Asmara Gadis Desa

Asmara Gadis Desa
Bab 88


__ADS_3

"Ya, besok aku bisa bilang sama Rama aku punya dua papa dan dua mama."kata Ricky.


"Kamuu senang banget Ric."kata Risa.


"Iya dong ma, ma aku malam ini boleh nginap disini ya biar besok aku bisa diantar sama bunda sama ayah?"kata Ricky.


"Gak mama gak izinin, besok biar ayah yang datang kerumah sambil berangkat ke kampus."kata Risa.


"Iya besok ayah jemput, kalau sekarang Ricky gak bisa tidur disini karena gak muat tempatnya tapi kalau ayah sudah pindah ke rumah yang baru. Baru Ricky boleh nginap."kata Hendru.


"Janji ya yah, kalau ayah sudah pindah ke rumah baru aku boleh nginap disana."kata Ricky sambil meminta Hendru untuk mengaitkan jari kelingkingnya.


"Emang mau pindah kemana?"tanya Widya yang baru dari dapur membuat MPASI buat Dara.


"Aku mau ajak kamu pindah kerumah baru tapi sekarang belum jadi masih aku renovasi dan bikin kamar buat Dara."kata Hendru.


"Kalau kamar aku sudah ada yah?"tanya Ricky.


"Emang putra ayah ini mau kamar yang kayak gimana?"kata Hendr.


"Aku mau warna kamarnya abu-abu atau seperti papan catur kayak kamar yang aku tempati dirumah nenek."kata Ricky.


"Siap bos akan ayah bikini kamar yang seperti itu."kata Hendru.


"Ndru kakak yakin pasti Ricky akan lebih betah dirumah kamu daripada dirumahnya sendiri."kata Risa.


"Iya karena kakak terlalu sibuk."kata Hendru.


"Kamu ya."kata Risa.


Saat mereka sedang berdebat terdengar suara bell rumah. Widya bangun untuk membukakan pintu ternyata itu pengantar makananan yang mereka pesan.


"Makanannya sudah datang Wid?"tanya mama Naya.


"Sudah ma, aku mau siapin makanannya dulu."kata Widya.


"Ayo mama bantuin biar Dara disuapin sama yutnya."kata mama Naya.


Mereka berdua menuju dapur untuk menyiapkan makanan yang dipesan tadi.


"Ma kita mau makan dimana ini?"tanya Widya.

__ADS_1


"Kita makan diruang tengah aja gimana? Disana tempatnya luas."kata mama Naya.


"Ya sudah kalau kayak gitu."kata Widya.


Saat mereka membawa makanan ke ruang tv ternyata makanan yang dibuat untuk Dara tidak hanya dia saja yang makan tapi juga untuk Risma.


"Wid, mpasinya masih gak?"kata Hendru.


"Masih mas. Mau aku ambilin lagi?"tanya Widya.


"Iya Risma juga suka sama makanan Dara."kata Hendru yang telaten menyuapi kedua bayi itu.


"Mana wadahnya biar aku ambilin."kata Widya.


Widya setelah mengambilkan makanan lagi untuk Dara langsung mengajak yang lain untuk makan.


"Wid kamu kasih makan apa sih Dara kok bisa gembul gitu, liat Risma susah banget makannya. Tapi saat Hendru menyuapinya pakai makanan Dara dia lahap banget?"kata Risa yang penasaran dengan makanan keponakannya itu.


"Emang Risma makan apa mbak kalau aku boleh tau?"kata Risa.


"Mbak kasih makan apa Risma?"kata Risa bertanya pada mbak yang mengasuh Risma karena Risa menyerahkan semua penjagaan Risma kepada babysisternya.


"Dikasih makanan sun kalau gak gitu diseringi sama sayur bayam sama ayam yang dihalusin seperti bubur bu."kata pengasuh Risma.


"Baik Bu, terimakasih bu soalnya saya juga bingung mau kasih non Risma makanan apa takutnya nanti dia gak cocok."kata pengasuhnya.


"Emang mbak Risa gak pernah ngasih tau apa aja yang bisa dimakan sama Risma?"tanya Hendru pembantu itu hanya mengelngkan kepala.


