Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Sherina Jatuh sakit


__ADS_3

Mendengar kisah cinta Sherina membuat Arin turut prihatin. Ternyata ia dan Sherina memiliki kisah cinta yang tidak jauh berbeda. Tapi mereka memiliki satu kesamaan, yaitu sama-sama sulit melupakan seseorang yang telah di cintai apalagi dengan sepenuh hati.


Setelah selesai makan dan nongkrong di cafe sambil bercerita selama hampir 3 jam, akhirnya mereka pun memutuskan untuk pulang. Mereka tidak mampir kemana-mana lagi dan langsung pulang ke rumah kost.


Jam sudah menunjukkan pukul 15.40 sore ketika mereka sampai di depan rumah. Dengan langkah sedikit berlari keduanya berlari meninggalkan taksi online yang mengantarkan mereka pulang di tengah gerimis hujan.


Samar-samar Arin melihat sebuah mobil Honda Brio berwarna hitam terparkir tidak jauh dari depan pagar. Ia merasa familiar dengan mobil tersebut, akan tetapi lupa jika ia pernah melihatnya dimana.


Sherina pun menarik lengan Arin mengajaknya berlari lebih cepat karena hujan semakin deras. Satria pun terbangun mendengar suara deru mesin mobil yang ternyata sedang parkir di depannya.


Bisa ia lihat Arinda nya tengah berlari menembus hujan untuk masuk ke dalam bersama seorang perempuan. Hari itu Satria cukup sibuk, ia memutuskan untuk mampir sepulang meeting bersama klien nya setelah berhasil mendapatkan alamat Arin dari Herti.


Walaupun tidak menemuinya secara langsung, Satria cukup merasa senang melihat Arinda dari jarak cukup dekat seperti itu. Setelah hampir 30 menit menatap kosong bayangan Arin yang sudah berlalu Satria pun memutuskan untuk pergi.


Tepat setelah Satria pergi Arin berlarian dari kamarnya menuju kamar Sherina dengan panik. Ia baru selesai mandi ketika Sherina menelponnya dan meminta bantuannya karena ia sangat kesakitan.


Dengan sigap Arin pun membantu Sherina untuk menenangkannya. Sherina terlihat sangat kesakitan meringkuk di atas kasurnya dengan wajah yang pucat dan keringat yang bercucuran.


Tidak sampai 20 menit, mobil ambulans pun datang untuk melakukan pick up pada sahabat nya itu. Arin hanya terpikir Raka saat melihat Sherina begitu kesakitan sambil memegangi perutnya.


Karena itu Raka adalah orang pertama yang ia hubungi, dan ambulans tersebut datang atas permintaan Raka. Setelah sampai di rumah sakit Sherina langsung di bawa ke ruang IGD dimana Raka telah menunggu mereka di depan pintu.


Sherina pun langsung mendapatkan penanganan oleh seorang dokter dan 2 orang perawat yang bertugas. Sementara Arin pergi untuk mengurus administrasi. Tidak lupa Arin juga menelpon Herti dan memberitahukan tentang kondisi Sherina saat ini sedang di rumah sakit.


Arin meminta Herti untuk pulang dulu mengambil pakaian ganti dan perlengkapan nya selama di rumah sakit. Karena panik Arin tidak sempat menyiapkan semua itu dan hanya terpikir untuk secepatnya sampai di rumah sakit.


Setelah selesai mengurus seluruh administrasi untuk rawat inap, Arin kembali ke IGD secepatnya. Raka masih berdiri dengan setia di sana menunggunya, ia pun menjelaskan jika kemungkinan Sherina mengalami radang usus buntu.

__ADS_1


Yang artinya ia harus secepatnya menjalani operasi. Arin pun sedikit terkejut mendengarnya, namun Raka menenangkan jika itu baru perkiraan nya saja. Lagi pula ia tidak menangani Sherina secara langsung karena ia adalah seorang dokter ahli kejiwaan.


Karena itu ia meminta sahabatnya yang merupakan salah satu dokter terbaik di rumah sakit tersebut untuk menangani Sherina. Tidak berselang lama, Dokter Aryan pun keluar menghampiri Raka dan Arin.


"Maaf dengan keluarga nona Sherina?" tanya dokter Aryan.


"Keluarga Sherina tidak ada di Jakarta dok, tapi saya temannya saya yang akan menjadi wali untuk nya."


"Bagaimana keadaan Sherina dok? Apa dia baik-baik saja?" tanya Arin dengan cemas.


"Setelah melakukan pemeriksaan, bisa di simpulkan jika pasien mengalami radang usus buntu. Itu artinya pasien harus secepatnya menjalani operasi. Tolong segera di urus administrasi nya untuk persiapan operasi. Setelah ini akan ada perawat yang memberikan surat persetujuan operasi bagi pasien." jelas Dokter Aryan panjang lebar.


