Asmara Gadis Desa

Asmara Gadis Desa
Bab 72


__ADS_3

keesokan harinya Widya datang lebih awal ke butiknya sambil membawa gambar gaun buatnya yang baru.


Tak lama kemudian pelanggannya datang, tak butuh waktu lama pelanggan itu memilih gaun pemgantin yang ingin dia pakai dipernikahaannya.


Santi merasa senang karena sesuai dengan dugaannya kalau pelanggan itu akan memesan satu gaun dipernikahannya.


Widya langsung masuk keruangannya setelah pelanggan itu pergi dari butiknya. Widya akhir-akhir ini merasa badannya mudah lelah karena tak ada satupun makanan atau minuman yang masuk ke dalam perutnya.


Lydia yang habis dari rapat langsung menelpon rumahnya menanyakan bagaimana kabar Widya. Ternyata Widya tidak ada dirumah kata pembantunya dia pergi ke butik.


Lydia langsung menelpon Widya. Widya sendiri yang melihat kalau Lydia telpon langsung mengangkatnya.


[Hallo Asalamualaikum...]


[Walaikumsalam... kamu dimana?]


[Aku dibutik sayang.]


[Wid, akukan udah bilang jangan pergi kemana-mana.]


[Aku udah janji sama pelanggan untuk menemuinya. kasian udah dua kali kesini gak ketemu denganku.]


[Kasian sih kasian. Tapi liat kondisi kamu sendiri juga gak baik Wid.]


[Aku gak papa kok tenang aja.]


[Oke aku kesana sekarang. kamu jangan pergi kemana-mana!]


[Oke, aku boleh minta tolong gak?]


[Mau minta tolong apa?]


[Beliin aku bakso didekat taman.]


[Oke, udah itu aja?]


[Iya belii tiga ya, satu buat santi nanti.]


[Oke tunggu aku disana jangan kemana-mana.]


[Iya mami cerewet banget sih.]


[Mami bagus tu, nanti kalau si dedek lahir dia harus panggil aku mami.]


[Iya terserah kamu.]


Widya habis menutup panggilan dari Lydia merasa perutnya mual. Dia langsung berlari ke toilet. Setelah mengeluarkan semua yang ada diperutnya rasanya Widya menjadi lemas dan akhirnya dia pingsan.


Lydia yang baru datang setelah menyerahkan satu bungkus bakso ke santi, langsung masuk ke dalam ruangan temannya itu. Tapi saat dia masuk tak ada Widya didalam. Lydia khawatir, tapi saat dia menoleh ke samping pintu toilet terbuka Lydia langsung berlari menuju toilet.


Didalam sana dia melihat Widya yang tergeletak pingsan. Dia langsung memanggil Santi untuk mencari orang untuk membantunya membawa Widya ke Rumah Sakit.

__ADS_1


DiRumah Sakit Widya langsung ditangani oleh seorang dokter kandungan.


"Gimana keadaan Widya dok?" kata Lydia.


"Dia hanya dehidrasi, apa dia susah makan dan minum?" kata Dokter.


"Iya dok, akhir-akhir ini dia susah makan dan minum. Kalau dipaksa makan dan minum pasti akan keluar lagi makanan dan minumannya." kata Lydia.


"Itu hal yang wajar dialami oleh perempauan saat hamil muda." kata dokter.


"Begitu ya dok?" kata Lydia tenang.


"Kalau begitu saya permisi dulu, oh ya Widya biar menginap beberapa hari disini sampai dia sehat." kata dokter itu sebelum pergi.


"Terimakasih dok." kata Lydia.


Beberapa saat dokter itu pergi, Widya sadar dari pingsannya. Lydia yang melihat Widya bangun langsung tersenyum.


"Aku dimana?" kata widya.


"Kamu diRumah Sakit, kata dokter tadi kamu harus dirawat beberapa hari disini." kata Lydia.


"Ah harus dirawat lagi disini?" kata Widya.


"Iya, makanya kalau dibilangin itu yang nurut jangan ngeyel kalau gak mau masuk Rumah Sakit." kata Lydia mengomeli Widya.


"Maafkan aku mami, aku bosan dirumah." kata Widya jujur.


"Iya." kata Widya.


