Asmara Gadis Desa

Asmara Gadis Desa
BAB 10


__ADS_3

mereka berkeliling serta menanyakan tentang bagaimana proses perkembangan pembangunan proyek yang mereka sedang kerjakan. serta menanyakan masalah yang terjadi akhir-akhir ini diproyek yang mereka tangani.


dirumah besar widya membantu bi narti untuk mempersiapkan makanan diatas meja.


"pagi semua." kata mama naya sambil mengdandeng tangan papa ikhsan menuju meja makan.


"pagi bu pak." jawab widya dan bi narti bersamaan.


"apa hendru sudah bangun wid?" tanya mama naya.


"sudah bu tapi pagi-pagi tadi den hendru pergi keluar kota." kata widya.


"keluar kota kok dia gak bilang sama kita pa kalau hendru mau pergi?" tanya mama naya.


"maaf bu kalau saya lancanag menjawab. tadi den hendru bilang sama saya kalau aden gak sempet pamit soalnya mendadak dia perginya." kata widya.


"oh gitu biar nanti aku telpon anak itu ada masalah apa?" kata papa.


"iya pa tapi berarti papa hari ini harus ke kantor dulu sebelum kerumahsakit." kata mama naya.


"iya harusnya gitu. mama gak ke butik hari ini?" tanya papa ikhsan.


"aku ke butik hari ini rencana mau ajak widya sekalian kalau widya mau. gimana wid kamu mau ikut saya?"


"apa ibu gak keberatan saya ikut?"


"gak lah. malah saya senang siapa tau nanti kamu mau kerja dibutik."


widya hanya tersenyum menanggapi ucapan dari majikannya ini yang memaksa dia untuk kerja dibutiknya.


widya dan bu naya berangkat kebutik di antar oleh pak aji. didalam mobil tidak banyak yang mereka bicarakan karena bu naya lebih sering melihat hp. widya memandang keluar sesaat dia terpesona akan kota yang dia tinggali sekarang.


tidak butuh waktu lama mereka sampai dibutik beauty bu naya. saat masuk kedalam widya sangat mengagumi interior yang ada didalamnya walaupun butik itu adalah butik orang-orang kaya tapi interior disana adalah interior yang sederhana.


widya juga mengagumi busana busana yang ada dibutik tersebut.


"oh ya wid kenalin ini tiara dia manager dibutik ini dan yang ini sari dan ida karyawan disini."


"hallo semua saya widya. senang bertemu dengan kalian."


"ya sudah wid kamu bericara dengan sari dan ida dulu ya. saya akan berbicara dengan tiara."


"baik bu."


widya diajak melihat-lihat dibutik itu oleh ida dan sari. mereka banyak berbincang tentang butik karena sekarang butik belum rame.


reza baru mengetahui kalau biaya yang dikeluarkan oleh perusahannya hanya sampai setengah saja dari anggaran yang diajukan. berati ini semua bukan salah orang proyek tetapi ini ada masalah dengn orang kantor.


"yan kamu harus menyelidiki benar-benar dana yang sudah mengalir itu masuk ke rekening siapa saja?"

__ADS_1


"baik pa."


"kalau sudah ada bukti kita akan proses mereka secara huukum."


"baik pak."


"habis ini ada jadwal apa lagi?"


"untuk sekarang sudah selesai tapi untuk nanti malam ada acara makam malam yang diatur oleh bu naya."


" maksut makan malam yang diatur mama?"


"makam malam dengan perempuan pilihan ibu naya."


hendru hanya menghela nafas tanpa menjawab iya atau tidak. mereka keluar dari proyek menuju mobil yang mereka sewa selama ini untuk pulang pergi.


sesampai dipenginapan ternayata disana mereka disambut oleh perempuan paruh baya.


"ini pasti den hendru?"


"iya saya hendru."


'kenalin saya mak sri. saya ditugaskan ibu naya untuk memnyiapkan kebutuuhan aden selama disini."