"Mbakmu itu terlalu sibuk kerja, jadi kalau masalah seperti itu jarang dia urusi."kata Doni.


"Mas seperti itu gimana maksutnya?"tanya Hendru gak mengerti bukannya kesehatan anak itu lebih penting daripada yang lainnya.


"Masalah makan buat anak-anak itu sudah jadi tugas pengasuhnya."kata Doni santai


"Kalau periksa kesehatanpun juga tugas pengasuuhnya?"tanya nenek Tika.


"Iya nek."kata Risa.


"Kamu mau sejarah mama kamu berulang?"tanya nenek Tika.


"Berulang gimana nek?"tanya Risa.

__ADS_1


"Anak-anak kamu kurang kasih sayang seperti kamu dan Hendru karena kedua orangtua kamu sibuk kerja. Hendru saja melepas perusahaan mama kamu agar dia bisa memiliki waktu ruang buat anak istri kamu malah sibuk dengan pekerjaan kamu."kata nenek Tika.


"Nek ini tu cita-citaku."kata Risa.


"Sudahlah ma, biarin aja."kata papa Ikhsan yang membela putrinya sedangkan mama Naya diam karena benar apa yang dikatkan mama mertuanya itu jika dia telah kehilangan banyak momen saat keda anaknya tumbuh.


Mama Naya berjanji pada dirinya sendiri untuk menebus semua itu dengan cara lebih dekat dengan para cucu-cucunya. Apalagi dengan Dara dia benar-benar ingin memperbaiki dirinya menjadi lebih baik lagi.


"Mama kenapa kok ngelamun?"tanya Hendru yang tau kalau mamanya akan selalu merasa bersalah jika diingatkan jika dulu beliau lebih sibuk bekerja daripada mengurusi anak-anaknya.


"Gak papa, kamu beneran gak mau tinggal dirumah mama aja Ndru?"tanya mama Naya.


"Maaf ma, aku mau belajar buat hidup mandiri."kata Hendru.


"Tapi kamu harus janji kalau libur ajak istri dan putrimu menginap dirumah."kata mama Naya.


"Tenang ma nanti aku atur waktunya karena om Irwan juga gak bisa lepas dari Dara."kata Hendru.


"Oh ya Ndru kapan kamu ajak Widya pulang kerumah orangtuanya?"tanya nenek Tika.


"Hari jumat sore kayaknya nek, soalnya Dia mau mampir ke solo dulu."kata Hendru.


"Kamu sudah tau kalau adiknya Widya ada yang disolo?"tanya nenek Tika..


"Sudah nek, kemarin dia bilang. Setelah pulang darisana baru kami akan melihat ruko yang dicarikan oleh tante Indah."kata Hendru.


Setelah larut malam mereka pulang kerumah masing-masing. Sekarang tinggal Hendru dan Widya karena Dara sudah tertidur pulas dari tadi. Widya ngeri karena melihat senyum Hendru yang menyeringai begitu.


"Mas mau apa?"kata Widya.


"Kamu tau apa yang aku mau."kata Hendru sambil menarik lengan Wdya agar duduk diranjang.


Saat Widya duduk dia langsung mencium leher Widya sambil tangannya meremas dua bukit kembar milik Widya sehingga dia mendesah.


"Sayang aku mau kamu."kata Hendru.


"Dara gimana mas?"kata Widya.


"Pelanin suara kamu agar dia tak terbangun, kamu mau kan?"kata Hendru.


Widya hanya menganggukan kepalanya saja, mendapat lampu merah dari istrinya Hendru tak menyia-yiakan kesempatan. Dia langsung membaringkan tubuh Widya lalu mencium bibir Widya sambil tangannya bermain dikedua bukit kembar milik istrinya itu.

__ADS_1


Saat dirasa Widya sudah benar-benar gak tahan Hendr langsung saja melakukan penyatuan. Bertepatan dengan mereka selesai melakukan penyatuan Dara menangis karena jam segini biasanya putrinya itu minta *****.


__ADS_2