Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Kedatangan Dean


__ADS_3

Hidup di daerah pesisir pantai menjadi satu hal baru yang sangat Arin sukai. Apa boleh, jika selamanya dia tinggal di sini. Terkadang ada perasaan tidak rela jika ia berpikir kalau suatu hari nanti ia harus pergi meninggalkan tempat ini.


Keindahan dan pesona bibir pantai di pagi dan sore hari, selalu memanjakan matanya selama hampir 1 tahun ini. Arin banyak merenung tentang banyak hal sambil menatapi ombak yang bergelung dengan cepat seperti berlomba-lomba untuk menyapu daratan di depannya.


Rumah Arin persis berada beberapa ratus meter dari bibir pantai. Meskipun rumah yang terbilang cukup sederhana namun ia sangat menyukainya. Bahkan dari jendela kamarnya ia bisa menatap langsung birunya lautan.


Kedua orang tuanya membeli rumah itu melalui sahabat ayahnya yang kebetulan merupakan orang Pribumi di situ. Dulu mereka adalah rekanan kerja di Jakarta, namun beliau memilih untuk pulang kampung dan menetap di sana.


Bahkan beliau adalah kepala desa di tempat ia tinggal sekarang. Masih seperti mimpi, karena ia bisa berada di tempat seindah ini. Penduduk di sana juga adalah orang yang sangat ramah membuat keluarga mereka betah di sana.


Hanya saja tingkat ekonomi di sana masih rendah sampai membuat Arin terkadang iba dengan nasib anak-anak yang hidup jauh dari kata layak. Seandainya warga mau menerima tawaran dari pemerintah setempat untuk menjadikan lingkungan mereka sebagai tempat wisata.


Tentu itu akan menjadi penggerak ekonomi yang lumayan menjanjikan untuk mereka. Tapi di satu sisi, Arin pun setuju dengan pendapat warga lokal jika pantai mereka di jadikan objek wisata tentunya tidak akan bisa terawat indah seperti sekarang.


Mereka takut, pantai yang telah mereka jaga dengan sepenuh hati tiba-tiba menjadi rusak dengan kedatangan orang-orang baru yang biasanya seenaknya. Sampah-sampah mungkin akan memenuhi sepanjang bibir pantai, dan yang paling mereka takuti pengunjung yang merusak ekosistem terumbu karang di sana yang sangat indah memanjakan mata.


Jika saja Arin bisa melakukan snorkeling, ia sudah tidak sabar untuk melihat keindahan biota bawah laut yang ada di sana. Paman Ardi, yang merupakan sahabat ayahnya itu bercerita jika pemandangan bawah laut di sana sangat indah.


Sebagai warga lokal ketika ia remaja dulu, ia dan teman-temannya sering menyelam di laut dan bermain di pantai. Dan ia berani jamin, jika tidak ada seorang pun yang bisa menolak kagum dengan keindahan alam di desanya tersebut jika tahu.


Apalagi keindahan di bawah air laut yang berwarna hijau ke biruan tersebut mampu menghipnotis mata setiap orang yang melihatnya untuk jatuh cinta.

__ADS_1


Seperti siang ini, cuaca begitu terik di luar namun angin bertiup dengan kencang membuat tubuh Arin betah berlama-lama di bawah terik matahari bersama anak-anak bermain di tepi pantai.


Siang ini mereka memutuskan untuk bermain Voli, dan tentu saja mereka sudah mahir memainkannya karena Arin mengajarkan mereka sejak beberapa bulan lalu.


Dengan mengenakan baju model crop top dengan celana jeans selutut Arin berlarian memberikan arahan pada anak-anak yang bermain. Ia sedang bertindak seperti seorang pelatih yang tengah mengatur strategi.


Tidak ada hal yang berarti selama setahun belakangan ini yang ia lakukan di sana selain bermain dan bersenang-senang. 2 kali dalam 1 bulan ia akan pergi ke rumah sakit di kota untuk melakukan konseling dengan seorang psikiater.


Dan sudah hampir 3 bulan ini Arin tidak lagi mengkonsumsi obat penenang atau apapun. Dan konseling nya pun hanya 1 kali dalam sebulan dalam 2 bulan terakhir.


