Asmara Gadis Desa

Asmara Gadis Desa
Bab 97


__ADS_3

Malam harinya saat berada dikamar ternyata hanya mereka yang tidur disana karena Dara tak bisa lepas dari opanya. Padahal tadi Hendru sudah membujuk tapi gadis kecil itu tetap mau berada digendongan om Irwan.


"Sayang aku boleh tanya gak sama kamu?"kata Hendru.


"Mau tanya apa mas?"kata Widya yang langsung mendongah kearah suaminya.


"Apa sejak dulu Dara dekat dengan om Irwan?"kata Hendru.


"Iya benar sejak Dara kecil setiap om Irwan datang ke surabaya pasti putri kamu itu tak mau lepas dengannya."kata Widya.


"Ya mungkin karena hanya dengan om Irwan dia dapat merasakan kasih sayang seorang ayah."kata Hendru menghera nafas.


"Mas sudah dong jangan salahin diri sendiri, disini aku juga yang salah karena tak mau memberitau kamu jika aku sedang hamil Dara."kata Widya sambil memegang pipi Hendru.


Hendru yang disentuh pipinya oleh Widya langsung saja memejamkan matanya. Sudah lama dia tak pernah merasakan lagi sentuhan yang diberikan oleh Widya saat berduaan begini. Setiap mereka sedang berduaan ada saja gangguan.


"Wid aku mau kamu malam ini."kata Hendru dengan suara beratnya karena dia sudah dalam kabut gairah.


"Tapi mas ini bukan dirumah kita lo."kata Widya yang gak enak jika suara desahannya terdengar dari luar kamar.


"Kamu pelankan suara kamu sayang. Aku benar-benar sudah gak tahan lagi."kata Hendru.


Widya yang merasa kasian dengan suaminya akhirnya dia menganggu. Hendru yang mendapat persetujuan dari istrinya langsung saja mencium bibir Widya. Dua orang itu melakukan pemanasan cukup lama sehingga dirasa Widya sudah sangat bergairah Hendru langsung saja melakukan penyatuan.


Malam itu mereka berdua benar-benar menikmati malam dengan sangat bahagia karena sudah lama mereka tak melakukan hubungan badan tanpa ada gangguan dari Dara. Setiap mereka baru saja memulai pasti saja putri kecilnya itu akan bangun jika mereka ingin melakukan hubungan itu dirumah.


Pagi harinya saat mereka terbangun mereka berdua langsung mandi. Setelah mandi mereka turun ke bawah untuk mencari putri kecilnya itu. Widya terkejut karena disana ada Lydia yang sudah bermain dengan putri kecilnya itu.


"Kapan kamu datang Ly?"tanya Widya.


"Tadi pagi, tu Dara bunda sama ayah kamu keasikan berduaan makanya jam segini mereka baru bangun."kata Lydia menyindir kedua orang yang baru saja datang itu.


"Kamu ngomong apa sih Ly."kata Widya dengan tersenyum malu.


"Lah memang benarkan, lagian tu liat rambut kamu aja masih basah gitu."kata Lydia yang tetap saja menggoda Widya.

__ADS_1


"Sudah sudah kamu nanti juga kayak gitu kalau sudah menikah. Kalau punya anak pasti akan curi-curi waktu kalau mau berduaan."kata tante Intan yang baru datang daii dapur.


"Kamu kerja hari ini Ndru?"tanya om Irwan yang daritadi diam karena sedang membaca koran.


"Iya om hari ini mau ke kampus bentar habis itu baru ke hotel." kata Hendru.


"Om dengar ada masalah dengan perusahaan mama kamu memang benar itu?"tanya om Irwan.


"Iya kemarin om tapi tenang saja sudah dapat diselesaikan kok."kata Hendru.


"Kalau kamu gimana Wid, mumpung hari ini om libur jadi bisa bantu kalian jagain Dara seharian?"kata om Irwan.


"Aku rencananya mau beresin Ruko dan memberi barang-barang yang dibutuhkan untuk butik."kata Widya.


"Kalau kayak gitu biar saja Dara disini, kamu bisa bebas pergi kemana-mana tanpa takut si kecil kecapekaan."kata om iRwan.


"Tapi apa gak papa aku tinggalin Dara disini, gak ngerepotin om sama tante?"kata Widya yng gak enak hati.


"Gak papa lagian om senang kalau Dara ada disini serasa ada hiburan tersendiri."kata om Irwan.


"Gak papa sayang kami senang kok kalau Dara ada rumah jadi rame, ayo kitasarapan dulu baru setelah itu kalian berangkat kerja."kata tante Intan.


"Iya ma, oh ya ma hari ini aku ikut bantu Widya dibutik ya boleh?"kata Lydia yang daritadi diam.


