Asmara Gadis Desa

Asmara Gadis Desa
Bab 43


__ADS_3

Hendru melihat widya yang sedang serius mencari cincin yang cocok buatnya. Dari wajah widya terlihat kalau dia sedang kebingungan.


"Maaf pak ini perhiasan yang bapak pesan silahkan bapak cek dulu." kata karyawan toko.


"Baiklah saya cek dulu ya mbak." kata hendru menerima gelang itu dan memeriksanya.


"Sudah sesuai sama pesanan saya. Oh ya mbak apa saya boleh minta tolong lagi?" kata hendru.


"Bisa pak, Bapak mau minta tolong apa ya?" tanya karyawan toko itu.


"Gini mbak, mbak liat perempuan yang disana." kata hendru sambil menunjukan jarinya ke arah widya.


"Iya pak saya melihatnya. Lalu apa yang bisa saya bantu untuk bapak?" kata karyawan itu.


"Bisakah anda bantu saya memilihkan cincin pernikahan yang cocok untuk kami." kata hendru.


"Baik pak kalau begitu mari kita kesana." kata karyawan toko.


Mereka menuju tempat widya yang masih kebingungan mencari cincin. widya bukan bingung karena gak ada yang bagus tapi dia berpikir kalau cincin disini pasti harganya mahal.


"Ada yang bisa saya bantu mbak?" tanya karyawan toko.


"Mbak ada gak cincin yang sederhana tapi tetap cantik kalau dipandang terus harganya jangan yang mahal-mahal ya." kata widya membuat hendru tersenyum.


"Memang kenapa kalau cincin itu mahal wi?" tanya hendru membuat widya terkejut.


"Mas sejak kapan disini?" tanya widya.


"Dari tadi waktu kamu bilang sama mbaknya nyuruh cari cincin yang murah." kata hendru membuat widya menjadi salah tingkah.


Hendru yang tau hanya tersenyum dan mengelus rambut widya dengan sayang membuat karyawan yang didepan mereka merasa iri.


"Mas apa sih malu tau?" kata widya.


"Malu kenapa emangnya?" kata hendru.


"Dah ah gak usah godain saya bisa gak." kata widya.

__ADS_1


"Gak bisa kamu gemesin kalau pipi kamu merah gini." kata hendru.


Karena gak ingin terlalu lama melihat drama romantis didepannya itu. Karyawan itu bertanya kepada hendru.


"Maaf pak kalau saya menganggu. Jadi mau cari cincin yang gimana ya?" tanya karyawan toko itu membuat widya semakin malu.


"Hem kamu mau cincin yang kayak gimana?" tanya hendru.


"Aku mau yang sederhana aja mas tapi gak menganggu saat dibuat kerja.


"Ini ada dua cincin mungkin anda suka." kata karyawan itu menunjukan ke widya dan hendru cincin yang dimaksut




"Gimana kamu suka yang mana?" kata hendru.


"Dua duanya bagus mas tapi aku suka yang ini." kata widya.


"Ya sudah kalau begitu kami pilih yang ini aja mbak." kata hendru sambil menyodorkan cincin itu.


"Oh ya pak mau bayar pakai tunai atau kerdit?" tanya karyawan lagi.


"ini aku bayar pakai atm." kata hendru mengambil dompet lalu memberikan atm ke karyawan.


"Apa bapak ada kartu member?" tanya karyawan itu.


"Ada ini kartu saya." kata hendru menyerahkan kartu member itu.


"Kalau begitu saya kembalikan atmnya saya ambil kartu membernya saja." kata karyawan itu menyerahkan atm yang tadi dikasih ke karywan itu.


"Baiklah." kata hendru.


"Silahkan bapak dan ibu tunggu sebentar." kata karyawan toko yang langsung berjalan menuju kasir untuk memproses pembayaran dan mengemas cincin yang dibeli oleh hendru.


"Mas kok atmnya dikembalikan terus yang diambil tadi apa?" kata widya.

__ADS_1


"Oh itu tadi juga kartu khusus untuk pembayaran tapi hanya bisa digunakan kalau kita membeli sesuatu ditoko ini." kata hendru.


"Ada ya kartu yang kayak gitu." kata widya yang baru pertama kali mengetahui kartu itu.


"Kamu mau biar aku bikinin?" kata hendru.


"Gak ah. Pasti tiap bulannya bayar mahal mending nabung daripada buat bayar kayak gitu. Lagian belum tentu kita beli perhiasan." kata widya.


"Baiklah kalau itu mau kamu terserah aja mas ikut apa mau kamu." kata hendru.


"Habis ini mau kemana lagi mas?" tanya widya.


"Habis ini kita pulang buat istirahat dan kemas-kemas yang mau dibawa pulang kerumah kamu." kata hendru.


"Baiklah kalau gitu berarti tinggal nunggu cincin doang terus pulang." kata widya.


"Kenapa kamu mau jalan-jalan dulu?" tanya hendru.


"Gak aku mau pulang aja. Udah gak sabar nunggu bisa." kata widya.


"Gak sabar mau nikah sama aku?" tanya hendru.


"Ih geer banget aku gak sabar ketemu bapak, ibu sama ali." kata widya dengan wajah yang cerianya.


Hendru yang melihat wajah ceria widya merasa bahagia. Dia berharap bisa terus membuat widya bahagia seperti ini tak ada kesedihan yang menghampiri.


"Pak ini cincinnya." kata karyawan itu memberikan cincin dan juga kartu member yang diberikan oleh hendru tadi.


"Makasih ya mbak." kata hendru langsung berjalan keluar.


"Terimakasih pak jangan lupa untuk datang lagi." kata karyawan toko yang bertugas menjaga pintu.


Hendru hanya menanggukan kepalanya dan widya tersenyum manis. Sepeninggalan dari toko itu karyawan toko berbisik-bisik.


"Pantes aja bucin senyum mbaknya manis." kata karyawan 1.


"Bukan hanya manis tapi mbaknya juga sederhana banget padahal mereka orang kaya lo." kata karyawan 2.

__ADS_1


Hendru dan widya keluar dari mall itu menuju parkiran lalu langsung pulang ke rumah gak mampir kemana-mana lagi.


__ADS_2