Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Bab 102


__ADS_3

3 hari berlalu, karena tidak masuk selama 2 hari Arin pun sangat sibuk selama itu. Ia bahkan belum memberitahukan perihal kepindahannya pada Herti maupun Sherina. Akhir-akhir ini mereka hanya sempat bertegur sapa ala kadarnya saja.


Sherina sempat mengatakan untuk beberapa hari ia akan pergi ke Jogja karena ada urusan yang tidak bisa ia tinggalkan. Dan itu pun bertepatan dengan hari kepindahannya ke Bogor. Karena itu malam ini sepulang kerja, Arin berniat mengajak mereka untuk makan malam bersama di kamarnya.


Mereka bertiga pun sudah janjian, dan memutuskan untuk memakai layanan pesan antar saja karena sudah terlalu lelah untuk keluar. Seperti hari sebelumnya Arin di antar dan di jemput oleh Dean.


Satria tetap datang ke kost'an Arin walaupun sekedar untuk melihat wajah pujaan hatinya itu. Mereka jadi banyak menghabiskan waktu mengobrol melalui telpon ketika malam. Satria sudah sangat merindukan Arin, namun ia juga merasa egois jika memaksakan kehendaknya.


Karena ia juga tahu betapa sibuknya Arin dengan berbagai pekerjaan selama beberapa hari ini. Jadi lebih baik jika Arin beristirahat di rumah dari pada harus mengajaknya keluar dan membuat Arin kelelahan.


Tentunya Satria lebih mementingkan kesehatan Arin dari pada kepuasan dirinya sendiri. Ia tidak ingin bersikap egois seandainya meminta Arin untuk menemuinya di waktu istirahatnya.


Sherina dan Herti tampak berjalan beriringan menuju kamar Arin, karena Herti pulang lebih awal makan Sherina pun sudah berkunjung ke kamar Herti sejak sore tadi. Setelah mengetuk pintu beberapa saat Arin pun segera membukakan pintu dan mempersilahkan kedua sahabatnya untuk masuk.


Sherina dan Herti tampak membawa beberapa kantong plastik berisi makanan yang sudah mereka pesan setengah jam sebelumnya. Seperti biasa tiap kali berkumpul mereka selalu heboh dengan obrolan yang terkadang tidak penting.


"Langsung makan yak, aku dah laper." celetuk Sherina begitu mereka duduk bersama di atas karpet bulu di dalam kamar Arin.


"Ah, dasar kamu tuh cantik-cantik heran tukang makan. Tapi enak ya jadi kamu Sher, mau makan sebanyak apapun badan kamu tetap kurus." timpal Herti membuat Sherina hanya bisa tersenyum lebar.


Karena apa yang Herti katakan benar adanya, hampir 1 bulan lebih mereka tinggal di tempat yang sama. Herti sudah hapal betul porsi makan sahabatnya itu, tapi tetap saja tidak ada yang berubah dengan bentuk tubuhnya.


Dan hal itu membuatnya terkadang merasa iri dengan Sherina.


Selain tubuh yang ideal, wajah yang cantik, Sherina juga mempunyai kepribadian yang bagus dan mudah di sukai orang lain. Ia saja sebagai seorang perempuan terkadang merasa insecure terhadap Sherina yang memiliki paket komplit dalam dirinya.


"Ya udah, sebentar aku ambil air putihnya dulu. Jangan di minum dulu, minuman yang kalian pesan dari luar. Biasakan makan itu minum dengan air putih." ujar Arin sembari berjalan ke arah Rak di pojokan kamarnya membawa sebuah galon berukuran mini dengan 3 buah gelas di atas nampan.


"Oke sekarang udah komplit ya cuss markimak!" ujar Herti membuat Arin dan Sherina menoleh.

__ADS_1


"Ah elah, mari kita makan maksudnya." jelas Herti membuat kedua sahabatnya mengangguk mengerti.


Mereka pun melakukan ritual makan malam sambil di selingi obrolan kecil yang membuat mereka sesekali tertawa. Dan tidak sampai 1 jam mereka pun sudah menghabiskan makanan masing-masing.


"Girls, ada yang mau aku kasih tahu nih sebenarnya." ujar Arin membuat kedua sahabatnya menatap Arin menunggu.


