Asmara Gadis Desa

Asmara Gadis Desa
Bab 48


__ADS_3

Hendru masuk kedalam kamar widya. Dia melihat widya yang sedang duduk ditempat tidur dengan keadaan gugup.


Saat melihat kegugupan widya jahilnya hendru muncul sehingga dia mendekati widya pelan-pelan sebenarnya hendru melakukan itu karena dia sendiri juga gugup.


"Wid kenapa tanganmu bergetar?" tanya hendru sambil duduk disebelah widya.


"Eh mas ma..mana ada aku gugup." kata widya semakin salah tingkah.


"Itu suara kamu aja bergetar. Tenang aku gak akan paksa kamu malam ini melakukan hubungan suami istri tapi kalau lain kali aku gak tau." kata Hendru membuat widya agak tenang.


"Gak ada kok mas. Aku biasa aja tu." kata widya menutupi kegugupannya.


"Beneran kalau gak papa berarti aku bisa meminta hakku malam ini kalau kayak gitu." kata hendru menggoda widya.


"Eh tapi mas aku capek banget hari ini." kata widya yang berharap alasannya itu bisa membuat hendru berubah pikiran.


"Baiklah aku gak akan melakukannya malam ini tapi besok saat kita honeymoon." kata hendru.


"Honeymoon mas?" tanya widya yang terkejut.


"Iya besok kita berangkat ke lombok papa ngasih kita paket liburan besok berangkat."kata hendru.


"Kok mendadak banget mas. Kan gak ada persiapan kita." kata widya.


"Malam ini packing aja dulu barang apa saja yang mau dibawa." kata hendru.


"Iya mas kalau begitu aku packing sekarang." kata wudya.


Widya langsung saja berjalan ke lemari untuk mempersiapkan pakaian mana yang akan dia bawa. Tapi saat melihat baju hendru dia langsung berbalik memandang hendru.


"Mas berapa hari kita dilombok?" tanya widya.


"Satu mingguan kenapa? Apa satu minggu kurang kita bisa nambah lagi mumpung aku belum sibuk?" kata hendru.


"Itu udah cukup mas, aku nanya karena baju mas hendru cuma ada 3 stel lagi." kata widya.


"Iya sudah bawa itu saja. Yang kotor biar disini nanti suruh bi narti loundry sebelum kita berangkat kamu kasih uang ke bi narti buat loundry." kata hendru.

__ADS_1


"Terus nanti disana gimana?"kata widya.


"Beli baru aja kalau gak gitu cuci pakai bisa kan. Oh ya wid ini nanti sebelum kita pergi kasih ke ibu bilang aja kalau itu dari kamu." kata hendru.


Widya menerima amplop yang diberikan oleh hendru dan melihat kalau didalamnya ada uang yang banyak.


"Mas ini gak kebanyakan?" tanya widya.


"Gak itu gak banyak itu bisa buat modal ibu buka usaha didepan rumah katanya ibu ingin buka warung makan." kata hendru.


"Mas tau dari mana kalau ibu ingin punya warung?" tanya widya.


"Ali yang cerita sama aku. Besok motor ali juga datang." kata hendru.


"Mas beliin ali motor? kan sudah ada motor buat apa beli lagi?" kata widya yang gak nyangka kalau semudah itu hendru memberikan motor dan uang untuk keluarganya.


"Gak papa biar motor itu dipakai bapak dan ibu. Ali aku beli buat dia untuk sekolah." kata hendru.


"Ali kan bisa naik angkot mas kalau kamu beliin motor nanti malah boros dia. Lagian aku gak enak sama kamu dan keluargamu nanti dikira kalau aku hanya menginginkan hartamu." kata widya.


"Gak usah didengar kata mereka. Lagian kan aku yang ngasih bukan kamu yang minta." kata hendru menenangkan widya supaya tidak banyak berpikir.


"Nanti ngasihnya bareng sama aku. Oh ya ini ada kado dari cindy aku gak tau apa isinya kamu buka sendiri aja." kata hendru menyerahkan paper bag yang diberikan oleh cindy tadi ke widya.


Widya menerimanya betapa terkejutnya saat dia membuka paper bag dan melihat isinya.


"Mas ini beneran buat aku?" kata widya yang bergidik ngeri kalau harus mengunakan baju nerawang itu.


