Asmara Gadis Desa

Asmara Gadis Desa
Bab 86


__ADS_3

"Mungkin karena Dara tau kalau mamanya pasti akan cerewet dengannya sedangkan papanya pasti akan menuruti semua kemauannya."kata tante Intan.


"Awas aja kamu mas nanti kalau selalu menuruti semua keemauan Dara kamu gak akan aku maafkan."kata Widya mengancam Hendru.


"Kalau itu hal yang baik aku akan menurutinya tapi kalau gak baik aku gak akan menurutinya tenang saja."kata Hendru.


"Tapi om akan menuruti keingian cucu kesayanganku."kata om Irwan sambil mengambil Dara dari gendongan ayahnya.


Dara langsung tersenyum senang saat digendong oleh kakeknya itu.


"Om jangan manjain Dara nanti kalau dia sudah besar"kata Widya.


"Memangnya kenapa? Lagian ya om dulu gak bisa manjain Lydia karena tante kamu itu selalu marah kalau aku menuruti semua kemauan Lydia."kata om Irwan.


"Tapi kenapa harus Dara suruh aja tu putri om menikah."kata Widya cemberut.


"Sayang Dara juga cucu om, apalagi om juga melihat Dara tumbuh."kata om Irwan.


"Tenang saja Wid, nanti kalau om kamu itu macam-macam biar tante yang memarahinya."kata tante Intan.


"Benar ya tan, ingatin om."kata Widya yang tersenyum senang.


"Iya sayang."kata tante intan.


"Liat istri kamu Ndru, dia takut banget kalau aku menuruti semua yang putrimu inginkan. Oh ya om dengar kamu keluar dari perusahaan yang kamu kelola. Apa kam yakin Ndru?"kata om iran.


"Aku yakin om, lagian aku akan punya banyak waktu buat anak dan istri kalau hanya jadi dosen saja."kata Hendru.


"Dosen apa kamu mas, bukanya sekarang kamu jadi rektor disana?"kata Lydia.


"Iya kakek yang meminta karena kak Risa lebih memilih mengembangkan restarant."kata Hendru.


"kalau kamu keluar dari prusahaan siapa yang akan mengurus perusahaan mama kamu?"kata om Irwan.


"Biar mama sama papa cari orang yang bisa jaga perusahaan."kata Hendru.


"lalu rencana kamu apa sekarang Wid?"tanya om Irwan.


"Aku mau buka butik disini om, sekarang masih mau cari ruko kecil-kecilan dulu."kata widya.


"Kenapa kamu gak cari ruko yang gede sekalian?"kata tante Intan.

__ADS_1


"Tan aku kan baru mulai merintis disini, iya kalau disurabaya aku sudah punya nama tapi kalau disinikan belum aku masih pendatang baru."kata Widya.


"Ya sudah kalau kaya gitu tante akan tanya keteman-teman siapa tau merka ada tempat."kata tante Intan.


Mereka berdua berpamitan setelah hari mulai sore. Sebenarnya tante Intan berat melepas Dara untuk ikut pulang dengan orangtuanya tapi ma u bagaimana lagi yang berhak atas Dara adalah orangtuanya.


Sampai diapartemen mereka dikejutkan dengan kedatangan keluarga Hendru yang datang kesana. Mereka berdua langsung mendekati mereka untuk bertanya ngapain mereka ad disini.


"Ngapain kesini?"tanya Hendru.


"Kamu kok ngomongnya kayak gitu sih Ndru?"kata Risa.


"Lalu aku harus bilang apa?"kata Hendru dingin.


"Ndru kami kesini cuma mau minta penjelasan dari kamu."kata Doni.


"Penjelasan apa? Sayang kamu tidurin Dara dulu gih takutnya dia bangun."kata Hendru.


Widya langsung masuk ke dalam kamar untuk menidurkan Dara dibox yang udah disiapkan oleh Hendru. Setelah Dara tidurnya benar-benar nyenyak dia langsung menuju ke ruang tengah.


"Apa yang mau kalian tanyakan?"kata Hendru setelah Widya sudah berada disampinya.


"Buat apa mama mau tau soal ini?"kata Hendru yang sebenarnya masih kesal dengan mamanya karena tiba-tiba memjodohkannya dengan gadis lain sedangkan dia statusnya masih seorang suami.


