Asmara Gadis Desa

Asmara Gadis Desa
Bab 53


__ADS_3

Mereka berdua sampai dibandara soekarno hatta jam 8 malam. Saat mereka keluar dari bandara sudah ada pak aji yang menunggu.


"Selamat datang den dan juga nona." kata pak aji sambil mengambil koper mereka berdua dan memasukkannya ke dalam bagasi.


Hendru menyuruh widya masuk ke dalam mobil duluan. Dia mau membantu pak aji memasukan barang ke dalam bagasi terlebih dahulu.


"Kita mau langsung pulang atau mampir kemana dulu den?" tanya pak aji.


"Langsung pulang aja pak. Nanti makan dirumah aja ya sayang." kata hendru yang hanya dianggukan oleh widya.


"Capek." kata hendru sambil menyandarkan kepala widya ke bahunya.


"Iya aku pengen tidur bentar." kata widya.


"Ya sudah tidur dulu. Nanti sampai aku bangunin." kata hendru.


"Den maaf apa boleh bapak bertanya?" kata pak aji.


"Mau tanya apa pak?" kata hendru.


"Bukannya aden harusnya 4 hari ya dilombok?" kata pak aji.


"Iya pak ada masalah diperusahaan yang membuat saya harus segera pulang." kata hendru.


"Oh begitu ya den. Ya sudah aden tidur dulu aja, Nanti sampai rumah bapak bangunin keliatannya aden capek banget." kata pak aji.


"Iya pak. Gak papa saya tinggal tidur pak?" tanya hendru.


"Gak papa den." kata pak aji.


Hendru langsung tertidur setelah berpamitan dengan pak aji tadi. Sampai dirumah pak aji langsung membangunkan hendru. Hendru bangun terlebih dahulu saat melihat widya yang tertidur pulas dia tidak tega membangunkannya.


Hendru minta tolong pak aji untuk membukakan pintu mobil dia keluar dengan mengedong widya masuk ke dalam rumah. Mama naya melihat menjadi khawatir dan mendekati hendru untuk bertanya.


"Ndru apa yang terjadi dengan menantu mama?" tanya mama sandra khawatir sedangkan papa ikhsan hanya memperhatikan dari ruang tengah.


"Widya gak papa ma..." kata hendru.


"Kalau gak papa kenapa kamu gendong kayak gitu?" tanya mama naya.


"Makanya dengerin hendru dulu ma. Widya gak papa dia tertidur dimobil hendru gak tega banguninnya." kata hendru.


"Mama pikir ada apa." kata mama naya sambil tersenyum lega.


"Udahkan, aku mau bawa dia ke kamar dulu. Pa habis ini aku mau bicara sama papa." kata hendru yang dibalas anggukan oleh papa ikhsan.


Hendru naik ke atas menuju kamarnya. Dia membaringkan widya pelan-pelan diranjangnya agar widya tidak terbangun. Tak lupa juga dia menyelimuti tubuh widya.


Sehabis itu hendru langsung turun ke bawah dan mencari papanya diruang kerja papanya.

__ADS_1


"Pa, aku masuk ya." kata hendru sambil masuk ke dalam ruang kerja papanya disana sudah ada mama naya juga.


"Masuk aja ndru. Kamu mau ngomong apa?" tanya papa ikhsan.


"Ini soal masalah yang terjadi diperusahaan. Kayaknya ada yang membuat para investor itu menarik kerjasamanya." kata hendru.


"Kamu mencurigai seseorang ndru?" tanya papa ikhsan.


"Aku belum tau pa, sekarang aku mau menyelidiki dulu. Siapa dalang dibelakang kejadian ini." kata Hendru.


"Sekarang rencana kamu apa?" tanya papa ikhsan.


"Aku mau mengadakan rapat direksi besok dan mencari investor baru. Apa papa punya pandangan siapa yang bisa bantu kita?" tanya hendru.


"Coba kamu ajukan kerjasama dengan wijaya grub atau atmajaya grub. Cuma dua perusahaan itu yang kemungkinan bisa membantu kita tapi sangat susah untuk mengajukan kerjasama dengan mereka." kata papa ikhsan.


"Aku akan mencoba dulu pa." kata hendru.


"Jangan diforsil kerjanya ndru ingat kamu bukan hanya perusahaan saja tapi kamu harus tanggungjawab sama kampus dan juga widya." kata mama naya.


"Iya ma. kalau gitu hendru mau naik keatas dulu mau istirahat." kata hendru.


