
Satria kini sudah bisa mulai berjalan meskipun masih sedikit tertatih. Dokter masih menyarankan untuk menggunakan alat bantu. Tidak perlu memaksakan jika memang kakinya belum benar-benar kuat untuk berjalan. Sekarang sudah tepat 2 bulan setelah peristiwa penculikan tersebut.
Semua bisnis yang di rintis oleh Satria kini sudah berjalan dengan baik tentunya berkat dukungan dan bantuan dari keluarganya. Papanya turun langsung untuk menggantikan Satria mengurus bisnis yang sudah ia rintis dengan susah payah dari nol.
"Pa, Satria boleh gak mulai kerja lagi. Kayaknya udah bosen banget 2 bulan di rumah gak ngapa-ngapain." ujar Satria membuat gerakan papanya yang sedang makan terhenti.
"Kamu yakin sudah bisa kerja lagi Sat? Papa bukannya melarang, hanya khawatir jika kamu terlalu memaksakan diri." jelas papa Satria menatap putra sulungnya.
"Satria yakin pa, lagi pula harusnya sekarang papa menikmati masa-masa pensiun papa tapi karena kondisi Satria yang seperti ini, jadi papa harus sibuk lagi ngurusin kerjaan Satria yang terbengkalai." jujur Satria yang memang merasa tidak enak merepotkan papanya.
Ia sudah terbiasa hidup mandiri, dan tentang Arslan saja sudah membuatnya benar-benar merasa bersalah dan juga malu di hadapan papanya. Jadi sebisa mungkin, Satria tidak ingin lagi merepotkan dengan masalah yang lainnya.
Akhirnya papa Satria pun mengijinkan Satria untuk kembali mengambil alih bisnis di bidang F&B yang sudah mulai berjalan dengan baik. Bahkan Satria sudah mempunyai kantor sendiri, walaupun tidak besar tapi cukup untuk menampung beberapa karyawan yang sudah ia rekrut sebelum kejadian penculikan tempo hari.
Satria memutuskan untuk membuat kantor pusat di Jakarta dan memboyong beberapa karyawan dari Jogja sebagai orang kepercayaannya. Sementara di Jogja sendiri akan di urus oleh Citra adiknya. Akhirnya ia memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai CPNS dan memilih untuk membantu mengelola pabrik di Jogja.
Selain Satria, Arinda pun harus rela menjadi pengangguran kembali setelah memutuskan untuk resign. Walaupun awalnya ia merasa berat tapi Arinda mulai menikmati hari-hari nya dengan menghabiskan waktu bersama keponakannya yang begitu menggemaskan.
Baik kedua orangtuanya maupun kedua saudara laki-lakinya melarang keras Arin untuk kembali bekerja setelah kejadian tersebut. Mereka terlalu khawatir tentang hal buruk yang mungkin saja terjadi jika Arin berada jauh dari pengawasan mereka.
"Sayang, aku kangen banget." ujar Satria dengan suara parau nya.
"Hem." jawab Arin singkat sambil tersenyum di balik telepon.
"Bisa gak sih kalau sekali-kali gitu kamu jawab yang bener. Iya, aku juga kangen banget sama kamu atau apa." gerutu Satria yang memang selalu di buat kesal dengan sikap Arin yang cuek dan datar padanya seolah tidak perduli.
"Aku kangen kamu yang dulu, yang selalu manja sama aku, yang banyak maunya, yang selalu ngajakin ketemu." jujur Satria mengungkapkan apa yang selama ini ia pendam dalam hatinya.
Arin pun terdiam sesaat mendengar keluh kesah yang di sampaikan oleh calon suaminya itu. Memang dulu ia sangat manja dan cerewet dengan Satria. Ia selalu meminta banyak hal,. terutama waktu Satria yang terkadang sedang sibuk pun akan selalu ia ganggu.
__ADS_1
"Maaf ya, gak tahu kenapa sekarang aku lebih nyaman seperti ini. Bukan berarti aku gak sayang atau gak kangen sama kamu." jelas Arin setelah beberapa saat mencoba menyusun kata yang tepat.
Entah memang benar ia yang keterlaluan atau memang Satria yang akhir-akhir ini begitu sensitif. Bukan hanya sekali dua kali Satria merajuk seperti ini. Entah mungkin efek terlalu rindu membuatnya seperti itu.