"Lu mau married sama mas ganteng?" tebak Herti membuat Arin spontan memukul lengannya asal.


"Ih bukan itu." jawab Arin dengan bibir mengerucut sementara Sherina berusaha terlihat biasa saja mendengar ucapan Herti.


"Mas ganteng siapa nih?" tanya Sherina dengan nada menggoda berusaha menyembunyikan perasaannya sendiri.


Sherina akan berpura-pura tidak tahu dan tidak mengenal Satria untuk saat ini. Ia juga bingung karena harus bersikap seperti apa selain berpura-pura tidak tahu. Ia ingin menjaga perasaan Arin untuk saat ini, walaupun nanti pasti ada saatnya ia memberitahukan sedikit kebenaran mengenai ia yang sebenarnya mengenal Satria.


"Kalau itu, biar gue yang jawab Sher. Mas ganteng tuh pacarnya Arin, mantan atasan kita dulu di kantor lama. Dan yang lebih so sweet lagi tuh apa coba?? Mas ganteng tuh gagal move on bertahun-tahun tahu?" jelas Herti yang bersikap sok tahu menceritakan kisah sahabatnya itu.


Sementara Arin hanya diam mencoba mendengarkan apa yang mungkin akan di ceritakan Herti. Karena sejujurnya ia sendiri tidak tahu harus menceritakan apa untuk menjelaskan hubungannya dengan Satria selama ini.


"Ya gitu, mereka mantan pacar waktu SMA loh. Eh tiba-tiba ketemu lagi pas kita kerja di kantor yang lama. Gigih banget deh usahanya pak Satria itu buat balik lagi, cuman Arin nya aja nih agak-agak jual mahal jadi baru sekarang deh sukses balikan lagi." sambungnya lagi.


"Gila, berarti tuh cowok cinta mati ya sama kamu masih nunggu selama itu buat biar bisa balik lagi? So sweet.." timpal Sherina terus menggoda sahabatnya itu meskipun jauh di dalam hatinya ia merasakan sakit.


"Apa sih kalian, suka ngelebih-lebihin deh ngomong nya." ujar Arin sambil tersenyum kecil.


Dan ketika mereka bertiga sedang asik bercanda dan tertawa, pucuk di cinta ulam pun tiba. Handphone Arin yang tergeletak di meja rias pun berdering menampilkan nama Satria membuat keduanya menggoda Arin lebih kencang lagi.


"Udah ah, aku serius nih mau cerita sesuatu." ujar Arin sembari menelungkupkan layar handphonenya.


"Kenapa gak di angkat? Malu nih, ngobrol depan kita. Ah elah Rin." goda Herti kembali membuat Arin kembali menggeleng heran dengan sikap Herti yang terus menerus menggodanya.

__ADS_1


"Sebenarnya, aku mau keluar dari kost'an ini."


ujar Arin membuat kedua sahabatnya yang sedang asik tertawa pun terdiam.


"Maksudnya gimana?" tanya Herti dengan ekspresi wajah yang sudah berubah.


"Iya Rin, maksud kamu apa? Kamu mau keluar kemana maksudnya?" tanya Sherina yang juga sudah tidak sabar.


"Ayah dan ibu aku sudah kembali, dan mereka meminta aku untuk kembali ke rumah. Jadi rencana nya aku PP Bogor-Jakarta." jelas Arin membuat kedua sahabatnya saling menatap tak percaya.


"Serius?" tanya keduanya serempak yang langsung di angguki Arin begitu saja.


"Kapan?" tanya mereka kembali.


"Besok." jawab Arin dengan wajah polosnya.


"Oh, besok. Apa?!" ujar keduanya kembali secara serempak.


Sementara Arin hanya diam sambil tersenyum lebar menampilkan wajah tanpa dosanya. Baik Sherina maupun Herti merasa sangat terkejut mendengar rencana kepindahan Arin yang tiba-tiba itu.


"Kalau gak besok juga paling lusa lah pokoknya gak lewat dari minggu ini." ujar Arin membuat keduanya hanya menggeleng tidak percaya dengan apa yang mereka dengar saat ini.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Tbc


__ADS_2