
Setelah hampir 1 jam menghabiskan waktu untuk memasak Arin pun segera menata semua masukannya di meja. Ia segera membangunkan Satria untuk makan bersama.
"Sat, bangun. Kita makan dulu." ujar Arin menepuk bahu Satria dengan lembut.
Namun bukannya bangun Satria malah menahan tangan Arinda dan memeluknya di dadanya membuat Arin terduduk di hadapan Satria. Wajah mereka begitu dekat hampir kurang dari sejengkal.
Arin hanya bisa tertegun menatap wajah mantan kekasihnya dengan debaran jantung yang sudah tak karuan. Sementara Satria tersenyum dalam hatinya, bisa merasakan itu semua.
Ia tidak tidur sejak tadi, karena mana mungkin ia bisa melewatkan momen langka antara dirinya dan Arin saat ini. Tapi beberapa detik kemudian Arin tersadar karena genggaman tangan Satria terasa panas kembali.
Padahal sejak tadi di rumah sakit, kondisi Satria sudah cukup membaik. Arin pun khawatir dan mencoba membangunkan Satria lagi.
"Sat." panggil Arin kembali.
Perlahan Satria pun membuka matanya dan ia malah terperangkap dengan wajah yang sangat ia rindukan selama ini di depan matanya.
Beberapa saat pandangan mereka terkunci satu sama lain. Sampai suara dering telpon Satria memecah hening di sana. Mereka berdua menjadi salah tingkah.
Arin membantu mengambilkan ponsel Satria yang tergeletak di meja. Sekilas Arin dapat melihat nama mamanya tertera sebagai orang yang menelpon Satria.
"Halo ma, Assalamu'alaikum. "
"Aku di apartemen ma, sekarang." jawab Satria sambil memijit ujung pelipisnya.
"Ya, ma nanti deh."
"Iya ma, wa'alaikum salam. " ujar Satria lalu menaruh ponselnya di meja.
Arin pun kembali menghampiri Satria dengan sepiring nasi dan sup ayam. Ketika Satria sedang menerima telpon, ia terus memperhatikan Satria yang terus memijit ujung pelipisnya.
Arin berinisiatif membawakan makanannya ke ruang tamu agar Satria tidak perlu repot-repot lagi harus pindah ke ruang makan.
"Makan nih, aku buatin sup." ujar Arin sambil meletakkan piring dan mangkuk berisi sup yang masih hangat itu di atas meja.
"Makasih ya." ujar Satria tersenyum menatap Arin.
__ADS_1
Satria pun mulai memakan masakan Arin tersebut dengan penuh haru. Matanya berusaha kuat menahan air mata untuk tidak jatuh. Tapi semakin banyak ia makan, hatinya semakin sakit.
Arin pun nampak tertegun melihat tangis Satria yang tiba-tiba pecah begitu saja ketika sedang makan. Arin yang sedang membereskan dapur pun bergegas menghampiri Satria.
"Kamu kenapa sat? ada yang sakit lagi? ya udah ayo kita ke rumah sakit lagi." ujar Arin dengan panik.
Tapi Satria tidak bergeming atau merespon sedikit pun pertanyaan Arin. Tiba-tiba ia menarik tangan Arin untuk duduk di sisinya dan memeluknya masih dengan air mata yang berjatuhan.
Satria sangat menyesali banyak hal dalam hidupnya, terutama karena harus kehilangan Arinda. Bagi Satria, Arin adalah satu-satunya cinta yang pernah ia miliki di hatinya.
Satria begitu terharu ketika akhirnya ia bisa merasakan masakan Arinda untuk pertama kalinya. Tapi hatinya juga sangat sakit mengingat jika Arin tak akan jadi miliknya lagi.
Hatinya terlalu sakit untuk memikirkan jika suatu hari nanti akan ada laki-laki yang Arin perhatikan lebih dari dirinya. Yang akan menemani hari-harinya sampai tua nanti.
Ia begitu cemburu pada laki-laki yang suatu hari nanti akan menjadi masa depan wanita yang paling ia cintai. Lambat laun Arin mulai mengerti jika Satria bukan menangis karena sakit di tubuhnya melainkan di hatinya.
