Asmara Gadis Desa

Asmara Gadis Desa
Bab 62


__ADS_3

Pagi harinya saat dimeja makan, Hendru mengutarakan keinginannya untuk mengadakan resepsi disini. Perkataan hendru disambut baik oleh kedua orangtuanya. Apalagi mama Naya yang paling semangat.


Setelah mengatakan keinginan mereka, Hendru mengajak Widya berangkat hari ini dia yang akan mengantarnya ke kampus.


"Mas, aku masuk dulu. Bawa mobilnya hati-hati." kata Widya.


"Tunggu kayaknya ada yang kamu lupain." kata hendru menahan lengan widya.


"Apa mas, bukannya aku udah salam sama mas ya barusan?" kata widya bingung.


"Ini belum sayang." kata hendru sambil meletakkan jarinya dibibir.


"Mas malu ini kampus kalau ada yang liat gimana?" kata widya.


"Gak ada yang tau sayang, kaca mobil ini kan gak keliatan dari luar." kata hendru.


Widya memberikan kecupan singkat dibibir hendru dan langsung membuka pintu mobil agar bisa cepat cepat keluar kafena dia malu.


Hendru yang melihat widya malu hanya tersenyum. Dia heran dengan istrinya padahal mereka sering berciuman yang lebih dari itu tapi kenapa widya selalu malu kalau disuruh cium duluan.


Widya baru saja keluar dari mobil. Dia melihat arya dan ica baru saja memarkirkan motor mereka masing-masing.


"kalian bawa motor?" kata widya yang berjalan mendekati mereka.


"Iya, aku kan cuma punya motor." kata ica.


"Kamu kok gitu ngomongnya Ca?" kata widya yang gak enak dengar jawaban dari ica seperti orang menyindir.


"Ya ampun wid, bukan begitu maksutku." kata ica menyesal dengan perkataannya.


"Gak papa kok ayo masuk." kata widya gak mau bahas lagi perkataan ica tadi.


"Wid jangan marah ya, aku tadi gak masuk nyindir kamu. kamu taukan banyak orang-orang disini yang suka merendahkan." kata ica.


"Memang aku kayak gitu." kata widya.


"Gak kamu beda, kamu baik wid." kata ica.


"Udah ngapain sih ngomongin itu kita masuk yu keburu telat." kata arya menengahi kedua sahabatnya itu.


Saat widya masuk kedalam kelas bersama temannya hendru baru saja sampai ke perusahaan. Hendru baru saja masuk sudah disambut dengan Nessa yang menunggunya dilobby.


"Ndru tunggu...." kata Nessa menahan hendru.


"Ada apa Nes?" tanya hendru dengan nada dinigin.


Banyak pasang mata yang memandang mereka ada yang iri ada juga yang kagum. Mereka yang iri tak suka bila hendru berdekatan dengan Nessa apalagi melihat kalau nessa bukan perempuan baik-baik.


Yang kagum dengan mereka berdua bilang kalau Nessa itu cocok dengan hendru. Tapi hendru tak perduli dengan pembicaraan orang-orang itu. Dia ingin segera pergi dari lobby.


"Aku mau tanya apa sudah ada pekerjaan buatku?" kata Nessa.


"Bukannya kemarin aku bilang akan memberitaumu kalau ada kerjaan. Sekarang ngapain kamu kesini?" kata hendru.


"Aku mohon ndru aku butuh pekerjaan itu sekarang." kata Nessa.


"Yan... ryan sini bentar." kata hendru saat melihat ryan.

__ADS_1


"Ada apa bos?" tanya ryan.


"Kamu antarin dia ke bahian HRD suruh orang HRD mencarikan dia pekerjaan yang cocok untuknya!" kata hendru.


"Baiklah bos akan saya laksanakan.Mari nona ikut saya!" kata ryan mengajak Nessa pergi dari sana.


[Tempatkan dibagian yang tak berurusan sama sekali denganku.]


Hendru mengirim pesan ke ryan agar Nessa diberikan pekerjaan yang tidak berkaitan dengannya. Hendru gak mau kalau Nessa menganggunya.


Selesai dari kampus widya pergi ke mall dengan arya sesuai dengan janjinya dulu. Mereka sampai dimall langsung saja berkeliling mencari hadiah untuk Ica tapi terlebih dahulu memesan kue agar nanti saat mereka sudah mendapatkan kado untuk ica tinggal ambil.


Keluarga hendru ada yang melihat kalau widya berjalan dengan pria lain dengan begitu akrab. Mengambil foto dan langsung dikirim ke hendru supaya hendru dan widya bertengkar. Dengan begitukan hendru tak akan fokus ke pekerjaannya sehingga dengan muda dia menguasai perusahaan.


Orang yang mengirimi foto itu adalah istri bagas yang sama-sama tamak akan harta. Setelah mendapatkan hadiah dan ke mereka langsung saja pergi ke rumah ica untuk memberi kejutan.


Ica tak menyangka kalau kedua teman barunya itu datang dan memberikan kejutan ulang tahun untuknya.


"Selamat ulang tahun ya ca, moga apa yang kamu cita-citakan terwujud." kata widya sambil memeluk ica.


"Makasih udah datang. Aku gak nyangka kalian bisa tau ulang tahunku." kata ica terharu.