"Ndru mama cuma ingin tau."kata mama Naya.


"Mama gak perlu tau soal itu, yang harus mama tau sekarang aku sudah bersama dengan Widya lagi jadi jangan pernah lagi menjodohkan aku dengan pilihan mama itu."kata Hendru.


"Ndru, kamu masih mau kan ngurus perusahaan mama kamu?"kata papa Ikhsan.


"Maaf pa kalau soal itu aku gak bisa lagi, aku udah mutusin untuk ngembangin usahaku sendiri dan tetap menjadi dosen dikampus kakek."kata Hendru.


"Lalu siapa yang akan mengurusi perusahaan mama kamu Ndru kalau bukan kamu?"kata papa Ikhsan.


"Itu terserah kalian mau menyuruh siapa yang mengurus perusahaan mama. Aku sudah angkat tangan."kata Hendru.


"Wid, mbak boleh tanya sama kamu?" kata Risa.


"Mbak mbak mau tanya apa?"kata Widya.


"Kuliah kamu dulu gimana?"kata Risa.

__ADS_1


"Alhamdulilah aku udah lulus mbak, kemarin udah diwisuda. Emang ada apa ya mbak?"kata Widya.


"Gak papa sayang aja kalau kamu gak nerusin kuliah kamu."kata Risa.


"Wid bujuk suami kamu agar dia mau mengurus perusahaan mama lagi."kata papa Ikhsan.


"Maaf pa, semua keputusan aku serahi ke mas Hendru."kata Widya membuat nenek Tika tersenyum.


Nenek Tika jadi teringat dengan nenek Widya yang sudah meninggal. Dia perempuan yang baik dan selalu mendukung apa keputusan suaminya. Ternyata sifatnya menurun ke Widya cucunya.


"Mama kok senyum-senyum sih?"tanya papa Ikhsan ke mamanya.


"Mama teringat dengan neneknya Widya yang selalu nyerahin keputusan kepada suaminya. Dia tak pernah membantah semua keingian suaminya. Kamu beruntung Ndru dapat istri seperti Widya, nenek harap kamu gak akan ngecewain dia lagi."kata nenek Tika.


"Hendru janji nek, makanya aku ingin melepas tanggungjawab aku diperusahaan mama suapa aku bisa banyak waktu untuk istri dan anakku."kata Hendru.


"Buyutku perempuan Wid?"tanya nenek Tika.


"Iya nek, dia gembul banget gak tau Widya kasih makan apa kok bisa anak kami gembul kayak gitu."kata Hendru.


"Nenek boleh melihatnya?"kata nenek Tika.


"Boleh nek."kata Widya.


"Ayo anterin nenek ke kamar kalian."ajak nenek tika.


Widya dan nenek tika pergi ke kamar Hendru, sedangkan yang lain berusaha untuk membujuk Hendru tapi dia tetap kekeh dengan pendiriannya.


Hendru menyuruh Doni untuk mengurus perusahaan itu. Doni menolak karena dia juga sudah memegang dua perusahaan kalau dia tambah satu lagi maka waktunya dengan keluarganya akan berkurang. Apalagi sekarang putrinya sedang lucu-lucunya.


Widya yang berada didalam kamar hany tersenyum saat melihat nenek Tika sangat menyayangi Dara. Dia tak menyangka kalau akan kembali masuk ke dalam keluarga ini. Widya menghera nafas saat mengingat kalau mama mertuanya tadi terlihat membencinya sekarang.


"Kamu kenapa nduk?"tanya nenek Tika yang tau kalau cucu menantunya melamun.


"Gak papa nek, Widya cuma gak enak aja sama mama."kata Widya jujur.


"Udah gak usah dipikir soal mama kamu itu, nenek yakin kalau lama-lama hati mama kamu akan luluh dengan sendirinya saat melihat putranya bahagia dengan keluarga kecilnya."kata nenek Tika.


"Tapi memang ini salah Widya yang ninggalin mas Hendru begitu aja nek."kata Widya.


"Kamu gak salah nduk, seandainya waktu itu Hendru tak terjebak dengan perempuan itu pasti kamu gak akan pergi meninggalkannya."kata nenek Tika yang mengingat apa alasan Widya pergi meninggalkan cucunya.

__ADS_1


__ADS_2