"Baik dok, saya akan menandatangani surat tersebut dan segera mengurus administrasi sebagai prosedur untuk operasi. Terimakasih dok, tolong pastikan teman saya baik-baik saja." jawab Arin dengan sungguh-sungguh.


"Kamu tenang saja Rin, dokter Aryan ini salah satu dokter terbaik di rumah sakit ini. Kita percayakan saja semua dan do'akan Sherina agar bisa lekas pulih seperti sedia kala." ujar Raka mencoba menenangkan Arin yang masih tampak sangat mengkhawatirkan Sherina.


Dokter Aryan pun memberikan Arin ijin untuk masuk ke ruang observasi dimana Sherina tengah berbaring dengan selang infus yang sudah terpasang. Setelah Arin selesai mengurus berkas untuk persiapan operasi nya Sherina bisa langsung mendapatkan penanganan di ruang operasi.


Arin tidak membangunkan Sherina yang nampak memejamkan matanya, namun lirih masih bisa ia dengar suara kesakitan sahabatnya itu yang coba ia tahan sejak tadi. Arin pun beranjak untuk keluar setelah melihat kondisi Sherina yang sudah terlihat sedikit lebih tenang.


Meskipun begitu ia masih terlihat sangat kesakitan. Karenanya Arin secepatnya pergi dari sana untuk mengurus berkas-berkas nya. Berselang 1 jam, terlihat Herti datang dengan membawakan sebuah travel bag berukuran sedang.


"Rin, ka Sherina gimana?" tanya Herti begitu ia sampai di hadapan keduanya.


"Sherina kena usus buntu her, secepatnya dia harus operasi." jawab Arin dengan lemas.


"Ya ampun, kok bisa ya. Padahal tadi pagi Sherina masih baik-baik aja kok." ujar Herti dengan cemas.

__ADS_1


"Iya tadi aja masih baik-baik aja kok makan siang sama gue." jelas Arin.


"terus sekarang Sherina dimana? boleh di lihat dulu gak?" tanya Herti kembali.


"Sherina sedang dalam ruangan observasi, alangkah baiknya kita di sini saja dulu sampai proses operasi selesai." jawab Raka membuat Herti pun mengangguk dengan berat hati.


Rasa-rasanya ia belum bisa tenang jika belum melihat kondisi Sherina secara langsung dan memastikan nya sendiri. Tapi ia juga sadar jika saat ini penanganan dokter adalah hal yang utama.


Tidak butuh waktu lama Sherina sudah tertidur di atas brankar yang akan segera membawanya ke ruang bedah. Arin, Herti dan Raka hanya bisa berdoa untuk kesembuhan dan keselamatan Sherina saat ini.


Mereka pun duduk dengan tenang di depan ruang tunggu operasi dimana operasi sedang berlangsung. Kurang lebih sekitar 1 jam kemudian operasi pun selesai dan berjalan dengan lancar.


Sebelum di pindahkan ke ruang perawatan, Sherina harus menjalani observasi terlebih dahulu selama 2 jam di ruang pasca operasi. Sambil menunggu Sherina di pindahkan, Raka pun mengajak Herti dan Arin untuk mampir ke coffee shop yang berada tepat di seberang rumah sakit.


Malam hari pun tiba ketika Sherina harus di pindahkan ke ruang perawatan. Ketiganya kini tengah berbincang santai di ruang perawatan sementara Sherina beristirahat. Untuk malam itu, Arin dan Herti memutuskan untuk menginap di rumah sakit.


Raka pun masih berada di sana, ketika tiba-tiba Arin menerima sebuah pesan pemberitahuan melalui email yang menyatakan bahwa ia di terima bekerja di perusahaan tempat ia melakukan interview siang harinya.


Raut bahagia di wajah Arin tidak bertahan lama begitu ia menyadari suatu hal. Raka dan Herti pun menatap penuh tanda tanya dengan perubahan ekspresi di wajah Arinda.


"Kamu kenapa Rin? diterima kerja kok malah murung gitu sih?" tanya Raka penasaran.


"Iya Rin, ada apa?" timpal Herti.


"Besok pagi gue harus langsung masuk kerja her, ka." jelas Arin dengan lesu.


"Loh, bagus dong kenapa malah sedih?" tanya Herti tidak mengerti dengan apa yang ada di pikiran sahabat nya itu.

__ADS_1


Arin pun hanya bisa menghela nafas berat memikirkan nasib Sherina yang hanya sebatang kara di Jakarta. Bagaimana nanti nasib Sherina, jika ia pergi bekerja pikir Arin.


__ADS_2