
Widya siangnya membawa Dara pergi ke butik. Mereka saat dibutik disambut oleh Santi dan juga para karyawan lainnya,
Mereka sangat bahagia karena Widya membawa Dara ke butik. Mereka sangat suka dengan bayi perempuan itu selain cantik dia juga cepat akrab dengan karyawan disana.
"Mbak biar Dara sama saya aja dulu." kata Santi.
"Gak papa kala aku titipin ke kamu San? Aku mau memeriksa setok kain digudang." kata Widya.
"Iya gak papa mbak. Aku senang kalau Dara sama aku, bisa rehat bentar." kata Santi sambil cengengesan.
"Dasar kamu, aku titip Dara bentar. Awas buat dia nangis." kata Widya.
"Siap mbak, Dara aman sama saya." kata Santi.
Widya meninggalkan Dara dengan Santi. Dia masuk ke dalam ruangannya untuk menaruh tasnya. Habis itu dia keluar menuju gudang.
Dia tak sendirian masuk ke dalam gudang. Dia ditemani oleh Adi karyawannya yang bertugas mengantar pesanan.
"Gimana Di kerja sama mbak?" tanya Widya.
"Aku betah mbak kerja disini." kata Adi.
"Kalau kamu butuh apa-apa atau ada masalah dalam kerjaan kamu bisa bilang sama aku atau sama Santi ya!" kata Widya.
"Makasih mbak." kata Adi.
Mereka mengecek stok pakaian dan kain sambil mengobrol banyak. Widya salut dengan Adi karena dia bisa menjadi tulang punggung disaat usianya tergolong muda.
"Di, kamu gak ingin kejar paket dan melanjutkan kuliah?" tanya Widya.
"Aku pengen mbak tapi dananya belum ada." kata Adi.
"Kalau mbak yang biayai kamu mau gak?" tanya Widya.
"Emang gak papa mbak?" kata Adi.
"Gak papa kalau kamu mau. Aku liat kamu kayak liat adik aku yang ada dikampung dia juga seumuran sama kamu." kata Widya.
"Makasih banget mbak." kata Adi senang.
"Nanti kamu siapin aja apa yang diperluin buat daftar kejar paket. Biar Santi yang ngantarin kamu kesana. Dia yang tau tempatnya." kata Widya.
"Aku masih bisa kerja disinikan mbak?" tanya Adi yang takut kalau dia tak boleh kerja disini lagi. Bagaimana dengan ibu dan adiknya.
"Tenang saja kamu akan tetap bekerja disini setelah kamu pulang sekolah." kata Widya.
Mereka berdua keluar dari gudang langsung ke tempat mereka kerja masing-masing. Widya melihat Dara sebentar lalu kembali ke ruangannya.
Saat baru masuk ke ruangannya terdengar ponselnya berbunyi. Dia langsung mengambil ponselnya. Ternyata itu telepon dari Hendru.
[Hallo Asalamualikum...]
[Walaikumsalam, ada apa mas?]
[Kamu sibuk ya, aku telepon kok gak diangkat?]
[Maaf mas tadi aku lagi digudang buat check stok kain dan pakain.]
__ADS_1
[Apa aku ganggu kamu?]
[Gak kok mas. Mas gak sibuk emang?]
[Gak lagi nyatai sekarang, tapi sebentar lagi mau rapat. Dara mana?]
[Dara sama Santi didepan.]
[Siapa Santi?]
[Karyawan aku yang ikut aku waktu masih merintis dulu hingga sekarang. Aku ambil Dara dulu gak papa?]
[Iya tapi jangan dimatiin vc nya?]
[Oke]
Hendru sambil menuunggu istri dan putrinya dia membuka berkas keuangan yang baru saja dikasih oleh karyawannya. Hendru marah karena laporan itu acak-acakan. Dia langsung menyuruh orang yang mengerjakan keuangan itu untuk datang keruangannya.
Saat Hendru marah ke karyawannya. Widya dan Dara masuk ke dalam ruangannya. Dara yang mendengar kemarahan Hendru langsung menangis membuat Hendru langsung terkejut. Dia mengusap wajahnya dia gak sengaja berteriak, Hendru pikir Widya belum masuk ke ruangannya.
[Sayang, maafin ayah ya. Ayah gak marah sama Dara.]
[Mas kalau mas sibuk aku matiin aja dulu vcnya.]
[Jangan hadapin Dara ke aku.]
[Sayang, tu liat ayah mau liat Dara.]
Dara langsung memandang kearah ponsel bundanya. Saat melihat wajah ayahnya bayi kecil itu langsung terdiam dan merentangkan tangannya.
[Sabar ya sayang nanti ayah ke sana. Besok kita jalan-jalan oke.]
