Asmara Gadis Desa

Asmara Gadis Desa
Bab 94


__ADS_3

Bu Imah yang dibelikan bahan makanan untuk setok oleh Widya langsung menolaknya.


"Kenapa beli banyak banget beras dan minyak goreng?"kata bu Imah.


"Ini buat setok dirumah bu."kata Widya.


"Sudah gak usah, kamu kan sudah kasih uang sama ibu. Itu sudah lebih dari cukup nduk."kata bu Imah.


"Itukan untuk simpanan dan biaya sekolah Ali. Kalau ini beda lagi, akukan jarang pulang kerumah."kata Widya.


"Kamu gak papa beli banyak kayak gini gak dimarahin sama Hendru?"kata bu Imah.


"Mas Hendru gak akan marah karena ini mas Hendru yang nyuruh."kata Widya.


"Kamu tu mbok yo bersyukur dapat menantu yang kaya dan baik hati."kata mak Lis.


"Aku gak enak mak, soalnya sudah banyak ngrepotin. Apalagi warung itu yang modalin sudah nak Hendru."kata bu Imah kepada mak Lis.


"Kamu itu Mah, kamu tau gak kalau tetangga sebelah kamu juga mempunyai menantu yang kaya tapi menantunya sangat pelit. Sehingga sampai sekarang dia harus banting tulang untuk menghidupi dirinya."kata mak Lis yang membicarakan tetangga mereka.


"Sudahlah mak, gak usah ngurusin orang lain. Kita urusin hidup kita sendiri aja belum bisa."kata Widya yang memang dari dulu tak suka mengurusi kehidupan orang lain.


"Tu liat putri kamu dari dulu gak pernah mau ngurusin orang lain tapi selalu siap jika dimintai bantuan selama dia bisa membantu."kata mak Lis.


Memang sejak dulu Widya tak pernah mau ikut campur dengan urusan orang lain. Dia akan membantu jika orang itu minta bantuan tapi kalau itu pun dia bisa bantu. Jika tak bisa dia akan minta maaf.


Kedua perempuan itu langsung pulang setelah membeli semua kebutuhan untuk masak yang akan dibuat bekal untuk makanan Dara.


"Kok lama sekali pergi ke warung saja?"kata pak Hasan.


"Tadi ngobrol sebentar dengan mak Lis."kata widya.


"Bilang saja kalau kalian disana gosipin orang."kata Ali.


"Enak saja, mbak kamu tu yang beliin kita beras dan minyak goreng banyak."kata bu Imah.


"Benar apa kata ibumu nduk?"tanya pak Hasan.


"Iya pak, lagian cuma beras sama minyak goreng aja ibu sudah ngomel-ngomel."kata Widya.


"Gak ngomel gimana kamu sudah kasih ibu uang tiap bulan sekarang masih beliin beras sama minyak goreng."kata ibu Imah.

__ADS_1


"Gak papa bu, lagian kami belikan juga jarang baru kali ini saja kami membelikan kedua bahan itu."kata Hendru.


"Tapi kan kalian bisa menyimpan uang itu untuk Dara nanti."kata bu Imah.


"Benar apa kata ibumu, semakin besar Dara akan membutuhkan dana yang banyak."kata pak Hasan.


"Insyaallah uang kami gak akan habis kalau untuk memberi kalian. Kata orang dengan memberi kepada orangtua maka reseki kita akan lancar."kata Hendru.


"Iya tapi kalian berdua juga harus ingat didalam reseki yang kalian dapat ada hak orang lain didalamnya."kata pak Hasan mengingatkan kepada putri dan menantunya.


"Insyaallah pak tiap bulan saya akan menyisihkan sedikit untuk mereka."kata Hendru.


Saat pak Hasan sedang menasehati Hendru, Widya dan bu Imah kebelakang untuk masak makanan yang akan dibawa untuk bekal saat diperjalanan.


Widya hanya memasak tempe orek dan juga goreng ayam untuk Hendru dan juga dirinya. Sedangkan untuk Dara dia membuatkan sayur bening dan dimasukkan dalam wadah yang tahan panas.


Selesai memasak dia langsung mengajak Dara untuk memandikannya duluan baru setelah itu Widya akan mandi.


Tapi saat mau memandikan Dara ternyata Ali ikut Widya kebelakang. Dara yang tau kalau omnya ikut memandikannya hanya terkekeh saja saat omnya itu mengodanya.


"Mbak emang kalau Dara dimandiin emang kayak gini ya kalau dirumah?"tanya Ali.


"Kayak gini gimana maksutnya?"kata Widya tak mengerti dengan pertanyaan adiknya.


