Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Terpesona


__ADS_3

Setelah hampir 30 menit berjalan mengelilingi pulau, tibalah mereka di kelas darurat yang Arin dan ibu dirikan. Raka di buat terpukau melihat Arin yang sedang mengajari anak-anak membaca dan menulis.


Ia terlihat begitu sabar dalam membimbing anak-anak di sana. Penampilan Arin yang kini dengan rambut pendek sebahu cukup membuat Raka pangling.


Meskipun tidak menggunakan make up, Arin begitu terlihat cantik di matanya. Mungkin karena ia begitu merindukan perempuan yang membuatnya harus menahan rindu selama 1 tahun penuh.


Dapat Raka lihat, jika Arin yang kini ada di hadapan nya terlihat begitu berbeda. Senyum di wajahnya begitu tulus tanpa kepura-puraan. Wajahnya terlihat lebih segar meskipun tanpa sapuan bedak dan lipstik.


Raka hanya diam dan mengamati, ia tidak ingin menganggu Arin dalam kegiatannya. Biarlah ia melepas rindunya dengan puas sambil menatap Arin diam-diam.


"Sepertinya tinggal di sini membuatnya bahagia." ujar Raka membuat Dean menoleh.


"Mas Raka benar, tapi memang seperti inilah kak Arin. Jauh sebelum pria brengsek itu datang, kakak aku memang seceria ini. Senyumannya sangat indah bukan?" timpal Dean yang hanya di jawab senyuman oleh Raka.


Setelah hampir 30 menit menunggu akhirnya Arin pun selesai dengan kelasnya. Ia pun menghampiri Raka dan adiknya yang tampak sudah menunggu entah sejak kapan.


Arin baru menyadari keberadaan mereka beberapa menit lalu. Karena itu ia pun cepat-cepat menyelesaikan kelasnya. Hari ini ibu tidak datang untuk mengisi kelas karena harus membantu bapak mengirim hasil produksi mereka ke kota.


"Kalian sudah lama di sini?" tanya Arin.


"Lama banget, heran orang segede gini kakak gak lihat." sahut Dean dengan wajah ketusnya.


Sementara Raka hanya tersenyum simpul mendengar perdebatan keduanya. Walaupun Dean sering bersikap seperti itu terhadap Arin, tapi ia sangat tahu jika Dean sangat menyayangi kakak perempuan satu-satunya itu.


"Sudah, kalian ini gak malu di lihat anak-anak berdebat di sini." ujar Raka melerai keduanya.


"Lama gak ketemu, apa kabar Arinda?" timpalnya lagi sembari mengulurkan tangannya dengan senyuman lebar.

__ADS_1


"Baik, kamu apa kabar Raka?" ujar Arin sambil menerima uluran tangan Raka.


"Seperti yang kamu lihat, aku selalu baik." jawab Raka.


Ketiganya lalu memutuskan untuk pulang ke rumah. Begitu sampai Arin langsung menyajikan secangkir teh hangat dan sepiring nasi goreng yang tadi pagi ia masak namun sudah ia hangatkan terlebih dahulu.


"Makanlah. Aku yakin, kamu belum sarapan." ujar Arin sembari menyajikannya di depan Raka.


"Eh, u.. udah kok rin. Gak usah repot-repot." jawab Raka tidak enak hati.


"Sudahlah Raka, ini saja baru jam 10 pagi dan kamu sudah berada di sini sejak tadi. Aku sudah hafal kebiasaan mu, kamu pasti belum sarapan." ujar Arin membuat Raka mencicit malu karena memang benar apa yang Ari katakan.


Tapi di sisi lain Raka juga merasa senang karena Arin masih mengingat jelas kebiasaannya ketika bepergian. Ia pun mulai menikmati nasi goreng buatan Arin dalam diam.


Sementara Dean entah menghilang kemana sejak mereka sampai di rumah. Ia sengaja pergi karena ingin memberikan kesempatan bagi keduanya untuk bicara dengan leluasa.


Arin meminta Raka untuk beristirahat lebih dulu, baru nanti siang mereka akan bicara. Bagaimana pun Raka pasti lelah setelah melakukan perjalanan jauh. Dan sialnya, karena merasa gugup ia tidak bisa tidur begitu sampai di hotel.