"oh baiklh terimaksih ya mak maaf merepotkan."


"oh ya aden mau makan atau mau mandi dulu?"


"kami berdua mandi dulu habis itu baru kami makan mak."


"baik den."


hendru langsung pergi masuk kamar untuk mandi sebelum mandi diberistirahat sebentar. apa yang dilakukan gadis itu ya sekarang? batin hendru.


aduh kok aku mikirin gadis itu sih. sebaiknya aku mandi biar pikiran aku gak kegadis itu terus.


hendru menuju mdapur disana sudah ada ryan yang sedang minum kopi.


"jam berapa ini kamu minum kopi?"


"panas panas gini enak kalau minum kopi panas pak."


"masak sih."


"aden gak usah dengarkan den ryan ini mending makan dulu kalau sudah selesai makan nanti saya bikinin kopi."


"baik mak makasih."


selesai makan mereka berdua berpindah keruang tengah untuk membahas proyek yang mereka kerja kan dan yang akan mereka kerjakan.

__ADS_1


sedangkan dibutik widya dipaksa oleh kedua karyawan itu untuk bekerja disana tidak hanya ida dan sari.


tiara selaku menager disana juga berharap agar widya mau bekerja dibutik itu setelah melihat hasil gambar widya.


tiara melihat bakat yang dimiliki oelh widya itu sayang kalau tidak disalurkan. apalagi sketsa yang widya buat itu bukan hanya hasil karya asal-asalan akan tetapi kalau benar-benar dibuat sebuah pakaina akan terasa lebih hidup.


tidak hanya itu hasil karya widya tidak hanya akan menarik para perempuan yang sudah berumur tapi juga akan menarik gadis-gadis muda untuk datang kebutik itu.


widya akan memberi jawaban 3 hari apa dia mau bekerja dibutik itu atau dia akan bekerja dirumah.


saat pulang mama naya juga masih membujuk widya.


"sayang lo bakat kamu gak disalurin." kata mama naya


"bener itu kata bu naya gambar kamu bagus lo wid. siapa tau ini jalan kesuksesan kamu." sela pak aji.


" tu dengar pak aji aja setuju apalagi yang kamu pikirkan. selain itu bukan kah kamu mau lanjut kuliah." kata mama naya membujuk widya.


"biar nanti saya bicarakan dulu sama bi narti. kasian kalau dia bekerja sendiri."


"gampang kalau itu, biar nanti aku suruh bi narti cari orang satu lagi." kata mama naya


sesampai dirumah widya langsung ke dapur untuk membantu bi narti memasak.


"masak apa bi hari ini?" tanya widya saat dekat dengan bi narti.


"ini ibu masak opor ayam sama goreng krupuk."


"apa yang bisa aku bantu bi?"


"gak usah, sudah sana istirahat saja pasti kamu lelah." kata bi narti.


"gak widya gak lelah kok. oh ya bi kalau aku kerja di butik bu naya tak apa?"


"ya tak apa wid nanti biar bibi bilang sama ibu mau cari satu orang lagi buat bantu dirumah ini."


"tapi bi kalau aku kerja dibutik apa aku harus pindah dari sini?"


"kamu gak perlu pindah dari sini.kamu tetap tinggal dikamar kamu. biar nanti orang baru tinggal sama bi narti gakpapa kan bi?" sahut ibu naya.


"tidak apa-apa bu. saya malah berterimakasih sama ibu."


"terimakasih buat apa?"


"karena ibu mewjudkan cita-cita keponakan saya ini."


"ah itu bukan apa-apa lagian widya berbakat sayang kalau bakatnya dibiarkan saja."


mereka bertiga mengobrol sampai selesai memasak. selesai memasak bu naya memanggil suaminya untuk makan malam sedangkan bi narti dan widya menyiapkan makan diatas meja.

__ADS_1


__ADS_2