Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Kedatangan Raka


__ADS_3

"Rencana kakak ke depannya gimana?" tanya Dean sembari menyesap kopi hitam kesukaannya.


Arin tersenyum menatap kosong pada pemandangan di depannya. Angin meniup-niup rambut kecilnya yang mulai sedikit berantakan.


"Entahlah."


"Jadi akan tetap menetap di sini?" tanya Dean lagi mulai mensejajarkan tubuhnya di samping kakaknya yang tingginya hanya sebahunya.


"Kakak akan kembali, tapi tidak untuk sekarang." ujar Arin mulai mendekap kedua tangannya memeluk tubuhnya sendiri.


"Berapa lama lagi kakak akan melarikan diri?" tanya Dean sarkas.


"Kakak tidak melarikan diri, kakak hanya ingin menenangkan diri dengan suasana dan tempat baru." ujar Arin berusaha menepis tuduhan adiknya.


"Ini sudah 1 tahun kalau kakak lupa."


Arin semakin termenung mendengar setiap kata yang di ucapkan oleh adiknya itu.


"Masalah itu di hadapi, jangan di hindari. Kalau kakak memang tidak siap untuk kembali ke Jakarta setidaknya kakak berikan kesempatan untuk mas Raka menemui kakak." nasihat Dean membuat Arin kembali termenung.


"Baiklah, kamu memang benar kali ini." ujar Arin setelah lama terdiam.


Sontak Dean pun tersenyum senang mendapatkan respon kakaknya yang ternyata jauh di luar ekspektasi nya.


"Beresin ya, kasian anak orang tuh ngarep terus. Syukur-syukur sih di kasih kesempatan sama kakak, Mas Raka tulus banget loh sayang sama kakak." ujar Dean kembali membuat Arin harus menahan nafas sesaat.


Hubungannya dengan Raka bukanlah sesuatu yang bisa ia pertimbangkan. Bukan karena laki-laki itu tidak menarik, sejujurnya bahkan Arin sadar Raka lebih segala-galanya daripada Satria.

__ADS_1


Tapi dia bisa apa, jika hatinya sendiri tidak pernah memiliki ketertarikan sebagai seorang perempuan terhadap laki-laki. Baginya Raka adalah sosok sahabat terbaik yang pernah ia miliki.


Meskipun singkat, tapi semua yang terjalin di antara mereka terasa sangat berarti untuk Arin. Raka adalah satu-satunya orang yang dapat mengerti diri nya tanpa ia perlu jelaskan.


Mengingat Raka membuat Arin teringat pula dengan Herti dan Andi. Sejak ia pergi setahun lalu, ia memutuskan komunikasi dengan semua orang termasuk mereka.


Setelah perbincangan singkatnya bersama Dean di pagi hari, Arin memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Ia pun membuka laci dimana terdapat sebuah ponsel yang tergeletak dalam keadaan mati.


Ia pun segera mengambil charger dan menghubungkan nya ke dalam ponsel tersebut. Ya, itu adalah ponselnya yang lama. Terakhir kali ia mengaktifkannya ketika di bandara sesaat sebelum ia naik pesawat.


Setelah menunggu hampir 30 menit, Arin mulai mengaktifkan ponsel tersebut. Dan tak lama menunggu tiba-tiba ribuan chat masuk dan juga notifikasi panggilan tak terjawab yang jumlahnya ratusan.


Arin tidak tahu orang gila mana yang menghubungi nya tanpa henti dalam 1 tahun. Ia pun mulai membuka aplikasi hijau di ponselnya itu, dan mulai melihat siapa saja yang mengirimkan chat untuknya selama ini.


Di bagian teratas tentu saja terdapat nama Raka dan juga Herti. Rupanya mereka yang setiap hari menerornya dengan pesan singkat.


Raka yang sedang malas-malasan menikmati sarapan pagi menjelang siangnya di kantin rumah sakit sampai di buat terkejut melihat notifikasi pesan terkirim di ponselnya.


Kebetulan sejak tadi ia hanya bolak balik mengecek ponselnya membuka beberapa aplikasi sebagai hiburan. Namun alangkah terkejutnya ketika ia membuka aplikasi berwarna hijau dimana terdapat 2 centang biru pada pesan yang ia kirimkan pada Arin.


