
Widya janji tak akan mengulangi kesalahannya meninggalkan Hendru karena dia akui jika dia tak bisa hidup tanpa Widya disisinya. Apalagi sekarang mama mertuanya sudah mau menerima dia kembali.
"Lah kok malah kamu diam sih nduk."kata bu Imah menyadarkan putrinya.
"Ini salahku bu yang tak mengikti nasehat ibu dulu. Kalau ada masalah harus diselesaikan dengan kepala dingin bukan malah pergi gitu aja."kata Widya.
"Kamu jadikan yang kemarin sebagai pelajaran dan ibu mohon jangan lakukan itu lagi apalagi sekarang kalian ada Dara diantara kalian. Mulai sekarag kalau ada apa-apa kamu harus terlebih dahulu memikirkan Dara."kata bu Imah.
"Iya bu, aku akan ingat nasehat ibu ini."kata Widya.
"Kamu kasih makan apa Dara?"kata bu Imah.
"Sayur bayam dan telur bu."kata Widya.
"Apa Dara mau makan cuma dengan itu."kata bu Imah yang khawatir jika cucunya itu tak suka dengan makanan yang dibuat oleh Widya.
"Dara apa aja masuk bu, makannya dia jadi gebrot kayak gitu tapi satu yang gak bisa dia makan udang."kata Widya.
"Siapa yang gak bisa makan udang?"tanya Hendru yang baru saja masuk dapur dan mendengar kalau istrinya bilang tak makan udang.
"Putri kamu mas."kata Widya.
"Dara punya alergi udang kayak mama?"kata Hendru.
"Jadi mama alergi udang mas, untung saja kemarin waktu mama kerumah aku gak jadi masak udang."kata Widya.
"Iya mama sama Ricky yang alergi udang."kata Hendru
"Ya sudah kalau kayak gitu berarti aku harus ingat kalau Ricky menginap dirumah."kata Widya.
"Iya, itu sudah selesai masaknya?"tanya Hendru.
"Sudah mas tinggal nyuapin Dara aja."kata Widya.
"Ya sudah biar aku aja yang nyuapin kamu mandi sana."kata Hendru.
"Gak usah le biar ibu yang nyuapin Dara kamu istirahat saja. Bukannya kalian mau pulang sore ini?"kata bu Imah.
"Gak papa bu kalau ibu yang nyuapin gak merepotkan ibu?"kata Hendru.
"Gak papa, ibu pasti akan membutuhkan waktu lama agar bisa menyuapi cucu ibu. Kalian pasti akan lama kalau mau kesini lagi."kata bu Imah.
__ADS_1
"Apa ibu mau ikut kami tinggal dijakarta?"kata Hendru.
"Terus bapakmu dan adikmu gimana? Ibu gak bisa ninggalin mereka berdua. Kalian saja kalau libur sering-sering kesini."kata bu Imah.
"Insyaallah kalau itu, doain saja semuanya berjalan lancar sehingga bisa sering-sering kesini kalau libur."kata Hendru.
"Kalau itu pasti ibu doakan. Ya sudah ayo kedepan kasian cucu ibu pasti sudah kelaparan. Kamu juga cepat mandi."kata bu Imah menyuruh putrinya untuk mandi.
Mereka bertiga langsung saja kedepan ternyata disana Ali sedang menjadi kuda buat Dara membuat bayi kecil itu tertawa riang walaupun badannya masih dipegangi oleh kakeknya.
"Kalian sedang ngapain? Nduk ayo makan dulu"kata bu Imah.
Dara langsung saja berhnti tertawa dan merentangkan tangannya saat melihat ayahnya. Hendru yang tau langsung saja mengendong putrinya itu.
"Apa Dara kangen sama ayah?"kata Hendru sambil menciumi pipi putrinya itu.
Dara yang diciumi oleh Hendru hanya tertawa geli. Kedua orangtua Widya yang melihat kedekatan cucu dan menantunya sedekat itu langsung tersenyum bahagia.
