
Hendru waktu Widya melahirkan merasakan punggungnya sakit banget tapi dia tidak tau kenapa dia merasakan sakit.
Dia memeriksa keadaannya kedokter tapi dokter bilang tak ada yang membahayakan. Dia bilang Hendru butuh istirahat yang cukup. Hendru memutuskan untuk pulang ke apartemennya.
Sampai diapartemen dia langsung menelpon Ryan. Hendru memeberitau kalau dia tidak akan kembali kekantor.
[Hallo ada apa bos?]
[Yan kamu cancel semua jadwal yang bisa cancel. Tapi yang gak bisa aku minta tolong kamu untuk menanganinya dulu.]
[Baik, apa ada yang lagi yang mau bos perintahkan?
[Udah itu aja.]
[Oh ya bos tadi ibu telpon menanyakan keberadaan anda. katanya tadi ibu telpon anda tak mengangkatnya beliau khawatir dengan anda.]
[Iya nanti aku telpon mama. terimakasih sudah memberitauku.]
[Baik bos, kalau begitu saya tutup dulu.]
Setelah menelpon Ryan, Hendru langsung merebahkan badannya. Dia berharap setelah bangun nanti sakit punggungnya hilang.
Tanpa dia tau kalau dibelahan lain Widya bertaruh nyawa untuk melahirkan buah hati mereka.
"Wid, kamu yakin mau dipanggil bunda sama Dara?" kata Lydia.
"Iya, emang ada yang salah dengan panggilan bunda?" kata Widya.
"Iya gak ada sih." kata Lydia.
"Oh ya kapan aku boleh pulang?" kata Widya.
Lydia tau kalau temannya itu gak betah berada diRumah Sakit. Widya yang tak mendapat jawaban dari Lydia hany menghera nafas. Akhir-akhir ini temannya itu sering melamun.
"Ly apa ada masalah?" tanya Widya.
"Gak ada, aku cuma khawatir aja kita kan gak punya pengalaman merawat bayi.' kata lydia mengeluarkan ke khawatirannya.
"Tenang sayang, nanti kamu juga terbiasa merawt bayi, mama sementara akan tinggal disini mengajari kalian sampai kalian bisa. Nanti kalau kalian sudah mahir mama akan pulang ke jakarta." kata tante Intan yang datang.
"Makasih tan." kata Widya.
"Mama serius akan tinggal disini untuk sementara? Lalu papa gimana?" kata Lydia.
"Iya mama akan tinggal disini untuk sementara. Papa sudah izinin mama tinggal disini sampai kalian bisa merawat Dara sendiri. Sayang kamu gak usah terimakasih sama tante karena tante sudah mengangagpmu sebagai anak tante sendiri." kata tante Intan.
Widya sudah boleh pulang setelah 2 hari dirawat diRumah Sakit. Om Irwan setelah mengantarkan mereka pulang ke rumah langsung kembali ke jakarta.
Tante Intan benar-benar mengajari kedua puutrinya itu untuk merawat Dara. Sudah seminggu tante Intan mengajari mereka berdua dan kini tante Intan harus kembali ke jakarta. kasian om Irwan sendirian dirumah.
"Ma sering datang kesini ya?" kata Lydia.
__ADS_1
"Iya sayang pasti. Apalagi mama pasti akan rindu berat dengan gemoy." kata tante Intan sambil menoer pipi Dara.
Dara yang ditoel pipinya oleh omanya tidak merasa terganggu. Tidurnya tetap nyenyak, kalau sudah tidur Dara tak akan perduli suara bising atau gangguan disebelahnya.
Widya bersyukur karena putrinya itu kalau malam tak pernah rewel. Dara hanya menangis saat haus dimalam hari. Setelah ***** dia akan tidur lagi sampai pagi.
Dijakarta Hendru setiap malam selalu bermimpi tentang seorang bayi perempuan yang sangat lucu. Bayi itu memanggilnya papa. Paginya dia akan bangun seperti orang yang kurang tidur.
Pagi ini karena hari libur Hendru memutuskan ingin tidur saja. Tapi keinginan hanya tinggal keinginanan karena mama dan kakaknya datang ke apartemen.
"Mau apa kalian kesini?" tanya Hendru.
"Kami tidak boleh kesini?" kata mama Naya.
"Boleh gak ada yang ngelarang kalian kesini." kata Hendru yang tak ingin berdebat dengan mamanya.
"Ini mama bawakan sarapan, kamu belum makankan? Biar mama siapin?" kata mama Naya yang langsung membawa makanan itu ke dapur.
"Ndru kamu kenapa? kok kakak liat kamu kurang tidur?" tanya kak Risa khawatir dengan adik satu-satunya.
"Aku beberapa hari ini selalu bermimpi aku mengendong bayi perempuan yang mirip banget denganku kak." kata Hendru.
"Apa mungkin Widya hamil saat pergi dari rumah dan sekarang dia sudah melahirkan seorang bayi perempuan ndru?" kata Risa yang didengar oleh mama Naya.
