Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Kedai bakso part 2


__ADS_3

Setelah saling menyadari keberadaan masing-masing tentunya kami menjadi saling canggung satu sama lain. Bisa ku perhatikan gadis yang duduk di sebelah Satria itu tak berhenti menatap ke arah ku.


Aku pun bingung harus bersikap seperti apa, sejujurnya hatiku merasa senang dengan pertemuan yang tidak di sengaja ini. Namun aku pun merasakan ketidaknyamanan karena gadis muda yang berada di sebelahnya itu.


Entah siapa gadis tersebut yang bisa dengan leluasa memanggil Satria dengan panggilan mesra seperti itu. Mungkinkah Satria telah melupakan ku dan melanjutkan hidupnya yang baru.


Mungkinkah hanya aku yang masih sering memikirkan dan merindukannya setiap waktu. Mendadak suasana hatiku menjadi tidak menentu. Semua rasa bercampur aduk menjadi satu.


"Apa kabar?" tanyanya sambil mengulurkan tangannya sambil tersenyum dengan lebar.


"Baik." jawabku singkat hanya menampilkan senyum kecil di kedua sudut bibirku.


Karena tidak ingin berlama-lama lagi duduk bersama Satria dan seorang gadis yang mungkin saja kekasih barunya itu, aku pun langsung berpamitan untuk bergegas pergi ke kasir dan membayar tagihan ku agar aku bisa cepat pergi dari sini, pikirku.


"Aku udah selesai Sat, duluan ya sat sama mbaknya." ujar ku berusaha berbicara seramah mungkin sembari berdiri dari bangku tempat ku duduk sejak hampir 30 menit yang lalu.


Bisa ku lihat raut wajah Satria yang nampak penuh dengan rasa kecewa. Dasar laki-laki, padahal ia sudah bersama gadis lain tapi tetap saja berpura-pura seperti itu di depanku.


Dan wajah gadis di sampingnya seperti menerka-nerka dengan bingung tentang siapa aku.


"Kamu sendiri ? Mau aku antar?" sebuah ucapan tidak terduga itu tiba-tiba ia ucapkan sambil berjalan menyusul ku yang sudah antri di depan meja kasir.


Sontak saja kedua bola mata gadis di sampingnya itu terlihat seperti akan melompat dari tempatnya. Aku pun merasa tidak enak hati untuk menerima ajakan tersebut meskipun hati kecilku berkata mau.

__ADS_1


Sebagai seorang perempuan aku bisa memahami bagaimana kondisi dan suasana hati gadis yang datang bersamanya. Bagaimana jika mereka belum menjadi sepasang kekasih dan baru saja masa penjajakan, kasihan sekali jika Satria mengabaikannya karena keberadaan ku.


"Gak perlu sat, aku udah pesen ojol kok barusan." ujar ku sedikit berbohong.


"Gak mau aku antar aja?" tanyanya lagi membuat ku menatap gadis itu dengan tak enak hati.


"Jangan Sat, kamu kan baru dateng belum sempat makan juga. Lagian gak enak sama mbaknya, masa kamu tinggal cuma buat nganterin aku. Gak apa-apa kok Sat, lain waktu aja ya." jelas ku asal seolah kami akan bertemu lagi.


"Oh ya sudah, hati-hati ya Rin." ujarnya dengan wajah kecewa yang hanya aku tanggapi dengan senyuman kecil sambil berlalu keluar meninggalkan kedai bakso tersebut.


Entah apa yang ku lakukan saat ini adalah hal yang tepat atau tidak yang jelas kejadian hari ini membuat ku cukup kesal. Jika Satria memang sudah mulai move on dariku dan melupakanku kenapa tuhan begitu kejam dengan mempertemukan kami lagi seperti ini.


Ku langkahkan kakiku dengan cepat untuk segera keluar dari kedai bakso favorit ku tersebut. Untuk pertama kalinya kedatangan ku ke sana membuat ku kecewa. Karena pertemuan tadi adalah hal yang tidak pernah aku sangka akan terjadi.


Mood ku menjadi hancur berantakan begitu sampai di kost'an. Ku lemparkan tubuhku ke atas bed berukuran 160 x 200cm dengan entah perasaan yang tak bisa ku pahami sendiri.


