Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Bab 103


__ADS_3

Di sebuah ruangan yang gelap seorang laki-laki tampak tengah mengepulkan asap nikotinnya. Nafasnya terdengar memburu, menahan emosi yang benar-benar tengah membakar hatinya.


Di tangannya terdapat lembar demi lembar foto Arin dan Satria yang tampak sedang berjalan bergandengan tangan. Ada juga momen keduanya berpelukan begitu mesra dengan senyum mengembang di bibir keduanya.


Semakin lama sosok laki-laki tersebut menjadi semakin emosi melihatnya. Hingga akhirnya ia berteriak kencang menumpahkan rasa frustasinya.


Prraang ,


Braak !!!


Bayu melemparkan gelas berisi minuman beralkohol yang sudah menjadi candunya selama 1 tahun belakangan ini ke dinding dengan sekuat tenaga. Nafasnya sedikit terengah-engah di tengah kekalutannya saat ini.


Ia juga menendang sebuah meja yang ada di depannya dengan mata memerah penuh kilatan amarah. Hatinya begitu panas terbakar saat mendapatkan kenyataan yang akhirnya kembali menghancurkan hatinya.


Satria terlalu beruntung karena selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Dan ia sangat membenci hal tersebut. Bagaimana bisa ia beruntung mendapatkan Arin kembali bahkan setelah bertahun-tahun.


Tuhan benar-benar tidak adil terhadap dirinya, dulu Sherina dan sekarang Arinda. Tidak satupun cinta dari keduanya bisa ia dapatkan. Apa yang kurang dengan dirinya sehingga lagi-lagi ia harus kalah oleh Satria.


Brugg,


Brugg,


Bayu pun memukulkan kepalan tangannya ke arah tempok sampai membuat buku jarinya berdarah. Kulitnya terlihat sedikit kotak, meskipun begitu rasa sakit di tangannya saat ini tidak ada apa-apanya di bandingkan rasa sakit di hatinya.


"Arrrggh!!" teriaknya frustasi sambil menendang tembok yang ada di hadapannya.


***


Setelah melaksanakan ibadah shalat subuh Arin memutuskan untuk membereskan barang-barangnya ke dalam koper. Sungguh ia sangat berat melakukan hal ini karena pasti akan terasa melelahkan sekali jika ia harus bolak-balik Bogor-Jakarta setiap hari.


Namun demi menjaga hati kedua orangtuanya, Arin pun mau tidak mau segera mengenyahkan segala pikiran buruk di kepalanya. Bagaimana pun saat ini yang menjadi prioritasnya adalah kedua orangtuanya.


Hingga tanpa terasa mentari pun sudah terlihat menampakkan dirinya di peraduan. Suara dering handphone pun terdengar memekakkan telinga membuat Arin menghentikan pergerakannya.

__ADS_1


Sudah ia duga, siapa lagi yang akan menelponnya di pagi buta seperti ini. Dan tentunya orang itu adalah Satria. Laki-laki yang sejak semalam terus mengganggunya dengan alasan rindu.


Kedua sudut bibir Arin melengkung sempurna begitu mengingat bagaimana sikap kekanakan Satria yang terus merajuk karena mereka yang tidak bisa bertemu selama beberapa hari terakhir.


"Kenapa?" tanya Arin begitu datar berbanding terbalik dengan senyum di wajahnya.


"Jutek banget ih sayang." ujar Satria dengan ekspresi wajah yang sudah bisa Arin tebak seperti apa.


"Lagian pagi-pagi buta udah nelpon aku aja." jawab Arin masih dengan mode juteknya.


"Ih sayang kok gitu sih, kan aku kangen tahu gak bisa ketemu udah 3 hari. Emang kamu gak kangen gitu sama aku." ujar Satria dengan sebal.


"Hem, ya aku kan lagi beresin barang-barang aku." jelas Arin dengan jujur.


"Kamu pulangnya kapan jadinya?" tanya Satria.


"kayaknya hari ini deh." jawab Arin dengan santai.


