Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Wahana Outbound part 1


__ADS_3

Pagi hari pun datang, kini Arin dan rekan-rekannya tengah bersiap untuk mengikuti outbound di arena belakang hotel. Kebetulan di hotel tempat ia menginap mempunyai beberapa fasilitas seperti restoran, kolam renang, outbound, sampai arum jeram.


Luas keseluruhan hotel tempat ia menginap sekitar 2 hektar. Banyak memang tamu dari dalam dan luar kota yang datang untuk acara gathering seperti dari perusahaan Bayu. Hotel dan semua fasilitas nya sudah di booking oleh Bayu hanya untuk perusahaan nya selama 2 hari.


Ada total sekitar 500 orang yang tergabung dalam acara ini. Karena fasilitas outbound di sini lengkap, ada sekitar 10 wahana outbound maka dari 500 orang panitia memecahnya menjadi 5 kelompok.


Setiap 100 orang menempati 1 wahana yang berbeda. Ada 5 wahana yang sudah di booking oleh perusahaan, yaitu wahana paint ball, high rope, flying fox, arung jeram, dan treking.


Dan dari 100 orang itu di bagi menjadi beberapa kelompok lagi, panitia telah mengatur sedemikian rupa agar acara berlangsung dengan lancar dan pastinya berkesan untuk semua orang.


Arin dan teman-temannya kebetulan mendapatkan bagian untuk mengisi kegiatan di wahana paint ball terlebih dahulu. Xan sialnya bagi Arin, karena lagi-lagi ia harus satu kelompok bersama Satria.


Pada permainan ini setiap kelompok di haruskan untuk menjadi kelompok yang solid dan kompak. kegiatan ini memaksa setiap orang untuk terus bergerak namun dengan strategi yang matang pula.


Perlu kecepatan dalam berpikir untuk mengatur strategi dan juga bergerak lincah dalam permainan tersebut. Setelah selesai di arena paintball Arin berpindah ke wahana high rope.


Tentu saja ini sangat mengganggu bagi Arin untuk dia yang begitu takut dengan ketinggian. Terlihat keengganan di matanya, namun ia berusaha menutupi nya sebaik mungkin.


Medianya menggunakan seutas tali yang panjang dan kuat. Di atas tali, kamu akan diminta melakukan berbagai hal, seperti menyusuri sepanjang tali, melompat, dan memukul target. Sensasi kemenangan yang menyenangkan akan terasa bila kamu berhasil melakukan tantangan.


Ada aturan baku saat melakukan permainan ini. Selalu perhatikan arahan instruktur dan jangan mencoba melakukan improvisasi karena bisa sangat berbahaya. Satria pun menyadari jika Arin mungkin takut walaupun kecemasan tidak tampak di wajah Arin.


Tapi Satria tahu betul sejak dulu, Arin sangat takut dengan ketinggian. Akhirnya karena khawatir dengan keadaan Arin, Satria pun menghampiri Arin. Ia mengusulkan Arin untuk mundur, dan tidak mengikuti permainan yang satu ini.

__ADS_1


"Rin, kamu yakin mau ikut nyoba yang satu ini?" tanya Satria.


Arin tidak lantas menjawab, ia menatap Satria selama beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk mengiyakan pertanyaan Satria.


"Kamu yakin? kamu takut ketinggian loh? kalau kamu mau aku bisa kok nanti bilang sama panitia." tawar Satria.


"Enggak usah sat, aku mau coba." jawab Arin pad akhirnya.


Iya bertekad untuk memberanikan diri, untuk melawan rasa takut dalam dirinya. Ia tidak ingin berada di zona nyaman terus menerus. Karena hidup ini selalu berpacu dengan tantangan.


Seperti hari ini, Arin bertekad untuk keluar dari zona nyamannya dan mencoba menaklukan ketakutan nya dalam setiap wahana yang harus ia lalui.


"Ya sudah, kalau itu sudah menjadi keputusan kamu. Tapi kalau ada apa-apa panggil aku ya." ujar Satria di depan kelompok mereka.


Sontak saja kedua bola mata Arin hampir melompat dari tempatnya mendengar penuturan Satria yang sudah dengan terang-terangan menunjukkan perhatian di depan umum.