"Kalau mau bilang makasih, bilang sama adik kamu aja dia yang bilang kalau hari ini ulang tahunmu." kata arya.


"Makasih dek." kata ica memeluk adik satu satunya itu.


"Udah tiup lilinnya dulu." kata widya mengingatkan.


Hendru yang ada dikantor habis rapat tadi pikirannya gelisah karena mendapat foto dari tantenya. Didalam foto itu terlihat kalau widya sangat bahagia dengan pria itu.


Hendru lupa kalau kemarin malam mereka berdua sudah minta izin. Hendru juga berbicara langsung dengan arya tapi hendru lupa karena rasa cemburunya.


Hendru sampai rumah didalam hanya ada kedua pembantunya. Mamanya gak ada dirumah.


"Loh den sudah pulang?" kata bi narti yang terkejut saat melihat hendru sudah pulang jam segini.


"Iya bi lagi gak enak badan kayaknya." kata hendru.


"Apa mau bibi ambilin obat den?" tanya bi narti.


"Gak usah bi, aku mau tidur saja bentar juga sehat. Mama ke butik hari ini bi?" tanya hendru.


"Nyonya keluar sama nyonya besar dan tantenya aden. Katanya tadi mau mempersiapkan acara ulang tahun kantor." kata bi narti.


"Oh ya 2 hari lagi hari jadi perusahaan kok. Ya sudah bi aku ke atas dulu." kata hendru.


Sampai dikamar hendru langsung ganti baju dan merebahkan diri diranjangnya. Widya yang baru pulang langsung terkejut saat diberitau kalau hendru sedang tak enak badan.


Widya tanpa menunggu lama langsung masuk ke kamar mereka. Dia melihat hendru yang sedang tertidur dengan tangan yang berada diatas keningnya. Widya berjalan mendekati hendru diranjang.


"Mas... mas sakit kok gak bilang sama aku sih?" kata widya.


"Gak perlu bukannya kamu lagi bersenang-senang dengan pria itu." kata hendru.


"Pria siapa mas?" kata widya bingung.


"Teman baru kamu dikampuslah siapa lagi?" kata hendru.

__ADS_1


"Mas tatap aku sekarang." kata widya sambil menurunkan lengan hendru supaya dia melihat ke arah widya.


"Ngapain suruh menatap segara?" kata hendru yang membuat widya tersenyum membuat hendru semakin kesal.


"Mas.. mas cemburu sama arya?" kata widya.


"Gak ngapain aku cemburu sama dia." kata hendru.


"Kalau gak cemburu ngapain marah-marah?" kata widya dengan sabar.


"Ni katanya teman tapi kok mesra gitu." kata hendru memperlihatkan foto yang dikirim oleh tantenya itu.


"Oh itu masak kayak gitu mesra mas. Bukannya mesra itu kayak gini ya?" kata widya menciun pipi hendru agar hendru tak marah.


"Kamu mengodaku?" tanya hendru yang mendapat ciuman dari widya.


"Siapa yang mengodamu, aku kan cuma nunjukin caranya mesra. Lagian mas aneh sih bukannya kemarin malam yang izin aku pergi ma arya lah sekarang malah mas yang marah." kata widya membuat hendru sadar kalau memang dia yang mengizinkan widya keluar bersama arya.


"Maaf sayang, aku cuma gak suka aja liat kamu dekat-dekat sama pria lain." kata hendru.


"Gak papa mas, itu tanya mas cemburu sama aku." kata widya.


"Siapa yang cembutu, aku gak cemburu." kata hendru sambil mengelitik widya.


"Ampun mas geli tau." kata widya minta ampun.


"Siapa suruh bilang aku cemburu." kata hendru.


"Tapi emang mas cemburu beneran kok." kata widya.


"Wah emang mau dikasih hukuman." kata hendru.


"Kalau hukumannya enak aku mau." kata widya yang tau arti hukuman dari hendru.


"Baiklah kalau itu maumu." kata hendru langsung mencium bibir widya.


"Mas tadi katanya gak enak badan." kata widya berusaha melepaskan diri saat teringat kalau hendru sedang gak enak badan.


"Ini aku mau mengambil obatku." kata hendru sambil mencium bibir widya.


Ciuman mereka semkin lama semakin panas. widya tanpa sadar melepas baju hendru begitupun hendru melepas baju widya. Hingga mereka melakukan penyatuan. Saat mereka hampir selesai terdengar suara pintu diketuk membuat hendru menghera nafas sedangkan widya hanya tersenyum.


Tok tok tok


"Siapa?" kata hendru menghentikan kegiatannya tanpa melepaskan penyatuan mereka.


"Ini bibi den, dibawah ada den aziz ingin bertemu." kata bi narti.


"Bilang sama aziz suruh tunggu sebentar bi." kata hendru.


"Baik den." kata bi narti yang langsung kembali kebawah menemui aziz.


"Menanggu saja." kata hendru.


"Tapi mas gak papa biarin kak aziz nunggu dibawah siapa tau ada yang penting." kata widya yang gak enak dengan aziz.


"Nanggu sayang." kata hendru lalu melanjutkan kegiatan *** dengan widya hingga mencapai puncak.

__ADS_1


Setelah selesai mandi barulah dia turun tapi sebelum itu dia mengecup kening widya yang masih berbaring diranjang karena kelelahan.


__ADS_2