"Emang kamu gak capek?"kata tante Intan.


"Gak kok ma."kata Lydia.


"Ya sudah pergilah biar mama sama papa yang jagain Dara."kata tante Intan.


Mereka semua sarapan, Hendru merasakan lagi memiliki keluarga yang hangat kayak dulu. Sekarang walaupun mama sama Widya sudah berbaikan tapi Hendru tau jika istrinya itu masih sungkan jika minta tolong mama Naya. Jadi Hendru mulai berusaha agar mama dan istrinya itu bisa dekat seperti dulu saat sebelum ada kejadian itu.


Selesai sarapan mereka langsung pergi ketempat tujuan masing-masing, kecuali orangtua Lydia yang hari ini ada dirumah untuk menjaga Dara. Hendru langsung pergi ke kampus untuk membagikan tugas dari mahasiswanya yang sudah dia koleksi semalam. Setelah itu Hendru langsung ke hotel karena dia hari ini tak ada jam mengajar.


Sampai dihotel dia langsung masuk ke ruangannya. Baru saja dia duduk Ryan masuk ke dalam untuk melaporkan kegiatan apa saja yang Hendru harus lakukan.

__ADS_1


"Kamu gak mau kembali keperusahaan papa kamu sendiri Yan?"kata Hendru.


"Kamu mengusirku, kamu gak butuh aku lagi?"tanya Ryan.


"Bukan begitu Yan, aku gak enak saja sama kedua orangtua kamu."kata Hendru.


"Gak enak kenapa? Kamu kan tau jika keluargaku tak seperti keluargamu yang menolak mentah-mentah mengurus perusahaan orangtua kalian."kata Ryan.


"Apa kedua kakakmu masih berebut tentang perusahaan itu?"kata Hendru.


"Iya mereka masih merebutknnya, makanya aku malas kalau disuruh kembali ke perusahaan."kata Ryan.


"Bukannya kedua kakakmu itu perempuan ya?"kata Hendru.


"Iya, seharusnya memang aku yang harus mewarisi perusahaan itu. Tapi seandainya aku pegang perusahaan itu maka kamu tau sendiri apa yang akan terjadi denganku."kata Ryan yang teringat tentag kecelakaan yang terjadi waktu dulu saat dia mau mengurus perusahaan papanya.


Bukan hanya hampir saja kehilangan nyawanya tapi dia juga harus kehilangan kekasihnya. Kekasihnya tak mau berhubungan dengan seorang pria yang divonis cacat seumur hidupnya. Tapi karena dukungan dari teman-teman dan kedua orangtuanya diakhirnya bangkit dan mau melakukan terapi sehingga dia bisa berjalan lagi.


"Kamu gak mau buka usaha sendiri?"tanya Hendru yang sebenarnya tau jika diam-diam sahabatnya ini membuka usaha club malam dn juga perusahaan dibidang fashion.


"Gak usah tanya deh, bukannya kamu sudah tau kalau aku sudah memiliki usaha dibelakang orangtua dan kakak-kakakku."kata Ryan.


"Kamu bekerja disini untuk kamu jadikan kedok berarti?"kata Hendru.


"Tu kamu tau, aku gak mau hasil jerih payah orangtuaku hancur begitu saja karena kedua kakakku saling berebut harta."kata Ryan.


"Aku bangga sama kamu lanjutkan. Oh ya cuma ini ajakan yang harus aku tandatanagni?"tanya Hendru sambil menyerahkan berkas yang sudah dia tandatangani.


"Iya cuma itu aja. Kalau gitu aku kembali ke mejaku lagi."kata Ryann.


Ryan pergi dari ruangan Hendru tanpa menunggu balasan darinya. Hendru sendiri sepeninggalan Ryan dia langsung saja kembali fokus ke pekerjaan yang sempat tertunda tadi.


Beda lagi dengan Widya dan Lydia sampai dibutik ternyata disana sudah ada orang-orang yang akan merenovasi ruko yang akan dijadikan butik itu. Widya langsung saja memberikan arahan untuk merenovasi butiknya seperti yang dia inginkan.


Kali ini dijakarta dia mendesain butiknya untuk kaum muda dan dewasa. WIdya berharap orang-orang yang datang ke butiknya bukan hanya dari karangan ibu-ibu tapi ada juga dari karangan remaja.

__ADS_1


Widya setelah memberi arahan langsung saja mengajak Lydia untuk memberi barang-barang yang akan dibutuhkan untuk butik itu. Tapi sebelum dia memberi barang dia meminta rekomendasi dari para pekerja dan juga tante Intan ditoko mana yang lengkap barang-barangnya agar dia tak pindah-pindah toko.


__ADS_2