"Iya itu buat kamu memangnya kenapa?" kata hendru sambil mengambil paper bag dan melihat apa isinya dia terkejut saat melihat apa yang ada didalam paper bag itu.


"Wah pintar juga cindy kasih hadiah kayak gini. Aku ingin melihat bagaimana kalau kamu mengenakannya." kata hendru mengoda widya.


"Gak aku gak mau pakai itu. Kita tinggal disini saja ya mas bajunya." kata widya.


"Kamu bawa aja wid. Siapa tau nanti berguna saat disana. Apa kamu sudah selesai packing wid?" tanya hendru.


"Sudah mas tinggal masukin ini aja." kata widya.

__ADS_1


"Ya sudah kalau sudah selesai sini. Kita istirahat sudah malam besok pagi kita harus berangkat." kata hendru.


Widya ragu untuk mendekat ke hendru. Baru kali ini dia tidur satu ranjang dengan seorang pria apalagi kasurnya kalau dipakai dua orang pasti akan sempit.


"Mas gak papa kita tidur berdua?" kata widya.


"Gak papa ayo sini. Disini dingin tapi syukurlah ranjangnya kecil jadi kita bisa tidur dengan saling berpelukan sehingga tidak kedinginan lagi." kata hendru.


Mendengar perkataan hendru akhirnya widya memberanikan diri untuk berbaring disebelah hendru. Setelah berbaling langsung saja hendru memeluk widya.


Awalnya widya tak bisa tidur mendapat pelukan dari hendru yang pura-pura tidur. Tapi lama-lama widya tertidur. Setelah widya tertidur hendru membuka matanya dan memandangi wajahnya.


"Aku akan menunggumu sampai kamu benar-benar siap untuk menjadi milikku seutuhnya." kata hendru berkata dengan pelan tapi widya tak mendengarnya.


Keesokan paginya mereka berdua terlambat bangun. Kalau saja pintu kamar widya tak diketuk oleh mama naya dan bu imah mungkin mereka berdua sekarang belum bangun.


"Ayo ndru ini sudah jam berapa nanti kalian bisa ketinggalan pesawat." kata mama naya.


"Bentar ma aku mau pamit sama ibu dan bapak dulu." kata hendru sambil mengandeng tangan widya untuk menemui kedua orangtua widya untuk berpamitan.


"Bu pak kami pamit dulu. Nanti kami akan sering-sering kesini." kata hendru.


"Iya nak hati-hati kalian. wid ingat pesan ibu kemarin jadilah istri yang penurut." kata ibu imah.


"Terimakasih bu aku akan ingat nasehat ibu dan ini ada sedikit buat pegangan ibu." kata widya sambil menyerahkan uang yang diberikan oleh hendru semalam.


"Ya allah wid gak usah ini buat pegangan kalian aja. Ibu masih ada simpanan kok." kata ibu imah.


"Iya nduk, kalian pengantin baru bapak yakin kebutuhan kalian malah lebih banyak lagi." kata pak hasan.


"Gak kok pak bu itu memang sengaja hendru sisihkan buat kalian. Kalau tentang kebutuhan kami insyallah aku bisa mencukupinya. Bukannya ibu ingin buka warung didepan rumah itu bisa buat modal bu daripada ibu harus bolak balil ke pasar." kata hendru.


"Tapi nak ini terlalu banyak buat kami." kata ibu imah yang tetap kekeh tidak ingin meberima uang itu.


"Ibu ambil uang ini biar kami cepat berangkat kalau ibu gak mau saya akan batalkan liburan kami." kata hendru terpaksa bilang begitu karena dia sudah tak tau lagi bagaimana membujuk mertuanya itu agar mau menerima uang itu.


"Jangan kalian harus tetap pergi libur kan ini hadiah dari orangtua kamu nak. Ibu gak enak sama mama papamu kalau kalian gak jadi pergi. Uangnya ibu terima ya." kata ibu imah akhirnya.

__ADS_1


Widya merasa lega karena ibunya mau menerima uang itu. Mereka berdua setelah berpamitan kepada orangtua widya langsung saja masuk ke dalam mobil untuk menunju bandara. Untung saja rumah widya dengan bandara jaraknya dekat jadi mereka masih bisa mengejar waktu.


__ADS_2