
paginya hendru sengaja berangkat lebih awal agar bisa bertemu dengan widya. hendru ingin berbicara berdua dengan widya tentang pernikahan mereka berdua.
sampai dibagasi hendru melihat motor yang digunakan widya masih berada disana berarti widya belum berangkat. hendru memutuskan menunggu widya. setelah 10 menit hendru menunggu terlihat widya berjalan ke bagasi dari rumah belakang.
" wid aku mau bicara berdua sama kamu?" kata hendru saat widya sudah ada didekatnya.
" memang mau bicara tentang apa den?" tanya widya.
" ayo berangkat dengan aku saja kita bicara didalam mobil saja karena ini sudah siang aku ada rapat dikantor." kata hendru sambil membukakan pintu mobil untuk widya.
widya masuk kedalam mobil hendru tampak dia ragu-ragu saat mau masuk kedalam mobil tersebut.
" gakpapa masuk saja aku gak gigit kok." kata hendru bercanda agar widya tidak merasa ragu.
setelah widya masuk hendru langsung menutup pintu dan berputar arah untuk masuk mobil. sampai didalam mobil hendru hanya menghera nafas karena dia melihat widya tampak ketakutan.
" pasang setbelt kamu wid bisa kan?" kata hendru akhirnya.
widya langsung memasang seltbelt tapi dia tidak bisa akhirnya terpaksa hendru membantu widya memasang seltbelt. saat hendru mendekatkan badannya terlihat widya salah tingkah.
'kalau salah tingkah gini kamu semakin gemesin.' batin hendru.
"aden mau apa?" tanya widya takut sambil memundurkan badannya.
" aku cuma mau membantu memasangkan setbelt saja. kenapa memang kamu pikir saya mau apa?" kata hendru.
"saya saya pikir aden mau." widya tak meneruskan perkataannya karena dia sudah salah sangka terhadap hendru.
hendru yang melihat pipi widya merah seperti tomat mengerti apa yang dipikir oleh widya. dia berusaha untuk menahan tertawa supaya widya tidak lebih malu lagi.
" kamu pikir saya mau mencium kamu?" tanya hendru dengan senyum yang menyeringai.
" anu itu den." kata widya sambil gugup.
" sudah ayo berangkat nanti kita telat." kata hendru akhirnya karena dia kasian melihat widya yang wajahnya sudah merah menahan malu.
hendru menjalankan mobilnya. tanpa mereka berdua sadari ada sepasang mata yang memdang mereka dari saat hendru membukakan pintu.
'mau apa hendru berangkat bareng dengan widya pa?" tanya mama naya.
"mungkin mereka mau membicarakan tentang perjodohan ma, lagian perjodohan ini terlalu mendadak bagi mereka." kata pak ikhsan.
" iya pa, lagian dengan berangkat bareng mereka bisa saling mengenal lebih dalam lagi." kata mama naya akhirnya.
didalam mobil mereka berdua merasa canggung. apalagi widya yang tak pernah sekalipun dekat dengan seorang pria.
dari dulu dia selalu menjauhi pria karena bagi dia yang penting terlebih dahulu adalah keluaraga dan impiannya. tetapi impiannya harus dia buang jauh jauh karena keadaan ekonomi keluaraganya yang gak memungkinkan dia lanjut kuliah.
ditambah lagi sekarang dia harus menikah dengan hendru apakah mungkin hendru akan mengizinkan widya kuliah?"
"kamu mikirin apa wid?" tanya hendru untuk mencairkan suasana.
" gak mikirin apa-apa den." jawab widya.
" bagaimana pendapat kamu tentang perjodohan kita?" tanya widya.
" jujur saja saya masih bingung dan gak tau harus berbuat apa?" jujur widya ke hendru.
" apa kamu di desa ada pria yang kamu sukai?" tanya hendru yang membuat widya menatap hendru.
" saya tidak pernah menyukai seorang pria dan tak pernah dekat dengan pria den." jawab widya jujur.
jawaban widya membuat hendru tersenyum dan berpikir kalau calon istrinya ini pasti sangat polos.
