andi dan Herti bersorak senang karena telah berhasil membuat Arin kesal.
Belum hilang rasa jengkelnya tiba-tiba Arin di buat terkejut dengan sikap manis Satria yang tiba-tiba memasangkan seat belt di tubuhnya.
Tentu saja hal itu membuat jantungnya berdetak lebih kencang nyaris melompat dari tempatnya.
Sementara Andi dan Herti hanya bisa tersenyum sambil saling memandang memikirkan sebuah kesimpulan di kepala mereka. Satria bersikap sangat manis membuat dua orang di belakangnya kegirangan karena senang.
Herti langsung mengirimkan sebuah pesan teks pada Andi.
Herti~
Gue rasa ada yang bakal CLBK nih bentar lagi.
Andi ~
SETUJU! Fix auto dukung pak Satria 1000%
Herti~
Poor dr. Raka π coba aja dia mau sama gue π
Andi~
__ADS_1
Ngimpi jangan di siang bolong non.
Herti~
Bukannya dukung temen.
Andi~
Gue dukung diri gue sendiri yang masih usaha.
Herti~
Gak jelas ih.
Andi~
Gue selalu jelas Herπ
Herti~
Apaan sihππ€ͺ
Andi~
I π u
Suasana di mobil sepanjang perjalanan mendadak sunyi. Jika kedua orang yang duduk di belakang tengah sibuk dengan ponselnya, lain halnya dengan sepasang mantan kekasih yang kini duduk canggung berdampingan.
Tidak ada yang memulai obrolan sepanjang jalan, sampai akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Satria membawa mereka ke sebuah cafe yang menyajikan berbagai macam ramen.
Herti dan Andi hanya bisa saling memandang dengan tatapan semakin takjub. Karena mereka sangat tahu jika Arin sangat menyukai ramen sejak dulu. Pastilah Satria membawa mereka ke sana karena itu adalah tempat yang akan Arin sukai.
Arin hanya bisa menghela nafas pasrah melihat restoran yang ada di depan matanya. Sudah 8 tahun, tapi Satria masih mengingat dengan jelas apa yang ia sukai dan tidak. Hati Arin mulai melunak, ia memutuskan untuk bersikap baik pada Satria.
Toh, hanya tersisa beberapa waktu lagi sampai mereka akhirnya tidak akan pernah bertemu lagi. Mereka kini sudah berada di dalam dan memesan masing-masing ramen favorit mereka.
Belum sempat pesanan mereka sampai, Bayu tiba-tiba mendatangi meja mereka dan meminta untuk bergabung.
"Loh kalian di sini juga?" tanya Bayu ketika menghampiri mereka berempat berpura-pura terkejut.
"Loh pak Bayu kok ada di sini." ujar Herti dengan polosnya.
"Iya nih, saya janjian sama teman saya kebetulan dia cancel. Baru mau pulang, eh ada kalian. Boleh gabung gak saya?" tanya Bayu berpura-pura.
Satria yang sudah tahu jika Bayu pasti sengaja mengikutinya hanya bisa diam melihat apa yang sahabatnya itu coba lakukan.
__ADS_1
"Oh iya, pak silahkan duduk." ujar Andi memberikan tempatnya duduk.
Sementara Andi bergegas mengambil kursi di meja sebelahnya sambil memanggil waiters agar bosnya bisa memesan makanan tambahan.
Arin hanya bisa tersenyum canggung pada Bayu karena akhir-akhir ini ia memang sudah mencoba menghindarinya. Tapi melihat hubungan Satria dan Bayu yang kini tampak dingin dan canggung, Arin bisa mengambil kesimpulan jika Bayu sudah mengetahui semuanya.
15 menit pun berlalu sampai akhirnya makanan yang di pesan pun tiba. Suasana di meja mereka menjadi sedikit canggung karena Satria terus diam dan mengunci mulutnya rapat-rapat ketika Bayu sedang berbicara.
Dan hanya menyahuti sesekali jika Herti atau Andi yang berbicara. Dan tentu saja aura persaingan jelas terlihat di antara mereka berdua dan di sadari oleh semua orang.
Arin merasa sangat tidak nyaman dengan suasana saat itu. Dan ia hanya bisa sesekali memaksakan senyuman di wajahnya menimpali candaan yang di buat yang lainnya.
Setelah menyelesaikan makan siang yang tidak menyenangkan itu, mereka pun memutuskan untuk kembali ke kantor. Ketika mereka hendak berjalan ke arah parkiran, tiba-tiba saja seseorang menabrak tubuh Arin hingga membuatnya hampir terjatuh.
Bayu dengan sigap menahan tubuh Arin dengan memeluk mesra pinggangnya. Tentu saja semua orang sangat terkejut dengan situasi tersebut. Satria hanya bisa mengepalkan tangannya kuat menahan Cemburu.
"Woy jalan tuh pakai mata!" umpat Bayu membuat semua orang menoleh.
"Sorry mas, mbak saya buru-buru." jawab seorang pria yang tengah terlihat berlari sambil melambaikan tangannya.
"Kamu gak apa-apa rin? " tanya Bayu dengan lembut.
"Gak apa-apa kok pak, tapi emm.. maaf pak." Arin memberikan isyarat agar Bayu melepaskannya.
"Oh, iya sorry-sorry ya.. spontan tadi." jelas Bayu sambil menampilkan barisan gigi putihnya yang tampak rapi.
"Em, gak apa-apa pak. Justru saya yang harusnya terimakasih sama bapa." ujar Arin polos.
"Iya untung aja ada pak Bayu, kalau gak lumayan tuh rin lu bisa cium aspal." ujar Andi menimpali membuat Herti mendelik kesal.
Sejak tadi Herti sudah peka dan melihat ekspresi Satria yang sedang begitu menahan kecemburuannya.
"Sekali lagi terimakasih pak, kalau begitu kami duluan." pamit Arin dengan sopan.
"Rin, kamu bareng saya aja gimana? sebagai ucapan terimakasih?" tanya Bayu sengaja mengambil kesempatan.
Arin di buat tercengang dengan permintaan atasannya itu. Tapi ia juga bingung bagaimana menolak permintaan Bayu tersebut, di sisi lain Bayu merupakan sahabat dekat Satria. Arin tidak ingin menyakiti hati Satria dengan berada di antara keduanya.
Tapi Bayu terus berusaha membujuknya. Karena merasa tidak enak akhirnya Arin menerima permintaan atasannya tersebut.
"Semuanya duluan ya." ujar Bayu tersenyum penuh kemenangan.
"Pak Satria, saya duluan ya. Terimakasih untuk makan siangnya." ujar Arin berpamitan dan Satria hanya bisa mengangguk pelan dengan senyum tipis di bibirnya.
Satria menatap kepergian Arin dan Bayu dengan hati yang memanas. Tapi ia tidak bis melakukan apapun saat ini, Ia tahu Bayu sengaja melakukan semua itu untuk menyakitinya.
__ADS_1
Suasana dalam perjalanan pulang menjadi sangat canggung. Andi dan Herti hanya bisa saling melemparkan tatapan iba melihat Satria yang terus diam semenjak kejadian di parkiran restoran tadi.