Asmara Gadis Desa

Asmara Gadis Desa
Bab 41


__ADS_3

"Maksih kak atas doanya." kata lydia.


walaupun sebenarnya lydia kecewa tapi dia tetap lapang dada dan ikhlas melepas hendru. lydia tidak mau memaksakan cinta karena dia tau kalau hubungan dengan paksaan akan menyakitakan bagi salah satu pihak.


"Ma aku ajak widya keluar bentar gak papa kan?" kata hendru minta izin lagi kemama naya.


"Pergilah lagian widya juga sudah selesai kerjaannya. Ly apa ada keluhan sama gaun kamu?" tanya mama naya.


"Sudah gak ada yang harus diubah tan. Gaunnya sudah sesuai dengan badanku dan juga nyaman." kata lydia.


"Baiklah kalau begitu biar gaunnya dibungkus sama tiara. Ra kamu bungkus gaunnya ya." kata mama naya memerintahkan tiara untuk membungkus gaun pesanan lydia.


"Jeng kalau gitu aku pesan gaun ke kamu aja kalau dia gak bisa merancang gaunku." kata indah.


"Memang mau pesan gaun buat apa jeng?" tanya mama naya.


"Aku mau bikin gaun buat acara ulang tahun perusahaan suamiku." kata tante indah yang mengingatkan mama naya kalau sebentar lagi perusahaan indah akan merayakan hari jadinya.


"Iya sudah kamu bilang aja. Minta gaun seperti apa?" kata mama naya.


"siap kalau itu, nanti setelah acara ulang tahun lydia aja aku kesini." kata tante indah.


"Ya sudah kalau gitu aku ajak widya keluar dulu." kata hendru pamit dengan orang yang ada disana.

__ADS_1


"Kami pergi dulu ya ma." kata widya pamit dengan mama naya.


"Ndru hati-hati kalau bawa mobil." kata mama naya.


"Iya ma. Aku pergi dulu." kata hendru.


Mereka berdua keluar butik dan menuju ke mobil hendru.


"kita mau kemana mas?" kata widya setelah masuk kedalam mobil.


"Nanti kamu juga tau sendiri." kata hendru sambil menjalankan mobilnya.


"Mas gak culik aku kan?" tanya widya takut kalau hendru berbuat macam-macam padanya.


Hendru yang mendengar perkataan widya menahan senyum dan muncul kejahilannya.


"Mas gak usah macam-macam. Kalau mas gak ingin pernikahan kita gak bilang aja. Aku gak akan bilang sama keluarga besar untuk membatalkan pernikahan kita." kata widya membuat hendru menjadi geram terhadap widya karena yang ada dipikiran widya hanya keterpaksaan hendru menikah dengan widya.


"Kamu masih belum percaya denganku wid?" kata hendru.


"Maksut mas apa? Aku percaya sama mas hendru kok tapi aku takut saat mas bilang mau menyekapku." kata widya mejelaskan.


"Kalau masalah menyekap kamu akan aku lakukan nanti setelah kita menikah. Aku gak akan biarin kamu pergi kemana-mana." kata hendru.

__ADS_1


"kok begitu memang apa salahku mas?" kata widya.


"Nanti setelah kita menikah kamu akan tau sendiri. Ayo turun kita sudah sampai." kata hendru setelah sampai dimall.


"Ngapain mas kita kesini?" tanya widya yang bingung.


"Kita makan siang dulu baru setelah itu pergi kesuatu tempat untuk mengambil sesuatu." kata hendru.


"Baiklah mas ayo aku juga lapar." kata widya.


Mereka masuk ke dalam mall sambil mencari tempat makan yang mereka inginkan. Saat berjalan banyak mata yang menatap mereka ada pandangan iri ada juga yang kagum.


"Ini pak hendru kan. Ya ampun pak saya senang bisa ketemu bapak disini." kata salah satu mahasiswa hendru.


"Maaf ya kamu siapa ya?" kata hendru yang tak mengingat siapa yang ada didepannya.


"Masak bapak lupa sama saya. Saya murid bapak dikampus." kata mahasiswa itu lagi.


"Maaf banget saya benar-benar gak ingat karena banyak banget mahasiswa saya jadi gak bisa mengingat satu persatu murid saya." kata hendru meminta maaf.


"Baiklah pak maaf kalau saya menganggu bapak." kata gadis itu dengan wajah masamnya.


"Ada lagi yang mau kamu bicarakan?" tanya hendru.

__ADS_1


"Sudah gak ada pak." kata gadis itu lagi.


"Baiklah kalau begitu saya pergi dulu masih ada yang harus saya kerjakan." kata hendru setelah mendapat anggukan dari murid itu hendru langsung pergi meninggalkan gadis itu dengan menggandeng widya.


__ADS_2