Arin hanya bisa menepuk punggung Satria dengan lembut berharap jika hal tersebut akan membuat Satria merasa lebih baik. Sesungguhnya ia pun merasakan sakit yang Satria rasakan saat ini, tapi Arin tidak bisa berbuat banyak tentang itu.
Ia tidak mungkin kembali pada Satria setelah 8 tahun yang berat itu ia lewati. Terlebih Arin takut mengecewakan keluarganya terutama ayah dan ibunya yang selama ini ikut merasakan sakit yang sama besar ketika melihatnya dulu begitu depresi.
Belum lagi kehadiran Arslan yang kebenarannya adalah anak kandung Satria sendiri. Arin sudah memikirkan semuanya dengan baik selama ini, ia mungkin masih mencintai Satria.
Tapi ia tidak mungkin membuat kedua orangtuanya kembali patah hati atas keputusannya karena orang yang sama. Sudah cukup selama ini kedua orangtuanya ikut menderita sama seperti dirinya.
~
Arin mengantar Satria ke kamarnya untuk beristirahat setelah meminum obat beberapa saat sebelumnya.
"sebaiknya kamu istirahat, setelah ini aku langsung pulang."
"Apa kamu gak bisa tetap tinggal?" tanya Satria dengan sedih.
"Maaf Sat, kali ini aku gak bisa. Aku gak mau terjadi sesuatu yang akan sangat aku sesali lagi suatu hari nanti." ujar Arin sembari tertawa kecil.
"Kamu menyesal kita pernah melakukannya?" tanya Satria ingin memancing reaksi Arin.
__ADS_1
"Sat, please."
Satria pun tertawa hambar melihat reaksi Arin yang bahkan tidak ingin membahas hal tersebut.
"Aku mau buat satu pengakuan lagi sama kamu. "
"Apa itu? "
"Kita gak pernah ngelakuin apa-apa saat itu." ujar Satria perlahan membuat kedua mata Arin membulat sempurna nyaris melompat dari tempatnya.
"Mm.. maksud kamu kita?"
"Ya." jawab Satria dengan yakin.
"Astagaaa Satriaaaa. " Arin langsung histeris berteriak sambil memukuli tubuh Satria dengan bantal.
"Ampun.. ampuun rin.. Maaf aku gak bermaksud saat itu. Aku cuma bercanda aja."
"Bercanda kamu bilang??" tanya Arin dengan sangat marah sambil tidak berhenti memukuli Satria.
Satria pun akhirnya menghentikan Arin dengan menahan kedua tangannya dan membalik posisi Arin menjadi terbaring di atas ranjang king size miliknya.
"Aku bisa membuat itu menjadi nyata kalau aku mau, entah saat itu ataupun sekarang. Tapi, aku tidak akan pernah melakukannya karena kamu terlalu berharga untuk itu. Aku sangat mencintai kamu, karena itu aku akan menjaga kamu." ujar Satria sambil menatap langsung ke dalam mata Arin yang kini bisa ia dengar debaran jantungnya.
Arin pun menjadi tenang mendengar apa yang Satria ucapkan, dan segera mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk menghilangkan kegugupannya.
Satria pun bangkit dan kini memilih berbaring di samping Arin yang hanya bisa terdiam sejak beberapa saat lalu. Ia masih tidak menyangka jika ia akan sedekat itu dengan Arin suatu hari nanti, pikirnya dulu.
"Jika suatu hari nanti pun kamu memberikan aku kesempatan untuk bisa kembali memiliki hatimu, aku yakin jalan kita tidak akan mulus begitu saja. "
"Akan ada banyak batu terjal atau pun jalan berlubang di setiap langkah yang akan kita ambil. Dan tentu gak akan mudah bagi keluarga kamu untuk menerimaku sebagai laki-laki yang memiliki masa lalu yang buruk bahkan memliki anak dari mantan kekasihnya."
Satria hanya bisa menatap Arin dengan menahan sakit di dadanya. Entah apa yang Arin pikirkan, Satria tidak ingin memperdulikannya saat ini. Baginya waktu yang kini ia jalani begitu sangat berharga jika tidak ia nikmati dengan perasaan bahagia.
"Mungkin memang kita masih saling mencintai, dalam hati kita masing-masing. Tapi sayangnya takdir tidak akan sebaik itu untuk membuat kita bersama lagi seperti dulu." batin Arinda.
__ADS_1