
Hendru yang sudah selesai memeriksa tugas mahasiswanya dia langsung bersiap untuk berangkat ke surabaya menemui istri dan anaknya.
Dalam perjalanan Hendru berhenti sebentar disebuah toko untuk memberikan Dara sebuah boneka kecil yang bisa dibawa kemana-mana.
Hendru juga tak lupa membawa bekal untuk diperjalan. Sedangkan Widya mempersiapkan makan malam untuk mereka.
"Wid kamu gak mau ikut makan?" tanya Lydia yang makan sendiri dimeja makan.
"Gak, kamu makan duluan aja." kata Widya.
"Nungguin kak Hendru ya? Emang dia sampai dimana sekarang?" kata Lydia.
"Gak tau, tadi bilang mau selesaiin pekerjaannya dulu. Biar besok bisa jalan-jalan sepuasnya." kata Widya.
"Wid udah siap pindah ke jakarta lagi?" tanya Lydia.
"Aku udah siap, tapi aku gak tega ningglin kamu sendirian." kata Widya.
"Aku udah biasa kali sendirian. Terus kamu mau bikin kejutan gimana?"tanya lydia.
"Kamu tau mas Hendru tinggal dimana sekarang?" kata Widya.
"Loh bukannya dia tinggal sama mertua kamu?" kata Lydia yang gak tau menahu kalau Hendru tinggal sendiri diapartemen.
"Mas Hemdru bilang sejak aku pergi dari rumah dia pindah ke apartemen." kata Widya.
"Gampang itu mah, nanti aku minta tolong papa buat cari alamatnya." kata Lydia.
"Ly, aku heran deh kamu sama Rehan tu ada hubungan apa sih sebenarnya?" tanya WIdya.
"Aku gak ada hubungan apa-apa sama dia. Memang kenapa kok tumben tanya begitu?" kata Lydia.
"Tadi dia tanya-tanya tentang kamu. Dia gak percaya kalau Dara itu anak aku. Dia juga tanya apa kamu dulu batal menikah karena setaunya kamu mau menikah. Yang jadi pertanyaanku kapan kamu mau nikah?" kata Widya membuat Lydia terkejut.
"Udahlah dia sok tau aja itu." kata Lydia.
"Ly aku serius nanya ini." kata Widya.
"Baiklah aku akan cerita tapi secara garis besarnya aja ya?" kata Lydia.
"OKe, aku gak sabar." kata Widya.
"Aku cuci piring dulu, kamu tungguin diruang tv gih." kata Lydia.
Widya langsung berjalan keruang tv, dia juga tak lupa mengambil boneka pemberian Hendru untuk Dara karena Dara tak akan rewel jika sudah bermain dengan boneka itu.
Lydia datang keruang tv dengan membawa cemilan dan juga teh. Dara yang melihat mamanya membawa camilan langsung merangkak menghampiri mamanya itu. Kedua perempuan itu tersenyum, Lydia langsung mengangkat bayi perempuan itu.
"Anak mama mau makan camilan hemm." kata Lydia sambil mencium perut Dara yang membuat dia kegelian dan tersenyum senan.
"Ini buat kamu." kata Lydia memberi satu bungkus cemilan tanpa membukanya. Dara langsung bermain dengan camilan itu.
"Ayo cerita Dara sudah anteng sekarang." kata Widya.
"Bentar dulu, kamu gak sabaran banget sih." kata Lydia.
"Iya aku ingin tau aja, kan selama ini kamu tau ceritaku dengan mas Hendru tapi aku gak tau tentang kehidupan kamu." kata Widya membuat Lydia meringis, benar apa yang dikatakan oleh WIdya karena Lydia lebih suka memendam perasaanya sendiri.
"Sebenarnya aku dulu memang sempat dekat sama Rehan. Kami hampir aja pacaran waktu itu. Tapi saat aku sama teman-teman kerumah Rehan, mamanya memintaku untuk menjauhi Rehan." kata Lydia.
"Apa alasan beliau menyuruhmu menjauhi Rehan?" tanya Widya.
"Dia bilang aku gak pantas buat Rehan. Aku gak selevel dengan keluarganya. Waktu itu memang aku memutuskan untuk meninggalkan semua fasilitas yang diberikan oleh kedua orangtuaku. Setelah mendengar kalau kak Hendru ditinggal Nikah sama Nessa karena dia hidup susah. Aku juga ingin tau apakah temanku juga akan meninggalkan aku saat mereka tau aku miskin." kata Lydia.
"Lalu teman-temanmu gimana?" tanya Widya.
"Ternyata benar dugaan aku mereka tak tulus berteman denganku. Mereka semua meninggalkan aku saat aku tak punya apa-apa. Tapi saat aku baru masuk kuliah Rehan dan juga Sari mau berteman denganku. Aku pikir Sari juga tulus berteman denganku tapi nyatanya dia berteman denganku karena dia ingin dekat dengan Rehan. Aku memutuskan untuk menjauh dari mereka sejak mama Rehan mengatakan kalau aku hanya menginginkan hartanya saja. Awalnya Rehan tak mau menerima tapi saat aku minta tolong kak Hendru untuk menjadi calon suamiku barulah Rehan menjauhiku sampai sekarang." kata Lydia.