"Ayo nduk makan dulu biar mbah yang suapin."kata bu Imah.
"Gak papa ibu suapin aja Dara sambil aku gendong."kata Hendru.
"Emang gak papa nanti baju kamu kotor le?"kata bu Imah.
"Ibu kok malah ngelamun kasian itu Dara sudah mau makan."kata pak Hasan.
"Eh iya maaf ya nduk, mbah ingat waktu bundamu masih kecil dulu. Dia sama kayak kamu yang gak bisa lepas dari ayahnya."kata bu Imah.
"Emang benar widya kayak gini pak?"kata Hendu bertanya pada pak Hasan.
" Iya Widya dulu benar-benar gak bisa ditinggal sama sekali. kalau bapak berangkat kerja harus sembunyi-sembunyi."kata pak Hasan.
"Untung saja Dara gak bigitu pak, dia masih bisa ditinggal."kata Hendru
"Belum Ndru, kalau Dara besar sedikit pasti sama kayak bundanya."kata pak Hasan.
"apa yang sama kayak aku pak?"kata Widya yang baru saja bergabung dan mendengar perkataan bapaknya.
"Dara nanti kayak kamu yang gak bisa ditnggal oleh ayahnya."kata pak Hasan.
"Bapak benar kayaknya mas, soalnya sejak bertemu kamu dia gak pernah bisa lepas dari kamu."kata Widya.
__ADS_1
"Gak papa nanti biar aku ajak dia ke kampus."kaa Hendru.
"Lalu kalau kamu ngajar Dara mau kamu ajak."kata Widya.
"Iya aku akan ajak dia mengajar."kata Hendru santai.
Bu Imah sangat senang karena cucunya ini sangat lahap saat memakan makanannya. Widya yang tau kalau makanan anaknya akan habis dia langsung bangun untuk mengambil air putih untuknya.
Saat melihat Widya membawa botol minum yang selalu buat minum,. Dara langsung saja mengerakkan tangannya untuk meminta botol itu. Hendru yang melihat langsung saja mendekatkan Dara kearah Widya untuk mengambil botol air itu.
Saat sudah dekat dia langsung saja mengambil botol untuk dia minum. Melihat tingkah laku Dara yang mengemaskan itu membuat mereka semua tertawa.
"Kamu akan pulang sore ini nak?"kata pak Hasan.
"Iya pak, besok saya ada kelas mengajar dikampus."kata Hendru.
"Mas nanti jika aku kuliah bisa gak kuliah ditempat mas ngajar?"kata Ali.
"Bisa asal kamu berusaha masuk sendiri dan tak perlu ada koneksi didalamnya."kata Widya.
"Yah mbak gak asik, aku kan gak sepintar mbak."kata Ali.
"Makanya kamu harus berusaha lebih keras lagi, masak kalah sama nIna."kata Widya.
"Mbak jangan samain aku sama Nina aku pasti kalah jauh. Kalian berdua itu sama-sama pintar."kata Ali.
"Mas yakin kamu bisa asal kamu serius belajarnya."kata Hendru.
"Aku gak percaya diri mas."kata Ali.
"Kamu ta gak kunci keberhasilan itu adalah percaya diri. Kalau kamu gak percaya diri bagaimana kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau."kata Hendru
"Iya benar apa kata masmu, kamu harus percaya diri dan punya kemauan kuat agar kamu bisa berhasil mencapai apa yang kamu impikan."kata pak Hasan.
"Iya iya aku akan belajar dengan rajin agar aku bisa seperti kalian."kata li.
"Memang kamu ingin jadi apa sih Li?"kata Hendru.
"Aku ingin jadi orang yang sukses kayak kalian."kata Ali.
"Emang kamu mau buka usaha gitu."kata Hendru.
__ADS_1
"Iya kak aku mau membangun desa ini agar lebih maju."kata Ali.