Asmara Gadis Desa

Asmara Gadis Desa
Bab 76


__ADS_3

Hendru mengendong Dara agar bayi itu bisa tertidur. Tapi tak butuh waktu lama Dara benar-benar tertidur dipelukannya.


Rehan melihat kedekatan itu langsung bertanya tanya siapa yang Hendru.


"Maaf kalau aku ikut campur. Kalau aku boleh tau siapa Hendru ini?" kata Rehan.


"Dara anak kak Hendru dengan Widya." kata Lydia membuat Rehan terkejut.


"Dara bukan anak kamu Ly?" kata Rehan.


"Bukan, Lydia saja belum menikah." kata Hendru.


"Tapi mengapa kamu membahasakan dengan panggilan mama?" kata Rehan.


"Emang aku gak boleh dipanggil mama sama Dara? Aku sudah menganggapnya sebagai putriku sendiri." kata Lydia.


"Jadi dia ini suami kamu Wid?" tanya Rehan.


"Iya, dia suamiku, kami terpisah karena ada masalah dan gak perlu kamu tau apa masalah kami." kata Widya.


Saat mereka sedang membahas tentang Hendru dan Widya terdengar suara pintu diketuk. Lydia langsung membukakan pintu ternyata itu Farel asisten Hendru.


"Masuk Rel. Kak Hendru ada didalam." kata Lydia mengajak Farel masuk ke dalam rumah.


Farel meninggalkan kopernya dan milik Hendu diluar rumah. Mereka berdua berjalan ke ruang tengah dimana yang lain berada.


"Bos kita harus segera kembali ke jakarta." kata Farel.


"Wid, kamar kamu dimana biar aku tidurkan Dara dulu. Baru aku akan pergi ke bandara." kata Hendru.


Widya tak menjawab pertanyaan dari Hendru. Dia bangun dari duduknya dan berjalan meninggalkan ruangan itu. Hendru mengikuti Widya dari belakang.


Sampai dikamar Widya, Hendru langsung menidurkannya diboxnya.


"Aku pulang dulu. Ini no hpku tetap yang dulu. Kalau ada apa-apa telpon saja." kata Hendru.


"Mas benar mau pulang sekarang?" tanya Widya.


"Iya aku harus pulang. soalnya aku membimbing mahasiswaku biki n skripsi jadi gak bisa pergi lama-lama." kata Hendru.


"Iya sudah hati-hati dijalan." kata Widya.


"Wid aku boleh peluk kamu sebentar?" kata Hendru.


Widya hanya menganggukan kepalanya. Hendru langsung memeluk Widya erat sekali. Hendru melepas rasa rindunya selama ini.


"Jaga diri kamu disini, akhir pekan aku kembali." kata Hendru.


"Mas, kamu juga jaga diri. Sampai rumah kabari." kata Widya.


"Iya aku pergi dulu." kata Hendru sebelum melepas pelukannya dia mencium rambut Widya lama.


Mereka berdua kembali ke ruang tengah. Ternyata disana hanya ada Lydia dan juga Farel.


"Rehan kemana Ly?" tanya Widya.


"Dia baru aja pulang." kata Lydia.


"Ly, aku minta tolong sama kamu. tolong jagain Widya dan Dara buat aku lagi." kata Hendru.


"Siap aku akan jaga dia. Cepat kembali biar bisa jaga Widya sendiri kak. kata Lydia.


"Kalau Widya mau aku jaga lagi. Aku akan sering datang kesini." kata Hendru sambil melihat Widya.


Hendru berharap kalau Widya mau kembali bersamanya lagi seperti dahulu. Tapi terlihat kalau Widya masih enggan untuk kembali bersatu dengannya. Walau perhatiannya masih sama kayak dulu tapi Hendru tau itu hanya perhatian sebagai kenalan.


"Kalian kebandara naik apa?" tanya Lydia.


"Tu taksi online sudah datang." kata Farel.

__ADS_1


"Ya sudah, ayo berangkat kita sudah telat." kata Hendru mengajak Farel pergi dari sana.


Setelah kepergian kedua pria itu Widya langsung masuk kamar. Didalam kamar dia menangis sambil melihat wajah putrinya.


"Maafin bunda sayang." kata Widya sambil mencium pipi putrinya.


Widya tak bisa tidur malam ini. Dia menunggu Hendru menelponnya untuk mengatakan kalau dia sudah sampai.


Hendru yang baru sampai apartmen langsung mandi. Selesai mandi dia langsung mengambil ponselnya untuk memberi kabar kepada Widya.


[Hallo Asalamualikum mas...]


[walaikumsalam... kamu belum tidur?]


[Belum mas.]


[kamu nungguin aku telpon?]


[Gak kok mas. Aku baru aja nyusuin Dara.]


[Aku boleh Vc? Aku udah kangen sama Dara.]


Widya langsung mengalihkan panggilan suara itu menjadi panggilan Video. Widya langsung memperlihatkan wajah Dara ke Hendru.


[Sayang, tunggu ayah kesana lagi. Gak boleh lewer selama ayah gak ada.]


[Dia gak dengar mas.]


