
Keesokan paginya entah kenapa perut Hendru tak enak dia mual-mual. Hendru langsung bangun dan berlari menuju kamar mandi untuk muntah tapi mutahannya hanya air saja.
Widya yang mendengar suara Hendru muntah-muntah langsung saja terbangun dan menyusul suaminya itu ke kamar mandi. Dia langsung mengurut tengkuk Hendru agar bisa mengulangi mualnya. Hendru benar-benar lemas setelah itu, seandainya Widya tak menopangnya sekarang mungkin dia sudah duduk dibawah.
Widya yang tau jika suaminya lemas langsung saja membopong suaminya untuk kembali ke ranjang agar dia bisa berbaring. Hendru bingung kenapa pagi ini dia bisa masuk angin padahal seingatnya dia gak melakukan aktifitas dimalam hari.
"Mas kamu kenapa?"tanya Widya yang kasian melihat suaminya itu berwajah pucat.
"Aku kayaknya masuk angin deh sayang."kata Hendru.
"Mau minum obat atau mau aku keroki?"tanya Widya yang dulu jika bapaknya masuk angin pasti dia minta kerok Widya.
"Aku minum obat aja deh sayang kayaknya."kata Hendru.
"Ya sudah sebentar aku cariin dulu, kalau gak ada obat aku bikini wedang jahe aja mau?"tanya Widya.
"Iya sayang."kata Hendru sambil berlari lagi ke kamar mandi.
Widya yang melihat Hendru berlari ke kamar mandi langsung menyusul. Saat mereka baru saja sampai diranjang lagi Dara bangung dari tidurnya sambil menangis.
"Mas aku mau gendong Dara dulu ya kasian dia nangis."kata Widya.
Hendru hanya menganggukan kepalanya saja bukannya dia gak sayang dengan putrinya. Tapi hari ini badannya benar-benar lemas. Jika diizinkan hari ini dia diperhatikan oleh istrinya tanpa ada satu orangpun yang menganggunya termasuk Putrinya sendiri sekalipun.
Widya langsung menghampiri Dara saat suaminya sudah menganggukan kepalanya. Widya langsung memeriksa pampers Dara sudah penuh apa belum. Pantas saja gadis kecil itu menangis ternyata dia sedang pup. Hendru yang melihat istrinya tak segera mengendon anaknya pun bingung langsung saja bertanya.
"Sayang kok gak kamu gendong Dara kasian nangis itu."kata Hendru seandainya dia gak lemas pasti sudah dia gendong putri kecilnya itu
"Biar dia selesaiin dulu pupnya, biar aku langsung memandikannya."kata Widya.
"Kalau gitu biar aku siapkan air hangatnya buat Dara."kata Hendru yang berusaha bangun dari ranjang tapi saat dia baru saja duduk kepalanya pusing banget.
"Biar aku saja mas yang nyiapin airnya, aku nitip Dara sebentar ya."kata Widya ke Hendru.
Widya tak tega melihat suaminya itu berusaha untuk berdiri sedangkan daritadi suaminya itu muntah-muntah terus. Widya langsung masuk ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat buat Dara.
Baru saja Widya tinggal Dara sudah menangis. Hendru yang tak tega langsung saja berlanjak dari tidurnya pelan-pelan dia berjalan ke box putrinya. Saat sampai didekat box putrinya Hendru hampiri saja limbung untung saja di langsung pegangan box milik Dara sehingga dia tak jadi jatuh.
"Aduh anak ayah kok nangis kenapa risih ya karena bunda gak segera bersihin pupnya Dara?"kata Hendru.
__ADS_1
Dara yang melihat Hendru langsung saja berhenti menangis. Dia malah terkekeh saat ayahnya bertanya padanya. Hendru yang melihat tawa Dara langsung tersenyum. Dia merutuki dirinya sendiri kaena tadi sempat berpikir mau menitipkan Dara ke bi saloh agar Widya fokus dengan dirinya.
Akhirnya Hendru bermain-main dengan Dara sambil menunggu istrinya itu menyiapkan air buat Dara mandi. Widya yang baru keluar dari kamar mandi langsung terkejut karena Hendru sedang bermain dengan dara padahal dia tadi sedang lemas. Widya langsung mnghampiri suami dan putrinya.
"Kamu kok malah kesini sih mas?"tanya Widya.
"Memang kenapa aku gak boleh bermain sama putriku?"kata Hendru entah kenapa kesal denngan pertanyaan istrinya itu.
"Bukan begitu mas, maskan lagi sakit aku takut terjadi apa-apa sama kamu."kata Widya yang khawatir dengan kesehatan Hendru.
"Ya sudah kamu mandiin Dara, aku mau berbaring lagi diranjang."kata Hendru dengan nada dinginnya.