" kamu belum pernah pacaran sama sekali?" tanya hendru tidak percaya begitu saja.
" saya belum pernah pacaran den." jawab widya sambil menundukkan pandangannya.
" oke kalau aku setuju dengan perjodohan ini gimana?" tanya hendru.
__ADS_1
" saya ikut dengan keputusan aden saja." kata widya pasrah.
sedangkan hendru hanya menghera nafas dalam.
"baiklah kita menikah sesuai dengan keinginan keluargaku. apa kamu punya pertanyaan atau persyaratan?" tanya hendru ke widya.
" maaf den, apa saya boleh tetap bekerja dan nanti kalau saya sudah punya uang bolehkah saya meneruskan kuliah?" tanya widya.
" kamu mau kuliah wid?" tanya hendru.
" iya den saya mau kuliah untuk mengejar impian saya." kata widya mantap.
" mau kuliah jurusan desainer?" tanya hendru.
" iya den itu pun kalau aden setuju saya kuliah." kata widya.
" baiklah, aku setuju kamu kuliah aku akan membiayai kuliah kamu tapi ada satu syarat buat kamu?" kata hendru.
" syaratnya apa den?" kata widya.
" ubah panggilan den jadi mas atau apalah gitu. sebentar lagi kita kan mau nikah masak kamu panggil aku den." kata hendru yang membuat pipi widya menjadi merah lagi karena malu.
" tapi den.. eh mas maksudnya saya mau biayai kuliah saya sendiri." kata widya.
" kalau kamu sudah menikah kamu sudah menjadi tanggung jawab saya widya. kamu boleh bekerja dan kuliah tapi kamu harus tetap ingat tugas kamu sebagai istri saya." kata hendru.
" iya den." kata widya.
" mas widya panggil aku mas mulai sekarang kalau kamu salah panggil lagi aku akan kasih hukuman ke kamu." kata hendru
"memang apa hukumnya mas?" tanya widya.
" nanti kamu juga tau sendiri." kata hendru.
" sudah sampai turunlah nanti sore aku jemput jam 5" kata hendru.
widya langsung turun dari mobil setelah berpamitan dengan hendru. sampai dibukti sudah ada mbak tiara sama ida.
" pagi." jawab mereka berdua bersamaan.
" loh sari kemana mbak?" tanya widya.
" sari izin hari ini. ibunya sakit." kata mbak tiara.
setelah mendengar itu widya meletakan tasnya kemeja kerja yang mulai hari ini menjadi tempatnya untuk menyelesaikan pekerjaan. widya keluar untuk membantu ida membereskan butik dan merapikan di gantung dan etalase dalam butik.
sambil membantu merapikan pakaian widya juga tak lupa mengecek stok pakaian yang ada dibukti itu.
saat mereka fokus merapikan pakaian datang pelanggan yang kalau diperhatikan memang orang kaya tapi sifatnya yang angkut dan sombong itu yang membuat tak suka.
walaupun sifatnya seperti itu mereka harus tetap melayani dengan ramah karena dua adalah pembeli bukankah pembeli itu adalah raja.
" maaf non ada yang bisa sayang bantu?" tanya widya menghampiri dengan senyum yang ramah.
" aku mau gaun yang paling mahal disini tapi bagus." kata pelanggan itu.
" mari nonton saya akan perlihatkan beberapa baju untuk anda.
tetapi terlebih dahulu saya mau tanya gaun seperti apa dulu yang mau anda cari." kata widya dengan sopan.
" aku mau baju yang pas dibadan aku terus terlihat cantik saat aku kenakan dan semua mata yang melihatnya hanya tertuju padaku." kata pelanggan itu
sementara itu ida yang dibelakang mendengar ucapan pelanggan itu berkata ke mbak tiara kalau pelanggan itu sangat sombong. tapi segera ditegur oleh mbak tiara gak boleh ngomong kayak gitu.
widya memperlihatkan dua gaun yang menurutnya cocok untuk pelanggan tersebut.