Karena itulah ia tidak menolak saran yang Arin berikan karena memang tubuhnya sudah merasa cukup lelah. Sementara Dean berkeliling di sekitar pesisir sambil membawa kamera DSLR kesayangannya.


Dan tanpa sengaja kameranya menangkap sebuah pemandangan indah menyejukkan mata. Dimana seorang gadis dengan rambut panjang sedikit bergelombang tengah bermain ombak di bibir pantai bersama beberapa gadis lainnya.


Dengan reflek, Dean pun mengambil beberapa gambar gadis tersebut. Senyumnya begitu cerah, kulitnya terlihat sedikit gelap tapi sangat manis. Kedua lesung pipinya begitu menyempurnakan kecantikannya.


Untuk pertama kalinya Dean di buat terpesona dengan sosok gadis yang tidak ia kenal tersebut. Setelah puas memotret, Dean mengecek satu persatu hasil jepretannya.


"Sempurna." hanya satu kata itu yang terucap dari bibirnya.

__ADS_1


Ia tidak pernah terpesona seperti itu terhadap seorang gadis. Tapi wajah polos dan senyuman cerah dari gadis tersebut seakan menghipnotis nya.


Dan begitu ia kembali melihat ke arah bibir pantai, gadis itu sudah menghilang. Dean segera beranjak mencoba melangkah mencari keberadaan gadis tersebut.


Baru saja ia berencana untuk mengajaknya berkenalan, tapi gadis itu sudah menghilang lebih dulu. Dean memutuskan untuk kembali berkeliling, ia yakin gadis tersebut adalah warga asli pulau.


Karenanya ia berharap mereka akan berpapasan kembali. Tapi rupanya gadis tersebut tidak keluar dari rumahnya. Karena sampai matahari berada di atas kepalanya pun Dean tetap tidak menemukannya.


Ia pun berjalan dengan lesu untuk kembali ke rumahnya. Dean adalah orang yang sulit untuk jatuh cinta. Tidak mudah untuk bisa menarik perhatiannya, seperti yang di lakukan gadis tadi.


Niat ingin beristirahat sebentar ternyata menjadi di luar kehendaknya. Raka baru terbangun ketika hari sudah sore. Harus ia akui, tubuhnya memang sedang lelah dan butuh istirahat.


Kini ia lebih merasa segar, ia pun bergegas untuk membersihkan dirinya. Dan begitu ia keluar dari kamar tampak ayah dan ibu sedang duduk di ruang tengah sambil mengobrol dengan Dean.


"Om, tante apa kabar?" tanya Raka begitu ia menghampiri keduanya dan mencium punggung tangan mereka secara bergantian.


"Alhamdulillah nak Raka, sudah lama sekali kita tidak bertemu. Tante seneng lihat kamu bisa berkunjung kemari." jawab ibu dengan sangat ramah.


"I.. iya tante. Oia maaf tante Raka tadi ketiduran lama banget. Padahal niatnya cuma mau tidur sebentar, jadi gak tahu tante sama om udah dateng." ujar Raka membuat sepasang suami istri itu hanya tersenyum maklum.


"Jangan sungkan Raka, lagi pula kamu pasti sangat lelah karena perjalanan ke sini cukup menguras waktu dan tenaga." cetus ayah mulai berbicara.


"Iya om, em maaf om tante Arin nya kemana ya?" tanya Raka memberanikan diri setelah memperhatikan sekitar tak melibatkan keberadaan Arin dimana pun.


"Arin, ada di halaman belakang. Kalau sore ia memang betah duduk di ayunan belakang. Pintunya ada di sebelah sana." jelas ibu sembari menunjukkan arah.


Raka pun pamit dan segera membawa langkah kakinya menuju tempat yang di sebutkan oleh ibunya Arin. Dan begitu ia membuka pintu, ia sudah di suguhi pemandangan senja yang begitu mempesona.

__ADS_1


Angin bertiup cukup kencang, benar-benar sejuk pikirnya. Ia pun mencoba menyatukan pandangannya ke berbagai arah. Dapat ia lihat jika Arin tengah duduk di atas sebuah ayunan yang berada sekitar 100 meter di depannya.


__ADS_2