Asmara Gadis Desa

Asmara Gadis Desa
Bab 85


__ADS_3

"Mas apa sih?"kata Widya.


"Kenapa kamu gak mau kalau aku sentuh?"kata Hendru.


"Kamu tu ya, aku lapar mas daritadi aku belum makan."kata Widya.


"Kamu belum makan daritadi?"kata Hendru.


"Belum, aku nungguin kamu pulang mas."kata Widya.


"Maaf, kalau kayak gitu kita makan dulu."kata Hendru.


Mereka berdua makan malam bersama, Hendru sangat lama karena sudah lama tak makan malam dengan Widya. Dia merasa bahagia hari ini karena istri dan anaknya akan berkumpul kembali.


Hendru berjanji akan membahagiakan keluarga kecilnya. Tak akan dia biarkan ada yang menganggu rumah tangganya lagi.


Sedangkan dirumah orangtua Hendru, mama Naya sampai rumah langsung bertanya dengana Yanti apa suaminya sudah pulang atau belm.


"Yan kamu liat bapak sdah pulang belum?"tanya mama Naya.


"Bapak sudah pulang bu."kata Yanti.


"Kamu tau bapak ada dimana sekarang?"kata mama Naya.


"Bapak ada diruang kerjanya bersama dengan kakek Hasan dan nenek Tika."kata Yanti.


Mama Naya langsung saja berjalan menuju ruang kerja papa Ikhsan. Perasaannya sudah tidak enak dia takut kalau suaminya kenak amuk oleh kedua mertuanya.


"Kamu itu bagaimana sih San? Kamu mau bikin malu keluarga kita. Kamu tau siapa yang selama ini merawat menantu dan cucumu?"kata kakek Hasan.


"Maksut papa apa? Aku benar-benar gak tau tentang perjodohan tadi itu semua ulah Naya. Maksut papa selama ini Widya ada yang menampungnya?"tanya papa IKhsan.


"Iya, kalau gak ada yang nyembunyiin Widya, pasti Hendru setelah measukkan Nessa ke penjara dulu. Sudah menemukan menantu kamu itu."kata kakek Hasan.


"Siapa orang yang nyembunyiin identitas Widya pa?"tanya mama Naya penasaran.


"Irwan, dia yang nyembunyiin menantu dan cucu kamu. Kamu juga tak tau kan kalau butik yang diakui sebagai calin menantu kam itu adalah milik menantu kamu. DIa engubah namanya menjadi Mala."kata kakek Hasan.


"Bagaimana mungkin?"kata mama Naya.


"Mungkin saja karena Irwan memberi modal menantumu itu, dia berjuang dari nol. Dia pontang-panting kesana kemari untuk mengembangkan buktinya walaupun dia dalam keadaan hamil besar."kata nenek TIka.


"Darimana papa sama mama tau?"kata mama Naya.


"Kami sudah tau saat kamu berusaha menjodohkan Hendru dengan perempuan pilihan kamu."kata nenek Tika.


"Kami berusaha mencari tau ke kampus mana menantu kamu dipindah ternyata dia melanjutkan kuliahnya disurabaya. Kami diam-diam juga menyelidiki dimana dia tinggal. dan kami terkejut saat mengetahui kalau dia sedang hamil besar. Indah selalu menemaninya kemanapun dia pergi. Lalu kamu sebagai mama mertuanya selama ini kamu kemana? Kamu malah berusaha mencarikan istri untuk Hendru disaat menantu kamu sedang berjuang mempertahankan ccu kamu."kata kakek Hasan.

__ADS_1


"Tapi pa apa papa yakin kalau butik itu milk Widya?"kata mama Naya.


"kalau itu bukan milik Widya, Hendru tak akan memakai pakaian yang kamu bawa itu."kata nenek Tika.


"Kalau kamu tak yakin sekarang kamu telepon saja putra kamu itu."kata kakek Hasan.


Saat Hendru sedang melakukan pemanasan tiba-tiba ponselnya berbunyi terus menerus. Widya yang tergangguu dengan suara itu langsung saja menghentikan Hendru untuk menciumnya.


"Kenapa?"kata Hendru.


"Mas angkat dulu teleponnya mungkin aja penting."kata Widya.


Dengan malas Hendru mengambil ponselnya dn melihat siapa yang malam malam begini meneleponnya.


[Hallo ada apa ma?]


[Kamu dimana Ndru?]


[Diapartemen, ada apa malam-malam begini mama mengangguku?]


[Ndru mama mau tanya apa butik Mala itu milik Widya?]


[Kalau soal itu kamu tanya aja sendiri padanya. Ini dia ada disebelahku sekarang.]


[Apa kamu sama Widya sekarang?]


[Iya dan mama sangat menganggu kegiatanku.]


