
Saat hendru ingin pulang bersama dengan ryan ada panggilan masuk dari no tak dikenal. hendru mengangkat pangilan itu karena sudah berkali-kali menelponnya. Dia penasaran siapa yang menelpon malam-malam begini.
[Hallo siapa ini?]
[Hallo ndru ini aku...]
[Mau apa kamu telpon malam-malam begini?]
[Ndru tolong aku butuh pekerjaan. Kamu pasti sudah tau kalau perusahaan kevin akan bangkrutkan?]
[Lalu apa hubungannya denganku?]
[Aku mau minta bantuan kamu, tolong beli aku pekerjaan karena hanya kamu yang bisa membantuku.]
[Liat saja besok aku akan tanya HRD apa masih membutuhkan karyawan lagi nanti aku akan kasih tau kalau ada.]
[Makasih ndru, aku sangat berharap padamu.]
[Gak ada yang penting lagi kan. Aku tutup telponnya sekarang.]
Hendru tanpa menunggu jawaban Nessa langsung mematikan panggilannya. Hendru fokus lagi membaca dokumen yang ada ditabletnya yang tadi dikirim oleh rina.
"Siapa ndru?" tanya ryan.
"Nessa." kata hendru singkat membuat ryan terkejut.
"Ngapain ular itu telpon kamu?" kata ryan.
"Minta tolong masukin dia ke perusahaan kita." kata hendru.
"Apa kamu akan memasukkannya ke perusahaan?" kata ryan.
"Kayaknya iya tapi carikan yang jauh dari ruanganku." kata hendru.
"Kamu terlalu baik, hati-hati saja sama tu perempuan ular." kata ryan mengingatkan.
Mereka berdua mengakhiri pembicara setelah berada didepan rumah hendru. Hendru menyuruh ryan membawa mobilnya pulang.
Hendru masuk rumah dengan keadaan sepi. Hendru langsung naik tangga menuju kamarnya. Saat masuk dia melihat widya yang sedang sibuk dengan buku gambar tak mendengar kalau dia masuk.
"Asalamualikum..." kata hendru mengagetkan widya.
"Walaikumsalam... mas udah pulang?" kata widya.
"Iya maaf ya tadi aku gak bisa jemput kamu soalnya ada meeting mendadak." kata hendru mendekat lalu duduk disebelah widya.
"Gak papa mas, mas sudah makan belum?" tanya widya.
"Sudah aku sudah makan tadi waktu meeting." kata hendru.
"Kok aku gak denger suara mobil masuk garasi?" kata widya.
__ADS_1
"Mobilku aku suruh ryan bawa pulang, mobilnya dia kan ditinggal dikantor." kata hendru.
"Oh ya sudah mas mandi dulu sana!" kata widya.
"Iya mas mandi dulu, aku bisa minta tolong bikinin aku kopi gak soalnya aku mau memeriksa tugas mahasisawa yang aku ajar." kata hendru.
"Oke siap, mas mandi gih bau." kata widya.
"Mana ada bau, wangi ni coba cium!" kata hendru menyuruh widya mencium badannya sambil mendekatkan badan hendru ke widya.
"Iya iya mas gak bau sana cepetan mandi." kata widya sambil mendorong badan hendru supaya memjauh.
Hendru masuk kekamar mandi dan widya mempersiapkan baju hendru. Dia letakkan diranjang lalu widya berjalan keluar kamar untuk membikinkan hendru kopi.
"Ma lagi apa?" kata widya yang melihat mama naya ada didapur.
"Ini mama bikin teh, mau mama bawa ke ruang keluarga nonton tv. kamu mau ngapain?" tanya mama naya.
"Loh papa gak dirumah ma? Ini aku mau bikinin kopi buat mas hendru." kata widya.
"papa baru aja berangkat ke rumah sakit ada operasi mendadak. Hendru sudah pulang? Dia gak makan kok kamu hanya bikinin dia kopi?" kata mama naya.
"Mas hendru sudah pulang sekarang lagi mandi. tadi katanya udah makan cuma nyuruh aku bikin kopi aja." kata widya.
"Ya sudah mama tinggal dulu. Dikulkas ada kue kamu bawa kasih ke hendru buat cemilan." kata mama naya.