"Lalu waktu dibutik kamu bilang kalau kamu akan menikah dengan mas Hendru itu gimana?" tanya WIdya.
__ADS_1
"Hehehe aku gak nyangka kamu ingat perkataanku waktu itu. Aku berkata begitu karena aku gak tau kalau kamu akan menikah dengan kak Hendru. Kami punya kesepakatan akan mengatakan kalau kami akan menikah biar orang gak mendekati kita berdua." kata Lydia.
"Apa kamu masih menyimpan perasaan dengan Rehan sekarang?" kata Widya ingin memastikan.
"Aku gak tau Wid, yang aku dengar setelah aku memutuskan untuk menjauh dari Rehan dia menjadi seorang yang suka berpindah hati dari perempuan satu ke perempuan lain." kata Lydia.
"Jadi karena itu kamu menjauh dari Rehan, karena dia suka main hati dengan perempuan?" kata Widya.
"Bukan hanya itu saja." kata Lydia.
"Lalu karena apalagi?" tanya Widya.
"Sari." kata Lydia.
"Kenapa dengan Sari?" tanya Widya.
"Sampai sekarang dia masih mengejar Rehan, apalagi mamanya Rehan juga lebih setuju kalau Rehan dengan Sari karena dia anak dari pak Frans wakil direktur diperusahaan papa." kata Lydia.
"Apa mereka tau kalau kamu anaknya om Irwan?" kata Widya.
"Gak ada yang tau siapa Lydia sebenarnya." kata Hendru yang baru saja datang. Membuat kedua perempuan itu memandang ke belakang.
"Loh mas kok bisa masukkan pintunya aku kunci?" tanya Widya.
"Lydia yang beri aku kunci cadangan rumah ini. Dara mana?" kata Hendru.
"Itu..." WIdya tak berkata lagi saat melihat putrinya itu tertidur.
Mereka berdua tersenyum, pantas saja daritadi tak mendengar celoteh gadis kecil itu ternyata dia sudah tidur sambil memeluk boneka kesukaannya.
"Ih anak ayah kalau kayak gini kelihatan mau dimakan sama bonekahnya." kata Hendru.
"Kamu tu ada-ada kak." kata Lydia.
"Kamu bawa apa itu mas?" kata Widya yang melihat kalau selain tas Hendru juga membawa paperbag coklat.
"Ini boneka kecil jadi gak susah bawanya kalau kalian mau bawa kemana-mana." kata Hendru mengambil boneka didalam paperbag itu. Bentuknya sama boneka yang sama dengan yang diberikan oleh Hendru kemarin tapi bedanya yang baru lebih kecil ukurannya.
Saat Hendru duduk dikursi Dara hanya mengeliat saja habis itu dia tidur lagi membuat mereka bertiga hanya tersenyum melihat tingkah lucu putrinya itu.
"Mas gak capek apa?" tanya Widya yang melihat wajah Hendru yang kecapekaan.
"Capekku hilang saat melihat putriku." kata Hendru sambil mengelus pipi Dara.
"Dara aja yang membuat rasa capek kakak hilang, Widya enggak?" tanya Lydia.
"Kamu juga Wid, kalian tadi ngomongi apa sebelum aku datang?" tanya hendru lagi.
"Aku cuma mau tanya apa yang terjadi dengan Rehan dan Lydia." kata Widya.
"Dek, apa Rehan itu pria yang kamu jauhi dulu?" tanya Hendru.
"Iya kak." kata Lydia.
"Pantes aku kayak familiar waktu melihat dia pertama kali. Tapi dia berubah sekarang, bukannya dia dulu pakai kacamata tebal ya kok sekarang jadi sekeren itu sih?" kata Hendru.
"Kak kalau gak keren mana bisa main perempuan dari satu perempuan ke perempuan lain." kata Lydia.
"Kamu cemburu?" tanya Hendru yang tau kalau Lydia sampai sekarang masih menyimpan perasaan ke Rehan.
"Gak ada gak usah ngadi-ngadi deh kamu kak." kata Lydia.
"Kamu tau gak kalau sampai mama Rehan itu tau kalau kamu anak pemilik perusahaan Emirat grup pasti dia akan menyesal. Apalagi kamu tu lebih cantik dari Sari hanya saja dia sedikit gila." kata Hendru.
"Gila kenapa mas?" tanya Widya.
"Kamu tau, fashion show pertama kamu yang saat itu salah satu gaun hilang. untung saja kamu berbakat sehingga langsung bisa membuat sebuah kain menjadi sebuah gaun dalam sekejab." kata Hendru.