"Memang mama menganggu padahal aku mau ambil kadoku."kata Hendru.


"Kadonya kan udah, aku turuti buat pindah kesini."kata Widya.


"Bukan kado yang itu yang aku mau."kata Hendru.


"Lalu kado apalagi?"kata Widya.


"Bikinin Dara adik lagi."kata Hendru.


"Gak aku gak mau Dara masih kecil dia masih butuh aku."kata Widya.


"Ayolah sayang, kamu tega sama aku kita udah lama gak olahraga sejak kamu pergi."kata Hendru merayu Widya.


Mama Naya yang merasa diabaikan hanya menghera nafas. Dia langsung mematikan panggilannya tanpa berpamitan terlebih dahulu dengan Hendru. Hendru sendiri yang tau kalau mamanya sudah mematikan panggilan langsung tersenyum menyeringai.


Widya yang melihat senyum Hendru bergedik ngeri. Hendru langsung mencium bibir Widya semakin lama semakin dalam ciuman itu. Saat bibir Hendru memanggut bibir Widya tangannya tak tinggal diam.


Dirasa Widya sudah siap dia langsung melakukan penyatuan. Awalnya Widya sangat kesakitan karena sudah lama Widya tidak melakukan hubungan suami istri tapi lama kelamaan, dia mulai menikmati penyatuan itu.

__ADS_1


Malam itu mereka melepaskn rindu selama berbulan-bulan tak bertemu. Mereka melakukan olahraga malam berkali-kali hingga waktu menujukan pukul 3 pagi mereka baru tertidur


Pagi harinya Widya yang bangun duluan menatap wajah suaminya yang sekarang berbeda daripada kemarin, wajah Hendru kelihatan bersih karena semalam Widya meminta Hendru untuk mencukur bulu-blu halus yang ada diwajahnya.


"Mas kalau kamu berdandan seperti ini aku takut kalau kamu disukai bnayak wanita."kata Widya sambil mengelus wajah suaminya itu.


"Kamu takut apa sayang?"kata Hendru dengan suara khas bangun tidur.


"Mas kamu sudah bangun?"kata idya.


"Iya aku sudah bangun yang dibawah juga sudah bangun. jadi kamu harus bertanggungjaab."kataHendru.


Setelah berkata begitu Hendru langsung saja mencium Widya. Mereka berdua melakukan penyatuan lagi dipagi hari jika Widya tak ingat kalau harus menjemput Dara pasti mereka tak akan menyelesaikan kegitaan mereka lagi.


Siang harinya mereka berdua pergi kerumah Lydia. Sesampainya disana Hendru langsung disambut oleh Lydia dengan Dara yang berada digendongannya.


Dara yang melihat kalau itu ayah dan bundanya langsung menangis dan merentangkan tangannya untuk digendong Hendru.


"Uluh-uluh putri ayah kangen ya sama ayah."kata Hendru sambil menciumi pipi gembul Dara membuat bayi perempuan itu terkkeh geli.


Sedangkan Widya yang merasa diabaikan langsung saja cemberut. Lydia melihat Widya yang cemberut lagsung tersenyum.


"Sabar sayang cinta pertama anak perempuan adalah ayahnya."kata tante Indah yang baru saja datang ke teras.


"Iya tan."kata Widya.


"Kak ada yang cemburu ni masak kakak gak sadar sih."kata Ldia.


"Siapa yang cemburu Ly."kata Hendru.


"Bundanya anak kakak."kata Lydia yang membuat Widya langsung mencubit lengan sahabatnya itu.


"Liat kak kepitingnya udah mencapit lenganku."kata Lydia.


Hendru mendekati mereka dan langsung memeluk istrinya. Diatak menyangka kalau Widya bisa cemburu dengan putrinya sendiri.


"Kamu tetap jadi yang utama buatku. Tapi Dara adalah hidupku."kata Hendru menjahili Widya.


Widya malah semakin cemberut saat, membuat mereka tertawa senang karena Hendru bisa mebuat Widya marah.


"Ada apa ini kok kayaknya seru banget."kata om Irwan yang baru datang dari kerjanya.


"Ini lo pa masak Widya cemburu sama Dara?"kata tante Intan.


"Benar itu sayang?"tanya om irwan ke Widya.


Widya hanya diam saja saat itu, dia tak sangka kalau om Irwan juga ikut mentertawainya.

__ADS_1


"Sayang kamu tau tante kamu dulu juga sering cemburu saat om lebih perhatian dengan Lydia. Tapi dia tau kalau Dara bukan hanya rasa sayang dari ayahnya tapi juga dirimu."kata om irwan.


"Aku tau itu om, aku cuma cemburu karena sejak bertemu dengan mas Hendru aku selalu diabaikan olehnya"kata Widya.


__ADS_2