"Kalau sama mbak anteng tapi kalau sama masmu beda lagi karena kalau mas Hendru yang mandikan pasti dia juga ikut basah sama anaknya."kata Widya.


"Mas Hendru ikut mandi?"kata Ali.


"Ya begitulah masmu itu."kata Widya.


Saat mereka sedang asik membicarakan tentang Hendru. Ternyata Hendru pergi kebelakang untuk mandi. Saat namanya disebut dia langsung saja menghentikan langkahnya.


"Hayo lagi ngomongin apa?"kata Hendru.


"Lagi ngomongin kamu mas."kata Ali membuat Widya lagsung melototkan matanya.


"Emang mbakmu bilang apa?"kata Hendru.


"Dia bilang kalau mas yang mandiin Dara, kalian berdua sama-sama basah kalau keluar dari kamar mandi."kata Ali.


"Oh aku pikir mau bicarain apa. Dara tu yang suka nyiplatin air ke badanku."kata Hendru.

__ADS_1


"Kalian berdua saja yang suka main air."kata Widya.


"Oke kami yang salah iya gak Ra?"kata Hendru tapi saat Dara melihat Hendru tangannya langsung dipukul-pukulkan ke air membuat air yang ada didalam bak itu nyiprat semua ke Widya dan Ali membuat baju mereka berdua basah.


Sedangkan Hendru lansung saja kabur dia tau pasti istrinya itu akan berteriak padanya. Benar saja saat dia sudah berada didalam kamar mandi Widya berteriak memanggilnya tapi bayi perempuan itu bukannya takut saat mendengar teriakan ibunya dia malah terkekeh membuat Ali gemas melihatnya.


"Sudah mbak gak kasian sama Dara kayaknya dia sudah kedinginan itu."kata Ali.


Widya langsung mengambil handuk untuk membungkus tubuh Dara. Awalnya dia menangis tapi saat Ali mengajaknya bercanda dia langsung tertawa.


Setelah Ali bergantii pakaian dia langsung masuk ke kamar Widya untuk mengajak Dara bermain. Biar bunda dan ayahnya siap-siap karena mereka akan kembali ke jakarta.


Setelah selesai langsung saja mereka berdua berpamitan dengan kedua orangtua Widya dan juga Ali. JIka mereka akan kembali ke jakarta.


"Pak bu kami ma pamit pulang dulu."kata Hendru.


"Iya hati-hati dijalan, bapak sama ibu tak bisa kasih apa-apa hanya doa yang bisa kami panjatkan agar kalian selamat dalam perjalanan."kata pak Hasan.


"Setelah sampai rumah langsung kabari kami biar kami tak cemas."kata bu Imah.


"Iya bu pasti."kata Widya.


Kedua orangtua itu sebenarnya masih ingin lama bermain dengan cucunya tapi mereka tau jika Hendru dan Widya ada pekerjaan yang gak bisa mereka tinggalka begitu saja.


Widya yang baru masuk dalam mobil langsung saja menangis. Dia sendiri sebenarnya masih rindu dengan kedua orangtua dan adiknya. Tapi mau bagaimana lagi dia juga tak bisa egois karena Hendru juga punya pekerjaan yang gak bisa ditinggalkan.


Hendru yang melihat kalau istrinya berat meninggalkan kedua orangtuanya merasa bersalah karena hanya sebentar mengajak istrinya datang kemari tapi dia janji kalau libur panjang dia akan mengajak istrinya untuk pulang lagi kesini.


"Kamu sudah siap sayang?"tanya Hendru.


"Iya mas, ayo jalan."kata Widya.


"Nanti kalau aku libur panjang kita akan kemari lagi."kata Hendru.


"Iya mas, aku tau kerjaan mas banyak dan itu menyangkut masa depan orang banyak."kata Widya.


"Makasih karena kamu mau mengerti tentang kerjaanku."kata Hendru.


"Iya mas, lagian besok aku kan sudah janji sama tante Intan untuk melihat ruko yang akan aku jadikan butik."kata Widya.


"Kalau besok kamu capek lebih baik kamu batalkan saja. Kan masih ada hari lain aku gak mau kamu sakit karena kecapkan."kata Hendru saat mereka berada diperjalanan pulang.

__ADS_1


"Iya mas liat besok aja, aku juga kasian sama Dara pasti dia juga capek."kata Widya.


Mereka berdua saling mengobrol entah itu yang lucu ataupun tentang pribadi masing-masing. Banyak yang terjadi saat mereka tak bersama dulu.


__ADS_2