Hendru dan teman-temannya menemukan bukti tentang Nessa. Hendru tak menyangka kalau Nessa setelah berpisah dengan Kevin untuk memenuhi gaya hidupnya yang glamor itu. Dia menjual dirinya kepada para hidung belang.


Mereka semua melaporkan Nessa kepihak yang berwajib. Nessa langsung ditangkap dan dijadikan tersangka karena bukti-bukti yang diberikan oleh Hendru dan teman-temannya kuat.


Dipengadilan pun setelah 2 bulan, hakim memutuskan bahwa Nessa akan dihukum selama 6 tahun.


Nessa berusaha untuk minta tolong sama Hendru dan juga Kevin agar mereka berdua bisa membantunya bebas.


Selama 9 bulan ini Hendru hidupnya hanya untuk kerja dan mencari widya. mama Naya yang kasian dengan putranya berinisiatif untuk mencarikan istri baru buat Hendru.


Tapi usahanya itu ditolak mentah-mentah. Hendru menghukum dirinya sendiri dengan hidup hanya untuk kerja dan kerja serta mencari Widya.


Hendru memutuskan untuk pindah ke apartemen setelah mama Naya berusaha untuk menjodohkannya dengan gadis lain. Hendru tak ingin wanita lain yang dia ingin istrinya kembali dan mau memaafkannya.


Disurabaya Widya baru saja melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik. Widya bahagia sekaligus sedih karena disaat semua orang melahirkan didampingi suaminya tapi dia hanya sendirian.


Tapi dia bahagia karena putrinya lahir dengan selamat. Yang mengadzani putrinya adalah om Irwan papa dari Lydia. Orangtua Lydia langsung berangkat ke surabaya saat mendengar kalau dirinya akan melahirkan.


Widya bersyukur karena bertemu dengan orang baik seperti mereka. Mereka sudah menganggap Widya seperti anaknya sendiri.


"Wid liat deh putri kamu cantik banget." kata tante Intan yang mendekatkan putri widya agar bisa digendong sama Widya.

__ADS_1


"Iya tan cantik banget." kata Widya.


"Mana cucu, opa aku mau gendong?" kata om Irwan yang baru datang entah darimana tadi.


"Papa darimana?"tanya Lydia.


"Papa beli ini buat cucu papa?" kata om irwan sambil mengangkat paperbag ditangannya.


"Apa itu pa?" tanya tante Intan.


"Satu set baju buat cucu papa lah." kata om Irwan.


"Sini biar aku liat." kata Lydia mengambil paperbag yang dibawa papanya.


"Ya ampun pa ini kok pink semua?" kata Lydia.


"Cucu papakan perempuan." kata om irwan santai sambil mengambil alih bayi perempuan itu.


"Pakan bisa beli yang warnanya netral." kata Lydia.


"Sudah sayang biarin aja, papa kamu antusias sama cucu pertamanya." kata tante intan.


"Iya, kapan kamu kasih papa cucu ly?" tanya om irwan.


"Pa Lydia belum menikah mana mungkin bisa kasih papa cucu." kata Lydia.


"Makanya cepat nikah, apa mau papa yang cariin?" kata om Irwan.


"Gak mau." kata Lydia.


Widya yang melihat perdebatan bapak dan anak itu hanya tersenyum.Dia jadi teringat dengan kedua orangtuanya.


"Oh ya Wid, siapa nama cucu om ini?" kata om irwan.


"Iya sayang siapa namanya?" kata tante Irwan.


"Iya siapa asal jangan dibelakangnya jangan arcana!" kata Lydia.


"Kenapa gak boleh, diakan keturunan dari keluarga arcana?" kata om Irwan.


"Namanya Darapuspita arcana. panggilannya Dara." kata Widya.


"Dara nama yang bagus." kata tante intan.


Mereka bertiga berebutan untuk mengendong dara kecil. Widya bahagia walaupun putrinya tak mendapatkan kasih sayang keluarga ayahnya karena mereka tak tau tapi Widya bersyukur karena ada satu keluarga yang selalu menemaninya dari dia hamil sampai dia melahirkan.


"Wid kamu mau dipanggil apa sama Dara?" kata Lydia.


"Bunda gimana bukannya kamu mau dipanggil mami?" kata Widya.


"Wah oke kalau kayak gitu aku setuju." kata Lydia.

__ADS_1



__ADS_2