[Gak papa, yang penting bundanya dengar.]


[Apa hubungannya sama aku?]


[Iya biar bundanya gak nakal disana. Bundanya hanya untuk ayahnya Dara saja. Itu pun kalau bundanya mau maafin kesalahan ayahnya dulu.]


[Mas dimana kok kamarnya beda.]


[Kenapa?]


[Pengen tinggal sendiri aja. Apa kamu mau nemenin?]


[Gak, aku betah disini.]


[Beneran kamu gak mau tinggal disini. padahal aku berharap kamu kembali kesini biar kita bisa jaga Dara bersama-sama.]


[Kasih aku waktu mas. Aku masih takut.]


[Aku akan meyakinkan kamu, bawa aku benar-benar ingin kembali bersamamu. Aku tak akan melakukan kesalahan yang sama kayak dulu. tolong beri aku kesempatan lagi?]


[Aku akan pikirkan dulu.]


[Ya sudah istirahatlah. Aku juga mau tidur dulu.]


Setelah mematikan panggilan dari Hendru. Widya langsung berbaring untuk tidur. Pagi harinya Dara rewel banget.


"Wid tumben Dara rewel?" kata Lydia.


"Aku gak tau kenapa Ly." kata Widya juga bingung.


"Kamu telpon kak Hendru sana, siapa tau Dara bisa diam saat mendengar suara ayahnya?" kata Lydia.


"Ly kamu ada ada aja. Dara aja baru ketemu satu kali sama Hendru." kata Widya.


"Ikatan batin ayah dan anak itu kuat lo Wid." kata Lydia.


Widya terpaksa mengambil ponselnya untuk menelpon Hendru. Baru saja Hendru akan menelpon Widya ternyata Widya menelpon duluan.


[Hallo ada apa wid?]


[Mas, Dara rewel banget.]

__ADS_1


[Kenapa kok bisa rewel?]


[Aku gak tau biasanya gak kayak gini.]


[Ya sudah mana Dara sekarang. Kamu alihkan panggilan dengan Video.]


Widya langsung berjalan keluar. Hendru mendengar suara tangis Dara merasa iba dan ingin segera terbang kesana kalau bisa.


[Sayang liat sini, ayah disini.]


Mendengar suara Hendru, Dara langsung terdiam. Widya dan Lydia merasa lega saat Dara sudah berhenti menangis.


[Hai sayang jangan rewel, ayah janji habis pulang kerja ayah akan kesana.]


[Mas, kalau sibuk gak usah kesini. Kamu pasti capek pulang pergi pulang pergi.]


[Gak papa kok, demi Dara.]


[Sayang, ayah pergi kerja dulu ya.]


Dara benar-benar tak rewel lagi setelah melakukan panggilan dengan Hendru. Widya langsung memandikan Dara.


Malamnya saat Lydia pulang lembur teelihat kalau Widya masih berada diruang tv sambil bermain dengan Dara.


"Loh Dara belum tidur Wid?" tanya Lydia mendekati mereka.


"Belum aku juga bingung padahal udah tak kasih susu." kata Widya.


"Apa dia menunggu ayahnya datang? Eh iya sayang kamu nungguin ayah kamu datang kesini ." kata Lydia bertanya dengan Dara.


Dara hanya terkekeh saja saat mendengar perkataan Lydia. Sedangkan Widya hanya mengehara nafasnya.


"Wid, emnag Hendru akan kesini lagi?" kata Lydia.


"Aku gak tau, aku kasian sama Hendru kalau harus bolak balik surabaya jakarta." kata Widya.


"Kenapa kamu gak coba memperbaiki hubungan kalian?" Lydia.


"Aku takut Ly." kata Widya.


"Pikirkan lagi ini demi Dara." kata Lydia.


"Nanti aku pikirin." kata Widya yang kembali mengajak Dara bermain.


Saat Lydia pergi mandi. Widya mendengar suara bell rumahnya berbunyi. Widya langsung bergegas membuka pintu rumahnya. Betapa terkejutnya Widya saat membuka pintu rumahnya ternyata Hendru benar-benar datang.


"Apa aku boleh masuk?" kata Hendru.


"Boleh mas, ayo masuk." ajak Widya.


"Aku boleh numpang mandi sebentar gak? Aku tadi pulang kerja langsung pergi kesini." kata Hendru.


"Mas bawa baju ganti?" kata Widya.


"Aku bawa, ini bajunya." kata Hendru menunjukan tas yang dia bawa.


Hendru langsung berjalan menuju kamar Widya sedangkan Widya bermain lagi dengan Dara. Hendru selesai mandi langsung datang menemui Dara dan juga Widya.


"Anak ayah belum bobok?" tanya Hendru.


Dara melihat Hendru langsung merentangkan tangannya.Hendru yang tau langsung mengendong Dara.


"Mas udah makan belum?" kata Widya.


"Belum, aku belum makan." kata Hendru.


"Aku siapin makan bentar kalau kayak gitu. Gak papa aku tinggal?" kata Widya.


"Iya makasih ya." kata Hendru.

__ADS_1


__ADS_2