Widya yang mendapat perkataan dingin dari Hendru langsung bingung ada apa dengan suaminya itu. Dia tak mau ambil pusing lebih baik dia memandikan Dara lebih dulu baru setelah itu dia minta tolong bi Saloh untuk merawat Dara agar dia bisa merawat Hendru.
Hendru yang marah dicuekin oleh istrinya langsung saja bertambah kesal. Hendru pikir istrinya itu tak tau jika dia sedang kesal. Padahal Widya ingin mendahulukan putrinya dulu baru nanti bisa bebas merawat Hendru tanpa ada gangguan.
Widya yang sudah memandikan dan memakaikan baju Dar langsung membawa putrinya itu keluar. Saat melihat Widya dan juga Dara keluar Hendru semakin kesal. Dia langsung membaringkan tubuhnya diranjang.
"Bi aku boleh minta tolong sama kamu gak?"kata Widya yang menemui bi Saloh.
"Mau minta tolong apa bu?"kata bi Saloh.
"Bibi nanti lagi bersih-bersihnya sekarang aku minta tolong jagain Dara dulu. Saya harus merawat mas Hendru yang sedang sakit."kata Widya.
"Mauk angin bi, aku mau bikinin dia wedang jahe buat mas Hendru. Sekalian nitip jagain Dara ya bi."kata Widya.
"Ayo sini non Dara ikut sama bibi, bir bundanya bisa ngerawat ayahnya."kata bi Saloh mengambil Dara dari gendongan Widya.
Bi Saloh langsung saja mengajak Dara main ke ruang bermain yang ada diruang tengah. Widya langsung saja membuat weda jahe setelah itu dia naik ke atas. Sampai dikamarnya ternyata Hendru tidur dengan memunggunginya. Widya langsung saja mendekati Hendru ntuk memerikan minuman yang telah dia buat.
"Mas mas Hendru bangun dulu ini minum dulu agar enakan badannya."kata Widya membangunkan suaminya.
Hendru walaupun sedang kesal dengan Widya tapi saat mendengar suara lembut istrinya itu dia tak bisa menolak. Dia langsung bangun dan setelah itu meminum minuman yang sudah dibuatkan oleh istrinya.
"Mas suda telepon Ryan belum?"kata Widya.
"Nelepon Ryan buat apa?"kata Hendru.
"Emang mas mau masuk kerja hari ini?"kata Widya.
__ADS_1
Baru saja Widya menyelesaikan ucapannya terdengar kalau ponsel berbunyi yang menandakan kalau ada panggilan masuk. Hendru langsung mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang meneleponnya.
[Hallo ada apa jam segini sudah menelponku?]
[Kamu gak lupa kan jika hari ini kita ada meeting untuk membahas tentang hotel baru?]
[Ya ampin aku lupa, makasih sudah mengingatkanku. Jam berapa kita ada meeting?]
[Jam 10.]
[Oke 1 jam lagi aku berangkat.]
[Baiklah kalau begitu aku tutup panggilannya.]
[Hmmm.]
Widya yang tau kalau suaminya mau kerja langsung saja bertanya saat suaminya sudah mematikan panggilannya.
"Mas mau berangkat kerja hai ini?"tanya Widya.
"Iya ada meeting nanti jam 10. Kamu nanti jadi bertemu dengan Jefri?"kata Hendru.
"Mas emang kuat kalau dibuat kerja badannya. Iya nanti aku jadi ketemu sama dia."kata Widya yang khawatir jika suaminya itu berangkat kerja.
"Kalau kita ketemu sama Jefrinya sore bisa gak?"kata Hendru.
"Nanti aku bilang sama dia, aku mau siap-siap dulu kalau kayak gitu. Aku ikut mas kerja boleh biar hari ini aku jadi supir mas seharian?"kata Widya.
"Lalu Dara bagaimana kalau kita tinggal?"kata Hendru yang khawatir dengan Dara.
"Kita antar Dara ke rumah mama dulu baru berangkat ke kantor."kata Widya.
"Ya sudah kalau gitu aku tenang, aku pikir kamu akan bawa Dara ke kantor kasian pasti capek dia nanti."kata Hendru yang gak mau putrinya kecapekaan.
"Emang kalau dirumah mama Daragak akan capek kalau diajak main sama mama papa?"kata Widya.
"Capek pasti tapikan capknya dia bebas merangkak kemana saja. Kalau ikut kita pasti dia akan banyak berada didalam mobil. Dia kalau dikantor juga gak bebas kalau ada karyawan yang keluar masuk ruanganku. Dikampus pasti juga sama."kata Hendru.
"Mas mau ke kampus juga hari ini?"tanya Widya.
__ADS_1
"Iya habis rapat aku mau langsung ke kampus ada satu kelas yang aku harus ajar hari ini"kata Widya.
"Ya sudah kalau kayak gitu aku siap-siap dulu, mas mandi dlu gih baru setelah itu aku."kata Widya.