"Mas kok tau soal itu? Apa mas sudah tau kalau itu aku?" kata Widya penasaran.
__ADS_1
"Aku gak tau kalau itu kamu, karena kamu pakai nama Mala. Aku tau dari mama yang cerita."kata Hendru.
"Lalu darimana mas tau kalau itu Sari yang melakukannya?" tanya Lydia yang juga penasaran darimana Hendru tau soal ini.
"Aku kemarin cari tau saat aku tau itu kamu." kata Hendru.
"Berarti habis kita bertemu dimall itu mas?" kata WIdya.
"Iya habis itu." kata Hendru.
"Aku gak nyangka, tapi apa kaitan aku dengan dia? kan aku gak ada hubungan apa-apa dengan Rehan?" kata Widya.
"Rehankan berusaha mendekati kamu sayang." kata Hendru.
"Ciee udah sayang sayangan segara." ledek Lydia membuat pipi widya merah karena malu.
"Mas tadi udah makan belum?" kata Widya mengalihkan pembicaraan.
"Belum, gak sempat aku makan roti aja tadi dijalan." kata Hendru.
"Ya udah, aku panasin makan malam dulu. Dara tidurin aja dikamar mas." kata Widya yang langsung berjalan ke arah dapur.
"Semangat Kak, tinggal sebentar lagi Widya pasti mau kembali denganmu kak." kata Lydia sambil berdiri.
"Kamu mau kemana?" tanya Hendru.
"Aku mau ke kamar capek mau istirahat." kata Lydia.
"Kamu harus belajar membuka hati kamu untuk pria lain atau mau menjalin hubungan dengan Rehan." kata Hendru.
"Nanti aku pikirin mas. Doain aja aku agar secepatnya dapat pria yang baik." kata Lydia.
Setelah Lydia masuk ke dalam kamarnya. Hendru juga berjalan menuju kamar Widya untuk menidurkan putrinya. Dia menidurkan Dara diboxnya karena takut putrinya itu akan terjatuh jika diletakkan diranjang.
"Udah selesai angetin makan malamnya Wid?" tanya Hendru.
"Udah mas, ayo makan. Aku juga sudah lapar." kata Widya.
"Kamu tadi belum makan wid?" kata Hendru.
"Belum aku nungguin mas datang." kata Widya.
"Maaf ya." kata Hendru merasa bersalah.
"Gak papa ayo makan dulu, habis itu kita istirahat pasti mas udah capek." kata Widya.
Mereka berdua makan dalam diam. WIdya yang melihat Hendru makan dengan lahap merasa sangat bahagia. selama Hendru tinggal disini Hendru tak pernah sedikitpun mengeluh.
Selesai makan Widya membersihkan piring yang buat mereka makan tadi. Hendru pamit ke kamar untuk mandi karena dia tak sempat mandi tadi saat mau berangkat kesini tadi.
Hendru selesai mandi ternyata Widya sudah ada didalam dengan buku gambar ada dipangkuannya.
"Kok belum tidur?" tanya Hendru.
"Mas udah selesai mandinya? Bentar lagi tidur nanggung ini mau selesai." kata Widya.
"Aku gak papa tidur disini tanpa ada Dara ditengah-tengah kita?" tanya Hendru.
Dia takut kalau Widya tak nyaman jika Hendru tidur disamping Widya.
"Gak papa, mas tidur duluan aja kalau capek." kata Widya yang tetap fokus dengan buku gambarnya padahal yang sebenarnya dia gugup karena baru kali ini mereka tidur berdua setelah widya pergi dari rumah dulu.
"Kamu kalau udah selesai cepat tidur ya." kata Hendru.
Widya tak menjawab hanya menganggukan kepalanya saja. Dirasa Hendru sudah tidur Widya berhenti mengambar dia malah memperhatikan suaminya yang sudah lama gak dia temui.
Dia menyentuh wajah Hendru pelan-pelan takut Hendru terbangun. padahal sebenarnya Hendru tidak tidur.
"Kenapa kamu jadi kurus dan seperti orang yang tidak terurus begini mas?" kata Widya yang masih didengar oleh hendru.
__ADS_1
"Apa kamu tau mas? Saat aku hamil Dara kemarin berharap kamu menemaniku saat aku lahiran tapi gak papa sekarang kamu ada disini. Seandainya kamu tau pertama kali aku melihatmu dimall kemarin aku ingin berlari memelukmu tapi aku takut kalau kamu sudah menjadi milik orang lain. Aku juga takut kalau kamu akan mengambil Dara dariku saat kamu tau kalau Dara adalah putrimu." kata Widya bercerita panjang lebar habis itu mencium kening Hendru lalu merebahkan diri disamping Hendru
Saat dia baru saja menutup mata tiba-tiba Hendru memeluknya dari belakang. Widya tak menolak pelukan itu karena hatinya sudah bisa berdamai dengan masa lalu dan dia berusaha untuk menerima kembali Hendru demi Dara.