Asmara Gadis Desa

Asmara Gadis Desa
Bab 100


__ADS_3

Mereka berdua selesai bersiap-siap langsung turun ke bawah ternyata disana bi Saloh sedang menyuapi Dara. Widya lalu mengajak suaminya itu sarapan terlebih dahulu. Tak disangka Hendru malah ingin Widya memasakannya telur ceplok.


"Sayang aku pengen makan telur ceplok masakan kamu boleh?"kata Hendru.


"Boleh mas, tapi ini lauknya bagaimana?"kata Widya yang bingung dengan tingkah suaminya hari ini.


"Aku malas makan makanan ini, aku maunya kamu goreng telur cepok dan nanti aku mau makan pakai kecap."kata Hendru.


Widya terpaksa bangun untuk memasakkan telur ceplok untuk suaminya. Saat Widya sedang mengoreng telur terdengar suara Dara yang sedang menangis. Hendru langsung menghampiri putrinya itu.


"Ada apa bi?"tanya Hendru.


"Eh anu tuan ini tadi saya kelamaan nyuapin non Dara karena paketan yang datang."kata bi Saloh.


"Paketan untuk siapa bi?"tanya Hendru.


"Untuk tuan katanya, itu saya letakkan diatas meja."kata bi Saloh sambil meunjukan paketan itu.


Bi Saloh gak bisa meninggalkan Dara lagi karena takut jika bayi kecil itu akan menangis lagi. Hendru setelah mencium kening putrinya langsung berjalan ke meja yang ada paketan untuknya. Dia penasaran siapa yang telah mengirim paketan itu.


Saat Hendru mau membuka paket itu Widya datang menghampirinya dan duduk disamping suaminya itu. Dia penasaran apa isi paket itu


"Paket dari siapa mas?"tanya Widya.


"Aku juga gak tau sayang, ini mau aku buka siapa tau didalamnya ada nama pengirimnya."kata Hendru.


"Baiklah ayo buka sekarang aku juga penasaran."kata Widya.


Hendru kaget ternyata itu semua adalah baju-baju anak perempuan. Tapi Hendru bingung siapa yang mengirimkan baju-baju itu.


Saat mereka sedang kebingungan ada pesan masuk dari Jefri. Ternyata itu paketan dari Jefri., didalam isi surat itu dia marah dengan Hendru yang gak bilang jika Jefri sudah memiliki keponakan dari Hendru. Jefri sendiri tau semua ini dari Aziz.


"Dasar lemes si Aziz."kata Hendru.


"Memang ada apa dengan kak Aziz mas?"kata Widya.


"Ini semua ternyata paket kiriman dari Jefri dia marah sama aku karena aku gak bilang-bilang sama dia jika kita punya anak."kata Hendru.

__ADS_1


"Kok bisa kak Jefri gak tau?"kata Widya.


"Iya diakan setelah kita menikah waktu itu langsung terbang ke luar negeri untuk mengurusi perusahaan papanya sedangkan club punya dia yang ngelola orang kepercayaannya.


"oh begitu, ayo kita makan nanti telat lagi kamu rapatnya."kata Wdya.


Mereka berdua berjalan menuju meja makan untuk sarapan. Selesai sarapan mereka berangkat untuk kerja tapi terlebih dahulu mengantarkan Dara terlebih dahulu ke rumah mama Naya. Saat sampai sana ternyata papa Ikhsan akan pergi bekerja tapi dia urungkan saat melihat mobil Hendru.


"Kalian sudah datang, Ndru kamu kok pucat banget ada apa?"kata mama Naya yang melihat putranya pucat.


"Gak papa ma cuma masuk angin."kata Hendru.


"Masuk angin kok mau kerja gak istirahat aja sebaiknya."kata mama Naya.


"Aku bilangin gak bisa ma, katanya ada rapat hari ini. Makanya ini aku mau nitip Dara seharian, aku mau anterin mas Hendru seharian ini."kata Widya.


"Kamu yang nyetir sayang?"kata mama Naya.


"Iya ma, kalau mas hendru yang nyetir takutnya terjadi apa-apa lagi dijalan."kata Widya.