"Ada apa bos?" tanya Ryan saat masuk ke dalam ruangan Hendru.
"Apa dia orang baru?" tanya Hendru dengan suara yang ditekannya. Dia gak mau kalau Dara nangis lagi karena mendengr teriakannya.
"Iya bos dia orang baru." kata Ryan.
"Tolong kamu ajarin dia membuat laporan sampai di bisa." kata Hendru.
"Baik bos. Oh ya bos sebentar lagi ada rapat buat membahas proyek baru yang akan kita presntasikan untk kerjasama dengan perusahaan Mulya Jaya." kata Ryan.
"Apa semua sudah berada diruang rapat." tanya Hendru.
"Sudah bos." kata Ryan.
"Baik aku kesana sebentar lagi." kata Hendru.
Setelah Ryan dan karyawan baru itu keluar Hendru membereskan berkas yang dia kerjakan tadi.
[Mas mau rapat?]
[Iya sayang. Maaf ak gak bermaksut begitu?]
[Gak papa, apa sebaiknya mas tutup aja vcnya nanti kami ganggu lagi.]
[Kamu keberatan kalau kerja sambil vc sama aku?]
__ADS_1
[Bukan gitu mas aku takut ganggu mas, kayak tai mas harus tahan marah karena takut Dara nangis.]
[Gak papa kok, aku malah suka dengan begitu aku bisa tahan amarahku. kalau gak gitu pasti aku akan buat mereka semua takut.]
[Ya sudah, kalau gitu. Aku juga mau kerja dulu, gak papakan kalau hanya sama Dara aja?]
[Mana putri kita?]
[Noh lagi main. Sama boneka yang mas beliin.]
[Aku meeting dulu.]
Hendru masuk sudah disambut oleh para karyawan. dia langsung duduk ditempatnya dan memulai rapat.
Saat rapat dia tetap meperhatikan tingkah putrinya kecilnya itu. Dia tersenyum-senyum sendiri. para karyawan yang berada disana juga heran saat melihat Hendru senyum-senym sendiri.
Saat mereka tengah rapat ternyata papa ikhsan datang ke kantor untuk melihat rancangan yang akan mereka presentasikan dengan perusahaan Mulya Jaya karena perusahaan itu sangat penting. Jika bisa mendapatkan kerjasama dengan perusahaan itu maka perusahaannya akan semakin maju.
"Selamat pagi bos Ikhsan?" kata para karyawan yang melihat papa ikhsan.
Suara para karyawan itu membuat Hendru terkejut begitu pun dengan Widya. Dia langsung menutup vc nya.
Hendru yang melihat hanya menghera nafasnya. Dia semakin yakin kalau Widya tak akan kembali padanya. Tapi beda dengan pemikiran Widya dia takut kalau papa mertuanya memaksa dia untuk ke jakarta secepatnya padahal di belum siap jika harus kembali ke jakarta sekarang juga.
"Papa ngapain kesini?" kata Hendru
"Papa gak boleh kesini?" tanya papa ikhsan.
"Boleh pa, tapi ada apa tiba-tiba kesini?" tanya Hendru.
"papa mau liat persiapan proyk yang akan kalian perentasikan dengan perusahaan Mulya Jaya." kata papa Ikhsa.
"Oh oke, kamu lanjut presentasinya."kata Hendru.
Selesai presentasi papa Ikhsan tak langsung kembali ke Rumah Sakit. Dia mengikuti Hendru keruangannya.
"Ndru papa mau bicara sama kamu?" kata papa Ikhsan.
"Papa mau bicara soal apa?" tanya Hendru.
"Papa mau tanya akhir-akhir ini kamu kemana?" tanya papa Ikhsan yang tau kalau putranya bolak balik jakarta surabaya.
"Berjuang untuk mendaptkan hati menantu papa agar dia mau kembali ke jakarta." kata Hendru.
"Kamu sudah bertemu dengan Widya?" kata papa Ikhsan.
"Iya pa, aku lagi berusaha agar Widya mau kembali ke jakarta." kata Hendru.
"Kamu gak capek bolak balik jakarta surabaya?" tanya papa Ikhsan.
"Capek pa tapi ini demi istri Hendru." kata Hendru.
"Ya sudah, kamu hati-hati. Kalau capek istirahat jangan dipaksain atau kamu ajak pak Aji buat nyopirin kamu?" kata papa Ikhsan.
"Gak usah pa, nanti mama malah heboh. Aku takuut kalau mama tau Widya akan pergi lagi dariku." kata Hendru.
"Ya sudah ikut kamuu aja mana baiknya." kata papa ikhsan.
__ADS_1
Hendru kembali menlelpon Widya saat papanya udah pergi dari ruangannya. Seharian itu mereka habiskan dengan saling vc. Dara benar-benar ateng hari ini.