Dan itu artinya, gadis yang selama setahun belakangan ini terus mengusik hatinya telah membaca pesan tersebut. Tanpa pikir panjang ia pun langsung menekan tombol telpon dan tidak sampai deringan ke dua Arin menjawabnya.


***


Keesokan harinya Raka tiba di sebuah bandara yang berada di kota M. Untuk sampai di tempat Arin kini tinggal ia bahkan harus pergi ke dermaga lebih dulu setelah dari bandara untuk melanjutkan perjalanan menggunakan kapal Feri.


Meski begitu tidak tampak rasa lelah tercetak di wajahnya. Ia bahkan terlihat begitu bersemangat dalam perjalanan tersebut. Ia akui pemandangan di kota tersebut begitu memanjakan mata.

__ADS_1


Sepertinya ia datang ke tempat yang sangat cocok untuk berlibur. Arin begitu pintar memilih tempat untuknya tinggal selama setahun belakangan ini.


Tidak pernah terpikir jika Arin akan pergi sejauh ini. Selama ini ia berpikir mungkin Arin tinggal di kota kecil atau di pedesaan yang masih berada di pulau yang sama. Namun ternyata dugaannya selama ini 100% salah.


Raka sampai di pulau tempat Arin tinggal setelah hampir 2 jam menaiki kapal Feri. Dan ia begitu terkejut ketika melihat Dean telah menunggunya dengan senyum cerah di wajahnya.


Setelah berbincang dengan Arin di telpon kemarin Raka segera mencari penerbangan tercepat untuk menyusul Arin ke tempat tinggalnya yang baru. Beruntung Arin tidak menolak memberitahu ketika ia bertanya dimana ia tinggal sekarang.


Dan setelah menyelesaikan jadwal praktek nya hari itu, Raka segera mengajukan cuti dan bersiap untuk pergi. Ia memilih penerbangan pada malam hari karena ia sudah tidak sabar untuk menunggu besok jika ingin segera berangkat.


Waktu menunjukkan hampir pukul 1 dini hari ketika ia sampai di bandara kota M. Ia pun melanjutkan perjalanan menggunakan sebuah taksi menuju hotel yang sudah ia booking melalui aplikasi secara online.


Pukul 7 pagi, Raka telah siap di atas kapal fery dengan koper kecil di tangannya. Untuk mencapai tempat tinggal Arin yang baru, ia harus menyeberang ke pulau tersebut selama 2 jam.


Raka pun memberikan kabar kedatangannya yang sebentar lagi akan sampai di pulau kepada Arin. Namun ia di buat terkejut ketika melihat Dean telah berdiri menyambutnya dengan hangat begitu ia sampai.


"Loh kamu di sini Dean?" tanya Raka mendadak bingung.


Pasalnya 4 hari yang lalu mereka masih ngopi bersama di cafe. Namun tiba-tiba saja Dean sudah ada di sana, Raka akui meskipun perjalanan nya begitu jauh tapi pemandangan di sekitar pulau begitu memanjakan mata.


Tidak henti ia berdecak kagum menatapi alam sekitar yang begitu mempesona. Pantai yang jernih, terumbu karang yang indah, bahkan ia bisa melihat jutaan ikan hias yang bersembunyi di terumbu karang dengan mata telanjang sepanjang perjalanan.


"Ayo mas, kita keliling dulu mas pasti bakal suka dan betah dengan suasana di sini." ujar Dean.


"Percuma ke rumah juga soalnya gak ada siapa-siapa juga. Nanti setelah keliling kita ke tempat kak Arin ngajar." timpalnya lagi membuat Raka urung bertanya.


Ia sedikit terkejut mendengar penuturan Raka yang baru saja ia tangkap dengan indra pendengarannya. Ia hanya bisa menerka-nerka kegiatan apa yang Arin lakukan selama tinggal di pulau ini.

__ADS_1


Para penduduk desa begitu ramah menyambutnya. Tidak sedikit juga menatap heran karena memang jarang sekali ada orang asing yang datang. Apalagi Raka terlihat sangat tampan dengan penampilan terlihat begitu gagah dan berkharisma.


__ADS_2