Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Kesalahpahaman


__ADS_3

Di perjalanan Arinda teringat dengan Bayu ia pun menelpon Bayu. Ia harus menanyakan dimana alamat Satria karena jika tidak, ia hanya akan berputar-putar di jalan sepanjang malam.


"Halo pak, selamat malam."


"Malam juga Rin, ada angin apa nih kamu telepon?"


"Hm, gini pak saya mau kirim berkas ke pak Satria tapi saya gak tahu alamatnya. Sementara saya telpon pak Satria nya langsung gak di angkat-angkat."


"Oh, begitu. Sebentar saya kirim alamatnya lewat pesan."


"Terimakasih pak, maaf sudah mengganggu malam-malam begini."


"Iya Rin, gak apa-apa. Saya senang kok bisa bantu kamu."


"Maaf pak telponnya saya tutup dulu, terimakasih."


Klik, telpon di matikan.


Sebenarnya Bayu masih ingin berbicara dengan Arin, tapi karena Arin langsung menutup telponnya Bayu hanya bisa pasrah.


Tapi walaupun begitu ia sangat senang bisa berbicara di telepon dengan Arinda walaupun hanya sebentar. Ia pun langsung mengirimkan alamat Satria pada Arin.


Dalam waktu 40 menit, mereka sudah sampai di depan sebuah gedung apartemen. Arin langsung membopong Satria dengan susah payah. Arin nampak kesulitan karena membawa tubuh Satria yang berpengawakan tinggi, kekar sementara Arin begitu mungil.


Setelah sampai di lantai 11 dimana unit apartemen Satria berada, Arin pun tampak semakin frustasi melihat jika pintu apartemen Satria menggunakan kode pas.


Arin pun mendudukan tubuh Satria dan mencoba untuk membangunkan Satria menanyakan kode pas apartemennya namun Satria hanya bergumam tidak jelas.


Arin pun mencoba untuk memasukkan tanggal ulang tahun Satria dan membuat kombinasinya tapi tetap gagal. Arin sudah mencoba menebak-nebak setiap angka yang mungkin akan Satria gunakan sebagai kombinasi kode pasnya namun tetap gagal.


Arin pun menyerah dan akhirnya ia duduk di sebelah Satria dengan menyandarkan tubuhnya pada dinding sambil memejamkan matanya. Akhirnya ia pun mencoba memasukkan tanggal ulang tahunnya berharap itu akan cocok.


Dan akhirnya tetap gagal. Arin pun hanya terus mendengus kesal memikirkan apa sebenarnya kode pas yang Satria gunakan. Ia terdiam cukup lama sampai akhirnya ia mendengar gumaman Satria.

__ADS_1


"Jangan pergi, jangan.. jangan pergi.. jangan tinggalkan aku.. Arin.. Arinda..." gumamnya tetap terlelap.


Arinda pun tampak berpikir cukup lama sampai akhirnya ia memasukkan sebuah kombinasi angka yang akhirnya membuat pintu terbuka.


Arin sangat terkejut, matanya tampak berkaca-kaca menahan air mata yang hendak tumpah kembali. Tapi Arinda mencoba untuk tetap kuat, ia bawa tubuh Satria untuk masuk ke dalam unit apartemennya itu.


Arin melihat seisi apartemen yang cukup rapi untuk ukuran tempat tinggal seorang pria lajang. Ada 2 pintu kamar yang ia lihat, Arin pun menebak salah satunya dan membukanya.


Dan ternyata tebakannya benar, kamar yang ia tuju adalah benar kamar Satria. Arin pun melemparkan tubuh Satria yang berat itu ke atas ranjang. Arin membukakan sepatu dari


kakinya dan membetulkan posisi tidurnya.


Arin begitu kelelahan, ia duduk di bawah sisi ranjang Satria sambil merenung. Tanpa sadar air matanya telah berjatuhan dan membasahi pipinya.


Wajah Arin terlihat sedikit pucat dan kepalanya terasa pusing. Arin pun mencoba bangun dan berdiri dengan benar namun kepalanya terasa benar-benar berat.


Belum sempat ia melangkah tubuhnya lebih dulu terjatuh dan Arin langsung tak sadarkan diri saat itu juga. Setelah beberapa jam Satria pun terbangun dengan kepala yang sangat berat.


Ia pun mencoba melihat sekitar dan mengenali itu sebagai kamarnya. Namun ia tidak ingat bagaimana ia bisa sampai di sana. Satria pun mencoba mendudukkan tubuhnya di atas ranjang, dan ia pun tak sengaja melihat seseorang tergeletak di lantai tak jauh dari ranjangnya.


