Asmara Gadis Desa

Asmara Gadis Desa
Bab 74


__ADS_3

Widya sangat bersyukur karena Lydia dan kedua orangtua lydia sangat menyayangi Dara. Widya berjalan menuuju kamarnya untuk mandi.


Widya membuka lemari untk mengambil baju ganti. Ada sebuah benda yang jatuh karena dia mengambil pakaiannya. Widya mengambil benda itu ternyata foto pernikahan antara dirinya dan Hendru yang tak sengaja dia bawa saat pergi dari rumah Hendru.


"Mas apa kabarmu? Apa kamu sudah hidup bahagia dengan wanita itu?" tanya Widya sambil menitihkan airmata.


"Apa kamu akan bahagia jika mengetahui kita memiliki seorang anak perempuan? Dia mirip denganmu versi perempuan. Walau umurnya baru 2 bulan tapi dia bayi yang pintar dan mengemaskan." kata Widya lagi sambil menatap foto mereka berdua.


Hendru yang ada dijakarta selalu bermimpi didatangi seorang anak perempuan yang mirip dengan dirinya.


Hendru memutuskan untuk bangun dan menelpon anak buahnya untuk menayakan informasi tentang istrinya.


[Hallo ada apa bos?]


[Gimna apa kalian sudah tau dimana istriku berada?]


[Maafkan kami bos kami belum mendapatkan info tentang istri anda. Kami merasa ada yang sengaja menutup informasinya.]


[Menutupi bagaimana maksutmu?]


[Ada orang yang sengaja menyembunyikan istri anda bos.]


[Kamu tau siapa siapa dia?]


[Kami sedang mencaritau orang itu.]


[Dari dulu mencari dan mencari terus. Aku tak mau tau segera temukan istriku atau kalian aku pecat.]


Hendru mematikan panggilannya dan membanting ponselnya keranjangnya. "Kamu dimana Wid aku sangat merindukanmu?" kata Hendru.


Dara yang biasanya tak rewel malam ini sangat sangat rewel karena badannya panas. Widya panik dan membangunkan Lydia untuk mengantarkannya ke Rumah Sakit.


Tok tok tok


"Ly... Lydia bangun kamu ikut aku gak ke Rumah Sakit?" kata Widya yang daritadi mengetuk pint tak ada balasan dari dalam.


Lydia yang mendengar Widya ingin pergi ke Rumah Sakit langsung mengumpulkan kesadarannya.


"Siapa yang sakit Wid?" tanya Lydia.


"Badannya Dara panas banget ly." kata Widya.


Lydia langsung terbangun saat mendengar kalau Dara sakit. Dia bergegas menganti pakaian dan langsung keluar.


Lydia menyambar kunci mobilnya sebelum keluar kamar. Mereka berdua membawa Dara ke Rumah Sakit terdekat untuk memeriksa keadaannya.


Untung saja saat mereka sampai disana Dara langsung ditangani seorang dokter pria. Dokter itu tampan tapi bagi Lydia dia sangat percaya diri.


"Dok gimana keadaan putri saya?" kata Widya.


"Dara tidak apa-apa mbak, dia hanya demam biasa tak ada yang perlu dikhawatirkan."kata Rehan.


"Kamu yakin putriku tak apa-apa? kenapa dia rewel terus sepanjang malam?" kata Widya yang masih khawatir.


"Ini lumrah mbak setelah anda berikan susu yang dicampur dengan obat ini maka demannya akan turun." kata Rehan.


"Baiklah terimakasih." kata Widya lega.


Lydia yang daritadi berada disana hanya cemberut saja. Rehan yang melihat hanya menatapnya dengan datar.


"Wid udah belum?" kata Lydia.


"Udah ayo kita pulang." kata Widya.


"Sini biar Dara aku gendong. Sayang sini sama mama." kata Lydia menjulurkan tangannya tapi Dara tak mau dia malah bersembunyi didada Widya.


"Kamu ya kalau sakit gini gak pernah mau lepas dari bundamu." kata Lydia membuat Dara yang berumur 8 bulan itu hanya terkekeh.

__ADS_1


Widya yang melihat Lydia masam hanya tersenyum. Mereka berdua keluar dari ruangan itu dengan lega karena putrinya hanya panas biasa.


Sampai rumah Lydia ikut tidur dikamar Widya untuk ikut menjaga Dara yang sedang sakit.


"Kasian kamu nak, biasanga ceria malah jadi lemas gini." kata Lydia.


"Ly aku boleh tanya sama kamu gak?" tanya Widya.


"Mau tanya apa kalau aku bisa jawab aku jawab?" tanya Lydia.


"Aku bingung deh sama kamu kenapa setiap kali bertemu dengan dokter Rehan kamu kayak gak suka gitu?" tanya Widya yang penasaran dengan Lydia.


"Gak papa aku cuma gak suka aja sama dia." kata Lydia.


"Yakin gak ada yang kamu sembunyikan dari aku?" kata Widya.


"Kamu gak percaya banget sih sama aku Wid?" kata Lydia.


"Oke oke, oh ya besok kamu libur kan?" tanya Widya.


"Iya besok aku libur ada apa?" tanya Lydia.


"Aku harus kebutik besok, mau lihat persiapan terakhir buat fashion show di hotel Permata lusa." kata Widya.


"Pergilah biar besok aku yang jaga Dara." kata Lydia.


"Makasih, ya sudah kita tidur sudah malam." kata Widya.


Keesokan harinya setelah Widya mempersiapkan sarapan untuk Dara dan juga Lydia dia langsung pergi ke butik.