"Iya ma titip Dara ya, sayang kamu gak boleh rewel ya kasian oma nanti kalau rewel."kata Widya berbicara dengan putrinya sedangkan bayi itu hanya terkekeh.


"Kok kamu gak bilang kalau Dara mau dititipin disini?"kata papa Ikhsan.


"Memang papa mau apa jika tau cucu papa ada disini?"kata mama Naya.


"Aku mau bolos kerja, mau temani cucuku bermain."kata papa Ikhsan.


"Gak usah mengada-ada deh. Sana cepat berangkat biar cepat pulang."kata mama Naya.


"Kamu lihatkan sudah ada cucu papa dilupain."kata papa Ikhsan mengadu pada anak-anaknya.


"Hahaha pa terima saja lagian nanti malam mau gak dikasih jatah sama mama."kata Hendru.


"Ancam kamu Ndru."kata papa IKhsan.


"Papa sih, siapa suruh cemburu sama cucunya sendiri."kata Hendru.

__ADS_1


"Papa gak cemburu, papa cuma mau bermain sama cucu papa emang gak boleh?"kata papa IKhsan.


"Sudah-sudah kalian berangkat sana aku malas mendengar perdebatan kalian."kata mama Naya sambil membawa Dara masuk ke dalam rumah.


"Ma mau dibawa kemana anakku itu?"kata Hendru yang melihat jika mamanya mau masuk ke dalam rumah.


"Mama mau ajak Dara masuk kalian berangkat kerja sana."kata mama Naya tanpa berbalik kebelakang.


Mereka bertiga hanya terdiam, Widya langsung saja menarik tangan Hendru masuk kedalam mobil. Kalau tetap berdiam diri disana maka akan telat saat rapat.


"Pa kami berangkat duluan."kata Widya.


"Ya sudah papa juga mau berangkat."kata papa Ikhsan yang langsung masuk ke dalam mobilnya.


Mereka bertiga langsung berangkat degan kendaraan masing-masing ketempat kerja. Saat Hendru dan Widya sampai dihotel banyak pasang mata yang memandang mereka berdua.


Para karyawan ingin tau siapa yang sedang bersama bosnya itu. Ryan yang melihat Hendru dan Widya datang langsung menghampiri mereka.


"Selamat siang bos dan nyonya selamat datang."kata Ryan.


"Iya apa kita telat datangnya?"kata Widya.


"Tidak kok rapat akan diadakan sebentar lagi."kata Ryan..


Mereka bertiga langsung saja berjalan menuju lift untuk menuju ruang rapat. Sampai diatas hanya Widya yang berjalan kearah ruang kerja Hendru sedangkan kedua pria itu langsung saja menuju rang rapa ternyata saat Hendru sampai sana tinggal mennggu dia datangsaja.


Widya yang mulai bosan degan bermain ponselnya langsung saja berjalan ke meja kerja suaminya itu. Dia membuka lapotop dan mengutak-atik laptop Hendru.


Saat dia sedang mengutak atik laptop suaminya tiba-tiba ide mengambarnya muncul. Dia langsung saja membuka aplikasi untuk mengambar.


Saat baru saja membukanya ternyata didalam laptop itu ada banyak gambar-gambar rumah yang bagus walau terlihat sederhana diluar tapi cara penataan rumah itu sangat bagus. Widya penasaran siapa yang bikin gambar rumah itu.


Widya langsung membuka file baru agar gambarnya tidak tercampur dengan milik Hendru. Saat dia sedang fokus dengan mengambarnya tiba-tiba pintu dibuka dari luar. Widya pikir itu Hendru makanya dia diam saja, ternyata dugaanya salah itu bukan Hendru yang datang melainkan seorang perempuan yang sangat dia kenal.


"Ya ampun bu serius banget sampai aku datang gak diliat sama sekali."kata Lydia.


Widya yang mendengar kalau itu suara dari Lydia langsung mendongahkan kepalanya. Ternyata itu benar Lydia dia tak halu sinasi. Widya langsung berdiri dan menghampiri sahabtanya itu.

__ADS_1


__ADS_2