"Jadi ini yang bikin kakak betah di sini." tiba-tiba saja suara yang tak asing terdengar di belakang Arin membuatnya menoleh.


Mereka pun berpelukan selama beberapa saat saling melepas rindu. Arin masih tidak percaya, jika yang ada di hadapan nya kini adalah adik satu-satunya yang sangat jahil.


Arin hampir tidak percaya melihat perubahan yang terjadi pada adiknya selama 1 tahun tidak bertemu yang kini terlihat lebih dewasa. Dean memiliki postur tubuh tinggi, tegap, sedikit berisi. Ia adalah penggila olahraga dan juga petualangan di alam.


Ini adalah pertama kalinya Dean datang untuk berkunjung. Karena saat Arin memutuskan pergi, kuliah Dean sedang benar-benar sibuk karena akan segera menjalani sidang skripsi.


Usia nya dan Dean tidak terpaut jauh, karena itulah mereka sangat sering berselisih dan bertengkar. Namun di luar semua itu, mereka adalah saudara yang saling menyayangi walaupun dengan cara yang berbeda.


Arin langsung menggandeng tangan Dean dan menariknya dengan kencang untuk membawanya ke rumah mereka. Dean sedikit terkejut melihat rumah baru mereka, terlihat sederhana namun nyaman untuk di tinggali. Karena ia adalah seorang pecinta alam ia cukup menyukai suasana di sana.

__ADS_1


Sayangnya karena beban pekerjaan, ia tidak bisa ikut tinggal di sana. Di awal-awal masa kerjanya ia tidak bisa datang berkunjung karena belum bisa mengambil cuti panjang.


Dan ketika hari dimana ia mendapatkan kesempatan untuk datang, ia segera memutuskannya tanpa berpikir panjang lagi. Arin memang tidak mengetahui perihal kedatangannya karena memang meminta ibu dan ayahnya untuk merahasiakannya.


Dan Dean telah berhasil membuatnya sangat terkejut dengan kedatangannya itu. Arin pun langsung membuatkan segelas sirup lemon untuknya sambil menelpon ibu mereka memberitahukan perihal kedatangan adiknya itu.


Ibu berpesan jika ia akan datang sebelum 1 jam. Arin pun segera mengantarkan minuman tersebut pada Dean. Mereka duduk di sofa yang berada di teras belakang rumah yang tepat menghadap ke laut.


Dean dan Arin tampak seru dengan perbincangan mereka sampai ketika ayah dan ibu datang pun mereka tidak menyadari nya.


Dean sangat senang melihat perubahan yang terjadi pada kakaknya. Ia bisa melihat Arin yang kini tampak ceria seperti dulu, tanpa kepura-puraan.


Dan jangan lupakan bibir cerewetnya yang nyaris tak bisa berhenti bicara. Dean dengan sabar memberikan kesempatan bagi Arin untuk berbicara lebih banyak. Sudah sangat lama, mereka tidak berbicara sehangat dan sedekat ini.


Ibu dan ayah pun segera pergi ke teras belakang ketika samar-samar ia mendengar suara tawa kedua kakak beradik itu. Ibu langsung menghampiri Dean dan memeluknya untuk melepas rindu begitu pun dengan ayah.


Setelah melepas rindu yang sudah bertumpuk itu, mereka berpindah ke ruang makan karena waktu sudah menunjukkan hampir pukul 2 siang. Mereka pun memulai acara makan siang mereka yang terlambat hari itu dengan gelak tawa sambil bercerita.


Ibu sangat terharu menatap kedua putra dan putrinya secara bergantian. Tak terasa kini mereka sudah beranjak dewasa, dan cepat atau lambat hanya ia dan suaminya nanti yang akan tersisa di rumah ketika keduanya menikah.


Memikirkan itu semua membuat suasana hatinya mendadak sendu. Dengan cepat, ia enyahkan segala pikiran yang tidak semestinya. Ia tidak ingin merusak momen kebersamaan keluarganya hari ini dengan kesedihan.

__ADS_1


__ADS_2