" apa nona suka dengan salah satu gaun ini." kata widya sambil menunjukan 2 gaun itu.
pelanggan itu mengamati 2 gaun itu dan memutuskan untuk mencoba gaun yang widya perlihatkan. dia masuk keruangan ganti untuk mencoba kedua gaun itu. pelanggan itu memakai satu gaun dan menujukan apakah itu cocok dengannya.
__ADS_1
"apa ini cocok untukku?" tanya pelanggan itu.
" anda sudah cantik ditambah lagi dengan gaun ini anda semakin cantik dan saya yakin anda akan menjadi pusat perhatian." kata widya.
" baiklah aku akan coba dulu yang satunya lagi." kata pelanggan itu yang kembali masuk kedalam ruang ganti.
setelah beberapa menit didalam pelanggan itu keluar lagi untuk memperlihatkan penampilannya ke widya.
" bagaimana kalau yang ini?" sebenarnya dia lebih suka yang ini karena gaun itu menunjukan keseksian badannya hanya saja dia harus minta pendapat ke orang lain agar dia lebih yakin.
" ini juga bagus terlebih lagi ini menujukan betapa seksinya anda nona." kata widya.
" baiklah aku mau yang ini saja." sambil pelanggan itu masuk kedalam untuk melepaskan gaun itu.
setelah diberikan gaun itu oleh pelanggan widya langsung pergi kekasih untuk membungkus gaun itu.
" jadi semua 9juta ya nona." kata widya sambil tersenyum ramah.
" oke ini gesek pakek ini aja aku gak punya uang tunai." kata pelanggan itu.
" baik nona tunggu sebentar ya. ini nona gaun dan resi serta kartu nona." kata widya sambil menyerahkan gaun tersebut.
pelanggan itu langsung pergi gitu aja.
sedangkan diperusahaan hendru sudah banyak pekerjaan yang harus dia periksa dan tanda tangani.
hari ini dia sangat sibuk sebab sebentar lagi akhir bulan dia harus memeriksa semua raporan agar tidak terjadi kesalahan.
hendru fokus dengan kerjaan tanpa menyadari kalau ada orang masuk kedalam.
" eh bro serius amat?" kata Ryan.
"eh kamu yan ngapain kamu kesini?" tanya hendru.
" jangan bilang kamu lupa kalau malam ini kita harus menghadiri pernikahan Kevin." kata Ryan.
" ya ampun aku lupa. untuk kamu ingetin. oh ya yan kamu beliin aku kado untuk Kevin gimana pun dia tetap teman kita." kata hendru.
" aku sudah siapin kok. apa kalian belum bisa maafin Kevin?" tanya Ryan.
" aku sih bisa tapi yang lain gak tau." kata hendru sambil lanjut kembali memeriksa pekerjaannya.
" ya sudah kalau begitu aku mau kembali ke ruanganku. oh ya nanti kamu berangkat sendiri atau aku jemput?" tanya Ryan.
" aku bengkak sendiri." kata hendru.
" baiklah nanti pulang kerja aku serahkan undangan kekamu." kata Ryan.
sepeninggalan Ryan hendru berpikir bagaimana kalau dia ajak widya saya ke acara itu karena hendru tau teman-temannya pasti bawa pasangan masing-masing. hendru menelpon mama naya untuk meberitahu kalau dia mau ajak widya ke pesta pernikahan temannya.
" hallo ada apa ndru tumben telpon mama jam segini?" tanya mama naya yang keheranan.
" mama ada dimana sekarang?" tanya hendru.
" mama ada dibukti kenapa sayang?" tanya mama naya.
" gini ma nanti malam aku mau ngajak widya ke pesta pernikahan temanku." kata hendru.
" terus maksut kamu telpon mama kenapa?" tanya mama naya bingung.
"gini ma hendru minta tolong mama buat dandan widya." kata hendru.
" oke kalau itu serahin ke mama. memang acaranya jam berapa?" tanya mama naya.
" acaranya jam7 ma." kata hendru.
" baiklah sekarang mama mau cariin baju buat widya dulu." kata mama naya.
" baik ma. hendru mau lanjut kerja lagi." kata hendru sambil mematikan telpon.
__ADS_1
kebiasaan anak ini selalu memutuskan telpon duluan.