"Apa? Hari ini? Kenapa cepet banget sih? Udah tunggu aku dulu pokoknya bentar lagi aku sampe ya." ujar Satria langsung memutus sambungan teleponnya sebelum tak memberi Arin kesempatan untuk berbicara.


Akhirnya Arin memilih untuk kembali berkemas setelah mengirimkan pesan kepada Dean jika ia akan berkemas terlebih dahulu. Dan akan pindah kembali ke rumah mereka malam nanti.


Tidak sampai setengah jam Arin kembali mendengar dering handphonenya memunculkan nama Satria kembali. Ia pun menghela nafas pelan sebelum akhirnya menjawab telpon Satria sambil berjalan ke arah luar.


Dan benar saja seperti dugaannya Satria sudah berdiri di samping mobilnya begitu Arin tiba di halaman rumah. Arin pun langsung menghampirinya yang sudah dalam mode merajuk.


"Kamu tuh kok mau pindah gak bilang-bilang aku sih yang." ujar Satria begitu Arin sampai di hadapannya.


"Ya kan tadi aku udah bilang." jawab Arin santai membuat Satria kembali berdecak kesal sembari menarik lengan Arin untuk naik ke mobilnya.


"Eh, entar dulu kita mau kemana?" tanya Arin sambil menahan Satria.


"Kalau kamu udah pindah kan kita makin susah sayang ketemunya. Aku mau kita habisin waktu berdua dulu." jelas Satria sambil kembali menarik lengan Arin namun lagi-lagi Arin menahannya.

__ADS_1


"Apa lagi sih yang."


"Tapi aku lagi beresin barang-barang." jelas Arin jujur.


"Iyah tapi aku maunya kamu ikut dulu sama aku."ujar Satria tak mau di bantah kembali menarik Arin yang hanya bisa pasrah jika Satria sudah bersikeras seperti itu.


Mau mendebat pun akan percuma, jadi Arin memilih untuk mengikuti Satria pada akhirnya. Sementara seseorang tengah memerhatikan mereka dari balik jendela dengan airmata yang sudah mengalir deras.


Meskipun ia berusaha melupakan Satria tapi Sherina sadar jika ternyata tidak semudah seperti apa yang ia rencanakan ataupun ucapkan. Tetap saja ia merasa sesak melihat Satria bersama perempuan lain yang meskipun ia adalah sahabatnya sendiri.


Sementara itu, Satria membawa Arin ke sebuah Home theater. Bahkan Satria sudah memesan sebuah ruangan vip untuk mereka ketika dalam perjalanan menjemput Arin sebelumnya.


"Sat, gak salah kita kesini? Kamu gak lihat apa aku pakai baju apa?" tanya Arin yang sedikit merasa kesal dengan Satria.


"Gak ada yang salah, kamu cantik kok aku suka. Ayo masuk." ujar Satria sembari menggenggam tangannya lembut membawa ke sebuah ruangan yang sudah ia pesan.


"Ngapain sih kita kesini?"


"Aku pengen peluk kamu sepuasnya di sini. Kalau aku bawa kamu ke hotel takut khilaf soalnya." jawab Satria santai membuat Arin mendelik lalu memukulnya spontan dengan bantal sofa di tangannya.


"Jangan galak-galak kenapa sih yang, kan aku pengen punya momen romantis sama kamu. Kok kamu malah marah-marah." ujarnya tanpa dosa membuat Arin hanya bisa mendengus sebal.


Satria memang terkadang suka berbicara asal bahkan tak jarang membuatnya naik darah. Tapi meski begitu Arin berusaha untuk menghargai apa yang Satria coba lakukan untuknya.


Setelah beberapa saat suasana sudah kondusif, dan film pun sudah di putar benar saja apa yang Satria katakan. Ia malah asik tidur dengan kepalanya di pangkuan Arin sementara tangannya memeluk tubuh Arin begitu erat.


Pada akhirnya Arin hanya menikmati film yang di putar seorang diri. Karena Satria malah sibuk memeluknya seperti apa yang ia katakan tadi sebagai tujuannya. Sebagai pengusir bosan ia pun mencoba beberapa camilan dan makanan yang Satria pesan untuknya.


.


.


.

__ADS_1


.


Tbc


__ADS_2