"Ly aku berangkat dulu. Titip Dara." kata Widya.


"Oke aku akan jaga putri ke sayanganku. kamu hati-hati." kata Lydia.


Lydia bangga dengan sahabatnya itu karena hanya sebentar saja bisa membuat butiknya berkembang pesat.


Saat Lydia asik bermain terdengar suara bell pintu berbunyi. Lydia dengan malas berjalan untuk membuka pintu.


"Hai, apa aku boleh masuk?" kata Rehan.


"Masuklah, ada apa kesini?" tanya Lydia.


"Aku kesini untuk melihat Dara. Bagaimana keadaannya?"kata Rehan.


"Dia sudah baikan sekarang lagi bermain diruang tv apa kamu mau melihatnya?" kata Lydia.


"Boleh, oh ya apa Widya ada?" tanya Rehan.


"Gak dia baru aja pergi ke butik. Ada apa mencarinya?" kata Lydia.


"Aku cuma mau kasih ini buat dia." kata Rehan sambil menyerahkan paperbag untuk Widya.


"Kamu kasih sendiri aja barang itu nanti. sekarang ayo katanya mau lihat Dara." kata Lydia berjalan menuju ruang tv.


Diruang tv Rehan bermain dengan Dara sedangkan Lydia kedapur membuat minuman untuk Rehan.


"Minum dulu han!" kata Lydia.


"Makasih." kata Rehan.


"Ya ampun sayang suka banget ya dipangku om Rehan sampai tertidur gini." kata Lydia sambil mengambil Dara dari pangkuan Rehan.


"Kalau aku boleh tau papanya kemana Ly?" tanya Rehan.


"Papanya bekerja dijakarta." kata Lydia.


"Kenapa kamu gak ikut suami kamu? kan kasian anak sekecil ini harus jauh dari papanya." kata Rehan.

__ADS_1


Lydia hanya tersenyum tak menjawab pertanyaan Rehan. Rehan yang melihat kalau Lydia tersenyum hanya menghera nafas.


"Jangan bilang kalau kamu pisah sama suami kamu?" kata Rehan.


"Kalau iya kenapa kalau gak kenapa? Apa kamu mau jadi papanya Dara?" kata Lydia.


"Kalau kamu izinin aku nikah sama Widya pasti aku akan jadi ayahnya Dara." kata Rehan.


"Kalau itu tanya dia aja sendiri." kaat Lydia.


Lydia tak memperdulikan lagi Rehan dia membawa Dara pergi ke kamar Widya untuk menidurkan Dara.


"Han maaf bukan maksut aku ngusir kamu tapi aku gak enak sama tetangga kalau kita hanya berduaan dirumah ini. Dara juga sudah tidur." kaat Lydia.


"Ya sudah aku pulang dulu. Tapi sebelum pulang aku mau minta tolong boleh?" kata Rehan.


"Mau minta tolong apa?" kata Lydia.


"Aku minta tolong bantu aku buat dapaten Widya." kata Rehan.


"Kalau soal itu aku gak janji. kata Lydia.


"Baiklah, makasih sekali lagi udah bolehin aku masuk rumah." kata Rehan.


Setelah Rehan pergi Lydia meraba dadanya dan menitiskan airnatanya. Seandainya kamu tau Han dari dulu hatiku tak pernah berubah untukmu. Tapi aku tau sekarang perasaanmu sudah berubah bukan untukku lagi.


"Lydia kuat Lydia kenapa sih kamu jadi cengeng lagi saat melihat Rehan." kata Lydia menyemangati dirinya sendiri.


Saat Lydia sedang meratapi nasibnya Widya masuk dalam Rumah. Dia langsung mencari kedua perempuan yang paling dia sayangi.


"Kamu ngapai ly? Dara mana?" tanya Widya yang duduk disamping Lydia yang sedang nonton tv.


Lydia tadi langsung mencuci mukanya saat mengetahui Widya datang. Dia gak mau sahabatnya itu melihat Lydia sedih.


"Noh nonton. Dara tidur tadi karena Rehan datang makannya cepat tidur tu anak dapat kasih sayang seorang ayah." kata Lydia.


"Kamu aja yang nikah sama mas Rehan?" kata Widya.


"Lah lakok aku sih?" kata Lydia.


"Kan dia taunya Dara anak kamu." kata Widya.


"Apa hubungannya denganku. Dia itu suka sama kamu." kata Lydia.


"Aku masih punya ikatan dengan Hendru Ly." kata Widya.


"Apa kamu masih berharap pada Hendru?" tanya Lydia.


"Aku masih sayang sama dia Ly. Dia laki-laki pertama yang membuat aku merasakan kasih sayang." kata Widya.


"Kalau gitu kembalilah ke Hendru." kata Lydia.


"Aku takut Ly." kata Widya.


"Takut apa?" kata Lydia.


"Aku takut kalau mas Hendru sudah menikah lagi." kata Widya.


"Kalau dia belum menikah gimana?" kata Lydia.


"Kamu tau darimana?" kata Widya.


"Kamu tau gak selama ini Hendru terus mencarimu dan perempuan itu sudah dijebloskan dipenjara saat kamu 2 bulan disini dulu." kata Lydia.


"Aku gak tau Ly. Aku mau ke kamar dulu capek." kata Widya.


"Aku dukung semua keputusan kamu." kata lydia.

__ADS_1


"Makasih udah selalu mendukungku." kata Widya.


"Iya aku akan selalau ada buat kamu apapun yang terjadi." kata Lydia sambil memeluk Widya.


__ADS_2