Lama tidak terdengar Satria menyahut dengan apa yang Arin jelaskan. Sebenarnya, untuk level hubungan mereka yang sekarang Arin pikir sudah bukan waktunya lagi mereka harus bersikap romantis seperti anak remaja. Toh meskipun hubungan mereka terbilang baru tapi mereka sudah berada di tahap usia yang matang.
Arin ingin memikirkan hal yang lebih serius mengenai hubungan mereka ke depannya. Sedangkan Satria hanya ingin menikmati setiap waktu dengan sebaik mungkin, karena baginya Arin sangatlah berharga. Selama bertahun-tahun ia mencintai Arin dalam diam dan terus mengharapkannya.
Karenanya, setelah mereka kembali bersama seperti ini Satria hanya ingin menikmatinya saja. Ia ingin menikmati rindu yang ia tahan selama bertahun-tahun bisa terbalas dengan perhatian yang Arin berikan.
"Sat, i'm so sorry. Please." ujar Arin pada akhirnya memilih mengalah.
"Don't call me like that." jawab Satria masih dalam mode merajuknya.
"Uhm, okay please honey." ujar Arin dengan memelas membuat senyum di wajah Satria mengembang dengan sempurna.
Hari pun berganti dan kini Satria sudah rapi dengan setelan kerjanya. Ia berjalan ke ruang makan dengan menggunakan tongkat. Di ruang makan sudah ada papa mama Satria dan juga Arslan. Mereka pun menikmati sarapan pagi dengan hening dan fokus pada makanannya masing-masing.
"Sat, kamu berangkat di antar supir kan?" tanya mama Satria membuat Satria mengangguk kecil.
"Ya sudah, kalau begitu nanti jangan terlalu lelah di kantor kalau memang kaki kamu belum bisa beraktivitas terlalu berat jangan di paksa." titah mama Satria lagi terdengar begitu cerewet di telinga Satria.
"Iya, ma." jawab Satria singkat.
"Mas, bisa antar aku ke sekolah dulu kan?" tanya bocah bertubuh gembul di sampingnya.
"Bisa dong, kamu udah siap?" tanya Satria menatap wajah putranya yang kini sudah duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar.
"Kamu siap-siap gih kalau mau bareng mas mu." ujar sang mama membuat Arslan mengangguk dengan patuh lalu berjalan ke arah kamarnya.
__ADS_1
"Pa, ma gimana ya sama rencana lamaran Satria nanti?" tanya Satria akhirnya kembali bertanya karena selama 2 bulan ini ia sudah berusaha bersabar menunggu kejelasan tentang rencana pernikahannya.
"Memang nya kamu sudah mengantongi restu dari kedua orangtuanya Arin?" tanya mama Satria membuat Satria kembali menghela nafas berat.
Selama 2 bulan belakangan ini ia sudah berusaha membicarakan masalah ini dengan Arin. Tapi baik Arin maupun kedua orangtuanya terlihat begitu santai dan seakan menunda niat baik Satria itu.
Bahkan ia hanya bisa pasrah begitu mendengar kedua orangtua Arin sudah kembali ke pulau X dimana setahun belakangan mereka tinggal. Memang ayah Arin sudah mempunyai usaha di sana yang tidak bisa ia tinggalkan begitu saja.
Ada banyak orang yang menggantungkan hidupnya pada usaha yang di rintis oleh kedua orangtua Arin tersebut. Karenanya Satria hanya bisa bersabar dan menunggu langkah selanjutnya sesuai arahan Arin dan kedua orangtuanya.
Namun tanpa Satria ketahui rencana pernikahan mereka sudah di sepakati oleh kedua pihak keluarga. Bahkan kedua orangtua Satria sampai rela terbang menyusul kedua orangtua Arin demi membicarakan rencana pernikahan mereka yang akan di langsungkan tidak lama lagi.
Pesta pertunangan mereka akan di lakukan satu minggu lagi bertepatan dengan hari ulangtahun Satria yang ke 29. Tentunya semua itu ingin Arin jadikan sebagai kejutan ulang tahun untuk Satria. Pesta pertunangan kecil-kecilan tersebut hanya akan di hadiri sekitar 50 orang saja oleh keluarga dan sahabat terdekat dari kedua belah pihak.
.
.
.
.
.
.
.
Tbc
__ADS_1