Mama Naya juga berharap kalau Widya dan Hendru memiliki seorang anak. Biar bisa menjadi alasan Hendru bisa kembali bersama dengan Widya.
Mama Naya akan meminta suaminya untuk mencari keberadaan menantunya itu. Dia ingin putranya yang dulu kembali lagi. Setelah kepergian Widya semakin dingin dan tak tersentuh.
Sekarang mama Naya tau kebahagian Hendru ada pada Widya. Mama Naya tak ingin melakukan kesalahan lagi.
"Ndru ayo makan?" kata mama Naya.
"Iya ma." kata Hendru yang langsung menghampiri mamanya.
"Ricky mana kak?" tanya Hendru.
"Kamu ini gimana sih Ndru, Ricky kalau jam segini pasti ada disekolah." kata Risa.
"Loh bukannya Ricky masih umur 3 tahun ya kak?" tanya Hendru.
"Iya, kakak mau dia bisa belajar mandiri." kata Risa.
"Gak terlalu dini ya kak nyekolahin Ricky. Kasian aku liat anak kecil disuruh belajar." kata Hendru.
"Iya gak lah, Ricky kan disana dia ajari sambil bermain. Anak kakak tu gak kayak kamu yang punya otak encer dari kecil." kata Risa sewot.
Hendru menikamati liburan dengan mama dan kakaknya sambil bercerita. Kalau Widya mengajak Dara berjalan-jalan ditaman.
Bayi itu keliahatan senang saat dia ajak keluar oleh bundanya. Walaupun Widya tau kalau anaknya itu belum tau apa-apa tapi dia yakin kalau anaknya suka dengan udara yang masih sejuk dipagi hari gini.
Saat ditaman Widya melihat banyak keluarga yang bermain-main ditaman. Dia juga melihat anak-anak bermain dengan kedua orangtuanya terlihat sangat bahagia.
__ADS_1
Widya melihat kearah putrinya yang ada distrolernya merasa sedih karena Dara tak akan bisa merasakan kasih sayang seorang ayah.
"Maafkan bunda ya sayang." kata Widya berbicara dengan Dara. Walaupun widya tau kalau Dara tak mengerti kata-katanya tapi dia lega.
Setiap malam dia selalu menangis dan berandai-andai jika saja dia dan Hendru masih bersatu mungkin sekarang mereka berdua akan menikamati masa-masa merawat Dara. Dara juga dapat limpahan kasih sayang dari semua orang tak seperti sekarang Dara hanya dapat kasih sayang darinya dan juga Lydia.
Saat dia mengajak Dara berbicara terdengar suara ponselnya berbunyi. Dia mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelponya.
[Hallo San ada apa?]
[Mbak Mala besok bisa ke butik gak?]
[Ada apa San?]
[Santi lupa mau kasih tau mbak kemarin kalau ada yang ingin memesan gaun buatan mbak tapi dia mau menentukan sendiri tema gaunnya. Gimana bisa gak mbak?]
[Oke besok aku kebutik. Dara biar sama bi Minah dirumah.]
[Baik mbak, kalau gitu sampai ketemu besok dibutik.]
Widya tersenyum melihat tingkah putrinya yang lucu itu. Dia bahagia karena butiknya semakin hari semakin maju. Itu berarti dia bisa membesarkan Dara dengan baik tanpa kekurangan apapun seperti dirinya dulu.
Widya mengajak Dara pulang karena hari sudah mulai panas. Dara sendiripun sudah mulai rewel karena kepanasan.
"Uluh uluh anak bunda kepanasan ya?" kata Widya sambil mengendong anaknya.
Saat digendong bayi mungil itu malah tersenyum senang membuat Widya gemas. Widya lalu mencium bayi itu bertubi-tubi membuat Dara malah tertawa kencang.
"Suka ya kalau dicium sama bunda hem.." kata Widya yang hanya dibalas dengan suara tawa Dara.
"Kita pulang ya, kasian mama pasti mencari kita saat dia bangun." kata Widya yang mengajak putrinya itu pulang.
Benar saja saat mereka sampai lydia sudah menunggu didepan pintu. sambil mukanya ditekuk.
"Kalian darimana sih?" kata Lydia saat melihat ibu dan anak itu baru datang.
"kita jalan-jalan ditaman mama." kata Widya.
"Kok gak bangunin aku sih?" kata Lydia.
"Aku kasian pasti kamu capek." kata Widya.
"Aku gak akan capek kalau buat kalian." kata Lydia sambil mengambil alih Dara dari gendongan Widya.
"Ih anak mama bau acem, mau mandi sama mama gak?" kata Lydia sambil menciumi Dara.
Sedangkan bayi itu hanya tertawa geli saat diciumi oleh mamanya.
"Ayo kita mandi biar bundamu mandi sendiri, siapa suruh ninggalin mama." kata lydia yang membawa Dara masuk ke dalam rumah sedangkan Widya hanya tersenyum melihat tingkah temannya itu.
Sejak ada Dara Lydia tak pernah bisa pisah dengan bayi cantik itu. Saat pulang kerja pun pasti dia akan langsung mencari keberadaan Dara.
__ADS_1