Namun apalah artinya permintaan tersebut di mata Satria, karena laki-laki berpengawakan tegap dan tinggi tersebut memilih untuk pura-pura tidak mendengarnya.


Untuk apa ia harus melakukan itu, Satria akan menikmati waktu terakhirnya bersama Arin dalam kesempatan outbound ini. Karena ini mungkin adalah yang terakhir kalinya ia bisa sedekat ini dengan gadis yang telah ia cintai selama 10 tahun tersebut.


Baginya perasaan cintanya terhadap Arin bukan sesuatu yang bisa ia hentikan begitu saja. Meskipun sudah 10 tahun, cintanya selalu bertumbuh dari waktu ke waktu.


Cintanya sudah mendarah daging, mengakar kuat di dasar hatinya. Tidak mudah untuk menggoyahkannya apalagi menghapus perasaannya. Meskipun Arin sendiri yang meminta hal tersebut, Satria akan menolaknya dengan tegas.

__ADS_1


Karena perasaan dan cintanya untuk Arin bukanlah sesuatu yang dangkal lagi saat mereka masih remaja dulu. Cintanya kini sudah bertumbuh dan menguasai seluruh jiwa dan pikirannya.


"Sat, please deh jaga sikap. Jangan bikin gosip yang enggak-enggak di depan yang lain." pintar Arin pada akhirnya setelah beberapa saat setengah berbisik.


"Kamu bisik-bisikin aku kayak gini juga semua orang tuh pasti langsung gosipin kita." jawab Satria sambil menunjukkan tatapan semua orang terhadap mereka.


Sungguh Arin di buat jengkel, belum lama ini semua karyawan wanita di kantor mereka memandangnya dengan buruk karena gosip murahan tentang hubungan dirinya dan Bayu tersebar.


Arin berusaha untuk mengabaikan hal tersebut karena memang itu hanyalah sebuah kebohongan. Sedangkan Satria, ia bisa dengan mudah tersulut emosi ketika beberapa karyawan wanita dengan terang-terangan mengejeknya.


Jika saja Herti dan Andi tidak setia di sampingnya dan menahannya, kemarin malam ia hampir saja bergulat dengan Ike. Yah sejak dulu, setiap ucapan yang keluar dari mulut ike memang selalu sarkas dan pedas jika menyangkut Arin.


Tapi Arin selalu bersikap cuek dan abai walaupun Ike selalu mencoba mencari jalan untuk memantik emosinya. Tapi entah kenapa ketika hal tersebut mengenai hubungan dirinya dan Satria, Arin seolah bukan dirinya.


Dengan mudah Ike bisa membuat darahnya sangat mendidih. Bahkan hampir saja ia menjambak rambut keriting Ike, jika Herti dan Andi tidak segera menariknya pergi meninggalkan Ike.


Dan ia beruntung Ike tidak ada dalam rombongannya. Sebenarnya itu semua sudah menjadi permintaan Satria kepada para panitia. Untuk menjauhkan Ike dari Arin karena perempuan tersebut sangat gemar membuat keributan dan masalah dengan Arin.


Bahkan sudah menjadi rahasia umum, jika hubungan keduanya tidaklah baik. Dalam setiap kesempatan Ike selalu mencari-cari masalah dengan Arin meskipun Arin selalu mengabaikannya.


Dan kini tibalah giliran Arin untuk memulai atraksinya itu. Ia mencoba untuk tenang, sesekali terlihat helaan nafas berat keluar dari mulutnya. Satria, Herti dan Andi terus menyemangatinya membuat Arin kembali menguatkan tekadnya.


Dan ketika ia sudah berada di tengah-tengah, keringat dingin mulai menjalari seluruh tubuhnya. Jantung nya tiba-tiba saja berpacu dengan cepat begitu ia melongok pemandangan di bawahnya.

__ADS_1


Seakan ia berada di ketinggian ratusan meter, Arin hampir menggigil ketakutan. Tapi lagi-lagi ia mencoba untuk mengumpulkan kembali keberaniannya. Dengan hati-hati ia mulai kembali menguatkan cengkraman tangannya pada seutas tali tersebut.


"Aku harus bisa! Aku gak boleh nyerah gitu aja. Aku pasti bisa!! " ia pun menjerit kuat dalam hatinya untuk kembali membakar semangatnya.


__ADS_2