"Ya sudah. istirahat sana kamu kelihatan capek banget." kata hendru.


Hendru keluar dari ruang kerja papanya tapi sebelum kembali ke kamar dia terlebih dahulu menuju dapur untuk bikin kopi.


Saat dia masuk kamar ternyata widy baru keluar dari kamar mandi. Tapi widya tak sadar kalau hendru masuk. Dia fokus mengeringkan rambutnya.


"Eh mas, mas darimana tadi?" kata widya.


"Tadi keruangan papa bentar habis itu bikin kopi mau memriksa pekerjaan bentar." kata hendru sambil berjalan ke meja belajar yang ada dikamar itu.


"Gak besok aja mas ini udah malam lo?" tanya widya mendekati hendru.


"Gak bisa sayang. Besok ada rapat mendadak untuk membahas soal masalah yang terjadi dan aku harus segera meyelesaikannya agar perusahaan tidak merugi terlalu banyak." kata Hendru.


"Tapi jangan terlalu diforsil kerjanya ingat kesehatan." kata widya.


Hendru mendengar itu langsung menarik widya untuk duduk dipangkuannya.


"Iya sayang. Maaf ya kalau nanti aku gak ada waktu buat kamu." kata hendru.


"Gak papa kok. Aku ngerti mas sibuk. Besok aku boleh mulai kerja lagi?" tanya widya.


"Boleh tapi aku yang akan antar jemput." kata hendru.


"Mas gak sibuk memang? Katanya banyaj kerjaan?" kata widya.


"Buat kamu aku akan berusaha untuk meluangkan waktu." kata hendru.

__ADS_1


"Gak usah biar besok aku bawa motor aja. Mas fokus aja sama kerjaan mas, biar cepat selesai." kata widya.


"Baikalah tapi selalu kasih kabar." kata hendru sambil mengendus leher widya.


"Mas katanya mau kerja." kata widya yang merasa geli atas apa yang dilakukan oleh hendru.


"Aku suka bau badan kamu. Wangi banget." kata Hendru.


"Aku pakai sabun sama kayak mas." kata widya.


"Tapi kamu wangi banget sayang." kata hendru sambil mengigit leher widya membuat dia mendesah.


Hendru melihat kalau widya sudah bergairah langsung saja mencium bibir widya dengan lembut tapi dalam. Dia melepaskan setelah dirasa pasokan udara sudah habis.


"kita coba disini mau?" tanya hendru.


"Tapi mas..." belum selesai widya berucap hendru kembali mencium bibir widya.


Hingga akhirnya mereka melakukan penyatuan kembali disana dengan hendru yang duduk dikursi dan widya dia pangku.


Tak butuh waktu lama mereka menubtaskan kegiatan panas itu.


"Gimana enak sayang?" tanya hendru.


"kamu ya mas katanya banyak masalah tapi tetap aja mesum." kata widya sambil memukul bahu hendru.


Hendru yang dipukul hanya tertawa dan membiarkan widya memukul bahunya. Widya yang melihat hendru tertawa lepas menjadi tertegun baru kali ini dia melihat hendru tertawa.


"Kenapa melihat aku kayak gitu, apa mau tambah lagi?" kata hendru menaik turunkan alisnya.


"Apaan sih mas." kata widya sambil mencubit perut hendru.


"aduh sakit sayang. kamu kok suka cubit perut sih?" tanya hendru.


"Siapa suruh otaknya mesum terus." kata widya sebal.


"Kamu yang mulai lihat aku kayak mau terkam aku gitu." kata hendru.


"Emang aku hewan apa. Aku tu terpanah saat melihat mas hendru tertawa lepas baru kali ini aku lihat. Awas aja kalau senyuman itu diperlihatkan ke orang lain." kata widya.


"Memang kenapa sama senyumanku?" tanya hendru.


"Senyuman mas itu mengoda tau. Awas kalau diluar sana tersenyum kayak gitu." kata widya.


"Oke tapi satu ronde lagi ya." kata hendru.


"Katanya mau memeriksa kerjaan?" kata widya.


"Habis satu ronde baru aku ngerjain pekerjaanku dan kamu istirahat." kata hendru.

__ADS_1


widya hanya menganggukan kepalanya. Mendapat persetujuan dari widya langsung saja hendru mengangkat tubuh widya membawa ke ranjang. Mereka melakukan penyatuan lagi. Habis melakukan kegitan itu hendru memeluk sampai widya tertidur baru dia bangun dan mengerjakan pekerjaannya.


__ADS_2