"Iya ma." kata widya.
Saat widya masuk hendru sedang memeriksa gambar yang dibuat oleh widya. Hendru kagum dengan gambar yang dibikin oleh istrinya itu. Pantas saja banyak yang mengagumi rancangan milik widya memang bagus.
"Mas ini kopinya. Loh katanya mau melihat tugas mahasiswanya mas hendru tapi kok malah liat buku gambarku sih?" kata widya sambil meletakkan kopi dan kue dimeja kecil dekat mereka duduk.
"Sini duduk, aku mau tanya sesuatu sama kamu." kata hendru sambil menepuk tempat disebelahnya.
"Memang mas mau tanya apa?" kata widya.
"Darimana kamu belajar memdesain gaun?" kata hendru.
"Gak ada yang ngajarin. aku hanya menuangkan ide yang melintas dipikiranku." kata widya.
"Pintar banget istriku ini, aku bangga sama kamu." kata widya.
"Ngomong apa sih mas, aku malah lebih kagum sama mas karena bisa kerja didua bidang sekaligus." kata widya.
"Oke, kamu lanjut mengambarnya aku mau ambil memeriksa tugas mahasiswa bentar." kata hendru sambil berdiri mengambil tugas mahasiswanya yang dia taruh diatas meja.
Dia mau mengerjakan tugas-tugas itu disamping istrinya. Dia mengamati istrinya saat mengambar kelihatan sekali kalau istrinya itu sangat cantik.
Saat hendru masih memandangi widya terdengar suara hp widya berbunyi. widya langsung mengankatnya.
[Hallo Asalamualaikum...]
__ADS_1
[Walaikumsalam... maaf wid apa aku menganggumu?]
[Gak kok ya. Ada apa kok telpon?]
[Aku cuma mau bilang, besok bisa antar aku cari hadiah buat ica gak?]
[Memang ica kenapa ya?]
[Besokkan ulang tahun dia. rencananya aku mau bikin kejutan dengan keluarganya.]
[Bentar aku tanya suamiku dulu?]
"Mas, besok aku boleh gak pergi ke mall untuk membeli hadiah temanku besok ada yang ulang tahun?" kata widya.
"Temanmu perempuan apa pria yang akan pergi ke mall?" kata hendru.
"Pria namanya arya, Ini sekarang aku sedang telponan dengannya." kata widya.
"Kasih aku hpmu aku mau bicara sama pria itu!" kata hendru. widya langsung memberikan hpnya ke hendru.
[Hallo.. ini aku hendru suami widya.]
[Hallo... kak saya mau minta izin untuk mengajak widya pergi ke mall sekalian ngasih kejutan ke ruamah teman saya. Apa kakak mengizinkannya?]
[Aku izinkan, tapi harus pulang jam 7 malam gak boleh lebih dari itu. kalau pulang tolong antarkan dia sampai rumah.]
[Iya kak, aku akan antar widya sampai rumah dengan selamat.]
[Baiklah aku kasih hpnya ke widya.]
[Eh gak usah kak, saya tadi cuma ngomong itu doang.]
Setelah mematikan panggilan dari arya hendru langsung memberikan hpnya ke widya lagi. Tapi widya tak menggubris dia malah sibuk dengan gambarnya membuat hendru kesal.
"Apa mengambar itu penting banget buat kamu wid?" tanya hendru.
"Penting mas, rasanya dengan membuat pakaian dan pakaian kita dipakai oleh orang lain rasanya puas banget." kata widya.
"Kamu gak mau adakan resepsi disini wid?" kata hendru.
"Teeserah mas hendru saja aku ikut." kata widya.
"Ya sudah nanti bilang sama mama bair dia yang mempersipkannya." kata hendru.
"Emang gak ngerepotin mama mas?" kata widya.
"Gak pasti mama seneng banget, kamu mau pakai gaun rancangan kamu sendiri atau rancangan mama?" kata hendru.
"Dua duanya boleh mas?" kata widya.
"Oke aku akan bilang sama mama, aku gak sabar melihat gaun rancangan kamu dan mama." kata hendru.
__ADS_1