Lama aku tak bergerak dalam posisi seperti itu sampai akhirnya kedua mata ku terpejam begitu saja tanpa bisa aku tahan. Mungkin tidur siang adalah hal benar yang seharusnya aku lakukan sejak tadi daripada berkeliaran di luar seperti tadi, pikirku.


Entah sampai berapa lama aku tertidur bahkan dengan sepatu yang masih menempel di kedua kakiku. Tubuhku masih terbaring dalam posisi yang sama dengan kaki ku yang menjuntai sampai ke lantai.


Bertemu Satria kembali selalu membuat ku galau, dan kegalauan ku ini membuat hatiku kesal. Dan ketika terbangun ku lihat awan sudah terlihat mendung dan petir terdengar menggelegar saling bersahutan.


Aku pun memutuskan untuk menyeret tubuhku dengan malas menuju kamar mandi. Dan begitu selesai berganti pakaian aku pun memutuskan untuk pergi keluar dari kamar berniat untuk membuat secangkir teh hangat di dapur.

__ADS_1


Kebetulan kost'an kami adalah rumah dengan 2 lantai. 1 lantai berisikan 20 kamar yang masing-masing 10 kamar saling berhadapan. Setiap lantai di lengkapi dengan 2 kamar mandi umum, 1dapur umum dan area laundry serta ruang santai yang bisa di peruntukan bagi penghuni kost ataupun tamu.


Begitu kakiku melangkah ke arah dapur, ku lihat Sherina baru saja memasuki lorong menuju kamarnya bersama dengan Hesti. Dalam waktu singkat mereka bisa menjadi sangat dekat, mungkin karena mereka memiliki banyak kesamaan dalam hal sikap dan sifat.


Tawa mereka sangat pecah hingga terdengar cukup menggelegar di lorong rumah ini. Karena hari masih sore, suasana di sini masih terbilang sepi karena semua orang masih sibuk beraktivitas di luar.


"Kalian baru pulang?" tanyaku ketika kami berpapasan.


"Iya Rin, kita ada oleh-oleh nih buat kamu nanti ke kamarku ya." ujar Sherina dengan penuh semangat.


"Iya, gue juga tunggu Lo di sana ya."ujar Herti menimpali.


"Kalian mau teh? kalau mau sekalian bikin nanti." tawar ku membuat mereka saling menatap sambil tersenyum.


Sherina pun mengangkat 1 tangannya yang sedang memegang paper bag bergambarkan sebuah lambang coffee shop terkenal di Jakarta. Akhirnya kami pun sepakat jika akan menikmati kopi yang sudah Sherina belikan.


Aku pun memutuskan untuk melanjutkan langkah ku ke dapur guna mengambil piring untuk menaruh makanan yang telah mereka beli. Memang setiap pergi dari luar baik Sherina maupun Herti memiliki kebiasaan membeli banyak makanan.


Mungkin karena banyaknya persamaan di antara mereka itulah yang membuat mereka terlihat sangat mudah untuk akrab satu sama lain. Bahkan menurut ku mereka terlihat sangat dekat lebih dari pada kedekatan ku dengan Hesti selama beberapa tahun.


Walaupun Herti orang yang sangat ramah, tapi aku adalah orang yang sangat tertutup dan selalu membatasi pergaulan. Karena itulah, aku tidak mempunyai cukup banyak teman semasa kuliah dan bekerja.


Setelah menemukan yang aku cari di dapur, aku pun langsung bergegas untuk pergi ke kamar Sherina yang berada tepat di depan kamar ku. Jangan lupakan Herti, yang rela pindah dari tempat kost yang sudah ia tempati lebih dari 5 tahun hanya untuk dekat dengan kami berdua.

__ADS_1


Herti bilang, jika dia pindah maka itu akan jadi hal yang lebih efisien daripada harus bolak-balik dari tempat kost nya yang dulu untuk kesini. Ia sudah terlanjur merasa nyaman dengan suasana di tempat kami.


Akhirnya kami pun mengabiskan waktu sore kami dengan minum coffee dan cake yang telah mereka beli sebelum pulang. Walaupun hujan di luar cukup besar , tetap saja kami tidak terpengaruh dan menghabiskan semua makanan dan minuman dengan konyol.


__ADS_2