Satria langsung menggendong Arin dan memindahkannya ke atas ranjang. Ia ingat jika terakhir kali ia menemui Arin di kosannya dan mereka berdua kehujanan.


"Rin, Arin.. kamu kenapa? Bangun Rin.. Arin." ucap Satria begitu khawatir.


Satria pun melihat baju yang Arin kenakan sudah setengah basah dan hampir kering. Arin pasti sangat kedinginan sejak tadi, pikir Satria.


Ia pun menyiapkan sebuah kaos berukuran besar dan sebuah celana training untuk Arinda berganti pakaian. Namun Arin tak kunjung bangun, membuat Satria semakin khawatir.


Satria pun memegang dahi Arinda mencoba memeriksa suhu tubuh Arin saat itu yang ternyata sangat panas. Satria hendak memanggil kan dokter untuk Arin tapi ia urungkan mengingat waktu sudah menunjukkan hampir pukul 1 pagi.


Walaupun sempat ragu-ragu akhirnya Satria pun terpaksa menggantikan pakaian Arinda dengan tangannya sendiri. Ia tahu jika setelah ini Arin pastilah akan semakin membencinya.


Tapi ia tidak ingin Arin semakin sakit jika ia membiarkannya mengenakan baju basah, jadi Satria berpikir kalau ia akan membersihkan tubuh Arinda lalu memakaikannya pakaian ganti.

__ADS_1


"Maaf Rin, aku terpaksa ngelakuin ini." ujar Satria sembari melucuti pakaian Arin satu persatu.


Bagaimanapun juga ia adalah seorang pria yang normal, melihat tubuh Arinda yang begitu polos seperti itu membuat sesuatu bergejolak dalam dirinya.


Namun ia berusaha keras untuk mengontrol dirinya, ia tidak akan melakukan kesalahan yang akan membuat Arinda semakin jauh darinya.


Setelah memakaikan Arinda pakaian, ia pun langsung mengompres Arinda menggunakan handuk yang telah ia rendam dengan air hangat. Hatinya terasa menghangat melihat gadis yang selama ini ia rindukan ada di hadapannya.


Setelah itu Satria memutuskan untuk mandi menggunakan air dingin dan berganti pakaian karena tubuhnya juga sudah terasa lengket. Ia juga harus mendinginkan tubuhnya yang terasa panas.


Kepalanya sudah berisikan hal-hal yang tidak seharusnya ia pikirkan. Dan setelah mendapatkan guyuran air dingin di waktu hampir dini hari akhirnya ia merasa lebih baik.


Beruntungnya besok adalah hari libur, jadi ia tidak perlu kebingungan dengan masalah pekerjaan. Ia akan merawat Arinda di sisinya sampai Arinda sadar.


Satria terus mengompres Arin sampai ia tertidur di kursi yang ia taruh di samping ranjang. Pukul set 6 pagi Satria kembali terbangun dan melihat hari sudah mulai pagi.


Ia pun segera memesan makanan melalui layanan ojek on-line untuk Arinda. Hanya berselang 20 menit datang seorang kurir yang mengantarkan makanan yang sudah Satria pesan.


Sementara Satria menyiapkan makanan untuk Arin dan membuatkannya segelas susu hangat Arin pun terbangun. Suhu tubuhnya tidak terlalu tinggi seperti saat malam hari.


Hanya kepalanya saja yang terasa sangat pening dan berat. Arin pun mencoba untuk duduk di atas ranjang dan ia pun ingat jika ia tengah berada di apartemen Satria.


Hanya saja ia ingat betul jika semalam ia terjatuh di lantai. Tapi sekarang ia terbangun di atas ranjang dan ia pun mulai sadar jika pakaian yang ia kenakan telah berganti.


"Kamu sudah bangun? Aku bawain kamu makanan." ujar Satria meletakkan sebuah meja lipat yang berisi semangkuk bubur ayam yang masih panas dan segelas susu hangat.


"Apa yang kamu lakuin ke aku?" tanya Arin mencengkeram baju yang Satria kenakan.


"Kamu tenang dulu, aku bakal jelasin kok." jelas Satria dengan tenang sembari melepaskan cengkraman tangan Arin yang begitu kuat.


Tatapan mata Arinda begitu tajam sampai Satria merasa gugup sendiri sebenarnya. Hanya saja ia berpura-pura tenang, agar Arin juga bisa ia tenangkan.


Tapi sebelum ia mulai menjelaskan alangkah baiknya jika Arinda sedikit salah paham padanya. Bagaimana jika kesalahpahaman di antara mereka akan membuat hubungan mereka menjadi lebih baik, pikirnya.

__ADS_1


"Cepat jelaskan!" ujar Arinda kesal .


__ADS_2