
Raka termenung memandangi gumpalan awan putih yang terlihat memanjakan mata. Kini ia tengah berada di atas ketinggian 36000 kaki dalam perjalanan pulang menuju Jakarta.
Pikiran nya kini jauh melayang pada pembicaraan nya kemarin dengan Arinda. Gurat sendu di wajahnya sudah cukup menjelaskan jika ia tengah sangat terluka.
Flashback,
Raka menghampiri Arin yang tengah duduk di atas ayunan yang terbuat dari kayu sambil menatap indahnya senja.
"Ehem, ganggu gak nih?" tanya Raka mengawali percakapan membuat Arin menoleh menatap nya.
"Eh, enggak kok ka. Sini duduk di sini." jawab Arin sambil menepuk tempat kosong di sebelah nya.
Mereka pun akhirnya duduk bersebelahan dengan canggung dan hanya saling terdiam selama beberapa saat sambil menatap warna jingga di hadapannya.
"Apa kamu bahagia di sini?" tanya Raka memutuskan untuk memutus kecanggungan.
"Seperti yang kamu lihat, suasana di sini sangat tenang dan nyaman." jawab Arin sedikit melengkungkan bibirnya.
"Kamu tahu bukan itu yang aku maksud Rin." ujar Raka kembali membuat raut wajah Arin berubah sendu.
"Apa kamu bahagia terus melarikan diri seperti ini?" sambungnya lagi dengan menohok.
Beberapa saat Arin hanya terdiam, ia pun terlihat menghela nafasnya beberapa kali sampai akhirnya kembali bersuara.
"Kamu benar Raka, aku mungkin memang tidak bahagia melarikan diri seperti ini. Tapi sayangnya hal inilah yang sekarang sedang aku butuhkan. Aku hanya ingin menepi dari semua hal yang membuat ku sesak dan terbebani." jelas Arin sembari menatap langsung ke arah Raka.
"Baiklah, lalu sampai kapan kamu akan berada di sini? Perlukah aku temani?" tanya Raka .
__ADS_1
"Tidak Raka, tempat kamu bukan di sini." jawab Arin membuat hati Raka tertusuk sembilu.
"Apa benar-benar tidak ada kesempatan buat aku Rin?" tanya Raka lagi mencoba menguatkan hatinya.
"Maaf Raka, bagiku kamu adalah sahabat terbaik yang pernah aku miliki." ujar Arin dengan jujur.
Hati Raka bagaikan di hantam batu besar, begitu menyesakkan. Arin hanya ingin jujur pada dirinya sendiri, dia tidak ingin lebih melukai Raka di kemudian hari.
Walaupun terdengar pahit untuk Raka tapi Arin yakin jika apa yang ia lakukan saat ini adalah yang terbaik untuk mereka. Terutama untuk diri Raka sendiri, karena ia tidak ingin memberikan harapan kosong bagi hubungan mereka.
Raka termasuk orang yang berarti dalam hidupnya namun sebagai sahabat saja. Ia tidak ingin mencoba sesuatu hal yang ia tahu hasilnya akan gagal dan pasti berimbas pada hubungan baik di antara keduanya.
"Maaf karena lagi-lagi aku membuat kamu kecewa ka." ujar Arin sambil menunduk.
"Tidak ada yang perlu di maafkan Rin, terimakasih karena kamu telah jujur." ujar Raka sambil berusaha menerbitkan secarik senyum di wajahnya.
"Tentu." ujar Arin sambil menerima uluran tangan Raka.
~
Raka pun tersadar dari lamunannya saat mendengar pengumuman jika sebentar lagi mereka akan segera mendarat di Bandara Soekarno-Hatta.
Raka pun segera membangunkan Dean yang masih tampak tertidur di sampingnya. Mereka memutuskan untuk pulang bersama ke Jakarta.
