Asmara Gadis Desa

Asmara Gadis Desa
Bab 79


__ADS_3

pulang dari kantor Hendru mampir sebentar ke apartemennya untuk mengambil beberapa baju buat ganti karena rencananya besok dia mau ajak Dara dan juga Widya jalan-jalan.


Sedangkan Widya langsung membawa Dara untuk pulang. Tapi sebelum pulang dia mampir dulu ke supermarket untuk membeli bahan makanan.


Widya hari ini mau masak cumi saous hitam dan juga capcai ayam. Dia sudah lama tak masak makanan kesukaan Hendru.


Selesai belanja dia langsung pulang. Saat berada dipintu luar dia berpapasan dengan Rehan. Rehan langsung menghampiri Widya yang membawa belanjaan banyak sambil mengending Dara.


"Wid kamu mau pulang?" tanya Rehan.


"Loh Han kamu ada disini?" tanya Widya.


"Iya kebetulan tadi beli ini. Kamu kok sendirian biasanya sama Lydia." kata Rehan.


"Oh iya tadi aku pulang dari butik langsung kesini." kata Widya.


"Mau aku antar pulang?" kata Rehan.


"Gak ngerepotin kamu?" kata Widya.


"Gaklah kan kita searah." kata Rehan.


"Ya sudah, maaf ya merepotkan kamu." kata Widya.


"Gak papa kamu tunggu disini biar aku ambil mobil dulu."kata Rehan.


Sambil menunggu Rehan, Widya mengambil ponselnya untuk memberitau Lydia kalau dia berada disupermarket dan akan diantar pulang oleh Rehan.


Tapi belum sempat Widya menghubungi Lydia. Hendru sudah menelponnya terlebih dahulu.


[Hallo Asalamualaikum...]


[Walaikumsalam kamu ada dimana?]


[Aku ada disupermarket tadi belanja bahan makanan.]


[Sama Lydia?]


[Gak, aku sama Dara aja. Tapi ini lagi nunggu Rehan mau pulang bareng dia.]


[Ya sudah hati-hati.]


[Iya mas. Mas dimana?]


[Aku masih diapartemen, mau nyelesaiin tugas kampus dulu baru berangkat kesana.]


[Maaf ya mas kalau repot.]


[Repot kenapa?]


[Iya mas harus bolak balik jakarta surabaya.]


[Demi kalian apapun akan aku lakukan.]


[Ya sudah itu Rehan udah datang aku pulang dulu, nanti sampai rumah aku hubungi lagi.]


[Ya sudah Asalamualaikum]


[Walaikumsalam.]


Rehan sampai langsung turun untuk mengambil barang belanjaan Widya, agar Widya tidak kesusahan saat membawa barangnya.


Didalam mobil mereka berdua hanya diam tanpa ada yang berbicara satupun. Tapi karena Rehan yang penasaran langsung saja bertanya ke Widya.


"Wid aku boleh bertanya denganmu?" tanya Rehan.


"Mau tanya apa?" kata Widya.

__ADS_1


"Sebenarnya Dara itu anak siapa?" kata Hendru.


"Dara anakku dengan mas Hendru." kata Widya.


"Dia bukan anak Lydia?" kata Rehan.


"Bukan bagaimana Lydia punya anak jika dia belum menikah." kata Widya.


"Tapi kenapa dia bilang kalau Dara itu anaknya." kata Rehan.


"Karena saat hamil Dara yang selalu menemaniku adalah Lydia. makanya dia sudah seperti mama bagi Dara." kata Widya.


"Aku benar-benar berpikir kalau Dara itu anak Lydia." kata Rehan.


"Karena rasa sayang Lydia ke Dara seperti anak kandungnya sendiri. Kenapa kamu tanya begitu?" tanya Widya penasaran.


"Gak papa aku cuma tanya aja." kata Rehan.


"Apa kalian sebenarnya sudah saling kenal?" kata Widya.


"Kenapa kamu bisa bilang begitu?" kata Rehan.


"Aku penasaran aja soalnya saat aku ajak Lydia ke rumah sakit untuk bertemu kamu pasti dia ogah ogahan." kata Widya.


"Kami dulu memang pernah dekat tapi hanya sebatas dekat saja."kata Rehan.


"Oke aku gak mau ikut campur masalah kalian. Tapi aku berharap kalian bisa menyelesaikan masalah kalian sendiri agar akau bisa tenang saat akan meninggalkan dia sendiri disini." kata Widya.


"Kamu mau kemana?" tanya Rehan.


"Aku mau kembali ke jakarta, Dara butuh ayahnya." kata Widya.


"Kamu mau kembali dengan suamimu?" tanya Rehan.


"Iya, aku mau kembali dengannya."kata Widya.


Mereka sampai dirumah langsung saja turun dari mobil. Saat ada suara mobil Lydia langsung keluar dan melihat kalau Widya turun dari mobil Rehan.


"Pulang dari butik aku langsung ke supermarket. Aku mau masakin mas Hendru cumi saous hitam dan capcai ayam." kata Widya.