Sementara di rumahnya, Arin tampak sedang membereskan beberapa buku yang Raka sengaja bawakan untuknya. Raka sangat tahu jika Arin sangat suka membaca buku. Untuk mengisi waktu luang Arin memang kerap kali melakukannya.
Dean memutuskan untuk pulang bersama dengan Raka ke Jakarta. Ia tidak bisa tinggal lebih lama walaupun ingin, karena ijin cuti nya telah habis. Dan kebetulan ada Raka, jadi Dean sangat senang mendapat teman seperjalanan.
__ADS_1
Arin tampak memikirkan perkataan Raka tadi sebelum pergi. Suara sahabatnya itu masih terngiang-ngiang di telinga nya walaupun sudah berjam-jam berlalu.
Dengan segera ia pergi ke dapur untuk mengambil segelas air. Ia pun menuangkan air ke dalam gelas dan segera meneguknya hingga tandas. Kemudian ia pun nampak menghembuskan nafas kesalnya selama beberapa kali.
"Ya tuhan, ucapan Raka memang selalu bisa mempengaruhi ku. Padahal apa yang ia katakan adalah apa yang sering keluarga ku sendiri ucapkan." ujar Arin dengan sedikit kesal pada dirinya sendiri.
"Jangan terlalu lama bersembunyi, kehidupan mu yang sesungguhnya bukanlah di sini. Semua orang sedang menunggu kamu untuk pulang. Kabari aku, kalau kamu sudah siap untuk kembali ke Jakarta." ujar Raka tepat sebelum ia pergi meninggalkan pulau.
Sederet kalimat itu terus mengganggu pikirannya. Arin belum mempertimbangkan untuk segera kembali dalam waktu dekat. Tapi setiap kalimat yang Raka ucapkan padanya seolah menamparnya.
Kedua orangtuanya memang tidak mengajak Arin untuk segera kembali ke Jakarta. Meski begitu, mereka meminta Arin untuk mencari kegiatan untuk mengisi waktunya dari pada hanya berdiam diri di rumah setiap hari.
Bahkan sahabat dari ayahnya pun pernah menawarkan sebuah pekerjaan di sebuah Bank Swasta yang berada di pusat kota. Jaraknya sekitar 2 jam menaiki kapal Feri dari rumahnya.
Tidak memungkinkan untuk bisa pulang pergi setiap hari, dan mengharuskannya untuk mencari sebuah rumah kost di sana. Tapi Arin menolak penawaran tersebut dengan alasan jika ia belum ingin bekerja untuk beberapa waktu ini.
Walaupun sebenarnya jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia sebenarnya rindu untuk pergi bekerja. Dan setiap mengingat pekerjaan nya maka ia akan teringat dengan Herti dan Andi.
Sejak pergi setahun lalu, ia memang benar-benar memutus komunikasi di antara mereka. Bukan Arin tidak ingin berhubungan dengan kedua sahabatnya itu lagi, hanya saja ia tidak mau mendengar kabar apapun dari mereka tentang Satria ataupun Bayu.
Terlebih ia takut jika Bayu akan bisa mengendus keberadaan nya jika Arin masih berhubungan dengan teman-teman nya. Ia hanya ingin menjalani kehidupan nya yang baru dengan tenang.
Arin tidak akan lupa dengan apa yang terakhir kali terjadi antara dirinya dan mantan bosnya itu. Arin memang tidak menceritakan hal tersebut kepada siapa pun, ia tidak menyangka orang seperti Bayu bisa bertindak serendah itu.
Belum lagi, ia bahkan dengan sengaja membuat fitnah untuk menjebak Satria dan menjebloskannya ke dalam penjara. Arin tidak bisa memaafkan Bayu untuk 2 hal tersebut.
Hanya karena seorang wanita, Bayu bisa menjerumuskan sahabatnya sendiri untuk kepentingannya. Karena tak mau ambil pusing lagi dengan apa yang ia pikirkan saat ini, Arin memilih untuk segera pergi untuk membersihkan diri karena hari sudah mulai sore.
__ADS_1