"Kok gak bilang sama aku biar aku temenin." kata Lydia.


"Maaf gak sempet ponselku seharian ini disabotase sama mas Hendru." kata Widya.


"Kok bisa." kata Lydia yang bingung dengan perkataan Widya.


"Seharian ini aku vc terus sama mas Hendru. Aku pergi ke toilet aja hak boleh dimatiin.Jadi aku tinggap ponsel aku sama Dara." kata Widya.


Lydia yang mendengar langsung geleng-geleng kepala. dia gak menyangka kalau Hendru memang benar-benar posesif.


"Emang kak Hendru mau kesini?" tanya Lydia.


"Iya, dia besok mau ajak kami jalan-jalan kamu mau ikut?" kata Widya.


"Gak mending aku tidur daripada jadi obat nyamuk." kata Lydia.


"Eh sini biar aku aja yang bawa belanjaannya." kata Lydia mengambil belnjaan yang ada ditangan Rehan.


"Ayo Han masuk dulu." kata Widya.


"Gak usah Wid, aku mau pulang langsung aja." kata Rehan.


"Makasih ya udah anterin Widya pulang." kata Lydia.


"Iya, aku pulang dulu." kata Rehan.


"Hati-hati." kata widya.

__ADS_1


"Udah gak usah diliatin terus, suka tu kejar." kata Widya kepada Lydia yang terlihat enggan untuk pergi darisana.


"Apaan sih kamu Wid?" kata Lydia.


"Terserah deh, padahal aku cuma gak pengen kamu tinggal sendirian disini." kata Widya.


"Kamu emang udah bilang sama Santi?" kata Lydia.


"Belum aku belum bilang tadi gak sempet karena mas hendru seharian vc terus." kata Widya sambil berjalan masuk ke dalam rumah.


Sampai didalam rumah Widya masuk ke kamarnya untuk menidurkan Dara terlebih dahulu. Setelah dirasa Dara tertidur nyenyak widya langsung keluar membantu Lydia untuk membereskan belanjaannya tadi.


"Udah selesai Ly?" kata Widya saat sampai didapur melihat Lydia yang duduk dimeja makan sambil minum air.


"Udah tapi cumi sama bahan-bahan yang mau kamu bikin capcai aku gak masukin." kata Lydia.


"Oke deh." kata Widya.


"Kamu mau minum?" tanya Lydia.


"Aku ambil sendiri aja, kamu mau brownis gak?" kata Widya.


"Kamu dapat darimana?" tanya Lydia.


"Beli tadi disupermarket." kata Widya.


"Tumben beli biasanya kamu buat sendiri?" tanya Lydia.


"Lagi kepengen aja." kata Widya.


Kedua perempuan itu mengobrol sambil melepas lelah beda lagi dengan Hendru yang masih berkutat dengan kertas-kertas milik mahasiswanya.


Saat dia sibuk mengoleksi tugas muridnya ponselnya berbunyi. Hendru langsung mencari ponselnya dia kira itu panggilan dari Widya ternyata itu telepon dari mamanya.


[Hallo Asalamualaikum ma...]


[Walaikumsalam sayang, kamu dimana?]


[Aku dirumah, ada apa ma?]


[Kamu besok ada acara gak? Kalau gak ada bisa anterin mama arisan gak?]


[Biasanya mama pergi sendiri tumben mau ajak Hendru?]


[Mama mau kenalin kamu sama anak teman mama.]


[Ma gak usah mulai. Aku punya istri dan aku hanya mau istri aku gak ada yang lain.]


Setelah berkata begitu Hendru langsung saja mematikan telepon dari mamanya. Mama Ina hanya menghera nafas saat teleponnya dimatikan oleh putranya itu.


"Ma kok mama mulai lagi sih?" kata papa Ikhsan.


"Pa mama mau liat Hendru bahagia berrumahtangga." kata mama Ina.


"Doain saja agar putramu itu bisa membawa menantu dan cucu kita kembali ke jakarta." kata papa Ikhsan.


"Pa Hendru sudah bertemu dengan Widya?" tanya mama Ina.


"Sudah, sekarang Hendru masih berusaha untuk meluruhkan menantu mama itu." kata papa Ikhsan.


"Mama gak sabar bertemu dengan Widya pa. tapi tunggu dulu, papa tadi bilang cucu. Maksut papa cucu siapa?" kata mama Ina.


"Ya cucu kitalah dari Hendru dan Widya." kata papa ikhsan membuat mama Ina terkejut.


"Kok bisa?" kata mama Ina.


"Saat Widya pergi dari rumah ini ternyata dia sedang hamil." kata Papa ikhsan.

__ADS_1


"Pantas saja pa, Widya langsung pergi dari rumah tanpa mau cari tau apa yang sebenarnya terjadi." kata mama Ina.


"Ya sudah biar itu jadi urusan Hendru. Kita tinggal menunggu saja kepitusan mereka gimana nanti." kata papa ikhsan dan dianggukin oleh mama Ina.


__ADS_2